Takdirku Bersamamu

Takdirku Bersamamu
Episode 39 : Modus


__ADS_3

Beberapa bulan telah berlalu. Usia kandungan Anjani hampir mendekati bulan ke tujuh. Kuliah Semester 6 telah dilalui, dan akan segera berlangsung semester tujuh. Semester yang dinantikan Anjani dan teman-teman, karena di semester inilah mereka akan magang.


Pagi ini, seperti biasa Anjani membantu Mbak Surti dan Mbok Darmi di dapur. Agenda rutin yang tidak terlewatkan demi menjaga kemampuan memasak agar tidak hilang. Untuk santap pagi, pecel menjadi kudapan yang benar-benar menggugah selera makan. Kubis, kecambah, kacang panjang beserta lauknya telah matang. Tak lupa pula bumbu kacang yang rasanya maknyus dan spesial buatan tangan.


"Rempeyeknya ada dua macam, Non. Yang ini pakai kacang, yang ini kedelai." Mbok Darmi bersiap meletakkan dua toples kecil rempeyek ke meja makan.


"Makasih, ya Mbok. Ini sudah beres semua. Mbak Surti sama Mbok Darmi ajak Pak Gun sarapan dulu gih. Saya tinggal ke atas dulu, ya."


"Siap, Non!" sahut Mbak Surti.


Anjani menapaki anak tangga perlahan-lahan, hingga sampailah dia di dalam kamar. Mario yang sedang bercermin merapikan kemejanya lekas dihampiri. Dengan cekatan Anjani membantu sang suami merapikan pakaian dan memakaikan dasi.


"Aku pilihkan dasi yang ini, ya Mas. Cocok dengan warna kemejanya."


"Silakan. Aku selalu suka dengan pilihanmu."


Di sela Anjani memakaikan dasi, Mario memandangi wajah Anjani tanpa henti. Senyum Mario bahkan terus mengembang sambil sesekali mengusap pelan perut Anjani yang sudah tampak membesar di usia kandungan yang mendekati tujuh bulan.


"Sudah selesai, Mas."


"Terima kasih, Sayang. Apa semalam tidurmu nyenyak?"


"Lumayan, sih. Tapi sempat kebangun dua kali gara-gara kamu usil nyubitin pipiku, nih." Anjani protes dengan nada gemas.


"Maafkan aku, ya Sayang. Aku jadi terjaga karena kebanyakan minum kopi. Lain kali jika Ken curhat soal teman-teman barunya ataupun Lovey, aku pastikan hanya jus yang menemani obrolan kami."


"Kak Ken beneran makin dekat sama Lovey, ya Mas?"


"Begitulah. Ken jadi makin akrab gara-gara hutang tamparan yang Lovey bayarkan. Tapi, sepertinya kedekatan mereka berbading terbalik dengan apa yang kita harapkan."


"Maksudnya, Mas?"


Mario lebih dulu terkekeh pelan. Dia teringat curhatan Ken semalam.


"Ken dan Lovey memang akrab, tapi keakraban mereka sebanding dengan keributan yang selalu mereka buat di setiap pertemuan, bahkan saat pertemuan bisnis sekalipun."


"Terus Kak Ken itu sebenarnya naksir Lovey nggak, sih?" Anjani kepo berat.


"Entahlah. Ken tidak pernah cerita tentang perasaannya. Yang Ken ceritakan hanya seputar pertengkarannya dengan Lovey. Pertemuan bisnis yang terakhir kali bahkan mereka tak sungkan berdebat di hadapan Paman Li hanya gara-gara aroma parfum yang baru Ken beli."


Anjani jadi ikut cekikikan membayangkan betapa bar-barnya saat Ken dan Lovey bertengkar. Benar-benar sebuah keakraban yang jarang-jarang.


"Mas, memangnya Kak Ken pakai parfum aroma apa?"


"Yang pasti bukan beraroma seperti body mist yang selalu kamu pakai. Sini, mendekatlah." Mario meminta Anjani mendekat.


