Takdirku Bersamamu

Takdirku Bersamamu
Episode 69 : Manis


__ADS_3

Kokok ayam terdengar merdu di telinga. Pertanda pagi akan segera tiba. Anjani membuka mata. Dilihatnya, Mario masih terlelap di sampingnya.


Senyum Anjani merekah. Tak jenuh jika harus berlama-lama memandangi wajah suaminya. Lagi-lagi, pipi Mario diusapnya pelan, hingga tiba-tiba Mario tersadar.


"Sayang. Kamu sudah bangun?" Mario mengerjapkan mata.


"Iya, Mas. Kamu juga, gih. Siap-siap ke masjid."


Mario tidak langsung berdiri. Yang dia lakukan justru merapatkan posisi. Mario merangkul Anjani, memberinya rasa nyaman penuh cinta kasih.


"Sebentar dulu, ya Sayang. Aku masih rindu."


"Aku pun begitu. Masih rindu dan pengen deket-deket kamu terus. Tapi ...." Anjani melepas pelukan.


"Tapi apa, Sayang?" Mario khawatir kembali berbuat kesalahan.


Anjani menyunggingkan senyuman. "Tapi dilanjut nanti dulu, ya. Siap-siap ke masjid, gih. Aku siapkan sarung sama baju gantinya dulu."


"Hm? Apa saat pergi dari rumah, kamu membawa bajuku juga?" Mario menebaknya.


"Nggak juga, sih. Sebenarnya ...."


Anjani tidak langsung melanjutkan kalimatnya. Dia senyum-senyum dulu, baru setelah itu bercerita. Rupanya, beberapa hari lalu Anjani lihat-lihat toko pakaian di dekat kontrakan. Ada baju bayi hingga dewasa. Mulanya Anjani lihat-lihat baju bayinya saja, tapi pada akhirnya yang dibeli justru pakaian laki-laki seukuran suaminya.


"Begitu ceritanya, Mas. Hehe." Anjani malu-malu.


Mario memperhatikan sikap manis Anjani yang malu-malu saat bercerita tentang baju. Sejurus kemudian, yang dilakukan Mario adalah mendekatkan wajah dan membuat kikisan. Hanya sebentar, tapi sudah mampu membuat Anjani deg-degan.


"I love you." Usai berkata demikian, Mario tersenyum kemudian beranjak dari kasur.


Kata cinta dari Mario terngiang-ngiang di telinga. Debaran jantung Anjani tak henti-hentinya memberi warna indah. Senyum Anjani merekah, dan tiada kata lagi selain rasa syukur yang membuncah.


Selanjutnya, Anjani menuju almari guna menyiapkan baju ganti. Sementara Mario, dia sudah keluar kamar menuju ruang tamu depan. Baru setengah jalan, Ma menghampiri Mario dengan mimik wajah gusar.


"Nak Mario, bagaimana?"


"Alhamdulillaah, Ma. Kami sudah berbaikan."


"Haaaah. Syukurlah." Ma tampak lega.


"Mario mau bangunin Ken dulu, Ma." Mario izin.


"Iya-iya. Bangunin pula teman kau yang satunya itu. Ajak sekalian ke masjid depan sana."


Mario mengangguk. "Oya, Ma. Setelah dari masjid, Mario izin masakin sarapan buat Anjani, ya."


"Mau romantis pula kau, ya. Silakan-silakan. Ma senang kali lihat kalian berdua baikan."


Selangkah demi selangkah, manisnya cinta kembali dirasa. Mario begitu berbunga-bunga hatinya. Anjani, sang istri yang begitu dicintainya itu telah kembali. Satu janji pun terpatri. Mario bersungguh-sungguh akan menjaga dan memperlakukan selayaknya istri dengan penuh cinta kasih.


***


Sepulang dari masjid, dalam perjalanan kembali ke kontrakan, Mario berpapasan dengan Bastian. Ada Riko pula di sana. Seketika itu Mario meminta Bastian untuk berbicara empat mata.


"Riko biar ikut aku sama Husen." Ken paham situasi.


"Mau kemana, Pak?" Seperti biasa, Riko sopan bertanya.


"Beli Ketan Bubuk di ujung jalan situ. Aku traktir."


"Mantap. Ayo!" Husen semangat melangkah.


Sebenarnya Riko sedikit khawatir meninggalkan Bastian bersama Mario. Namun, Ken langsung memberi kode agar Riko membiarkan Bastian dengan Mario.


"Semua akan baik-baik saja. Yuk, buruan!" bisik Ken lantas menarik lengan Riko.


Riko, Bastian, dan Husen pergi menuju warung yang menjual Ketan Bubuk. Sementara Mario, dia mengajak Bastian mencari tempat duduk.


Mulanya ada kecanggungan. Beberapa detik lamanya mereka berdua terdiam. Hingga kemudian, Mario memecah keheningan dengan mengucap terima kasih atas penjagaan Bastian.


