Takdirku Bersamamu

Takdirku Bersamamu
Episode 61 : Keterlibatan Keluarga


__ADS_3

Pukul setengah dua siang, Riko dan Bastian pamit pulang. Tentu tidak sungguhan pulang, melainkan menuju kos-kosan. Mereka berdua tidak enak hati jika terlalu lama mengunjungi kontrakan Anjani.


"Widiiiih. Kak Bas sampek ngekos juga di sini?" Riko tak menyangka Bastian ngekos di sekitaran kontrakan Anjani.


"Ayo masuk dulu, Rik!"


Tak ada yang istimewa di dalam kos-kosan Bastian, karena Bastian hanya menggunakannya saat mengunjungi Anjani saja. Ini adalah ketiga kalinya Bastian menempati kamar kosnya. Bedanya, saat ini ada Riko yang tak pernah disangka-sangka akan ikut bersamanya.


"Aku ikut nginep sini juga boleh nggak, Kak?"


"Nggak usah nginep, deh. Kita pulang aja ntar sore. Nebeng mobilmu boleh nggak, Rik?"


"Boleh-boleh aja, Kak. Silakan!"


Bastian memperhatikan Riko sejenak. Agak terheran juga dengan sikap ramahnya. Padahal tadi Riko begitu jutek saat tahu fakta tentang Anjani yang dikira telah disembunyikan olehnya. Sempat baku hantam pula, sebelum akhirnya mereda karena melihat Anjani berlinang air mata.


"Kenapa lihatin aku gitu, Kak? Aku ganteng, ya?" Riko kepedean.


"Cuma heran saja, Rik. Tadi kamu galak bener pas pertama kali datang."


"Wajarlah aku galak. Kak Bas tau posisinya Anjani, tapi nggak pernah ngasih tau kami."


"Tapi kau sudah ngerti kan kenapa aku setuju-setuju saja saat diminta Anjani merahasiakan tempatnya?"


"Ya, aku ngerti. Karena Kak Bas naksir Anjani kan?"


Ctakk!


Satu jitakan mendarat di kepala Riko atas jawabannya barusan. Sebenarnya Riko hanya menjawab sesuai apa yang tadi didengar saat baku hantam. Riko sama sekali tidak melihat Bastian sedang bercanda saat itu. Makanya, Riko percaya bahwa perkataan Bastian benar adanya.


"Apa salahku, sih? Kan Kak Bas sendiri yang tadi bilang naksir Anjani. Lupa atau pura-pura lupa?" Riko begitu berani membahas lebih.


Bastian tak dapat mengelak. Seketika buang pandang, lantas menyuruh Riko menyudahi percakapan.


"Sudah. Jangan diteruskan lagi. Sekarang .... Kita bahas serius yang tadi." Bastian membuat pengalihan topik.


"Yang tadi? Yang tentang Kak Bas naksir Anjani?"


"Rikkkooo!" desis Bastian. "Hah, sudahlah. Kubilang jangan bahas soal itu lagi. Begini-begini, aku berniat menghubungi keluarganya Anjani. Kamu setuju nggak?"


"Terserah Kak Bas, deh. Aku ogah debat-debat lagi."


Riko pasrah. Ikut saja dengan rencana-rencana Bastian. Lagipula, Riko berniat mengembalikan citra dirinya usai baku hantam tadi. Walau bagaimanapun juga, perempuan yang sedang diincar Riko adalah adik kandung Bastian. Image baik, tentu harus Riko upayakan.


Tak lama kemudian, mendadak Riko menampilkan ekspresi penuh tanya. Bagaimana caranya menghubungi keluarga Anjani? Begitulah pertanyaan yang muncul di benak Riko seketika.


"Emang Kak Bas punya nomor ponsel keluarganya Anjani?"


"Punyalah. Dapat dari ponselnya Isabel." Bastian tersenyum bangga.


"Hebat betul, tuh. Tapi kok bisa, sih?" Riko kepo.


Cerita Bastian dimulai. Dua hari lalu, pikiran Bastian dipenuhi beragam pemikiran agar Anjani tidak lagi sendirian di kontrakan. Tentu, Mario bukanlah nama yang terpikirkan. Bastian kepikiran orang terdekat di kehidupan Anjani selain suaminya. Saat itu, keluarga menjadi opsi utama.


Begitu opsi untuk menghubungi keluarga tercipta, Bastian langsung teringat kontak Ma di ponsel Isabel. Bastian ingat betul bahwa sang adik menyimpan kontak ibu kandung Anjani, karena Anjani pernah menggunakan ponsel milik Isabel untuk menelepon ulang ibunya.


