
Tidak ada televisi, kulkas, AC, apalagi mobil mewah seperti di rumah sebelumnya. Kontrakan Anjani benar-benar sederhana dan Anjani telah terbiasa usai beberapa hari lalu kabur dari rumahnya.
Ya, sudah beberapa hari berlalu sejak saat itu. Seiring dengan itu, tak ada lagi air mata yang mengalir deras di pipinya. Jika mendung itu meraja, yang muncul hanya sebatas genangan di sudut mata. Tidak sampai tumpah. Wajar, hati Anjani kerap kali masih terasa perih kala teringat video skandal suaminya.
"Sayang, insyaAllah dua minggu lagi kamu lahir ke dunia. Bismillaah, semoga semua dilancarkan, ya Nak."
Mendekati hari persalinan, ada rasa senang sekaligus kekhawatiran. Rasa senang tercipta lantaran tak lama lagi Anjani akan bisa memandang wajah buah hatinya. Sedangkan kekhawatiran itu tercipta lantaran Anjani harus lahiran tanpa ada sosok suami di sampingnya. Membayangkan dirinya jalan sendirian menuju klinik persalinan, agak getir rasanya. Namun, Anjani sadar bahwa itu sudah menjadi keputusannya.
"Keputusan ini jauh lebih baik daripada harus melihat suamiku mesra dengan Lovey setiap hari." Mata Anjani terpejam, karena lagi-lagi video skandal Mario dan Lovey membayang.
Anjani menarik nafas dalam, menghembuskannya perlahan, kemudian menyunggingkan senyuman.
"Temani bunda masak, yuk Nak!"
Tanpa Anjani sangka, ada gerakan dari bayi dalam kandungan. Ekspresi Anjani seketika berganti lebih riang. Matanya pun berbinar.
"Utututuu, sayangnya bunda udah nggak sabar nemenin bunda masak, ya? Ayo, deh! Kita main masak-masakan."
Senyum Anjani semakin merekah. Perut besarnya diusap penuh kasih, kemudian melangkah ke dapur untuk memulai rutinitas pagi.
***
Setiap hari wajah tampan Mario selalu mendung. Tidak ada senyum. Jikalau ada, itu pun hanya senyum simpul. Seperti hari-hari sebelumnya, Mario masih digelayuti rasa bersalah. Penyesalan dalam dirinya telah membuat derita, apalagi hingga saat ini Mario belum menemukan keberadaan istrinya.
Usaha Mario untuk mencari Anjani sudah maksimal dilakukan. Setiap kemungkinan dicobanya. Sebagian orang suruhan Mario ditugaskan ke Jember, tempat tinggal keluarga Anjani. Selama beberapa hari pemantauan, sama sekali tak ada tanda-tanda Anjani di sana. Raut wajah anggota keluarga Anjani juga tampak baik-baik saja. Menandakan bahwa berita skandal Mario tidak sampai di telinga mereka, dan Anjani pun tidak sedang berada di sana.
Mario melakukannya diam-diam melalui orang suruhan. Sejujurnya Mario sampai saat ini belum berani membagi kabar pada keluarga Anjani. Mario malu, dan khawatir keluarga Anjani tidak terima dengan keadaan yang terjadi.
Tidak hanya mengirim orang suruhan ke Jember, Mario pun mengirim orang suruhannya ke Jogja. Tempat tinggal sahabat baik Anjani, Meli. Sayangnya, pencarian di sana tidak berlangsung lama karena di sekitaran Meli dan kelurganya kerap kali ada bodyguard yang menjaga. Namun, dapat dipastikan bahwa kaburnya Anjani dari rumah tidak ketahui oleh Meli ataupun suaminya.
"Anjani adalah tipe orang yang tidak suka merepotkan. Tidak mungkin dia ke rumah orangtuanya apalagi ke Jogja menemui sahabatnya." Mario menarik nafas dalam. "Anjani sayang, kamu di mana, sih?"
Rambut Mario tampak acak-acakan. Masalah yang tengah dihadapinya saat ini sungguh membuat Mario tidak memperhatikan penampilan. Fokus Mario hanya tertuju pada Anjani. Untungnya, urusan pekerjaan sudah ditangani oleh Paman Li.
"Maaf, Tuan. Ada Tuan Ken ingin bertemu," ungkap Paman Li.
Mario tidak menjawab. Rasanya enggan bagi dirinya untuk bertemu siapa-siapa.
"Sendirian atau bersama Vey?" tanya Mario kemudian.
"Tuan Ken datang sendiri. Sengaja tidak menemui langsung khawatir Tuan tidak berkenan menemui."
Memang, sejak Mario dimarahi habis-habisan oleh sang ayah, Mario belum bertemu Ken dan Lovey. Pernah sekali mereka berdua hendak menemui, tapi Mario menolak untuk menemui. Bukannya menghindar, Mario hanya enggan. Apalagi dalam kondisi pikiran yang tidak tenang. Kabar terakhir yang Mario dapatkan, Ken dan Lovey akan segera melangsungkan pernikahan.