"Peluk aku, dan hirup aroma parfumku."


Mario sengaja modus pagi-pagi, padahal tanpa memeluk pun Anjani tahu aroma parfum sang suami. Namun, Anjani tetap menuruti.


"Apa aroma parfum yang membuat Kak Ken berdebat dengan Lovey seperti ini, Mas?" tanya Anjani.


"Tentu saja tidak. Parfum yang dipakai Ken terlalu menyengat. Pantas jika Lovey langsung ngajak debat."


"Ih. Kirain kayak parfummu. Terus ngapain nyuruh aku meluk sambil menghirup aroma parfummu!" Anjani melepas pelan pelukannya.


"Sengaja. Biar dapat bonus pelukan."


Mario modus minta dipeluk, tapi Anjani tetap saja takhluk. Cukup dengan satu tarikan pelan, Anjani pun jatuh kembali dalam pelukan Mario yang begitu nyaman.


"Sudah, ya Mas. Ayo sarapan!" ajak Anjani.


"Heeem. Ini pasti anak daddy sudah lapar di dalam perut bunda." Mario melepas pelukannya dan kembali mengusap perut Anjani.


"Daddy peka dikit, dong. Bunda nih yang udah lapar. Minta disuapin sama daddy boleh nggak? Tadi kan daddy yang modus, sekarang giliran bunda yang modus."


Nada Anjani yang dibuat mirip seperti anak kecil membuat Mario begitu gemas. Tawa ringan pun menyusul kemudian. Kehadiran calon buah hati dalam kandungan Anjani benar-benar membawa keberkahan karena semakin mengeratkan hubungan.


"Baik-baik di dalam perut bunda, ya Nak. Muuah!" Mario mengecup perut Anjani dengan penuh kasih.


Mario-Anjani menuju meja makan. Pecel dengan topping rempeyek remahan begitu lahap mereka makan. Tidak hanya diam, obrolan kecil pun menemani sarapan. Obrolan tentang tempat magang Anjani pun tak luput dari topik pilihan.


"Pembagian kelompok sama tempat magangnya kapan keluar?"


"Antara hari ini sampai besok. Semoga saja hari ini, Mas. Biar persiapannya genap satu minggu."


Mario mengangguk-angguk, lantas meminum air putih beberapa teguk.

__ADS_1


"Kalau untuk Riko dan Marisa, mereka berdua sudah masuk dalam daftar peserta magang di kantor. Aku sudah menyetujui kerjasama dengan pihak kampusmu. Selain mereka berdua, nantinya ada enam mahasiswa lain yang bergabung. Semoga salah satunya kamu."


"Aku jadi bingung, nih. Harus bilang aamiin apa nggak?"


"Aamiinkan saja. Jika takdirnya lain, ya dijalani saja. Aku tetap akan mendukungmu magang di tempat mana pun. Dosen yang waktu itu datang ke kantor tidak tahu sama sekali kalau kamu adalah istriku. Hem, sepertinya kamu benar-benar merahasiakan status suamimu yang tampan ini, ya?"


"Aku cuma nggak mau mengumbar, Mas. Biar mereka tau dengan sendirinya. Yang mereka tau, aku hamil dan ada suaminya."


"Eh?"


Kalimat Anjani yang terkakhir membuat dahi Mario berkerut.


"Apa ada berita miring tentang kehamilanmu?" Mario menebak-nebak.


Memang, sempat ada berita miring saat pertama kali teman-teman menyadari perut Anjani semakin membesar. Sempat beredar kabar anak yang dikandung Anjani adalah anak haram, tidak ada bapaknya. Lebih parah lagi ada yang mengira Anjani hamil di luar nikah. Untung saja ada Riko, Isabel, dan Marisa yang membela Anjani dan meredam isu miring tentangnya.