Diawali sedikit bermain drama, dengan lebih dulu membuat Isabel ngambek hingga meninggalkan ponselnya, rencana Bastian pun lancar jaya. Beruntung pula Bastian selalu dapat mengetahui kode tombol kunci di smartphone Isabel. Jadilah, kontak Ma dapat didapatkan dengan mudah.


"Bisa kutebak kau pasti mau memuji kecerdikanku, kan Rik?" tebak Bastian dengan pedenya.


"Kak Bas keren deh pokoknya. Btw, bagi kode tombol kunci ponselnya Isabel dong kak!"


"Heeem!"


Bastian memelototi Riko. Bukannya membahas lebih lanjut konta Ma yang sudah didapatkan, si Riko justru minta kode kunci ponselnya Isabel.


"Tanya aja sendiri sana sama Isabel. Sekarang pertanyaanku, kamu setuju apa nggak aku ngasih tau ibunya Anjani?"


"Iya-iya, Kak. Setuju. Sana cepet hubungi sekarang. Mumpung di kos-kosan, nih. Ntar kalau udah balik Jakarta susah cari kesempatan nelpon sambil sembunyi-sembunyi."


"Setuju! Kutelpon sekarang juga."


Dan .... Bastian pun memberanikan diri untuk menelepon Ma dengan disaksikan oleh Riko. Bastian sengaja me-loudspeaker panggilan suara yang dibuatnya agar Riko bisa lelusa mendengar obrolan dengan Ma.


Tentu, semua tak semudah bayangan mereka. Meski sudah memberi tahu bahwa Bastian adalah salah satu teman Anjani, tapi rupanya Ma tidak percaya begitu saja. Di luar dugaan, Ma justru menuduh Bastian sebagai penculik Anjani. Sempat berputar-putar menjelaskan, akhirnya Ma percaya juga dengan Bastian.


"Jadi, Anjani ada bersama kau di sana?" tanya Ma dengan nada melunak via panggilan suara.


"Anjani mengontrak rumah dan tinggal sendiri di sana. Saya hanya sesekali mengunjungi Anjani untuk memastikan kondisinya," ungkap Bastian.


Ma terdiam. Tidak melanjutkan introgasi ataupun mengajukan pertanyaan. Ma juga tidak bercerita bahwa Mario telah menghubunginya. Yang Ma lakukan saat ini adalah mendengarkan penjelasn Bastian. Ya, Bastian terus menjelaskan meskipun Ma tidak merespon di seberang.


"Hallo, Bu?" Bastian mengecek suara Ma.


Tak disangka, yang Bastian dengar selanjutnya adalah isak tangis Ma. Ma membayangkan alur cerita yang dijelaskan oleh Bastian, dan ... seketika itu pula sedikit banyak Ma bisa merasakan apa yang Anjani rasakan.

__ADS_1


"Bu, maaf. Saya tidak bermaksud membuat ibu menangis. Saya hanya ingin ada yang menemani Anjani di kontrakannya. Maaf juga, tolong rahasiakan ini. Karena emosi Anjani tidak terduga-duga. Dia pun meminta saya untuk merahasiakan tempatnya saat ini dari suaminya." Bastian terus menjelaskan.


"Tidak apa-apa, Nak. Tolong kau jagakan Anjani untuk ibu, ya. Besok ibu terbang ke Jakarta. Tolong segera jemput begitu ibu telpon kau. Antar ibu ketemu Anjani," pinta Ma.


Bastian memberi kode pada Riko, dia bersedia apa tidak menjemput Ma. Tentu saja Bastian tidak mungkin menjemput dengan motor bututnya, apalagi jika membonceng keluar kota.


"Siaap!" bisik Riko disertai kode tangan.


Bastian mengacungkan jempolnya pada Riko.


"Baik, Bu. Akan saya jemput begitu ibu telepon." Bastian pun menyanggupi.


"Terima kasih banyak atas bantuan kau ya, Nak. Ibu tutup dulu telponnya. Ada ayahnya Anjani, nih. Nanti tak jadi rahasia-rahasiaan lagi kalau tau."


Belum sempat Bastian mengiyakan, panggilan telepon sudah ditutup oleh Ma di seberang. Akan tetapi, hal itu tidak dipermasalahkan oleh Bastian. Yang terpenting saat ini niatannya sudah diwujudkan.


***


Keesokan harinya.


