Takdirku Bersamamu

Takdirku Bersamamu
Episode 47 : Manis dan Mengkhawatirkan


__ADS_3

Tidak bersikap manja ataupun memanfaatkan kata lelah. Sepulang magang, Anjani tetap membantu Mbak Lastri dan Mbok Darmi menyiapkan makan malam dengan beberapa menu kesukaan suaminya.


"Tuan sudah datang, Non. Sisanya biar kami teruskan," ujar Mbok Darmi.


"Iya, Mbok."


Anjani mencuci tangan, merapikan jilbabnya, kemudian menemui Mario di depan rumah. Senyum manis disuguhkan, disusul ucap salam dan kecupan di punggung tangan. Anjani menyambut kedatangan suaminya dengan riang.


"Sini aku bawakan tasnya, Mas."


"Kamu bawa yang ini saja, ya." Mario memberikan setangkai mawar.


"Metik di depan kantor lagi, ya?"


"Itu kamu tahu. Sengaja kuambil satu, khusus untukmu. I love u, istriku." Mario mendekatkan wajah.


"Maaaas. Kebiasaan banget deh nggak lihat tempat. Malu kalau ada yang liat." Anjani protes dengan suara lirih.


Mario melebarkan senyumnya. Pundak Anjani lekas dirangkul, kemudian beriringan langkah menuju kamar mereka. Sesampainya di kamar, Mario selalu menanyakan rutinitas magang Anjani seharian. Sudah dua minggu ini Mario selalu menanyakan pertanyaan yang sama pada Anjani.


"Apa kamu bahagia hari ini?" tanya Mario usai meletakkan tas kerjanya.


"He'em, Mas. Hari ini menyenangkan. Pak Bos juga mudah akrab sama anak-anak magang, lho. Sama karyawan lain di sana juga."


"Pak Bos?" Dua minggu mendengar Anjani bercerita seputar tempat magangnya, baru kali ini Anjani menyebut nama Pak Bos.


"Pimpinan perusahaan, Mas. Semacam direktur kalau di kantormu. Orang-orang di kantor manggil Pak Bos."


Mario seketika tersenyum. Memuji sikap pimpinan perusahaan dalam hati karena sudah bersikap ramah pada Anjani. Tidak sia-sia Mario melakukan kerjasama dengan perusahaan tempat Anjani magang.


"Oya, Mas. Aku denger-denger dari karyawan lain, katanya sekitar dua minggu lalu ada perusahaan besar yang pesan produk dalam jumlah besar. Ada semacam kerjasama dan kontrak juga katanya."


"Wah. Jadi ikut senang mendengarnya. Pasti Pak Bos sama yang lainnya senang, ya?" Mario tidak bercerita bahwa perusahaan besar yang dimaksud Anjani adalah perusahaannya.


"Seneng banget, Mas. Aura di kantor happy-happy semua deh pokoknya. Terus, anak magang dikasih kesempatan memberikan desain usulan. Aku sama teman-teman yang lain tadi mbuat. Coba-coba kamu lihat, Mas. Besok pagi dikumpulkan." Anjani sungguh antusias.


Mario duduk di tepian ranjang sambil menunggu Anjani membuka file desain di laptopnya. Senyum Mario ikut merekah karena melihat Anjani begitu bahagia.


"Sayang, aku baru tau kalau kamu bisa menggunakan aplikasi desain ini." Mario mengamati desain yang ditunjukkan Anjani.


"Mahasiswa kan harus kreatif, Mas. Meskipun aku di jurusan ekonomi, tapi aku juga tertarik dengan seni. Lagipula, Kak Bas ngasih kebebasan desain di manapun, kok. Boleh gambar tangan juga. Pokoknya dua hari ini mahasiswa magang dikasih kesempatan buat memberi usulan."


Mario langsung menoleh. Diperhatikannya mimik wajah Anjani yang masih tampak bahagia. Berbeda dengan mimik wajah Mario yang seketika berubah dipenuhi tanda tanya. Ekspresi Mario yang seperti itu bukan karena desain yang ditunjukkan Anjani, melainkan karena nama Bastian baru disebutkan kali ini.


