
Pagi hari, Mario hendak kembali gencar mencari Anjani. Hendak pula tidak ke kantor demi bisa fokus mencari sang istri. Akan tetapi, John meminta Mario datang ke kantor. Urusan penting, hanya itu penjelasan yang John berikan. Membuat Mario harus segera datang demi sebuah kejelasan.
Mario berharap bisa cepat bertemu sang ayah. Nyatanya Mario harus menunggu beberapa menit lamanya hingga sang ayah tiba. Untunglah, selama menunggu ada ayah mertuanya yang senantiasa memberi petuah dan membesarkan hatinya.
John datang. Lebih dulu menyapa besan, kemudian meminta Paman Li untuk menemani besannya sarapan. Setelahnya, di ruangan itu hanya ada John dan Mario saja.
"Ada apa, ayah?" Mario langsung bertanya.
"Dalang penyebaran videomu. Dia mantan relasimu," ungkap John.
"Apa dia Dewangga?" Mario langsung menebak tanpa ragu.
"Tepat sekali."
Mimik wajah Mario yang semula tenang, kini berubah penuh keseriusan. Sebelumnya nama Dewangga sempat menjadi opsi dalam dugaannya. Hanya saja Mario tidak memiliki bukti, dan tak bisa serius menyelidiki karena bersamaan dengan kaburnya sang istri.
"Motifnya apa, ayah?" Pertanyaan Mario kali ini diselimuti emosi.
John tidak menjawab. Ditatapnya lekat-lekat bola mata sang putra. Ada sebuah pesan tersirat tengah disalurkan lewat tatapan mata. John ingin Mario tenang. Tidak gegabah akan menjadi penolong demi mencegah keputusan tergesa.
Mario memahami arti tatapan sang ayah. Perlahan, emosi Mario mereda. Begitu tenang, Mario kembali melontarkan pertanyaan.
"Motifnya apa, ayah?" Pertanyaan yang sama, tapi tak ada emosi berlebih yang kentara.
"Dendam terhadapmu dan Lovey. Kontrak kerjasama yang kalian putus, rupanya berdampak besar bagi perusahaan Dewangga. Rupanya langkahmu diikuti oleh pebisnis lain yang juga terikat kerjasama dengan Dewangga."
"Pantas jika Dewangga diperlakukan demikian. Caranya licik. Curang." Emosi Mario muncul lagi, meski tak sebesar tadi.
"Ada satu pemikiran yang salah pada diri Dewangga. Kenapa kau yang ditargetkan dalam pelampiasan balas dendamnya? Karena kau tampak lebih bersinar di antara relasi lainnya," ungkap John.
Kalimat terakhir John lebih mirip sebuah pujian.
"Mario, kinerjamu sudah dikenal baik oleh pebisnis kelas atas. Kau patut berbangga dengan itu. Tapi, kau juga harus lebih waspada. Dewangga-dewangga yang lainnya mungkin juga akan muncul tanpa kau sangka-sangka."
John melangkah mendekati sang putra, lantas menepuk bahunya.
"Jalan lurus tak selalu mulus. Hadapi dengan sabar, tegas, dan jangan tergesa mengambil keputusan. Pikirkan dengan matang. Kau putra kebanggaan ayah."
Di ujung nasihatnya, John memeluk sang putra. Sebagai ayah, John tau perasaan yang tengah berkecamuk dalam diri Mario. Kehilangan jejak Anjani sudah membuat Mario begitu terpukul. Ditambah kasus bermotifkan dendam, pastilah yang terasa di hati dan pikiran jadi bermacam-macam.
"Satu lagi yang perlu kau ketahui." John melepas pelukan.
"Hm? Apa ada masalah lain?"
"Iya, tapi sudah ayah bereskan semua. Di kantor ini ada mata-mata, dan masih berhubungan dengan Dewangga. Pantas jika kesalahan distribusi begitu mudah terjadi. Ayah sudah usut tuntas. Pelakunya sudah ayah pecat. Bagian rekrutmen pegawai sudah ayah rombak total. Jadi ... kau yang tenang. Cari istrimu. Cari sampai ketemu. Ayah yakin sekali kalian akan kembali bersatu."
Hati Mario tergerak untuk lebih bersemangat menggencarkan pencarian. Keluarga dan sahabatnya, sudah memberi dukungan. Mario tidak akan menyia-nyiakan.
"Kalau begitu Mario pamit dulu, ayah!"