"Terima kasih telah menjaga Anjani," ucap Mario. Tulus dari hati.


"Kau ... tidak marah?"


"Aku sempat kecewa karena kau membuat rahasia. Tapi ... semua sudah berlalu. Anjani sehat sampai sekarang ini, salah satunya karena kebaikanmu. Sekali lagi ... terima kasih."


Mario memilih untuk berterima kasih daripada ribut ataupun meluapkan emosi.


"Sama-sama. Aku hanya menjaga perasaan Anjani saja. Saat itu Anjani begitu labil."


"Iya. Aku mengerti. Semalam Anjani juga sudah bercerita. Terima kasih juga atas makanan yang selalu kau kirimkan. Maaf, istriku memang doyan makan."


Bastian tertawa pelan. Setelahnya, suasana antara Mario dan Bastian semakin akrab dan tidak ada lagi kecanggungan.


"Mario, setelah ini aku akan merantau. Doakan aku, ya."


Bastian tidak gengsi untuk meminta Mario agar mendoakannya.


"Aku doakan kau bertemu dengan tambatan hatimu," doa Mario, seolah tau perasaan Bastian saat itu.


Bastian mengaamiinkan, kemudian teringat pesannya pada Riko semalam.

__ADS_1


"Jika aku sudah menemukannya, akan segera kuhalalkan dan kubahagiakan."


Mario menanggapi dengan doa dan semangat untuk Bastian. Dan ... segala curiga, cemburu buta, selisih paham antara Mario dan Bastian, kini telah bertemu titik damai yang melegakan.


***


Di dapur, di sanalah Mario dan Anjani berada saat ini. Usai Riko dan Bastian pamit pulang ke Jakarta duluan, Mario dan Anjani langsung menuju dapur guna menyiapkan sarapan. Ma tidak membantu. Sengaja membiarkan Mario dan Anjani berdua di dapur sembari mempererat keharmonisan.


"Sayang, mau dicampur sosis?"


"Boleh, Mas. Kak Ken sama temannya pasti juga suka. Kalau Ma sudah pasti suka."


"Sayang, kamu ini selalu saja memikirkan orang lain."


Mario tersenyum sambil melayangkan pandang ke arah Anjani. Yang dipandang justru hanya senyum-senyum sembari melangkah menghampiri sang suami.


"Minum tehnya dulu, Mas. Duduklah sebentar. Aku bantu menyiapkan bumbunya, lalu kamu bisa memasaknya." Anjani menyerahkan secangkir teh.


Mario menerima cangkir tehnya. Setelahnya tidak langsung duduk, melainkan menarik pelan lengan Anjani.


"Temani aku minum ini, ya."


Anjani mengangguk. Lekas duduk di sebelah Mario. Sejenak, aktivitas membuat sarapan ditinggal. Mario dan Anjani duduk bersama dalam kehangatan. Seperti biasa, Mario mengambil kesempatan untuk memberi rasa nyaman dan perhatian.


"Sayang, minumlah juga."


Ditawari, tentu saja Anjani tidak menolak keinginan sang suami. Diseruputnya teh hangat buatan tangannya sendiri.


"Manis," ucap Anjani.


"Benarkah? Sepertinya tadi sedikit tawar. Coba aku rasakan."


Anjani menyodorkan cangkirnya lagi, tapi yang didapatkan olehnya justru sebuah aksi. Mario beraksi. Memberi kiskisan tanpa permisi.


"Heeem. Manis sekali." Mario menyudahi kemudian menyeruput tehnya lagi.


Anjani panik. Langsung tengok ke sana-sini khawatir ada yang melihat mereka tadi.


"Mas, lain kali jangan gitu ah. Nanti kalau ada yang lihat gimana."


Mario melebarkan senyumnya, kemudian mengusap-usap puncak kepala istrinya.


"Jangan khawatir. Lain kali aku akan lihat posisi. Tapi ... nggak janji, ya."


Anjani refleks menangkupkan tangan ke wajah. Sedikit cemberut, tapi tidak begitu lama. Setelahnya Anjani mengajak Mario kembali membuat sarapan untuk semua. Berharap tidak mendapat kejahilan dari sang suami, nyatanya Mario lebih gencar melakukan aksi. Meski sempat protes, nyatanya Anjani menyukai perlakuan sang suami.


***


"Nasi goreng sama telur ceplok?!" Ken melongo melihat sarapan yang terhidang di meja.


"Bukannya nggak suka, sih? Tapi ini kok bisa gosong begini? Pasti yang masak kau, kan?! Ngaku deh! Kalau Anjani yang masak pasti tampilan nasi gorengnya lebih menarik." Ken masih protes.