Pagi menjelang siang, Paman Li menjemput Ma dan suaminya di bandara. Wajah Ma sulit diartikan, beda sekali dengan wajah sang suami yang tampak tenang berjalan di sampingnya.


"Pak Li, kan?" tanya Ma, khawatir salah nama.


"Betul sekali, Nyonya. Saya Sekretaris Li, biasa dipanggil Paman Li. Saya ditugaskan untuk menjemput." Paman Li menunduk sopan.


"Bagus-bagus. Tolong antar ketemu menantuku! Tapi mempir dulu ke pasar dekat-dekat sini, ya. Ada yang mau kubeli." Ma serius meminta.


"Sayang, mau beli apaan sih?" Joko, ayah Anjani terheran dengan permintaan istrinya yang tiba-tiba.


"Ikut saja kau. Jangan banyak tanya!" Ma makin serius saja.


Joko tak lagi bertanya. Dia membiarkan istrinya berbuat semaunya. Jika berlebihan, barulah Joko akan mengambil tindakan.


Pasar menjadi tujuan sebelum akhirnya Ma dan Joko sampai di perusahaan. Sesuai permintaan Ma, Paman Li mengantar menemui Mario di kantornya. Sesampainya di perusahaan, penampilan Ma dan Joko teramat mencolok. Beberapa karyawan bahkan sampai terus memandang. Wajar saja, penampilan Ma dan Joko masih beraroma khas desa. Jauh berbeda dengan para karyawan yang berpenampilan rapi dan berkemeja kekinian khas karyawan kantoran.


"Kenapa pula mereka lihat-lihat seperti itu? Nggak pernah lihat orang desa masuk kota apa?!" Ma sewot.


"Sayang, jangan jutek gitu napa sih?! Mereka itu lihatin kita karena kamu beli pete banyak sekali. Pakai bawa ember isi cabai segala. Malu ah!" Joko melayangkan protesnya dengan setengah berbisik.


"Biarin. Pak Li iya-iya saja. Kenapa pula kau yang protes ha?" Ma makin sewot.


Joko mengusap wajahnya, kemudian mengelus dada. Gerombolan petai besar dan seember cabai merah segar benar-benar menjadi pusat perhatian.


Paman Li terus membawa Ma dan Joko menuju ruangan Mario. Tidak sampai memakan waktu lama, karena adanya lift yang memudahkan mereka. Begitu sampai di depan ruangan Mario, Ma tiba-tiba melepas sendal yang dipakainya. Menyuruh pula sang suami untuk melepas sendal yang dipakainya.


"Mohon tetap dipakai saja, Nyonya." Paman Li mencegah.


"Biarkan seperti ini saja. Tak maulah aku ada yang melayang ke muka menantuku yang tampan itu." Meski kesal, geregetan, Ma masih mengantisipasi tindakan berlebihan.


Paman Li menurut saja. Usai sendal-sendal tertata rapi, masuklah Ma dan suaminya. Mario yang melihat kedatangan mertuanya pun seketika berdiri dan menghampiri. Tak disangka, Mario langsung berlutut di dekat kaki Ma. Mario merasa sangat bersalah karena tidak bisa menjaga perasaan Anjani, anak perempuan yang begitu disayang oleh Ma.


"Ma. Maafkan Mario." Mata Mario tampak berkaca-kaca, tanda bahwa dirinya teramat menyesali perbuatannya.


"Nak Mario, berdirilah!" Joko berbaik hati meminta Mario berdiri.


Akan tetapi, Mario tidak berdiri. Dirinya terus berlutut karena maafnya belum bersambut. Ma masih tampak cemberut, dengan ekspresi wajah yang carut marut. Ada mimik kesal, geregetan, dan setengah menahan tangisan. Itulah yang tampak di wajah Ma.


"Mario. Menantuku. Ma KECEWA!" seru Ma dengan suara lantang menekan kata kecewa.


Joko dan Paman Li yang berada di sana tampak terkejut dengan emosi yang ditunjukkan oleh Ma.


"Kontrak nikah?!"


Deg!


Mario tak menduga bahwa Ma langsung menyinggung keboddohannya.


"Kau tak tau apa kalau itu tidak diperbolehkan, ha?! Main-main dengan pernikahan! Mau bikin dosa kau? Siap nyemplung neraka, ha? Iya?" Ma memberondong dengan nada tegasnya.


Mario tertunduk. Mendengarkan semua perkataan Ma. Tidak mau menyela dulu. Mario memang salah, hingga dirinya pun terima dinasihati habis-habisan oleh Ma.