"Kak Bas? Apa Bastian yang ditugaskan menemani mahasiswa magang?" Mario serius bertanya.


"Iya, Mas. Em ... aku belum pernah cerita, ya." Mimik wajah Anjani jadi ikutan berubah karena melihat keseriusan Mario. Memang, dua minggu ini yang diceritakan Anjani lebih banyak tentang Isabel dan teman-teman magang lainnya.


Mario sadar, sikapnya menuju ke arah berlebihan. Cepat-cepat Mario mengembalikan ekspresi riang, dan menyingkirkan kekagetan karena nama Bastian.


"Kak Bas baik sama semua mahasiswa magang, kok Mas. Bukan hanya padaku." Anjani menambahi.


"Iya. Memang sudah seharusnya Bastian baik pada semua mahasiswa magang. Dan ... Aku senang karena kamu nyaman di tempat magang. Em, desain ini boleh kuberi masukan?"


Anjani mengangguk mantap. Ekspresinya pun kembali riang. "Boleh banget, Mas."


Mario mengalihkan perhatian. Sebenarnya tadi Mario terkejut mendengar nama Bastian. Mario sama sekali tidak menyangka bahwa Bastianlah yang ditugaskan oleh pemimpin perusahaan untuk membimbing mahasiswa magang.


Dari sekian banyak karyawan di perusahaan, kenapa harus Bastian yang justru ditugaskan. Mario membatin.


Perlahan, hati Mario tenang. Tidak lagi terkejut apalagi khawatir dengan Bastian. Saat berdiskusi tentang desain buatan Anjani, Mario bisa merasakan betapa sang istri memang bersungguh-sungguh dalam kegiatan magangnya. Selanjutnya, yang Mario temukan pada diri Anjani hanyalah semangat untuk menyelesaikan magang dengan sebaik-baiknya.


"Kemarilah." Seperti biasa jika ada maunya, Mario menyuruh Anjani mendekatkan dirinya.


"Aku tau kamu sedikit cemburu karena Kak Bas yang jadi mentorku," bidik Anjani, tiba-tiba saja membidik sang suami.


Biasanya, Mariolah yang akan membidik dengan kata-kata itu. Kali ini justru Anjanilah yang lebih dulu. Bedanya, baik Anjani ataupun Mario kompak tersenyum setelah itu. Kikisan jarak di antara mereka menjadi adegan terakhir yang menegaskan bahwa hati keduanya tetap menyatu.

__ADS_1


"Sayang, maaf untuk hal itu. Aku akan lebih percaya lagi padamu," tutur lembut Mario, lantas kembali membuat kikisan jarak usai Anjani mengangguk.


Mario-Anjani terbakar gairah. Kikisan di bibir akhirnya menjalar sedikit ke bawah. Mariolah pemegang kendalinya, dan Anjani hanya bisa menuruti keinginan suaminya. Akan tetapi, begitu aksi tangan sampai di dua bagian di bawah leher, Mario menghentikan. Bukan karena menahan karena khawatir pada kandungan, melainkan karena Mario tetiba saja teringat kesalahan di waktu sore saat berada di bilik perawatan bersama Lovey.


"Mas, ada apa?" tanya Anjani yang merasa ada sesuatu yang dipikirkan suaminya.


Mario memandangi wajah Anjani dengan lekat, menyentuh hidung dan area wajahnya perlahan, kemudian mengembangkan senyuman. Senyum itu tercipta karena Mario sadar, adegan yang dilakukan barusan benar-benar bersama Anjani, bukan Lovey.


"Mas, kok malah senyum-senyum?" Anjani makin penasaran dengan perubahan ekspresi Mario.


"Sayang, apa yang kamu rasakan barusan?"


"Em ... manis." Giliran Anjani yang senyum-senyum.


"Semua perlakuanmu sungguh manis, Mas. Dari awal menikah sampai sekarang, kamu selalu bisa membuatku jatuh cinta, lagi, dan lagi."


"Benarkah? Kenapa yang kita rasakan sama, ya?" Mario menatap lembut manik mata Anjani.


