
Sepanjang malam hingga pagi menjelang, senyum di wajah Anjani terus mengembang. Bukan hanya karena surprise milad dari sang suami, tapi juga karena perhatian yang diberikan Mario pada Anjani. Istri di mana pun pastilah akan jatuh hati berkali-kali bila sang suami terus memanjakan dan memberi perhatian lebih.
Meski mendapat perlakuan spesial, rutinitias harian tetap berjalan. Mario pergi bekerja di perusahaan, sementara Anjani pergi magang. Seperti kata Mario semalam, Anjani diawasi oleh dua bodyguard sewaan. Untung saja penjagaan tidak mencolok, sehingga Anjani tetap merasa nyaman.
Sampai di tempat magang, Anjani mendapat kejutan. Di meja Anjani sudah ada sekotak kue bertuliskan happy birthday. Sayang, tulisan yang tertera tidak secantik tampilan kuenya. Meski demikian, Anjani tetap menyukainya.
“Tambah tua nieee.” Isabel muncul begitu Anjani membuka kuenya.
“Bel, ini pasti dari kamu kan? Makasih, ya.” Anjani melebarkan tangan, membuat Isabel menghabur dalam pelukan.
“Maaf aku telat taunya. Semalam aku ketemu suamimu, makanya aku tau.”
“Nggak papa, Bel. Udah, ayo kita makan bareng kuenya. Sekalian dibagi sama teman-teman yang lain. Ini besar banget, lho.” Anjani mengamati kue pemberian Isabel.
“Tapi … kayak kenal sama kue yang model begini,” imbuh Anjani.
Isabel senyum-senyum. Anjani diminta untuk duduk lebih dulu sebelum Isabel memberi tahu.
“Aku sama Marisa minta diajari mamanya Riko. Tuh, tulisan yang jelek itu buatan tangannya si Riko. Dia ngeyel minta bikin tulisannya sendiri.”
“Hah? Jadi kalian bertiga bikin ini barengan? Kapan bikinnya?”
“Pagi-pagi banget aku dijemput Marisa ke rumah Riko. Kenapa? Kamu kaget, ya?”
Anjani kehilangan kata-kata. Tak menyangka tiga sahabatnya sampai repot-repot janjian demi kue kejutan. Sontak saja satu pelukan kembali diberikan. Anjani terharu. Hatinya pun tersentuh.
“Makasih, teman-teman. Aku jadi merasa diperhatikan.”
“Sama-sama, Anjani. Aku senang karena kita berempat bisa bersahabat baik hingga saat ini. Semoga ke depan dan selamanya terus seperti ini, ya. Em … oya. Maaf, Riko sama Isabel nggak bisa datang ke sini. Tapi mereka titip kado buat kamu. Pasti juga udah kirim pesan ke kamu. Coba cek dulu, deh.”
Isabel benar. Ada dua pesan berisi ucapan dan doa dari Riko dan Marisa. Hati Anjani seketika membuncah bahagia. Belum surut rasa bahagianya, satu pesan lain masuk dengan ucapan dan doa yang serupa. Akan tetapi, pesan itu dari Lovey.
Lovey? Tau dari siapa ya? Ah, mungkin dari Kak Ken. Batin Anjani.
“Eh, Anjani. Aku punya cerita nih. Tapi ini rahasia, ya. Kamu jangan bilang siapa-siapa, soalnya aku juga nggak boleh bilang siapa-siapa.” Isabel setengah berbisik.
“Bel, kalau kamu sendiri nggak boleh bilang-bilang, terus ngapain mau diceritain ke aku. Bukan rahasia lagi dong jadinya.”
“Tapi kamu perlu tau. Ntar Marisa pasti juga ngasih tau, kok.”
“Hm? Marisa?”
Anjani jadi ikutan penasaran. Hal yang semula dikata rahasia, kini justru terumbar dan terbagi juga.
“Marisa ngomong di depanku sama Riko, kalau dia mulai naksir sama mentor magangnya. Pak Ken, sahabat suamimu.”
“Ha? Kok bisa, Bel?”
“Bisa ajalah. Namanya juga hati manusia. Apalagi sudah tiga kali Pak Ken ngajak Marisa makan siang berdua. Ber-du-a. Awalnya Marisa baper, eh lama-lama bapernya lanjut jadi perasaan suka.”
Anjani terkejut. Meski jauh sebelum ini Anjani pernah menduganya, tapi kali ini Anjani tetap tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya. Anjani mengira Ken sudah jauh melangkah untuk mengejar cinta Lovey. Ternyata, di balik itu Ken juga mendekati Marisa.
Maunya Kak Ken apa sih? Masa iya cuma mau mainin hatinya Marisa? Apa gara-gara wajah Marisa mirip mantannya? Batin Anjani.