"Ketahuilah kalau hati wanita itu tak sekuat baja, Mario! Apalagi hati Anjani. Sebagai suami harusnya kau taulah bagaimana watak Anjani. Meskipun kadang bilang baik-baik saja, tapi hatinya rapuh. Apalagi kau lakukan semua itu hanya karena bela-belain teman wanita. Pakai dalih kontrak nikah segala. Bikin dosa saja! Hah! Apa kau mabuk saat ambil keputusan itu? Iya?! Jawab!" Panjang lebar Ma meluapkan uneg-unegnya.


"Maafkan Mario, Ma!"


Hanya itu yang mampu Mario katakan. Dirinya benar-benar merasakan efek samping dari keputusan tergesa tanpa tau hukum dan akibat yang akan dia terima.


Ma membuang muka. Diusapnya sebentar kedua ujung mata. Air mata Ma hampir saja jatuh, tapi buru-buru dicegahnya.


"Sayang, kendalikan dirimu!" Joko mencoba menenangkan istrinya.


"Biar dulu. Mario ini menantuku, menantu kau. Harus dinasihati biar tak ada lagi kejadian macam ni." Ma terus menegaskan.


Yang dimaksudkan oleh Ma, keluarga berhak berbicara meski pemeran utama dalam rumah tangga anak menantunya adalah Mario-Anjani. Bagi Ma, menasihati itu perlu. Bukan untuk meluapkan uneg-uneg saja, tapi harus ada pelajaran yang diterima.

__ADS_1


"Satu lagi. Jawab jujur. Video kau itu, yang sama cewek. Betulan atau bohongan?"


Deg!


Kali ini Mario mendongak. Tak menyangka Ma bisa tau juga tentang video skandalnya. Padahal Mario belum menceritakan tentang hal itu. Saat tadi Ma menyinggung kontrak nikah, Mario bisa menebaknya bahwa info itu dari Paman Li. Karena Mariolah yang meminta agar Paman Li membantu Mario menjelaskannya pada Ma. Akan tetapi, Mario sudah mengingatkan Paman Li untuk tidak menyinggung tentang video skandalnya.


Mario tidak tahu, bahwa Ma mendapat informasi itu dari Bastian. Informasi yang hanya berupa cerita, tanpa melihat langsung videonya. Tapi Ma sanggup membayangkan apa yang dirasakan Anjani usai melihat video yang menyorot kelakuan sang suami.


"Mario, jawab! Betulan apa bohongan?!" Ma mendesak agar Mario lekas menjawab.


Teramat malu diri Mario untuk bilang iya. Akan tetapi, dia tidak mau membohongi Ma.


"Iya, Ma. Video itu benar," ungkap Mario.


"Astaghfirullaah. Tega betul kau sama istri kau, Nak." Ma mengelus-ngelus dada.


"Tolong maafkan Mario, Ma. Ada yang menjebak Mario." Mario berusaha menjelaskan.


"Sudah cukup! Kau lihat apa yang Ma bawa?" Ma menunjuk petai dan seember cabai yang tergeletak di lantai.


Mario mengangguk. "Iya, Ma."


"Kau lihat betul-betul! Bagaimana rasanya saat kau makan nasi goreng petai kesukaanmu?" tanya Ma.


"Mario menyukainya. Hati Mario pasti senang saat menyantapnya." Mario menjawab apa adanya. Dia memang menyukai nasi goreng petai buatan Anjani.


"Lalu bagaimana rasanya saat kau menyantap cabai-cabai ini tanpa apapun?" tanya Ma lagi.


Mario terdiam sejenak. Terbersit sebuah pemikiran bahwa Ma saat ini sedang menyampaikan sesuatu lewat petai dan cabai yang dibanding-bandingkan.


"Mario, jawablah!" desak Ma.


"Pedas." Singkat sekali Mario menjawabnya.


"Pedas. Itulah yang Ma dan Anjani rasakan saat ini, Nak." Ma berusaha melunak, dengan menggunakan sapaan Nak.


"Hati istrimu pasti merasakan pedas sampai-sampai keluar air mata. Bedanya pedas yang terasa meninggalkan luka, bukan lagi pedasnya cabai yang sebenarnya. Sakiit. Sakit sekali Nak!"


Mario terus tertunduk. Dirinya saat ini benar-benar dinasihati habis-habisan oleh Ma.


"Beda lagi saat kau makan nasi goreng lalap petai. Kesukaan kau sama Anjani. Pasti kalian senyum-senyum berdua saat merasakan nikmatnya. Iya tak?"


