Takdirku Bersamamu

Takdirku Bersamamu
Episode 54 : Izin Menikah Lagi


__ADS_3

Mario dan Lovey beriringan langkah menuju lantai sembilan. Sepanjang jalan sama sekali tidak tercipta obrolan. Baik Mario ataupun Lovey sama-sama larut dalam pikiran yang sulit diartikan. Usai Lovey menerima kesepakatan, kini yang ditunggu adalah izin dari Anjani.


"Istirahatlah," ucap Mario begitu mereka berdua sampai di lantai sembilan.


Lovey mengangguk singkat, tidak bersemangat. Sikap itu tidak luput dari perhatian Mario.


"Vey," panggil Mario hingga membuat Lovey menoleh.


"Semua akan baik-baik saja. Dirimu, juga harta warisan dan perusahaanmu," imbuh Mario.


"Iya. Aku percaya padamu. Kalau begitu ... aku mau istirahat dulu. Selamat malam." Lovey pamit masuk kamar duluan.


Mario hanya mengangguk singkat. Setelahnya, Mario pun berniat masuk ke kamar guna beristirahat. Baru saja membuka pintu, Ken menghampiri dan langsung menyerbu.


Buuuukk!


Mario terhuyung masuk ke dalam kamar usai tangan Ken didaratkan. Bagian pipi seketika terasa nyeri. Mario memegangi, sembari menahan diri untuk tidak emosi dan membalas aksi.


"Ken! Apa yang kau lakukan, ha?" seru Mario.


Blam! Pintu kamar Mario ditutup dengan kasar oleh Ken.


"Akulah yang seharusnya bertanya! Apa maumu, ha? Anjani sedang hamil besar. Sebentar lagi melahirkan. Kenapa kau malah mau menikahi Lovey, ha? Gillaa! Kau ingin Anjani marah?!" Ken emosi.


Mario terhenyak. Seketika sadar kenapa Ken bisa melakukan aksi brutal. Ken rupanya telah mendengar, Mario menyadarinya sebagai sebuah protes atas ketidaksetujuan.


"Kau sudah tau?"


"Ya. Apa maumu, ha?"


"Jika kau sudah mendengar semua, maka kau pasti tau alasanku melakukannya."


"Hanya untuk melindungi Vey dan harta warisannya? Harus dengan jalan menikah?"


"Hanya itu satu-satunya ide yang bisa dilakukan untuk menjaganya, Ken."


"Itu ide gillaaa! Kau gilla!"


Mario menatap Ken dengan sorot mata yang dalam. Mario tidak suka protes dan makian yang Ken lakukan.


"Kau tidak terima, Ken? Apa kau berharap bisa menikah dengan Vey juga?" bidik Mario.


Deg!


Ken membuang pandang. Memang itulah alasan Ken melayangkan protes dan kepalan tangan. Ken tidak terima. Dialah yang memiliki rasa, tapi justru Mario yang mengajak Lovey menikah.


"Kalau itu yang kau khawatirkan, kupertegas lagi. Aku dan Vey akan menikah dengan landasan hitam di atas putih. Tidak akan ada hubungan suami istri. Vey juga telah setuju dengan hal ini. Dan Anjani .... Dia tetap menjadi satu-satunya istri yang kucintai." Mimik wajah Mario teramat serius.


Yang telah disepakati Mario dan Lovey adalah pernikahan kontrak. Lovey hanya akan menyandang status sebagai istri Mario. Status itulah yang nantinya dijadikan tameng untuk melindungi Lovey dan harta warisannya. Tentang hak yang akan Lovey dapatkan, itu semua akan diatur dalam kontrak pernikahan. Lovey juga telah setuju status itu berbatas waktu.


"Ken!" seru Mario karena Ken tidak memberi tanggapan usai penjelasan panjang lebar.


"Kenapa harus denganmu?" Akhirnya, terucap juga yang sedari tadi ditahan Ken.


"Karena Lovey hanya percaya padaku. Kenapa? Apa kau beralih rasa dari Marisa?" Mario membidik Ken lagi.


Bungkam. Kali ini Ken tidak bisa memberi kata balasan. Sebelum ini Ken memang telah mengatakan bahwa akan serius menjalin hubungan dengan Marisa. Nyatanya, saat Mario dan Lovey sepakat untuk menikah, rasa kecewa dan tidak terima langsung membutakan hati Ken seketika.


"Ken! Jawab aku!"


"Terserah kau saja. Pastikan Lovey tidak akan menderita," jawab Ken kemudian.