Kejadiannya berlangsung sebentar, dan Anjani tidak ingin memperpanjang. Tidak ingin juga Mario jadi kepikiran, jadilah semua itu dia pendam. Saat ini pun teman-teman yang kurang suka dengan Anjani sudah berubah menjadi teman. Rasa irilah yang menjadi landasan. Namun, semua itu sudah menjadi bagian masa lalu yang sudah Anjani ikhlashkan.


"Sayang, kok diam? Apa ada berita miring tentang kehamilanmu? Apa di kampus ada yang tidak menyukaimu?" Mario menambah pertanyaannya.


Cepat-cepat Anjani menggeleng. Senyum dikembangkan, tangan Mario pun digenggam.


"Teman-temanku baik semua, kok Mas. Mereka selalu menyemangatiku. Apalagi Isabel, Riko, dan Marisa. Meski sering berdebat, mereka adalah teman terbaik yang selalu memberi dukungan untukku." Anjani justru memuji teman-temannya.


"Syukurlah kalau begitu. Jika ada sesuatu, jangan ragu untuk berbagi apa pun denganku, ya. Sekarang, selesaikan makannya. Pak Gun akan mengantarmu ke kampus."


"Iya, Mas."


Santap pagi berakhir, Anjani diantar Pak Gun pergi ke kampusnya, sementara Mario menuju kantor untuk bekerja.


***


Mario dari pagi hingga menjelang siang terus berada di dalam ruangan. Tumpukan berkas menjadi prioritas. Setelahnya, Mario memulai diskusinya dengan Paman Li. Tentunya diskusi tentang kemajuan bisnis perusahaan. Direktur sempat bergabung sebentar, setelahnya pamit duluan karena harus menghadiri beberapa pertemuan.


"Semua berkas-berkas ini akan saya arsipkan. Tuan Mario beristirahatlah sebentar." Paman Li memberi saran.


"Terima kasih, Paman. Oya, rencananya Ken kuminta menjadi penanggung jawab untuk mahasiswa magang. Bagaimana menurut paman?"


"Saya setuju sekali. Tuan Ken punya sikap yang gampang akrab. Pasti mahasiswa-mahasiswa magang itu akan nyaman berada di kantor ini."


"Baiklah. Jika Paman Li kembali ke ruangan, minta tolong sampaikan pada Ken untuk segera menemuiku, ya."


Paman Li undur diri. Mario memilih untuk memeriksa beberapa pesan singkat dari relasi, dan salah satunya dari Lovey. Seperti sebelum-sebelumnya, Mario membalas pesan singkatnya dengan balasan yang singkat pula. Komitmen Mario untuk menjaga jaraknya dengan Lovey tetap dijaga.


"Bro, ada apa?" Ken masuk tanpa ketuk pintu, seperti biasanya.


"Duduklah dulu." Mario meletakkan smartphonenya.


"Sudah duduk, nih. Ada apa?"


"Kau kutunjuk sebagai penanggung jawab atas mahasiswa magang di kantor ini."


"Whaaaat? Kok aku, sih. Kau nyuruhnya juga nggak pakai basa-basi. Ah! Males ah!"


Mario menghela nafas pelan. Lebih memilih tersenyum atas sikap yang Ken tunjukkan. Sahabatnya ini memang suka sekali asal. Awalnya menolak, tapi nanti juga menerima dan melaksanakan.


"Yasudah. Bonusnya biar kukasih karyawan lain saja."


"Eh, jangan dong. Tadi bercanda doang, Bro. Ngetes!"


"Jadi kamu bersedia?"


"Oke. Aku bersedia. Kamu bosnya dan aku hanya karyawan biasa."


Dari sini sudah jelas siapa yang kalah. Mario tersenyum puas dan bergegas menyodorkan data mahasiswa magang yang baru didapat beberapa menit lalu via email dari dosen pembimbing mahasiswa magang.


"Ada delapan orang. Dua di antaranya pernah kau temui. Riko, teman Anjani yang pernah promosi bisnis kue mamanya padamu. Putranya Pak Martin, karyawan di kantor ini. Yang satu lagi, Marisa."