“Kalau sudah baper gini susah deh. Hem. Kita doakan saja yang baik-baik, ya Bel.” Pada akhirnya Anjani memilih untuk tidak terlalu mencampuri. Apalagi berita yang didapatkan ini belum diceritakan secara langsung oleh Marisa pada Anjani.
Tidak ada lagi pembahasan tentang Ken atapun perasaan Marisa. Isabel berhenti jadi penyebar berita karena teman-teman magang lainnya mulai datang dan menyapa. Isabel tidak ingin berita yang harusnya menjadi rahasia justru menyebar ke teman magangnya.
“Ssut. Berarti Marisa udah nggak naksir Riko lagi?” Anjani berbisik kali ini.
“Tepat sekali!” Hanya kata itulah yang disampaikan Isabel sebagai jawaban. Anehnya, Isabel menyampaikannya dengan mimik wajah gembira. Anjani jadi merasa curiga.
Marisa udah nggak naksir Riko, kok jadi Isabel yang kegirangan, ya? Hihi. Pasti ada udang di balik tepung, nih. Anjani menduga-duga.
Karyawan dan teman-teman magang lainnya makin bertambah yang datang. Kali ini, Anjani dan Isabel benar-benar menghentikan obrolan. Sebagai gantinya, Anjani membantu Isabel membagikan kue ulang tahun ke teman-teman mahasiswa magang.
__ADS_1
Duduk kembali di kursinya, Anjani bersiap memulai rutinitas magang beserta tugas-tugas yang telah diberikan. Komputer dihidupkan, dokumen disiapkan, dan tangan bergerak menuju laci hendak mengambil bolpoin untuk menandai. Akan tetapi, Anjani mendapat kejutan lagi.
“So sweet banget, sih. Aku terharu, Bel. Makasih, ya.” Anjani melayangkan senyumnya pada Isabel yang bersebelahan meja dengannya.
“Ha? Maksudnya?” Isabel gagal paham.
Anjani tidak menjelaskan, melainkan mengeluarkan setangkai bunga mawar berhias kartu ucapan. Anjani mengira mawar itu adalah bagian lain dari kejutan yang disiapkan Isabel dan teman-teman. Nyatanya, Isabel justru tidak tau siapa yang memberikan.
Anjani membolak-balik kartu ucapan yang tertempel di tangkai mawar. Mengamati dengan seksama siapa tahu ada bagian yang terlewatkan. Nyatanya, Anjani tetap tidak tahu siapa pengirimnya.
"Kalau bukan kamu, terus siapa yang ngirim, ya?" tanya Anjani pada Isabel.
"Entahlah. Mungkin penggemarmu," jawab Isabel asal.
Lantaran tak ingin memperpanjang, Anjani pun memilih mengabaikan. Anjani tidak mau membebani pikiran dengan main tebak-tebakan.
Meski terlihat acuh, diam-diam Isabel juga kepikiran sesuatu. Tebakan Isabel langsung tertuju pada sang kakak, Bastian. Isabel yakin sekali bahwa pengirimnya adalah Bastian.
Pasti Kak Bas. Dia kan sering pura-pura lupa dengan status Anjani. Heem. Biar sudah. Hanya hadiah. Yang penting tidak merebut hatinya Anjani. Batin Isabel.
***
Siang hari, Mario didatangi Paman Li. Pembahasan siang itu bukan tentang pekerjaan, melainkan tentang misi penjagaan. Mario benar-benar serius menjaga keselamatan Anjani. Penculikan Anjani di masa silam pantang terulang.
"Sejauh ini tidak ada yang mencurigakan, Tuan. Nona Anjani aman."
"Tentang Dewangga, apa ada informasi tentangnya?"
"Tidak juga, Tuan. Baru saja orang suruhan Tuan mengabarkan bahwa Dewangga berada di kantornya. Tidak di kota ini," terang Paman Li.
Mario memang mengirim orang suruhan untuk mengetahui keberadaan Dewangga. Hanya saja, Mario melakukannya hari ini, bukan sebelum ini. Jelas saja jika Dewangga tidak melakukan pergerakan di hari ini, karena dia telah banyak bergerak sebelum ini.
"Baiklah, Paman. Kita lihat dulu perkembangannya hingga beberapa minggu ke depan."
"Iya. Paman Li tenang saja."
"Satu lagi, Tuan. Mohon jangan sampai telat makan. Sekarang sudah waktunya istitahat makan siang. Jadi, silakan Tuan Mario ikut saya ke kantin."
Mario mengangguk. Tidak menolak ajakan Paman Li. Perutnya memang perlu diisi demi menjaga pikiran tetap hernih.
***
Beberapa minggu berlalu. Tidak ada gerak-gerik mencurigakan selama itu. Anjani baik-baik saja, dan tidak pernah ada yang membuntutinya. Dirasa aman, Mario pun mengendorkan penjagaan. Tidak ada lagi bodyguard yang ditugaskan. Meski demikian, Anjani tetap aman. Bahkan tidak terlihat lagi orang yang diyakini sebagai Dewangga berkeliaran.
