
Kebahagiaan tampak nyata di wajah Mario-Anjani. Hadirnya baby boy benar-benar memberi warna tersendiri. Senyum Anjani begitu indah merekah. Begitu pula dengan Mario yang senantiasa menemani Anjani dan buah hatinya.
"Bel, dari tadi senyum-senyum melulu, sih?" Riko terheran.
"Gemes, Rik. Baby-nya Anjani bikin mata berbinar. Rasanya ... jadi pengen punya juga."
"Oh. Kamu pengen baby juga. Yaudah. Yuk, nikah! Habis itu kita bikin bareng malamnya."
Senyum Isabel hilang. Sungguh terkejut dengan ucapan Riko barusan. Melotot sejenak, kemudian Isabel melayangkan ranselnya hingga membuat beberapa pukulan.
"Uh! Rasain!"
"Aduh, Bel! Galak amat sih!"
"Bisa-bisanya bilang gitu, hah!"
Riko menatap aneh ke arah Isabel. Dia sama sekali tidak merasa ada yang salah dengan ucapannya barusan.
"Bel, Rik. Ada apa, sih?" Anjani bertanya, karena posisi duduk Isabel dan Riko tak jauh darinya.
"Ini si Riko. Masa ngajakin nikah kayak ngajak traktiran makan!" Isabel mengadu.
"Eh? Emang salah ya kalau aku ngajak nikah?" Riko menyahuti.
"Ya nggak salah, Rik. Cuma kamunya aja yang nggak peka!" Isabel masih berlanjut dengan protesnya.
"Duh. Pak Mario, saya bingung ini, Pak!" Riko justru mengadu pada Mario.
Mario-Anjani kompak tersenyum. Sikap Riko dan Isabel sungguh terlihat lucu.
Mario berjalan mendekati Riko. Sedikit menarik lengannya agak menjauh dari Isabel, kemudian membisikkan sesuatu di telinganya.
"Cobalah sedikit romantis. Pasti Isabel menyukainya." Mario menyudahi, tersenyum, menepuk bahu Riko, kemudian kembali ke samping Anjani untuk mengambil alih gendongan baby.
"Ehehe. Ternyata begitu." Riko cengar-cengir.
"Bel, udah ah. Jangan cemberut melulu. Mau dilamar tuh sama Riko." Anjani ikut bersuara.
"Moga aja kali ini bukan prank." Celetuk Isabel, dengan suara lirihnya. Sebenarnya hatinya pun berharap kesungguhan dari apa yang Riko ucapkan barusan.
Obrolan mereka terhenti lantaran kedatangan Ken dan Lovey. Sempat hening sejenak, tapi Anjani lekas mencairkan suasana agar melunak.
"Lihat tuh! Ada Om Ken sama Tante Lovey datang jengukin kamu, Nak." Anjanilah yang bersuara, sementara Mario langsung memposisikan si baby dalam gendongannya.
Riko dan Isabel yang sadar keadaan langsung pamit pulang. Awalnya Anjani enggan mengizinkan karena kedatangan mereka baru sebentar. Namun, Riko dan Isabel berjanji akan kembali datang. Barulah Anjani mengizinkan dengan lebih dulu menasihati Isabel dan Riko agar tidak sering bertengkar.
Begitu Riko dan Isabel pulang, Ken menarik lengan Lovey agar mendekat ke tempat Anjani berada. Lagi-lagi, ada kekikukan yang melanda. Itu terjadi karena kekhawatiran Lovey semata.
"Anjani, aku bawakan sesuatu buat baby-mu." Lovey meletakkan bingkisan untuk baby di atas meja.
"Terima kasih, ya." Anjani tersenyum.
Terdiam lagi sejenak. Sungguh, kecanggungan muncul dan tenggelam. Sekali waktu muncul, kemudian luntur. Muncul, luntur, begitu terus hingga kemudian Ken dan Mario memutuskan untuk membiarkan Anjani dan Lovey berbicara empat mata. Namun, tetap ada baby boy di antara mereka.
"Beb, aku ke depan bentar sama Mario. Kamu di sini saja dulu, ya."
"Baiklah."
"Vey, kau mau coba menggendong bayinya?" Mario menawari.
"Iya, aku mau."
Lovey hendak melangkah mendekati Mario, tapi urung diteruskan karena teringat kesalahan di masa lalu. Ken yang sadar pun lekas mengambil baby boy dari gendongan Mario, kemudian membawanya kepada Lovey.
"Nih, gendong yang bener, ya. Jangan sampai jatuh. Ntar aku bisa ditimpuk sama daddynya!" Ken menunjuk Mario tanpa dosa.
Mario hendak menanggapi, tapi lebih dulu Ken menarik tangannya agar bisa segera pergi meninggalkan Anjani dan Lovey bersama si baby.
"Vey, duduklah!" Anjani ramah..
"Aku berdiri saja sambil gendong baby-mu. Uuuhmm. Tampan betul. Mirip siapa ya???"
__ADS_1
Deg!
