
Sepasang kekasih baru saja turun dari mobil. Keduanya berjalan sembari bergandengan tangan menuju ke arah lobby hotel. Yang satu cantik, dan satunya lagi tampan sekali. Dialah Lovey dan sang kekasih.
"Terima kasih sudah mengantarku." Lovey tersenyum sembari menggenggam tangan.
"Hubungi aku jika urusan di sini sudah beres. Akan kujemput," terang si lelaki.
"Tentu. Hati-hati di jalan. Bye!" Lovey tersenyum sembari melambaikan tangan.
Smartphone dikeluarkan. Lovey langsung menghubungi Ken guna konfirmasi kedatangan. Tak butuh waktu lama hingga panggilan suara itu diterima. Usai mendapat informasi yang dibutuhkan, Lovey langsung menuju lantai kamar yang diberi tahukan.
Sementara itu, di lantai sembilan. Ken tampak menggedor pintu kamar Mario agar lekas keluar. Mario yang sedang sibuk bertukar informasi dengan Paman Li pun harus mengakhir panggilan.
"Ada apa, Ken?"
"Lovey datang."
"Lalu, apa hubungannya denganku?"
"Ya nggak ada, sih. Cuma ngasih tau."
Mario melayangkan protesnya dalam diam. Cukup diam, dan sikap itu mampu membuat Ken cengar-cengir tanpa melayangkan kata balasan.
Hendak kembali masuk ke dalam kamar, urung Mario lakukan karena melihat Lovey datang. Ken yang semula hanya cengar-cengir seketika menyambut Lovey dengan riang.
"Terima kasih sudah membantuku reservasi kamar, Ken."
"Sama-sama. Kamarmu yang itu." Ken menunjuk kamar yang persis berhadapan dengan kamarnya.
Lovey mengangguk. Sebelum menuju kamar, Lovey menyempatkan diri melihat dan tersenyum ke arah Mario. Hubungannya dengan Mario memang tidak selepas dulu. Masih canggung, kikuk, karena bayang-bayang kesalahan masa lalu.
"Hai," sapa Lovey pada Mario.
"Vey, kau pergi sendirian lagi dalam urusan segenting ini? Mana sekretarismu?" Mario memastikan dugaannya tadi.
"Sekretarisku aku suruh menghandle beberapa pertemuan. Lagipula aku tidak sendirian di perjalanan. Tadi aku diantar," terang Lovey.
"Diantar siapa?" Kenlah yang kali ini bertanya.
"Diantar ...." Lovey menggantung kalimatnya. Hendak menyebutkan kekasih, tapi Lovey pikir-plikir lagi. Lovey memang hendak memberi tahu Ken tentang hal ini, tapi bukan sekarang, melainkan nanti malam saat suasana sudah lebih tenang. Lovey berencana mengajak Ken ketemuan, dan memintanya untuk menjaga jarak karena statusnya yang tak lagi sendirian.
Situasi rupanya tak semulus yang direncanakan Lovey. Sang kekasih rupanya menyusul demi memberikan power bank yang tertinggal di mobil.
"Sayang," panggil kekasih Lovey.
Mario, khususnya Ken, tentu terkejut dengan panggilan sayang yang dilayangkan. Lebih terkejut lagi saat Lovey menanggapi sang kekasih dengan penuh keramahan. Bahkan Lovey menyapanya juga dengan sapaan sayang.
Usai sang kekasih pergi, Lovey tampak melihat Mario dan Ken secara bergantian. Khususnya Ken, yang sempat menjadi tambatan hati Lovey. Tampak jelas mimik wajah Ken penuh arti, dan kentara sekali kekecewaan dalam hati.
"Bro, aku ke kamar duluan. Dan ..." Ken yang mulai bisa menguasai emosi, kini memandang wajah Lovey. "Selamat."
Tak ada lagi kalimat yang diucapkan selain kata selamat. Setelahnya, Ken langsung masuk ke dalam kamarnya. Tersisa Lovey dan Mario.
Keadaan yang mengejutkan seperti barusan tentu menarik perhatian Mario. Meski ada masalah genting terkait perusahaan, tapi Mario masih peduli dengan sahabatnya, Ken.
"Vey, bisa bicara sebentar?" Mario melangkah mendekat beberapa langkah.
__ADS_1
Lovey mengangguk pelan.
"Sejak kapan?" tanya Mario.
Tak disangka, Lovey langsung diburu tanya. Niat hati untuk memberi penjelasan pada Ken malam nanti, sepertinya akan gagal terlaksana karena status Lovey yang terbongkar tanpa disengaja.
"Baru tiga hari. Ada yang menawarkan cinta, ya jelas aku terima. Daripada dekat, tapi cuma main hati saja." Lovey meluapkan isi hatinya.
"Siapa yang kamu maksud? Ken?"