Mario tersenyum, melangkah mendekat, kemudian merangkul. Awalnya Ken hanya diam saja, tapi lama-lama Ken membalas juga.


"Kau harus ada di sana saat penandatanganan kontraknya, Ken. Baca baik-baik setiap pasal yang ada."


"Sebenarnya aku ingin marah-marah, Bro. Tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk melindungi Lovey. Jadi, berjanjilah kau tidak akan pernah melebihi batasan selain hanya memberi Lovey status pernikahan."


"Kau bisa pegang janjiku, Ken."


Kembali normal. Mario dan Ken tidak lagi saling seru untuk melontar protes dan penjelasan.


"Tapi, bagaimana dengan Anjani? Apa dia akan memberi izin untukmu menikah lagi?"


"Entahlah. Tapi akan kucoba untuk meminta pengertiannya. Paman Li juga sudah kuminta membuat hitam di atas putih. Akan kutunjukkan lebih dulu pada Anjani."


"Jika Anjani menolak?"


"Akan kuminta Anjani menambahkan pasal-pasal yang akan menguatkan posisinya. Anjani tetap satu-satunya istri yang kucinta, Ken."


Ken menepuk bahu Mario. "Kalau begitu ... selamat mencoba."

__ADS_1


Usai berkata demikian, Ken pamit menuju kamar. Mario pun kini sendirian. Pikirannya kembali dipenuhi bayang-bayang Anjani. Meski bisa menebak reaksi Anjani nanti, tapi Mario tetap mengukuhkan niat untuk minta izin menikahi Lovey.


***


Keesokan harinya, di siang hari yang terik. Dewangga tampak duduk berdua dengan lelaki yang sudah menjadi mantan kekasih Lovey. Dua cangkir kopi di depan mereka tampak dingin, sama seperti perseteruan dingin yang baru saja berakhir.


"Aku mundur."


"Hei, bukankah sebelum ini kau begitu tertarik dengan harta warisan Lovey?" Dewangga mengingatkan lagi


"Ada Mario di balik Lovey. Aku enggan berurusan dengannya lagi," ungkap mantan kekasih Lovey.


"Kau takut dengan Mario?"


"Kau tidak tau kuasa ayahnya. John. Ayah Mario akan dengan mudah menjungkir balikkan perusahaanmu yang saat ini hampir collapse . Saranku, kau harus segera berhenti menggangu Lovey."


Dewangga tidak percaya partnernya justru menyerah. Sebagai tanggapan atasnya, Dewangga hanya tertawa.


"Tidak apa-apa. Silakan saja jika kau mundur. Tapi ... jangan pernah lagi menasihatiku. Kau tau betul, aku tidak akan pernah mendengarkan nasihatmu."


"Terserah kau saja. Yang penting aku sudah memperingatkanmu. Aku permisi!"


Mantan kekasih Lovey pergi. Telah memilih mundur untuk ikut campur. Memilih aman, daripada nanti ikut tersungkur.


Dewangga sama sekali tidak mencegah. Lagipula sebagian besar rencananya sudah terlaksana. Dewangga sudah tidak membutuhkan bantuannya, karena Lovey dan Mario telah masuk dalam jebakannya.


"Yang penting aku sudah mengantongi dua video Mario dan Lovey. Mereka berdua harus membayar mahal karena berani menolak semua kerjasama yang aku tawarkan ulang. Cih. Aku sampai hampir gulung tikar karena berita kecuranganku menyebar." Dewangga mengeluarkan smartphone dan menggandakan 2 file video dalam ruang penyimpanan awan.


"Rasakan ini!" Jemari Dewangga sudah bersiap mengirim dua video itu pada Anjani, tapi urung karena pesan singkat dari mata-matanya.


Dewangga jadi punya ide baru usai membaca pesan singkat itu. Dua video tadi benar-benar urung dikirimkan pada Anjani. Dewangga menyimpannya untuk nanti.


"Rupanya Mario dan Lovey memiliki ide gila. Wow. Menikah? Bagaimana reaksi Anjani, ya? Hahaha." Dewangga tertawa, membayangkan kepelikan masalah yang akan segera terjadi pada targetnya.


***


Sore itu, Mario baru sampai. Di rumah kebetulan ada teman-teman Anjani, sehingga Mario tidak bisa langsung berbicara pada sang istri. Ada Riko, Isabel, dan Marisa yang sama-sama baru selesai dari magangnya. Mario sempat menyapa, sebelum akhirnya menuju kamarnya.