"Karena kita memang ditakdirkan bersama. Takdirku bersamamu, Mas. Semoga kebahagiaan selalu menyelimuti rumah tangga kita, ya." Anjani meraih tangan Mario, lantas meletakkannya di perutnya yang sudah tampak membesar.


Mario mendekatkan wajah ke perut Anjani. Satu kecupan diberikan, disusul usapan pelan.


"Anaknya daddy sehat selalu, ya. Baik-baik di dalam perut bunda. Daddy sayang kamu."


"Iya, daddy. Aku juga sayang daddy. Sayangi bunda juga, ya Daddy. Sayangnya sampai tua loh ya, dan nggak boleh dibagi dua. Bunda nggak suka bagi-bagi kalau urusan cinta." Anjani menjiwai.


"Heeeem." Mario mencubit gemas hidung Anjani. "Yang barusan itu pasti suara hati bundanya," imbuh Mario lantas mendekap tubuh Anjani dengan mesranya.


"Hihi. Mas, aku tambah gendutan ya?"


"Tapi tetap memesona, kok."


"Berarti beneran gendutan, ya?"


"Bukan gendut, Sayang. Kamu hanya tambah berisi karena selalu menjaga nutrisi untuk kandunganmu."


"Kalau aku bilang nggak suka, bolehkah?" Mario membuat canda.


"Boleh-boleh aja, yang penting kamu tetap setia." Anjani sedikit cemberut.


"Aku suka. Aku cinta. Dan, aku akan setia. Sekarang, tolong beri aku hadiah."


Mario mengambil kesempatan, dan Anjani hanya tersenyum tanpa memberi perlakuan.


"Dilanjut nanti aja, ya Mas. Biasanya jam segini ada Kak Ken numpang mandi."


"Ah, Keeeen! Apa air di kontrakannya masih belum mengalir?"


Anjani mengangkat bahunya. "Mungkin. Hehe."


Belum sempat Mario menanggapi, gedoran pintu kamar terdengar beberapa kali. Pelakunya tetap sama, yakni Ken, sahabat baiknya.


"Mariooo. Pinjam mobil dong. Mobilku mogok!" seru Ken dari arah luar pintu kamar.


"Ups, berarti air di kontrakan Kak Ken sudah ngalir, Mas. Itu buktinya."


Anjani justru girang, sementara Mario memasang wajah sebal.


"Sayang, kamu mandilah dulu. Sebentar lagi maghrib. Aku temui Ken dulu, ya."


Anjani mengangguk, lantas pergi mandi lebih dulu. Sementara itu, Mario langsung menemui Ken yang sudah tampak rapi di depan pintu kamar.


"Ken, lain kali telpon saja. Jangan gedor-gedor pintu kamar seperti barusan. Kau mengganggu kami."


"Cie. Emang kalian berdua lagi ngapain barusan? Lagi begituan? Sore-sore? Atau ... Hemmmmm." Ken langsung diam karena Mario membungkam mulutnya.


Begitu melihat Ken menyerah, Mario melepaskan bungkaman tangannya. Seperti biasa, Ken tidak akan jera. Apalagi Mario, dia tidak pernah sampai menaruh dendam atau kejengkelan berlebihan pada sahabatnya.

__ADS_1


"Mau pergi ke mana?" tanya Mario.


"Mau ketemu Lovey."


"Ken, apa kau berniat mempermainkan hati wanita? Saat di kantor, kau ajak Marisa makan siang berdua. Sekarang kau mau ketemu Lovey juga."


Ken membetulkan letak kacamatanya, sambil bersikap santai seperti biasanya.


"Aku kan sudah bilang, Bro. Aku mau memastikan hatiku ini lebih condong pada siapa. Lagipula ...."


Ken menggantung kata-katanya. Tengok kanan dan diri, kemudian menarik lengan Mario agar lebih menjauh dari pintu kamar.


"Lovey bilang, katanya ada lelaki mencurigakan yang sempat membuntuti Anjani," ungkap Ken dengan suara lirih.


Mimik wajah Mario seketika berubah serius. Ada setitik kekhawatiran pula yang tergambar di wajahnya.


"Apa kau sedang bercanda, Ken?"