"Saran saya, sebaiknya tuan sempatkan untuk berbincang dengan Tuan Ken. Siapa tau ada info keberadaan Nona Anjani." Paman Li dengan bijak menasihati.
"Baiklah, Paman. Minta Ken untuk ke ruanganku saja. Aku akan menemuinya di sana."
"Baik, Tuan. Saya permisi dulu."
Tatapan menyedihkan, itulah yang Ken rasakan saat Mario datang. Ken tahu betul sahabatnya itu tengah larut dalam penyesalan. Sebelum ini Ken sudah berniat untuk memberi semangat, tapi saat hendak bertemu Mario selalu menolak. Baru kali inilah Ken bisa bertemu tatap.
"Ada apa Ken?" tanya Mario to the point.
"Kau sudah tau kabar tentangku dan Lovey?"
Mario tak langsung menjawab. Ditatapnya sebentar wajah Ken, lantas mengangguk dan membuang pandang ke arah kaca jendela besar.
"Aku tau dari ayahku," imbuh Mario tanpa melihat ke arah Ken. Langkah kakinya kini membawanya menuju ke arah dekat jendela.
__ADS_1
Ken menyusul langkah, hingga jarak keduanya pun tak terlalu jauh terpisah.
"Di hari pertama Anjani kabur dari rumah, begitu tiba dari Jerman ayahmu langsung mempertemukanku dengan Lovey. Entah beliau dapat informasi dari mana. Yang jelas, di hari itu aku berani menyatakan perasaanku dan ... Lovey menerimaku. Ayahmu ada di sana menyaksikan itu."
"Baguslah."
Hanya satu kata itu saja yang diucapkan Mario atas penjelasan panjang lebar yang Ken lakukan.
"Kami akan menikah besok pagi," ungkap Ken.
"Lebih cepat lebih baik. Selamat."
Ucapan selamat yang Mario berikan sungguh tidak melegakan. Ken tidak nyaman hati, sampai merasa lebih baik dirinya tidak mendapat ucapan selamat daripada harus melihat mimik wajah tak sedap.
"Bro, lihat aku!" pinta Ken.
Mario menoleh dan ...
Buukk!
Kepalan tangan kanan Ken mendarat epik di pipi kiri Mario.
"Apa yang kau lakukan ha?" Mario emosi, tidak terima, tapi tidak membalas perlakuan Ken padanya.
"Sadarlah, Mario! Aku tidak suka melihatmu selemah ini!!" Ken ikut berseru kencang. "Kau tidak sendirian. Kau punya keluarga, teman, aku ... kita semua akan membantumu mencari Anjani!" imbuh Ken dengan tegas.
Mario terdiam. Rupanya kepalan tangan Ken ditujukan untuk menyadarkan.
Terus berdiam. Mario dan Ken sama-sama diam demi bisa mencerna apa yang terjadi barusan. Hingga kemudian .... Melunak, Ken berjalan mendekati Mario kemudian menepuk pundak.
"Kita akan mencari Anjani bersama-sama," ujar Ken dengan senyum tulusnya. Senyum tulus seorang sahabat yang begitu peduli dengan keadaan yang ada.
Ken balas memeluk Mario. Begitu erat. Sangaaat erat, dengan berlandaskan kepedulian pada sahabat.
"Bro, kau memang salah telah membuat keputusan tergesa. Aku pun juga salah, karena tidak tegas mencegah apalagi mengakui perasaanku pada Lovey. Jika aku tegas, malam itu kau mungkin tidak akan mengambil keputusan seperti itu. Maafkan aku juga, ya?"
"Iya, Ken. Tolong bantu aku mencari dan berbaikan dengan Anjani, ya?" Akhirnya, Mario meminta bantuan juga selain pada orang suruhannya.
"Pasti akan kulakukan. Sekarang ... kau harus temani aku makan siang. Kau harus dalam energi penuh agar lebih semangat mencari istrimu." Ken memberi kode agar Mario mengikutinya.
"Ayo!"
Mario beriringan langkah dengan Ken menuju kantin perusahaan. Dari kejauhan, tampak John dan Paman Li menampilkan mimik kelegaan. Khususnya John, sebagai ayah dia pun tak tega melihat keadaan Mario yang selalu murung setiap harinya.
"Tuan Muda terlihat lebih cerah," ujar Paman Li.
"Benar. Itu jauh lebih baik agar Mario bangkit dari keterpurukan. Putraku itu harus belajar dari kesalahan. Aku yakin, setelah ini Mario pasti akan lebih gencar mencari Anjani." John optimis.
"Oya, Sekretaris Li, apa ada informasi baru tentang dalang video itu?" tanya John kemudian.