"Mas, maaf nggak bisa langsung nemenin kamu barusan." Anjani langsung menemani Mario duduk di sofa mini dalam kamar.


"Tidak apa-apa. Temanmu sudah pulang?" Mario melingkarkan tangan usai bertanya demikian.


"Sudah." Anjani menyandarkan kepala ke bahu Mario. "Aku rindu kamu, Mas. Sejak kemarin kepikiran terus. Padahal baru saja sehari nggak ketemu."


"Sayang, ada yang ingin kusampaikan."


"Sampaikan saja, Mas."


"Tapi, berjanjilah untuk tidak buru-buru emosi. Dengarkan apa yang kusampaikan sampai akhir."


"Oke."


Ringan saja Anjani menjawab oke. Dirinya tidak tahu bahwa Mario hendak minta izin untuk menikahi Lovey.


"Sayang, izinkan aku untuk menikahi Lovey!"


Deg!


Deg-deg!


Deg-deg-deg-deg!


Anjani terkejut. Dilepasnya rangkulan Mario, kemudian menatapnya serius.


"Menikahi Lovey? Kenapa, Mas? Apa pelayananku kurang? Apa karena aku gendutan? Iya?"


"Ssuuut. Tenang dulu." Mario mencoba menenangkan emosi Anjani, tapi yang ditunjukkan sang istri justru mimik wajah yang semakin emosi.


"Lepasin!" Anjani kini berdiri, sambil sebelah tangan memegangi perutnya yang besar.


"Sayang. Kumohon dengarkan aku dulu. Duduklah. Ingat, kamu sedang hamil." Mario ikut berdiri. Mencoba menggapai pundak Anjani tapi gagal karena tepisan tangan.


"Justru karena aku sedang hamil, Mas. Harusnya kamu sadar bagaimana caranya menjaga perasaan. Aaa!" Lantaran terlalu emosi, Anjani sampai merasakan nyeri.


"Sayang!" Mario langsung membantu Anjani duduk lagi.


"Lapasin! Aaaa!" Anjani semakin merasakan nyeri.


"Sayang. Kamu tidak apa-apa? Kumohon tenangkan dirimu!"


Mario memberi dekapan. Jelas, Anjani meronta untuk melepas. Namun, Mario tetap gigih tidak melepas. Mario terus berusaha memberi pelukan meski tangan Anjani kini memukul-mukul keras.

__ADS_1


Dada bidang Mario menjadi sasaran, dan Mario sama sekali tidak keberatan. Dibiarkannya Anjani melampiaskan kekecewaan. Hingga akhirnya Mario mendengar isak tanpa ada lagi amarah dalam kepalan tangan.


"Kamu jahat, Mas."


Mario tidak menjawab, justru semakin mendekap.


"Kamu tega!"


Dekapan Mario semakin erat.


"Sayang, tidakkah kau ingin mendengar alasanku?"


Anjani menggeleng tegas. "Tidak. Tidak akan kudengarkan!" Sekali lagi Anjani melampiaskan emosi dalam kepalan tangan di dada bidang. Lagi-lagi, Mario hanya menerima dan sama sekali tidak keberatan.


"Tapi kamu harus mendengarnya. Aku butuh izinmu untuk menikah."


Kembali Anjani menggeleng tegas. Tubuh Anjani yang kurang bertenaga membuatnya selalu gagal melepas dekapan suaminya.


"Mas. Lepasin aku!"


"Dengarkan penjelasanku dulu."


"Tidak!"


"Nyawa Lovey terancam." Mario memulai penjelasan meski Anjani menolak untuk mendengarkan. Nyatanya, sikap Anjani tampak lebih tenang usai mendengar bagian awal penjelasan. Kata nyawa begitu mengusik perhatian, membuat pikiran Anjani seketika mencerna lebih dalam.


"Harta warisan dan perusahaan Lovey dalam incaran. Kekasih Lovey berniat buruk, dan Lovey butuh perlindungan." Mario terus memberi penjelasan.


Penjelasan Mario membuat ingatan Anjani melambung ke cerita Mario malam itu. Malam saat Mario menyelamatkan nyawa Lovey karena ulah sang paman yang berniat menguasai harta warisan. Anjani tidak sanggup membayangkan jika kejadian itu terulang untuk kedua kalinya.


"Aku bukan minta izin untuk menikah seperti pasangan pada umumnya. Aku izin untuk nikah kontrak dengan Lovey," imbuh Mario lagi.


"Nikah kontrak? Maksudnya?" Anjani mulai tertarik untuk mendengar penjelasan.