Ma terus berkata. Mario tetap tertunduk mendengarkan, sementara Joko dan Paman Li tidak menengahi karena yang Ma gunakan bukan kekerasan, melainkan sebuah nasihat yang pasti akan membekas sebuah pelajaran.


"Hadirkan senyum dan rasa bahagia dalam rumah tangga kau, Nak. Sebisa mungkin jangan kau hadirkan rasa pedas yang melukai hati pasanganmu. Jangan lagi ambil keputusan tergesa. Musyawarahkan! Agar ketidaktahuan dan khilaf bisa segera diluruskan." Yang ingin disampaikan Ma akhirnya terlontar juga.


Ma mengambil jeda sebentar dengan menarik nafas dalam. Ada sedikit perasaan lega karena apa yang hendak disampaikan telah terucap semua.


"Ma bukan menyuruh kau menceritakan semua permasalahan kalian. Bukan seperti itu. Ma hanya menyuruh kau untuk tidak melupakan keberadaan keluarga kau. Kau bisa meminta pendapat keluarga tanpa menceritakan permasalahan yang ada. Paling tidak kau punya pandangan lebih dulu sebelum memutuskan sesuatu." Lanjut Ma, terus melontarkan uneg-unegnya.


Mario masih tertunduk. Mencerna betul nasihat dari Ma.


"Jangan tergesa-gesa lagi, ya Nak. Ma sayang kau. Ma sayang Anjani. Ma ingin rumah tangga kalian utuh sampai masa tua nanti."


Tes!


Air mata Ma akhirnya jatuh juga.


"Maafkan Ma jika terlalu kasar barusan. Ma tak ingin kau mengulang kesalahan. Paham kau, Nak?"


Tes-tes ... tes!


Air mata Ma tak lagi berupa butiran, melainkan sudah berlinang membentuk jejak tangisan.


Tanpa Ma sadari, air mata Mario pun tumpah. Bukan karena tidak tegar. Mario hanya merasa bersalah dan kini benar-benar telah disadarkan.


"Berdiri kau, Nak!" pinta Ma.


Mario berdiri perlahan. Mengusap air matanya sebentar, kemudian dihampiri oleh ayah mertuanya. Joko memeluk menantunya. Memberi penguatan agar lekas tegar dan tidak tenggelam dalam kesalahan.


"Kita cari Anjani lagi. Kau harus yakin, kalian berdua pasti bisa bersama-sama lagi." Joko memberi semangat.


"Iya, Ayah."


Berakhir sudah lontaran uneg-uneg Ma. Joko memilih bersama Mario di kantornya, memikirkan cara mencari Anjani. Sementara Ma diantar Paman Li pulang ke rumah Mario. Joko ingin istrinya itu menenangkan diri, meski semua uneg-uneg di hati sudah tak ada lagi.


Tak begitu lama usai Ma sampai di rumah, Ma justru menelepon Bastian. Ma meminta Bastian untuk menjemputnya di ujung gang.


Sengaja Ma tidak memberi tahu Joko ataupun Mario bahwa dirinya sudah tahu dimana Anjani berada. Ma menuruti perkataan Bastian. Lagipula, Ma ingin memastikan lebih dulu kondisi Anjani saat ini. Jika dirasa baik-baik saja, tentu saja Ma tidak akan berlama-lama memberi tahu suami dan menantunya.


Di luar dugaan, HP Ma tertinggal di toilet salah satu tempat pemberhentian. Saat itu Ma sudah tak tahan ingin buang air di tengah perjalanan menuju kontrakan Anjani. Begitu sadar HPnya tertinggal, Ma diantar Riko dan Bastian kembali mengambilnya. Sayangnya HP Ma sudah tidak ada di sana. Lantaran Ma ingin cepat-cepat bertemu Anjani, dia pun tak peduli dengan HPnya yang hilang. Jadilah, Joko dan Mario langsung panik begitu tahu Ma meninggalkan rumah dan tidak bisa dihubungi nomor ponselnya.


Bersambung ....


Jika suka, LIKE-nya jangan lupa, ya. Rekomendasikan juga biar novel ini makin banyak yang membaca. Hehe.

__ADS_1


Cinta Starata 1, dari sanalah kisah Mario-Anjani bermula. Tentang perasaan, keluarga, juga sahabat yang tulus menemani perjalanan kisahnya. Kepoin juga sahabat baiknya Anjani di Jogja, ya. Capcus ke novel MENANTI MENTARI karya Cahyanti. Dukung kami, dan ... salam Luv dari hati 💙


***


__ADS_2