"Marisa? Cewek yang kutemui di ruang tamumu waktu itu? Yang mau nganterin Anjani ke kampus?"


"Iya. Dia adik iparnya Ayu, karyawan di kantor ini."


"Oh, ternyata adiknya si Ayu. Pantesan sama-sama cantik."


"Ken, sejak kapan kau tertarik membahas fisik perempuan?"


"Sejak Lovey selalu ngajak bertengkar, Bro. Moga aja Marisa nggak bar-bar kayak si Lovey. Eh, tapi kayaknya dia kalem."

__ADS_1


Lagi-lagi Mario menghela nafas pelan, lantas kepalanya digeleng-gelengkan. Sejak ada Lovey, setiap obrolan pasti tak luput namanya disebutkan. Ken mengaku sebal, tapi Mario bisa merasakan bahwa Ken mampu menerima Lovey sebagai teman. Sekarang di kantornya kedatangan mahasiswa magang, dan salah satunya adalah Marisa. Tetiba saja Mario punya firasat ke depannya Ken akan terjebak cinta segitiga.


"Ehem." Mario berdehem sebentar. "Ken, meski statusmu jomblo, jangan coba-coba modus sama mahasiswi magang khususnya Marisa, ya. Dia teman baik Anjani. Juga, kuharap kau bisa menjaga hubungan baik dengan Lovey karena sebagian bisnis kantor ini bermitra dengannya."


"Revisi, Bro. Aku nggak mau disebut jomblo. Aku hanya single. Single happy, Bro."


"Terserah kau saja. Yang penting jangan sampai modus berlebihan pada mereka. Tetap jaga image perusahaan."


"Siap, Bro. Aku nurut saja. Kamu bosnya dan aku hanya karyawan biasa. Eh, btw Anjani jadi magang di mana? Rasa-rasanya nggak ada namanya di sini."


Ken memperhatikan biodata singkat data mahasiswa magang yang baru saja Mario berikan. Benar-benar tidak ada nama Anjani di sana.


Mario tidak langsung menjawab. Lebih dulu dirinya mengecek pesan singkat, siapa tahu Anjani mengiriminya pesan dan memberitahukan tempat magang. Ternyata tidak ada. Anjani belum memberi kabar tentang tempat magangnya.


"Anjani belum memberi kabar," ungkap Mario.


"Semoga saja tempat magang Anjani bosnya baik. Biar suaminya di sini nggak bingung-bingung. Ehkhem."


"Keeeen!"


"Hehe. Aku tau kau kepikiran, Bro. Tenang saja. Meski dalam kondisi hamil, Anjani tetap bisa diandalkan dalam urusan pekerjaan. Btw, berapa usia kandungannya?"


"Hampir tujuh."


"Bagus, tuh! Begitu tiga bulan jadwal magang selesai, anakmu lahir. Ekhem, yang bentar lagi jadi ayah. Cieee."


Mario tidak bisa menyembunyikan tawanya. Melambungkan angan akan kehadiran buah hati yang didambakan, sungguh membahagiakan.


"Sudah cukup, Ken. Sekarang kembalilah bekerja."


"Ya-ya. Dengan sepenuh hati aku akan bekerja membesarkan nama perusahaanmu ini. Eh, nanti bagi info, ya. Aku juga pengen tau Anjani magang di mana."


Anggukan kecil yang disuguhkan, membuat Ken auto balik badan kembali ke ruangan. Meski kepikiran, tapi Mario tak lupa mendoakan Anjani agar masa magangnya selalu dalam kemudahan.


***


Di kampus. Teman seangkatan Anjani beragam rupa eskpresinya. Ada yang senang luar biasa, ada yang galau, ada yang cemas, bahkan berandai-andai pun ada. Mereka yang terdaftar dalam mahasiswa magang, masing-masing telah mengetahui kelompoknya dan di mana mereka ditempatkan.