"Siapa lagi yang dekat denganku selain Ken. Hah, aku baru tau fakta ini beberapa hari lalu. Tak kusangka, Ken juga dekat dengan seseorang yang bernama Marisa." Lovey terus bercerita.
Mario terdiam. Hal inilah yang dikhawatirkan. Sudah berkali-kali Mario mengingatkan Ken agar lekas menetapkan hati pada satu pilihan. Jika sudah seperti ini, Mario pun tidak bisa membantu lagi. Ken sendiri yang merugi.
"Tolong sampaikan permintaan maafku pada Ken. Maaf, karena aku sempat memberi harapan padanya. Sampaikan juga pada Ken untuk setia pada Marisa. Aku ...." Lovey merasa sesak hati. "Aku masuk ke kamar dulu."
Blam!
Pintu kamar ditutup. Kini, tersisa Mario sendirian. Mario menyayangkan sikap Ken, tapi tidak sepenuhnya menyalahkan. Mario tahu bahwa sahabatnya itu lebih berhati-hati dalam menetapkan hati lantaran masa lalu yang tidak mengenakkan.
Mungkin inilah yang terbaik bagi Ken. Dia bisa leluasa menetapkan hati pada Marisa. Batin Mario.
Mario berniat menyampaikan penjelasan Lovey nanti saat Ken sudah jauh lebih tenang. Meski sudah berniat demikian, Mario tetap berdiri terdiam. Pikirannya melambung mengingat-ingat sosok lelaki yang menjadi kekasih Lovey saat ini.
Bukankah tadi itu laki-laki yang bersama Dewangga? Batin Mario, tetiba teringat begitu saja.
Ya, kekasih Lovey adalah laki-laki yang dilihat Mario saat mengambil pesanan body mist, saat malam-malam usai jamuan bersama para pebisnis di hall hotel di luar negeri. Mario ingat betul wajah si lelaki yang kala itu mengobrol bersama Dewangga. (Ada di episode 23)
Mungkinkah ini hanya kebetulan? Mario membatin lagi.
Betul sekali, Lovey masih single dan baru saja mewarisi perusahaan dan harta kekayaan orangtuanya.” Dewangga menjelaskan pada lelaki muda di sebelahnya.
“Menarik sekali,” sahut lelaki muda itu tanpa mengimbuhi kalimat lainnya.
Obrolan Dewangga dan si lelaki kekasih Lovey masih terngiang jelas di kepala Mario. Spontan saja Mario khawatir pada Lovey. Mario khawatir kekasih Lovey hanya akan mengincar harta Lovey saja.
"Aku harus mengingatkan Lovey tentang hal ini. Tapi sebelum itu, aku harus menyampaikan penjelasan Lovey pada Ken."
Sudah diputuskan. Mario tidak lagi menunda niatan. Mario menuju kamar Ken, dan memaksanya agar mau mendengar penjelasan di tengah kegalauan.
Rentetan penjelasan yang tadi Lovey sampaikan, Mario katakan tanpa mengurangi ataupun melebih-lebihkan. Seketika Ken merasa salah atas sikapnya yang memberi harapan pada dua orang wanita secara bersamaan. Namun, nasi telah menjadi bubur. Semuanya telah terlanjur.
"Kuakui aku salah, Bro. Biar sudah. Aku ikhlashkan Lovey dengan kekasihnya."
Mario menepuk pundak Ken. "Semua keputusanmu akan kudukung, Ken. Jadi, apakah kau akan serius pada Marisa?"
"Sepertinya iya, Bro. Apalagi teman magang Marisa yang namanya si Riko kemarin-kemarin keceplosan bilang kalau Marisa naksir aku."
"Baiklah. Sekarang. Tenangkan dirimu dulu. Bersiap-siap juga kita akan menemui pimpinan perusahaan untuk menyelesaikan ini semua."
"Oke deh."
Satu misi sudah dilewati. Akan tetapi, rasanya belum mantap jika Lovey tidak menjelaskannya sendiri. Mario akan meminta Lovey untuk bertemu Ken malam nanti. Paling tidak, hubungan baik atas dasar relasi harus tetap terjalin demi kepentingan perusahaan masing-masing.
Mario ke kamarnya lebih dulu, lantas mengirimkan pesan untuk Lovey. Usai pesan terkirim, Mario memilih untuk merebahkan diri sambil menelepon Anjani. Sekedar memberi kabar bahwa Mario telah sampai di kota tujuan.
__ADS_1
Sementara itu di kamar Lovey. Smartphone bergetar penanda pesan, tapi Lovey tidak buru-buru membaca isi pesan. Tak lama kemudian terdengar ketukan pintu kamar. Lovey lebih dulu membetulkan rambutnya yang berantakan, kemudian membuka pintu kamar. Namun, tidak ada siapa-siapa di sana. Lovey hanya mendapati sebotol body mist dengan sebuah pesan.
Lovey membawa body mist itu masuk ke dalam kamar. Sembari duduk di tepi ranjang, Lovey mengamati botol body mist aroma Bunga Moringa dalam genggaman sebelum membaca isi pesan.