Lovey langsung tersadar dengan ucapannya sendiri. Lovey benar-benar khawatir berbuat kesalahan lagi. Namun, Anjani menyadari perubahan sikap Lovey. Anjani pun bisa menebak bahwa Lovey teramat sungkan jika harus memuji si bayi yang ketampanannya mirip Mario.
"Dia tampan, mirip daddynya." Anjanilah yang mengucapkannya.
"Mirip kamu juga." Lovey menyahuti seperti itu kemudian tersenyum sembari memandang baby boy yang tampan.
Cukup sudah. Hati Lovey sudah lebih terkondisikan daripada sebelumnya. Lovey mendekati Anjani kemudian memberikan baby boy padanya. Setelahnya, barulah Lovey mengucapkan permintaan maaf atas semua kesalahannya.
"Anjani, aku minta maaf, ya." Lovey sungguh-sungguh meminta.
Senyum Anjani merekah. Itulah kata yang sudah bisa ditebaknya setelah kejadian rumit yang sempat menguji rumah tangganya. Namun, Anjani tidak menanggapi dengan kata iya. Anjani hanya mengangguk biasa dengan senyum yang masih tetap merekah.
Itulah sikap yang membuat dada Lovey bergetar. Kemungkinan, Lovey sudah memendam begitu banyak pikiran dan kekhawatiran, hingga saat pertemuan dengan Anjani tiba, air mata pun jatuh seketika. Lovey menitihkan air mata, dan spontan memeluk Anjani begitu saja.
"Aku ... minta maaf. Sungguh minta maaf." Suara Lovey serak karena tangisnya.
"Ssuut. Sudah-sudah. Aku sudah memaafkanmu, Vey." Anjani tetap ramah.
Semakin deras air mata Lovey. Ada kebahagiaan dan kelegaan hati. Lovey beruntung bisa mendapatkan kemurahan hati Anjani.
Pelukan dilepas perlahan. Lovey mengusap air mata yang sudah membentuk jejak tangisan. Ditatapnya Anjani yang masih tersenyum ramah. Tamparan keras bagi Lovey untuk bisa meniru jejak kebaikannya.
"Anjani, kamu tidak marah?" tanya Lovey tiba-tiba.
"Siapa bilang aku tidak marah, hm?"
Deg!
Mimik wajah Lovey berubah, karena jawaban Anjani yang tidak terduga. Rupanya Anjani marah. Namun, bukan tamparan, hinaan, bahkan balas dendam yang didapatkan Lovey karena kesalahannya, melainkan kata maaf dan senyum ramah.
"Vey, aku memang sempat marah. Kecewa. Kamu tau sendiri kan aku sempat kabur dari rumah."
Lovey mengangguk perlahan. Yang terjadi sebelum ini memang demikian. Hal wajar, Anjani adalah manusia biasa yang kadang tidak bisa mengendalikan perasaan.
"Berdamai dengan keadaan, itu sudah menjadi keputusanku, Vey. Aku memilih memaafkan, dan memberikan kesempatan. Lagipula, aku tidak bisa berdusta bahwa aku pun membutuhkan kasih sayang Mario. Terutama untuk bayiku." Anjani melihat ke baby boy, lantas mengecupnya perlahan.
Air mata Lovey kembali jatuh. Sungguh, sikap bar-bar Lovey tak nampak saat itu. Yang sedari tadi muncul hanya perasaan bersalah dan gejolak luar biasa saat mengetahui bahwa Anjani dengan mudah memaafkannya. Lovey tertampar kebaikan Anjani, tapi justru merasa bahagia dalam hati.
"Terima kasih. Terima kasih, ya." Lovey tak sanggup berkata-kata lagi.
"Tante Lovey udah dong jangan nangis teyus. Bundaku baperan. Ntar kalau bunda ikutan nangis kacian loh." Anjanilah yang bersuara sembari menirukan suara anak kecil.
"Hehe." Lovey tertawa ringan, lantas mengusap air matanya perlahan.
"Yeeeei. Tente Lovey udah senyum lagi."
"Terima kasih ya baby boy tampan. Tante Lovey sekarang mengerti kenapa daddymu begitu cinta sama bundamu. Bundamu sungguh baik hati."
Anjani terus tersenyum.
"Oya Vey, selamat atas pernikahanmu dengan Kak Ken, ya. Semoga kebahagiaan selalu menyelimuti rumah tangga kalian."
"Aamiin. Selamat juga atas lahirnya baby boymu yang tampan ini."
Anjani dan Lovey sama-sama telah melepas beban, kemudian menggantinya dengan kepercayaan dan keakraban. Kesalahan dan kesalahpahaman di antara mereka telah dipetik hikmahnya. Kini, yang meraja dalam dada adalah rasa syukur atas kesempatan untuk bisa kembali bersikap baik pada sesama.
***
Mario dan Ken ngobrol santai sembari menunggu Anjani dan Lovey selesai. Banyak hal yang mereka bahas. Masa lalu, masa kini, dan masa depan nanti tentunya.