"Eh-eh. Tunggu. Ayah tau kau sudah sangat ingin menemukan istrimu. Tapi, jangan lupakan perutmu. Jika Anjani di sini, pasti dia akan menegurmu. Ayo, susul ayah mertuamu. Kita sarapan dulu."
Mario menurut saja. Menyisihkan tiga puluh menit waktunya untuk ikut sarapan bersama ayah dan ayah mertuanya. Setelahnya seperti biasa. Mario gencar mencari keberadaan istrinya.
***
Terik matahari begitu menyengat, tapi sama sekali tak menyurutkan niatan Mario untuk berkeliling ke sana-sini, bertanya tentang sang istri. Tujuan Mario adalah stasiun kereta api. Mario bertanya pada petugas, siapa tahu ada yang pernah melihat sosok sang istri. Tak hanya itu, Mario juga bertanya pada tukang ojek dan sopir kendaraan umum di sekitaran stasiun.
Bekal Mario adalah foto Anjani, dengan sedikit bercerita tentang ciri fisiknya. Namun, percuma. Tidak ada satu pun yang pernah melihatnya.
Tujuan Mario yang selanjutnya adalah terminal. Cukup padat kendaraan yang berlalu lalang. Asap kendaraan, debu, dan hawa panas sama sekali tidak menyurutkan niatan. Kembali Mario menggencarkan pencarian. Cara yang serupa pun dilakukan. Menunjukkan foto dan sedikit bercerita tentang ciri fisik istrinya. Namun, lagi-lagi tak ada perkembangan yang nyata.
"Anjani sayang, aku tetap akan berusaha mencarimu. Tunggu aku. Aku akan menemukanmu."
Dan ... sore pun menjelang. Sama sekali tidak ada perkembangan. Satu stasiun dan satu terminal tidak menghasilkan informasi tambahan. Dari Ken dan Isabel juga tidak ada perkembangan. Namun, semua itu tidak membuat Mario gentar. Mario terus menggencarkan usaha pencarian. Hingga kemudian, satu hari telah berlalu tanpa ada kemajuan.
***
Tiga hari kemudian, dengan masih mengusahakan hal serupa, Mario beralih ke terminal lainnya. Kembali berusaha bertanya sana-sini. Bertanya pada sopir, kernet, dan juga warung-warung kopi. Sayangnya, lagi-lagi tak ada yang pernah melihat Anjani.
"Bro, istirahat dulu." Ken menarik lengan Mario menuju mobil.
Ya, dalam pencarian kali ini Mario tidak sendirian. Ken ikut bersamanya. Menyemangati dan ikut bertanya-tanya.
__ADS_1
"Minumlah!" Ken perhatian, menyodorkan sebotol minuman.
Mario menerimanya, lekas meneguknya, dan hilanglah dahaga.
"Ken, apa aku terlihat seperti orang gilla?" Tetiba saja Mario bertanya demikian.
"Tentu saja. Mario yang kukenal memang gilla!" sahut Ken.
Mario menoleh. Tak mengira akan mendapat jawaban yang demikian dari sahabatnya.
Ken menepuk-nepuk bahu Mario. "Kau gilla dalam urusan cinta, Bro! Tapi aku suka perjuanganmu mendapatkan Anjani. Dari zaman masih kuliah sampai saat ini."
Mario tersenyum. Sejenak ingatannya melambung. Kembali ke beberapa tahun silam, saat Mario-Anjani baru saling kenal. Sama-sama berjuang menunjukkan keseriusan, hingga kemudian berujung ke jalinan ikatan cinta halal.
"Btw, Bro. Boleh aku tanya sesuatu?"
"Silakan."
"Kenapa kau menghindari cara instan dalam pencarian? Seperti ... membuat berita orang hilang di TV, medsos, pamflet, kemudian berhadiah uang miliyaran."
"Lalu aku hanya duduk diam? Begitu? Apa harga kembalinya istriku hanya bernilai miliyaran?" Di ujung kalimatnya, Mario menggeleng.
"Anjani jauh lebih berharga dari miliyaran rupiah. Mungkin, jika aku membuat berita dengan imbalan hadiah, Anjani akan cepat ditemukan. Tapi siapa yang tahu dalamnya hati, Ken. Bisa jadi Anjani tidak suka dengan caraku, dan justru semakin jauh dariku. Kau paham kan apa yang kumaksudkan?"
"Aku paham. Kalau begitu ... kau harus tegar. Sabar. Aku bantu terus sampai ketemu."