"Bukankah ini body mist kesukaan Anjani?" Lovey tersenyum melihat body mist dalam genggamannya.
Tak berlama-lama lagi, Lovey pun membaca isi pesan yang tertera dalam lipatan kertas. Mimik wajah Lovey serius membacanya. Sempat ada kebimbangan hati, tapi pada akhirnya Lovey mantap akan melakukan aksi sesuai isi pesan yang dibacanya barusan.
Lovey lebih dulu memakai body mist aroma bunga moringa yang barusan diberikan padanya. Tidak terlalu banyak, tapi cukup harum dan Lovey begitu nyaman menggunakannya. Dirasa cukup, Lovey pun keluar dan langsung menemui Mario di depan pintu kamarnya.
Mario, keluarlah sebentar. Aku sudah di depan pintu kamarmu. Lovey mengirim pesan singkat pada Mario.
"Vey, ada apa?" tanya Mario usai membuka pintu kamarnya.
"Em ... pesanmu tadi. Kau sungguh-sungguh menginginkan aku melakukannya?" tanya Lovey.
Pesan yang dibicarakan Lovey tidak sama dengan apa yang ada di pikiran Mario. Lovey membahas pesan yang dikirimkan bersama sebotol body mist, sementara pikiran Mario tertuju pada pesan singkat yang meminta Lovey untuk ketemu Ken nanti malam dan memperbaiki hubungan sebagai relasi pekerjaan.
"Tentu saja aku ingin kamu melakukannya." Begitulah jawaban Mario atas pertanyaan Lovey tadi.
"Baiklah kalau itu maumu."
Tanpa aba-aba lagi, Lovey langsung mengalungkan tangan dan mengikis jaraknya dengan Mario. Sensasi lembut yang mengejutkan seketika Mario rasakan. Bola mata Mario seketika melebar karena tidak menyangka dengan aksi yang Lovey lakukan.
Mario memegangi pundak Lovey, berniat mencegah aksi yang lebih dalam. Akan tetapi, aroma body mist yang dipakai Lovey seketika membuat Mario tertawan. Wajah Anjani pun terbayang.
Mario kehilangan kesempatan untuk memutus kikisan lantaran terbuai aroma body mist yang memabukkan. Tanpa terhindarkan, kikisan Lovey pun semakin dalam dan Mario hanya terdiam.
Dirasa cukup, Lovey pun melepas. Senyum Lovey mengembang usai kikisan panas yang dia lakukan.
"Sudah kubayar lunas," ujar Lovey sambil mengusap ujung bibirnya.
"Apa yang barusan kau lakukan, Vey?" Mimik wajah Mario sulit diartikan. Dirinya merasa bodoh karena barusan gagal menghindar dari kikisan.
"Hm? Aku melakukan sesuai permintaanmu, Mario. Dan, terima kasih body mistnya. Kuanggap itu sebagai hadiah."
"Body mist apa?" Mario tidak mengerti arah pembicaraan Lovey.
"Yang kau kirim barusan. Sebentar, kuambil dulu."
Lovey pergi ke kamarnya, mengambil body mist beserta pesan dalam kertas lalu ditunjukkan pada Mario. Mario tidak tertarik dengan body mistnya, melainkan lebih tertarik pada pesan dalam kertas yang isinya sunggung tak terduga.
Selamat untuk kekasih barumu, Vey. Sebelum kau menikah, bayarlah hutang nyawa yang kau maksudkan dulu. Balas perlakuanku saat di bilik perawatan waktu itu. Aku tunggu dan aku bersungguh-sungguh. Mario.
Begitulah isi pesan yang membuat Mario mendapat kikisan. Di saat Mario dan Lovey berdebat tentang kesalahpahaman barusan, di dalam kamar lainnya, Dewangga tengah tertawa sambil melihat rekaman video yang barusan diambilnya.
"Apa yang akan terjadi pada Anjani saat kukirimkan video di bilik perawatan dan video yang barusan, ya? Atau mungkin lebih baik disebarluaskan saja?"
Dewangga merasa menang. Bersiap menjalankan rencana lanjutan.
Bersambung ....
Yang penasaran sama lanjutannya, tahaaaan ya 😉 Jangan keburu ninggalin author dulu, karena author berencana nggak bikin nih novel terlalu panjang. Ide baru dengan judul novel baru mulai bertebaran. Kecuali banyak yang suka sama novel ini, ya kemungkinan akan author panjangkan jalan cerita Mario Anjani. Hohoho. Buat sekarang, mohon dukungannya ya. LIKE-Komentari 😉 Author suka sekali baca komentar-komentar pembaca sekalian. Author jadi merasa diperhatikan 😳
Terima kasih sudah mampir dan membaca. Novel Menanti Mentari dan Cinta yang Terpendam kepoin juga ya. Salam Luv dariku 💙
__ADS_1
***