"Kau beruntung bisa ditakdirkan memiliki istri seperti Anjani, Bro!" ucap Ken usai panjang lebar mengobrol.
"Sama saja, Ken. Kita berdua sama-sama beruntung karena istri kita saat ini adalah jodoh terbaik dari-Nya."
Ken mengangguk-angguk. "Lalu, kenapa istri orang kadang terlihat lebih berkilauan, ya Bro?"
"Itu karena kita telah tahu kekurangan istri kita, Ken. Begitu juga sebaliknya. Istri kita pun juga telah tahu kekurangan suaminya. Jika hati tidak setia, yang ada justru celah untuk mendua."
Mario mengambil jeda. Seolah sedang merenungi kalimat yang baru saja diucapkannya.
__ADS_1
"Tapi ... kekuatan cinta itu nyata, Ken. Aku sudah banyak memetik pelajaran dari kesalahanku sebelum ini. Yang jelas, aku sungguh ingin mempertahankan keutuhan rumah tanggaku hingga masa tua nanti."
"Iya, Bro. Aku dan Lovey juga demikian. Kejadian sebelum ini benar-benar membawa banyak pelajaran. Thanks, ya. Kau dan Anjani sudah memaafkan kami."
"Sama-sama, Ken. Aku dan Anjani. Kau dan Lovey. Kisah cinta masing-masing dari kita memang berbeda, tapi semoga kebahagiaan bisa kita rasakan bersama. Kita berteman ... selamanya."
"Yahuuuuuu!"
Bukan hanya Anjani dan Lovey. Kelegaan dan rasa syukur juga tampak dirasakan Mario dan Ken.
"Eh, Bro. Btw, Dewangga gimana nasibnya?" Ken kepo.
"Ayahku yang mengurusnya. Paling-paling Dewangga mendekam di tempat yang seharusnya. Semoga dia sadar dan bisa menjadi orang baik setelah keluar dari sana."
"Haaah. Baguslah. Yang penting ada pelajaran untuknya."
Ujian selesai. Mereka semua adalah pemenang lantaran bisa mengambil pelajaran. Maaf, berbaikan, kesempatan, dan kepercayaan, itulah yang akhirnya menjadi pilihan. Menjadi bekal terbaik guna melanjutkan langkah kehidupan yang diselimuti kebaikan.
***
Lima tahun kemudian
"Daddy daddy daddy. Sini. Aku mau celita."
Mario melangkah mendekat, mengangkat tubuh jagoan kecilnya, kemudian mendudukan di pangkuannya.
"Pasti mau cerita masakannya bunda, ya!" Mario menebak.
"Bukan. Daddy salah. Aku mau celita teman balu."
"Teman balu?? Wah, daddy jadi penasaran, nih."
Tak lama kemudian, Anjani datang sambil membawakan puding kesukaan.
"Cakra, sayang. Ayo dimakan, Nak!" Anjani meletakkan puding di meja.
Mario mengedipkan sebelah matanya, memberi kode bahwa jagoan kecilnya mau curhat.
"Ups. Sepertinya bunda nggak boleh tau ceritanya, ya." Anjani memasang wajah cemberut yang dibuat-buat.
Mario beraksi. Dia menarik pelan lengan Anjani agar duduk di sebelahnya.
"Daddy nggak suka lihat bunda cemberut. Cakra suka nggak lihat bunda cemberut?" tanya Mario pada jagoan kecilnya.
Cakra, buah hati Mario-Anjani menggeleng tegas.
"Aku sukanya lihat bunda senyum. Apalagi kalau bunda masakin nasi goleng."
"Nah, kalau gitu ceritanya sama bunda juga, ya?" Mario pintar juga membujuk Cakra.
Cakra terdiam sejenak, kemudian mengangguk mantap.
"Iya, deh. Bunda boleh dengal juga. Tapi lahasia, ya. Nanti aku malu kalau banyak yang tau."
Cakra menampilkan mimik serius yang menggemaskan. Sebagai penyeimbang, Mario-Anjani kompak mengiyakan.
"Daddy janji, deh."
"Bunda juga janji. Ayo sekarang cerita!"
Mario-Anjani sudah menyiapkan telinga dan perhatian penuh untuk mendengar curhatan buah hatinya. Namun, yang terjadi selanjutnya justru di luar dugaan mereka. Cerita Cakra adalah penyebabnya.
"Di sekolah ada teman balu. Pelempuan."
"Teruuss?" Mario-Anjani kompak bertanya.
"Telus aku naksil dia."
"Hah?!"
Mario-Anjani terkaget-kaget mendengar curhatan Cakra. Sekecil itu sudah mengerti cinta. Jadilah, mereka bertanya-tanya sikap yang demikian menurun dari siapa. Tidak memiliki jawaban, akhirnya pikiran Mario-Anjani melayangkan dugaan. Sikap Cakra bukanlah turunan, melainkan suatu kebiasaan yang didengar dari Om dan Tante yang bar-bar. Yang filter katanya kurang penyaringan. Jadilah, Ken dan Lovey menjadi sasaran.
__ADS_1
TAMAT