Lagi-lagi, dukungan datang sekali lagi. Membuat Mario bersemangat lebih untuk mencari Anjani.
Dan ... hari-hari pun berlalu. Lebih dari seminggu Mario terus mencari dengan semangat menggebu. Ken, selalu menemani di setiap pencarian itu. Kini, mereka berdua berada di terminal yang berbeda dari sebelumnya. Cara yang digunakan sama seperti sebelum-sebelumnya. Berbekal foto dan cerita.
Dari menjelang siang hingga sore menjelang, Mario dan Ken sama sekali tidak menemui kemajuan. Hingga kemudian, saat niat untuk pulang hampir saja diwujudkan, tetiba saja Mario tergerak melangkahkan kaki ke salah satu kernet yang busnya baru saja tiba dari luar kota.
"Permisi, Mas."
"Ya-ya. Apa? Mau naik bus?"
"Bukan, Mas. Hanya mau bertanya. Apa mas pernah lihat wanita di foto ini?" Mario menunjukkan foto Anjani.
"Kagak tau gue!"
Mario sedikit kecewa. Dirinya berniat mengambil foto Anjani lagi, tapi lebih dulu si kernet memanggil teman kernetnya yang lain. Kernet yang busnya baru saja parkir di terminal.
"Sini liat. Ada yang tanya cewek ilang, nih!"
"Coba kulihat!"
Foto Anjani beralih tangan. Dan ... satu titik terang pun seketika datang.
"Ini kan cewek hamil yang waktu itu naik bus!"
Deg!
Mario membulatkan mata. Jantungnya berdebar kencang tiba-tiba. Ada rasa bahagia, dan ingin segera tahu lanjutannya. Namun, Mario memanggil Ken lebih dulu, agar Ken turut menyaksikan informasi itu.
"Mas beneran pernah lihat istri saya?" tanya Mario.
"Oh, jadi itu istrinya mas ini. Kasian tuh cewek, mas. Hamil besar tapi naik bus sendirian," terang si kernet.
Hati Mario begitu getir saat mendengar keterangan si kernet. Di satu sisi, Mario tak dapat mengingkari suasana hati yang berdebar karena satu titik terang atas keberadaan Anjani.
"Mas-mas. Waktu itu cewek cantik ini turun di kota mana?" Kali ini Ken yang bertanya. "Bisa tolong diceritakan sedikit, Mas!"
Dimulailah cerita si kernet. Tentang temannya yang meminta tolong untuk memberi tempat duduk nyaman, hingga tentang dirinya yang mencarikan becak saat bus berhenti di terminal.
"Mas bisa antar kami ketemu tukang becak di terminal sana?" Mario antusias sekali.
"Waduh. Mohon maaf aja, Mas. Ini bus mau berangkat lagi. Siapa nanti yang narik tiket di dalam bus? Masa iya sopirnya? Terus yang nyetir siapa?" Si kernet menolak.
Mario tidak bisa mendesak. Bisa tahu kota tujuan Anjani saja Mario sudah luar biasa gembira.
"Gini aja, Mas. Masnya tinggal ke terminal sana, terus tanyain satu-satu tukang becak di sana. Nggak banyak kok becaknya, Mas." Si kernet mengusulkan.
"Iya sudah kalau begitu, Mas. Terima kasih banyak atas informasinya."
__ADS_1
Kenlah yang berterima kasih, karena Mario tampak sedang mengendalikan diri.
Tak lama kemudian, si kernet melihat taxi temannya. Teman yang waktu itu meminta bantuan untuk mencarikan tempat duduk nyaman untuk Anjani. Teman yang dimaksud si kernet adalah sopir taxy kenalan Bastian.
"Bentar-bentar, Mas. Itu ada taxinya teman saya. Waktu itu dia yang minta bantuan buat nyariin istrinya mas tempat duduk nyaman di bus. Bentar, Mas. Kupanggilin dia."
Bertambah lagi titik terang lainnya. Tak terhingga rasa bahagia dalam diri Mario dan Ken. Mario seolah tengah selangkah lebih dekat dengan keberadaan istrinya.
"Ini orangnya, Mas." Si kernet menunjuk sopir taxy kenalan Bastian.
"Mas yang waktu itu nganter istri saya ke terminal?" tanya Mario.
Sopir taxy tampak bingung. Istri? Istri yang mana? Begitulah pikirnya.