Tanpa banyak berkomentar lagi Mario lekas mengambil piring nasi goreng bagian Ken, kemudian menyodorkannya pada Husen yang tampak menikmati nasi goreng.


"Eh-eh. Mau dikemanain nasi gorengku?"


"Daripada kamu protes terus, mending kukasih Husen."


"Ah, Mario. Nggak asik banget, sih. Sini balikin."


"Nggak mau!" Mario bertahan.


Cetak!


Itu ulah Ma yang mendaratkan sendok ke meja.


"Macam anak kecil pula kalian, nih. Ayo makan!"


"Betul. Makan-makan-makan. Jangan lihat gosongnya! Begitu dikunyah, buuuh. Rasanya mantap jiwa!" Husen memuji telur ceplok gosong buatan Mario.


Mario tersenyum lebar. Ken tak lagi bisa berkomentar. Sementara Anjani dan Ma, mereka hanya geleng-geleng kepala menyaksikan itu semua.


Usai sarapan. Obrolan lain tercipta. Khususnya rencana kepulangan mereka ke Jakarta.


"Aku perlu waktu buat beres-beres kontrakan dulu sebelum meninggalkannya, Mas."


"Bisa diatur. Ken, tolong ya!" pinta Mario.


"Kena lagi, deh. Sen, bantuin ya!" Ken meminta Husen.


"Beres. Ayo sekarang. Paling nggak baru siang nanti nih bisa pulang." Husen memperkirakan.


Tanpa ba-bi-bu lagi, Ken dan Husen lekas membantu Ma beres-beres kontrakan. Anjani tidak ikut. Dia ditemani sang suami pergi ke rumah Bu Harnum. Anjani menyudahi masa kontrakan tanpa meminta kembali uang yang telah dibayarkan. Anjani juga berterima kasih atas kebaikan Bu Harnum dari awal pertemuan. Setelahnya, Anjani pun berpamitan.


Sore harinya, Anjani, Mario, dan Ma tiba di Jakarta. Anjani disambut hangat oleh ayah, ayah mertuanya, Pak Gun, Mbak Lastri dan Mbok Darmi di rumah. Ken tidak mampir dulu dengan alasan sudah kepalang rindu dengan sang istri karena sejak kemarin tidak bertemu.


***


Dua hari berlalu sejak kepulangan Anjani. Dua hari pula Anjani mendapat kabar akan kehadiran Ken dan Lovey, tapi ujung-ujungnya tidak jadi. Mario menebak bahwa Lovey sedang menata hati untuk bisa bertemu Anjani setelah apa yang telah terjadi.


"Lovey kenapa, ya Mas? Apa dia takut ketemu aku?" tanya Anjani.

__ADS_1


"Rasa tidak enak hati itu pasti ada, Sayang. Tunggu saja. Aku yakin sekali Ken pasti berhasil meyakinkan Vey bahwa istriku ini begitu baik hatinya." Mario melingkarkan tangan ke pundak Anjani.


Senyum Anjani merekah atas pujian Mario padanya. Rasa syukurnya semakin hari semakin bertambah. Anjani bersyukur karena Mariolah yang ditakdirkan bersamanya.


"Mas, aku haus."


"Sebentar. Aku ambilkan minum dulu, ya."


Mario ke belakang, meninggalkan Anjani duduk sendirian di sofa ruang tamu depan. Begitu kembali, Mario dikejutkan dengan kondisi Anjani yang seperti sedang kesakitan.


"Mas, sepertinya sudah waktunya."


"Ma-mau lahir, ya. Tenang, Sayang. Sebentar!"


Mario menyuruh Anjani untuk tenang, tapi dia sendirilah yang tampak tidak tenang. Mario mondar-mandir sebentar tanpa tahu apa yang harus dilakukan.


"Mas, bawa aku ke bidan!" Anjani bingung juga melihat suaminya mondar-mandir tanpa berbuat apa-apa.


"I-iya, Sayang. Bidan, ya. Oke. Bidan."


Mario masih saja panik. Untunglah Ma datang dari pasar. Ma yang tahu Anjani hendak melahirkan langsung gerak cepat menyuruh Mario menyiapkan apa-apa yang diperlukan.


"Kau siapkan mobil dulu, Nak. Biar Ma temani Anjani."


Mario menurut. Mobil disiapkan dengan lebih dulu memasukkan barang-barang yang diperlukan. Setelah siap, berangkatlah mereka menuju tempat persalinan.


"Aku mau ditemani suamiku, Ma!" Anjani menggenggam erat tangan Mario.


"Iya, Sayang. Pasti akan kutemani." Mario membalas genggaman tangan Anjani dengan sama eratnya.


Dan ... di sanalah Mario berada. Ikut menyaksikan betapa besar perjuangan Anjani melahirkan anak pertama mereka. Sampai tak kuasa Mario melihatnya. Hingga tanpa sadar, air matanya menetes karena tidak tega melihat istrinya.