Untuk Riko dan Marisa, sudah jelas mereka magang di mana. Mereka berdua kini sedang berkumpul dengan kelompok magangnya. Berdiskusi kecil tentang persiapan dan membahas apa-apa yang harus dilakukan. Anjani dan Isabel beda lagi. Beruntungnya mereka berdua berada dalam satu kelompok magang.


"Rik, kok nggak kumpul sama kelompokmu, sih?" tanya Anjani.


"Ijin bentar. Cuma mau ngasihkan ini sama kalian berdua. Buatmu satu, buat Isabel satu. Simpan baik-baik, ya. Eit, bukan berarti aku modus sama kalian, lho. Sebagai TEMAN, aku hanya ingin memastikan keamanan kalian di tempat magang."


Riko menegaskan kata teman, agar tidak ada prasangka aneh-aneh yang Anjani ataupun Isabel berikan. Sebenarnya Riko berniat memberi Isabel saja, tapi khawatir Isabel akan langsung menolaknya. Lain lagi jika Anjani juga turut diberi, Isabel pasti akan langsung oke tanpa banyak protes lagi.


"Pulpen setrum? Buat apa ini, Rik?" Anjani terheran dengan benda pemberian Riko.


"Alat keamanan. Kalau ada karyawan yang modus, langsung sengat pakai itu aja, ya. Eit, hanya untuk jaga-jaga."


"Ini ...." Isabel hendak menanggapi, tapi Riko buru-buru pamit pergi.


"Simpan saja, Bel. Semangat untuk kita, ya. Daaa!" Riko pun nyelonong pergi.


Anjani dan Isabel saling tatap seketika. Keduanya kompak geleng-geleng kepala karena pemberian Riko yang tidak biasa. Namun, baik Anjani ataupun Isabel tetap menerimanya, kemudian memilih untuk tidak membahasnya.


Ganti ekspresi, Anjani tampak kepikiran sesuatu yang membuat Isabel langsung bertanya lebih.


"Anjani, apa kamu merasa tidak nyaman dengan tempat magang yang dipilihkan?" Isabel sadar bahwa ada sesuatu yang Anjani pikirkan.


"Tidak, kok. Aku terima tempat magang yang dipilihkan pihak kampus. Aku juga senang bisa satu kelompok denganmu, Bel. Mohon bantuannya selama magang, ya." Anjani nyengir kuda, demi menutupi rasa khawatirnya.


"Sama-sama, ya. Mohon bantuannya juga selama magang. Hehe. Eh, suamimu sudah kamu beri tau belum?"


"Belum, Bel. Sebentar lagi saat istirahat makan siang akan kukirimi pesan. Lebih baik kita kumpul dulu sama kelompok kita, yuk!"


"Oke, ayo!"


Anjani menghela nafas pelan. Pikiran yang mengganggu lekas disingkirkan, kemudian ikhlash menerima tempat magang yang sudah dipilihkan.


Qodarullah. Tidak ada sesuatu yang kebetulan. Semoga semua berjalan lancar, dan .... semoga kamu tidak khawatir berlebihan jika tau di mana dan dengan siapa aku magang, Mas. Batin Anjani.


Bersambung ....


Jujur, waktu bikin part ini author kebawa alur. Jadinya baper sendiri sambil ngetik. Apalagi part Mario-Anjani 😳 Hehe, jadi curcol bentar, nih.


Terima kasih sudah mampir dan membaca. Sahabat baik Anjani di Jogja kepoin juga, ya. Merapat ke novel my best partner, Kak Cahyanti dengan novel kecenya yang berjudul Menanti Mentari. Ada juga novel the best lainnya, nih. Karya author kece Dian Safitri dengan novelnya yang berjudul Cinta yang Terpendam. Terima kasih atas dukungannya, ya.

__ADS_1


NB : Novel IKATAN CINTA ALENNA sudah END di episode 63. Silakan mampir bagi yang kepo sama kisah bar-bar adik bulenya Mario yang berjodoh dengan cowok super polos. Ups, apa jadinya, tuh!


***


__ADS_2