"Cewek hamil besar yang waktu itu, Sen!" Si kernet mengingatkan.
"Oh. Cewek hamil temannya Bastian!"
Deg!
Deg-deg!
Mario dan Ken kompak terkejut mendengar nama yang disebutkan si sopir taxy. Tak mengira titik terang lainnya akan membawa kemajuan sejauh ini.
"Bastian? Mas ini kenal dengan Bastian? Bastian yang kerja di perusahaan tekstil bukan?" Mario ingin keterangan yang lebih jelas.
"Iya, Bas yang itu. Waktu itu Bas minta tolong saya buat nganterin dia buntutin nih cewek hamil sampai nyariin kontrakan juga. Dan ... oh astaga!"
Si sopir taxy langsung menutup mulutnya. Dia lupa kalau Bastian sudah menyuruhnya untuk tidak memberi tahu siapa-siapa. Tapi, nasi sudah menjadi bubur. Penjelasannya sudah terlanjur.
"Mas. Tolong bantu saya! Antar saya ke kontrakan istri saya. Tolong, Mas. Saya benar-benar minta tolong." Mario bersungguh-sungguh.
Tak lagi bisa bersikap tenang, itulah yang Mario tunjukkan. Titik terang yang Mario dapatkan membuatnya tak lagi bisa bersabar. Rasa rindu itu sudah mendalam. Rasa ingin bertemu itu sudah tak lagi bisa diredam. Tak tertahankan.
Si sopir taxy tampak ragu, antara mengiyakan atau menolak permintaan. Melihat keraguan itu, Ken turun tangan. Biasanya Mariolah yang jago tawar menawar, tapi tidak dalam kondisi tak sabaran seperti yang ditunjukkan saat ini.
"Tunggu sini, Bro! Biar aku yang ngomong!"
Ken maju. Menarik lengan si sopir taxy pelan dan sedikit menjauh. Mario hanya melihatnya. Menunggu dengan debaran jantung yang masih sama cepat lajunya. Hingga kemudian, Ken datang dengan membawa berita yang menyunggingkan senyuman.
"Yoook! Kita berangkat sekarang, Bro! Kita bertiga. Aku, kau, dan Husen." Ken menunjuk si sopir taxy yang terlihat pasrah wajahnya.
"Alhamdulillaah. Ayo!"
Tancap gas. Mario, Ken, dan Husen lebih dulu mengisi bahan bakar dan membeli beberapa makanan ringan untuk di perjalanan. Dan ... berangkatlah mereka menuju kontrakan.
***
Di kontrakan, Anjani tampak gelisah. Gelisah karena tak sanggup menahan rindu yang membuncah. Anjani benar-benar rindu pada suaminya. Namun, ada alasan yang membuat Anjani tak bisa melakukannya. Ada lara, dan belum terobati sepenuhnya.
"Nak, kurang dari seminggu kamu akan melihat dunia. Apa kamu ingin melihat daddymu juga?" Anjani bermonolog.
Dada Anjani berdebar-debar, karena ada gerakan yang begitu samar dari kandungan. Buah hati dalam kandungan Anjani seolah mengiyakan.
Tes!
Air mata Anjani seketika jatuh. Tanpa aba-aba. Tanpa didahului rasa perih ataupun sesak di dada. Tetiba saja bulir bening itu menetes begitu saja.
"Kamu tidak hanya butuh bunda. Kamu juga butuh sosok ayah. Tapi ... sanggupkah bunda memaafkan daddymu, Nak? Apa yang harus bunda lakukan andai bunda bertemu daddymu?"
Anjani mengusap air matanya. Anjani sama sekali tidak mengira bahwa yang tengah dirindukan olehnya, sang suami tercinta, sang suami yang telah menyakiti tapi tetap dirindukan olehnya, kini tengah berada dalam perjalanan menuju kontrakannya.
Bersambung ....
Nantikan lanjutannya! 😘
LIKE dan dukungannya buat author dan novel ini, dong! Biar makin banyak yang membaca, rekomendasikan juga ke teman, orang tersayang, ataupun kenalan. Dan ... semoga selalu suka dengan jalan ceritanya.
Bagi yang ingin tahu awal kisah pertemuan Mario-Anjani, langsung merapat ke novel Cinta Strata 1. Bagi yang kepo sama sahabat baiknya Anjani, di Jogja, capcus yuk ke novel MENANTI MENTARI karya Cahyanti. Dukung kami, ya.
💙
***
__ADS_1