Dimulailah cerita dan penjelasan Mario. Tentang Lovey dan kekasih barunya, tentang kekecewaan Lovey pada Ken, dan tentang banyak hal hingga sampailah Mario pada cerita saat keputusan itu dibuat kemarin malam.


"Lovey hanya akan mendapatkan status atas pernikahan itu. Tidak lebih. Semua kesepakatan diatur dalam kontrak pernikahan. Coba kamu baca dulu. Jika ada pasal yang merugikanmu, segera hapus dan ganti sesukamu."


Anjani menerima lembaran yang disebut Mario sebagai kontrak pernikahan. Dibacanya setiap pasal dengan teliti tanpa ada sesuatu pun yang dilewatkan. Benar, Anjani sama sekali tidak menemui hal yang merugikan dirinya. Kontrak pernikahan itu lebih membatasi Lovey setelah nanti menyandang status sebagai istri. Menurut Anjani, kontrak pernikahan itu hanya memberi satu keuntungan saja bagi Lovey, yakni status pernikahan.


"Apa prosesi pernikahannya sungguhan?" tanya Anjani.


Mario mengangguk. "Lovey akan menyandang status sah sebagai istriku. Hanya saja yang Lovey dapatkan hanya status, sesuai kesepakatan dalam kontrak."


Anjani membuang pandang. Bukan untuk menghindar, tapi untuk mengondisikan hati dan pikiran. Sebenarnya Anjani tidak suka Mario main-main dengan pernikahan. Namun, hati kecil Anjani mengatakan bahwa dirinya tidak bisa mengabaikan keadaan yang mengancam teman. Ya, Lovey dan Anjani telah berteman. Bahaya yang dimaksudkan, membuat Anjani berpikir ulang.


"Mas, boleh aku tahu sesuatu?"


"Apa itu? Katakan saja."


"Apa kamu mencintaiku?"


"Dari dulu dan sampai kapanpun itu aku tetap mencintaimu, Sayang. Percayalah padaku."


Anjani menatap ke dalam manik mata Mario. Sama sekali tidak ditemui kebohongan. Tatapan mata dan keseriusan Mario tetap sama dari dulu sampai sekarang.


"Apa kamu benar-benar butuh izin dariku?" tanya Anjani.


Mario mengangguk.


"Kalau begitu ... aku memberimu izin untuk menikahi Lovey."


Mimik wajah Mario seketika berubah cerah, tapi tidak dengan Anjani yang masih menampilkan keseriusan di wajahnya.


"Tapi ...."


"Tapi apa, Sayang?"


"Patuhi betul kontrak itu. Langsung ceraikan Lovey begitu kontrak berakhir. Dan ... ini." Anjani menunjuk pada salah satu pasal. "Bukan 2 tahun. Itu terlalu lama." Anjani khawatir jika terlalu lama sang suami dan Lovey malah akan memiliki benih cinta.


"Berapa lama yang kau mau? 1 tahun saja?" tanya Mario.


"Itu juga terlalu lama. Cukup tiga bulan saja!"


"Baiklah. Akan kuganti segera. Terima kasih sudah mengizinkanku, Sayang. Aku mencintaimu." Mario tersenyum


Anjani mengangguk. Memaksakan senyum yang sama, meski dalam hati masih ada rasa sesak karena keputusan yang dibuatnya. Keputusan Anjani adalah memilih untuk percaya pada sang suami dan membantu Lovey dengan memberi izin pada sang suami untuk menikah lagi. Terlihat bodoh memang, tapi itulah yang Anjani putuskan. Lalu, apa yang akan terjadi kemudian? Nantikan!


😭😭😭😭😭😭 Tuh kan! Author yang bikin alur, author juga yang nyesek karena alur. This is story of Mario-Anjani. Silakan layangkan komentar atas perasaan pembaca saat ini. Gemes sama kisahnya atau gemes sama authornya, nih? Hehe. Btw, enjoy reading kakak-kakak online yang berbahagia. Ingat, ini hanyalah fiksi belaka. Semoga bisa menghibur dan bikin greget waktu senggang kakak-kakak pembaca. Salam Luv 💙


Mau kisah yang manis-manis? novel Cinta Strata 1, novel Menanti Mentari, dan novel Cinta Yang Terpendam bisa dijadikan pilihan. Hayyuk, dukung author agar lebih semangat dalam berkarya 😉

__ADS_1


LIKE-nya jangan sampai ketinggalan meskipun greget gemes ya kak 😘


***


__ADS_2