"Sudah dipastikan dialah dalangnya, Tuan. Bukti-bukti yang ada mengarah kuat ke arahnya. Ditambah lagi ada saksi yang mempermudah penyelidikan kita," terang Paman Li.
"Saksi? Siapa saksinya?"
"Mantan kekasih Nona Lovey, Tuan."
John tampak mengangguk-angguk. "Tolong atur pertemuanku dengannya. Aku ingin tahu apakah ini semua ada kaitannya dengan sabotase distribusi produk perusahaan."
"Baik, Tuan. Segera akan saya jadwalkan pertemuan."
__ADS_1
Selangkah demi selangkah, yang benar-benar salah harus terbongkar juga kedoknya. Demikian juga dengan Mario, langkah pertama yang bisa dilakukan untuk menebus kesalahannya adalah dengan cara gigih mencari keberadaan istrinya. Anjani, keberadaannya saat ini masih belum diketahui oleh sang suami.
***
Bastian terus mengikuti langkah adiknya, Isabel. Ke teras depan, dapur, depan televisi, hingga terakhir ke depan kamar Isabel.
"Kak Bas kayak penguntit aja, sih!" Isabel kesal.
"Jangan pelit napa, Bel. Ini demi kemanusiaan," terang Bastian.
"Dari tadi yang Kak Bas omongin kemanusiaan melulu, tapi nggak mau cerita kemanusiaan yang model gimana. Sekarang jawab jujur! Pinjem duit tabunganku mau dibuat apa?" Isabel serius mendesak Bastian.
Bastian agak kelagapan. Sementara Isabel terus menunggu jawaban.
"Pokoknya ini mendesaaaak sekali. Bantuain napa, Bel. Ntar kalau gajian kugantiin. Kutambah 100ribu, deh."
Isabel tak tega melihat kakaknya memohon sampai segitunya. Akhirnya, hati Isabel luluh juga.
"Oke. Bentar kuambilkan."
"Alhamdulillaah. Beruntungnya aku punya adik solihah yang baik hatinya."
"Lebay, ah!"
Menunggu sebentar, wajah Bastian tampak senang. Sebenarnya Bastian masih ada sedikit uang, tapi khawatir tidak cukup untuk beberapa hari ke depan. Apalagi besok pagi Bastian berniat mengunjungi Anjani untuk ketiga kalinya. Jelas sekali Bastian perlu biaya lebih untuk transportasi dan kebutuhan makan di sana.
Harusnya uang Bastian lebih dari cukup untuk kebutuhan sebulan. Hanya saja tempo hari Bastian sok-sokan membelikan smartphone untuk Anjani tanpa memikirkan persediaan uang ke depan.
"Nih!" Isabel menyerahkan beberapa lembar uang ratusan ribu. "Nggak usah ditambahin 100ribu. Ntar jadi nggak berkah lagi."
"Siap, deh. Makasih, ya!"
Isabel memperhatikan Bastian. Kakaknya itu tampak riang sambil menuju ke ruang keluarga. Penasaran dengan apa yang dilakukan sang kakak selanjutnya, diam-diam Isabel mencuri dengar obrolan sang kakak dengan ayah ibunya. Rupanya Bastian minta izin keluar kota besok pagi.
"Kok akhir-akhir ini Kak Bas sering banget sih izin keluar kota? Kalau urusan pekerjaan, semua pasti sudah disiapkan kantor termasuk transportnya. Kok ini naik bus, sih." Isabel mulai curiga.
Seketika bola mata Isabel membulat. Ada sebuah dugaan yang mengarah kuat.
"Jangan-jangan Kak Bas mau main pacar-pacaran?! Besok kan weekend. Pasti pacar Kak Bas di luar kota."
Ada rasa geregetan yang tiba-tiba Isabel rasakan.
"Nggak bisa dibiarin, nih. Jangan sampai tuh cewek morotin duitnya Kak Bas!"
Dugaan Isabel beserta pikiran macam-macamnya tidak lagi dapat dicegah.
"Besok, kuajak Riko buat ngebuntutin Kak Bas! Biar kulabrak habis tuh cewek!"
Keputusan Isabel sudah bulat. Besok pagi, dia akan mengajak Riko untuk membuntuti Bastian diam-diam.
Lalu ... apakah aksi itu berhasil dilakukan? Mungkinkah kontrakan Anjani juga akan diketahui Isabel dan Riko? Nantikan lanjutan ceritanya?
Bersambung ....
This is story of Mario-Anjani. Jika suka, LIKE-nya jangan lupa ya 😉 Dukung author dan novel ini dengan Vote dan Hadiah. Hehe
Eits, pengen tahu kisah sahabat baiknya Anjani di Jogja? Udah jangan mikir lama-lama. Langsung capcus ke novel MENANTI MENTARI karya Cahyanti. Dukung kami ya. Luv-luv-luv buat kalian semua 💙💙💙
***
__ADS_1