"Yaelah, Bro. Muka serius gini dibilang bercanda? Emangnya aku hobby nge-prank orang, ha?"


"Iya."


Ken tepuk jidat. Jika diingat-ingat lagi, dirinya memang hobby prank-prank-an. Sekali lagi Ken tengok kanan-kiri, memastikan tidak ada orang lain yang mendengar karena bisa memicu kekhawatiran. Lagipula, Ken masih akan memastikan kebenarannya sebentar lagi saat bertemu Lovey.


"Bro, kali ini aku serius. Lovey tadi bilang seperti itu, makanya aku buru-buru ke sini mau pinjam mobilmu."


"Tapi kenapa Vey tidak mengatakan langsung saja padaku? Kenapa harus kau dulu yang tau, Ken. Di sini akulah suaminya Anjani." Mario ikut-ikutan memelankan suaranya.


"Kau lupa ya kalau sedang jaga jarak sama Lovey, sejak adegan panas di bilik perawatan sore itu, hm?" Ken menegaskan kata panas.


"Ssut. Simpan itu baik-baik, Ken. Kita bertiga sudah sepakat untuk merahasiakannya. Itu murni kesalahan." Mario membela diri.


"Ya, aku paham. Itu sebuah kesalahan yang memalukan. Manis di awal, tapi jadi mengkhawatirkan di belakang. Dahlah, itu masa lalu. Udah sini, mana kunci mobilmu. Aku pinjam."


Mario menengok sebentar ke arah pintu, karena khawatir Anjani akan mendengar obrolan itu.


"Aku ikut denganmu," pinta Mario.


"Nggak boleh. Nanti keingat lagi sama dosa waktu itu. Kan jadi nggak enak di aku, Bro. Aku dalam misi mendekati Lovey, nih."


"Situasinya beda, Ken. Kau ingat kan, Anjani pernah diculik. Bahkan, saat itu hampir dilecehkan. Aku tidak mau kejadian itu terulang." Mimik kekhawatiran Mario begitu kentara kali ini.


Ken memperbaiki letak kacamatanya sembari menelan ludah. Ken ingat betul kejadian saat Anjani diculik dan disekap di daerah terpencil. Anjani bahkan sempat mau dilecehkan, tapi berhasil digagalkan karena kegigihan Mario dalam misi penyelamatan. (Ada di bab 167 novel Cinta Strata 1).


"Oke. Kau boleh ikut. Ijin yang bener sama Anjani sana. Tapi nama Lovey jangan dibawa."


"Tidak apa-apa. Anjani sudah berteman dekat dengan Lovey. Anjani pasti mengira ini hanya urusan pekerjaan."


"Whaaat? Sejak kapan mereka berdua berteman?" Ken kaget.


"Jangan dibahas dulu. Sekarang, kau tunggu aku. Kita siap-siap ke musholah.


"Kita ketemu Lovey di resto, bukan di mushola, Bro."


Mario memberi kode agar Ken melihat ke arah jam dinding. Seketika Ken sadar kewajiban apa yang seharusnya lebih dulu dilakukan.


"Oh iya. Yaudah sana! Aku tunggu di bawah."


Mario mengangguk, kembali ke kamar, lantas bergantian dengan Anjani menggunakan kamar mandi. Setelah ini, Mario akan mengorek informasi dari Lovey.


Bersambung ...


Apa sebenarnya yang terjadi? Nantikan selalu lanjutan novel ini? 😉 Btw, lebih suka part yang mana nih? Yang manis-manis ala Mario-Anjani, atau yang bar-bar ala Ken-Lovey, em .. mungkin ada juga yang menantikan part Bastian, Riko, Isabel dan Marisa. Hehe.. Authornya kepedean, nih. Semoga selalu suka dengan jalan ceritanya. Salam Luv dariku. 💙


Hayyuk, merapat juga ke novel Menanti Mentari karya Cahyanti. Ada sahabat baiknya Anjani di sana, lho. Kepoin juga novel Cinta yang Terpendam karya Dian Safitri. Dukung kami, ya. Terima kasih.


***

__ADS_1


__ADS_2