Tangan Anjani terus digenggam erat, sambil sesekali Mario memberinya semangat.


"Kamu kuat. Kamu kuat, Sayang. Kamu hebat." Itulah kata yang diucapkan Mario sesaat sebelum air matanya kembali menetes.


"Maaaaass!"


Seruan Anjani yang terakhir begitu kencang. Membuat dada Mario semakin bergetar. Saat itulah hati Mario terpatri janji bahwa dia akan mencintai Anjani sampai maut memisahkan mereka nanti. Dan .... alhamdulillaah, anak pertama Mario-Anjani lahir ke dunia.


"Alhamdulillaah. Sayang, anak kita laki-laki." Mario mengabarkan dengan penuh haru.


Anjani tak sanggup berkata-kata. Yang dia lakukan terus menggenggam tangan Mario, sambil menatapnya penuh cinta dan rasa bahagia.


***


Baby boy sudah dalam gendongan Anjani. Sulit diungkap lewat kata-kata betapa bahagia Mario-Anjani atas kelahiran anak pertama mereka. Begitu terasa perjuangannya. Usai ujian yang sudah dipetik hikmahnya, hadirnya buah hati menjadi hadiah sekaligus anugerah terindah.


"Daddy, aku sudah lahir, daddy!" Anjanilah yang bersuara.


"Muuaah." Mario memberi kecupan. Bukan pada sang buah hati, tapi pada Anjani.


"Iiiih, Daddy kok malah nyium bunda aja, sih. Kan aku yang baru dilahirin bunda."


Mario tersenyum lebih dulu ke arah Anjani, mengusap pelan puncak kepalanya, kemudian mengambil alih gendongan bayi laki-lakinya.


"Itu tadi hadiah buat bunda, Nak." Mario memperhatikan wajah baby boy dengan senyum sumringah.


"Mirip kamu, Mas."


"Mirip kamu juga, Sayang."


Di tengah kebahagiaan yang dirasakan, Ma datang mengantar beberapa orang yang berkunjung. Ada Isabel, Riko, dan Marisa. Bastian juga ikut datang bersama mereka. Sayangnya, Bastian memilih untuk tidak berlama-lama. Selain takut baper lagi, Bastian juga sudah ada janji dengan Pak Bos untuk mengutarakan rencana pengunduran diri.


"Aw! Maaf, Kak!" Marisa yang terburu-buru tanpa sengaja menabrak Bastian dan terjatuh.


"Pelan-pelan, dong. Sini kubantu!" Bastian hendak membantu, tapi lebih dulu mendengar suara Marisa yang mengaduh.


"Kak, sepertinya aku keseleo. Gimana dong ini?! Mana aku harus segera ke tempatnya Mbak Ayu lagi!" Marisa bingung.


Dengan lebih dulu permisi, Bastian mengecek pergelangan kaki. Urut sana urut sini, kaki Marisa pun kembali pulih. Tanpa Bastian sadari, sedari tadi jantung Marisa berdebar-debar karena baru kali ini mendapat perlakuan manis dari seorang lelaki.


"Marisa? Kok bengong, sih?" Bastian mengibas-ngibaskan tangan di depan wajah Marisa.


"Eng-nggaaak. Aum, ehem. Sepertinya kakiku sudah baikan. Makasih banyak ya, Kak." Marisa berterima kasih dengan masih merasakan debaran yang sama.


"Sama-sama. Kalau begitu aku duluan, ya." Bastian berdiri, lantas pergi. Menyisakan Marisa yang senyum-senyum sendiri.


Bastian sudah siap melajukan motor ketika Ken datang. Karena Bastian terburu, dia hanya menyapa sambil melambaikan tangan.


"Iya, Bas. Hati-hati di jalan!" Ken ikut melambaikan tangan.


Ken menoleh ke belakang, mencari keberadaan istri kesayangan. Rupanya, Lovey masih di dalam mobil sambil memperbaiki hiasan bingkisan.


"Ayo, Beb!"


"Iya, sebentar!"


Lovey turun dari mobil sambil membawa bingkisan untuk baby boy-nya Mario-Anjani. Tak semudah bayangannya. Nyatanya Lovey masih sedikit cemas akan mendapati reaksi Anjani yang seperti apa. Semakin jauh kaki melangkah, semakin kuat debaran jantungnya. Lovey gelisah. Khawatir akan kembali berbuat salah.


Bersambung ....

__ADS_1


Nantikan lanjutannya. LIKE buat author jangan lupa ya 😉 Merapat juga yuk ke Jogja. Rasanya author pengen halan-halan ke sana deh. Hehe. Kepoin novel MENANTI MENTARI karya Cahyanti. Ada sahabat baiknya Anjani di sana. Dukung kami, ya. Salam Luv dariku 💙💙💙💙


***


__ADS_2