Kehidupan Anjani kembali normal. Menjadi istri sekaligus mahasiswi magang biasa tanpa penjagaan. Rutinitas di kantor pun semakin menyenangkan, karena kinerja Anjani yang tidak diragukan. Meski dalam kondisi hamil besar, Anjani masih bisa lebih unggul dibanding teman-teman. Semua itu karena antusias tinggi untuk menyelesaikan magang, sekaligus dukungan penuh dari sang suami kesayangan.
"Anjani, aku makan siang di luar, ya. Riko ngajakin, nih." Isabel kegirangan.
"Cie-cie. Yang sudah makin dekat sama Riko. Tetap jaga jarak ya, Bel. Suruh Riko segera halalin kamu." Goda Anjani.
"Apaan, sih. Cuma teman dekat doang, kok." Isabel mengelak lisan, tapi dalam hati membenarkan. "Hehe. Tapi doain aja yang terbaik," imbuh Isabel kemudian.
"Aaaaa. Akhirnya ngaku juga." Anjani antusias menanggapi.
"Eit, doakan Marisa juga biar segera dihalalin sama Pak Ken. Marisa makin sering diajak makan siang berdua lho," terang Isabel.
Anjani terheran dengan penjelasan Isabel. Setahu Anjani, Ken juga makin dekat dengan Lovey. Anjani memang pernah mendengar Mario menegur Ken agar tidak memainkan hati wanita, tapi Anjani tidak menyangka kalau selain dengan Lovey, Ken juga makin dekat dengan Marisa.
"Em ... buruan berangkat, gih."
"Oke-oke. Aku duluan, ya. Kamu jangan lupa makan siang juga."
"Sip, deh!"
Isabel pergi. Teman-teman magang yang seruangan dengan Anjani juga sudah pergi ke tempat makan yang diingini. Kini, tinggal Anjani sendiri.
__ADS_1
Anjani pikir-pikit lagi. Hendak menuju kantin, tapi tubuh Anjani tumben-tumbennya terasa letih. Rasanya begitu enggan pergi ke kantin hanya untuk memesan nasi.
"Nak, makan roti aja nggak papa, ya? Bunda lagi males ke kantin." Anjani mengusap-usap pelan perutnya yang sudah besar. Terhitung, kurang tiga minggu lagi diperkirakan akan melahirkan.
"Jangan, dong!" ujar seseorang.
Anjani menoleh. Rupanya dari arah pintu Bastian sudah menenteng dua box makanan lengkap dengan air mineral.
"Selamat siang, Pak." Anjani tersenyum ramah.
"Anjani, jangan formal-formal, dong. Ini, kubawakan makan siangnya. Baby dalam perutmu perlu nutrisi lebih. Jadi, simpan dulu roti ini." Bastian mengambil alih roti yang dipegang Anjani, lantas menukarnya dengan box makan siang.
"Terima kasih, Om Bas." Anjani menghargai pemberian Bastian.
"Jadi geli dengernya. Lucu juga dipanggil Om Bas." Bastian terkekeh pelan.
Demi mengimbangi tawa Bastian, Anjani juga ikutan. Memang selama magang, Anjani jadi makin dekat dengan Bastian. Dan itu tidak dapat dihindarkan karena semua tugas-tugas magang Bastianlah yang mengatur, membuat Anjani dan teman-teman magang lain lebih sering berkomunikasi dengan Bastian.
"Kak, nggak papa nih makan di sini?" Baru kali ini Anjani makan ditemani Bastian di meja kerjanya.
"Memangnya kenapa? Isabel juga ninggalin kamu sendiri. Aku kan kuatir kalau kamu sendirian makan siangnya."
"Kaaaak. Jangan gitu ah ngomongnya. Nanti ada yang dengar jadi salah paham, lho." Anjani tengok kanan kiri, siapa tahu ada orang yang mendengarnya tadi.
"Oke, siap. Ayo makan dulu! Jangan sampai aku suapi kamu!"
"iiih, apaan sih. Om Bas bandel nih, Nak."
"Hehe. Biarin!"
Dan ... Begitulah. Yang semakin dekat bukan hanya Riko-Isabel dan Ken dengan dua wanitanya, Marisa dan Lovey. Namun, ada Anjani dan Bastian juga yang makin dekat hubungannya. Hanya Mario dan Lovey saja yang hubungannya masih sering diselimuti kekikukan lantaran suka teringat kesalahan di bilik perawatan.
Sore pun tiba. Seperti biasa, Anjani berpisah dengan Isabel di parkiran. Anjani berjalan perlahan sambil memegangi perutnya yang besar. Dari kejauhan, mobil yang dikemudikan Pak Gun sudah terlihat. Anjani pun berjalan mendekat.
"Kejaaaar!"
"Aku yang akan dapat!"
"Punyaku!"
Itu suara anak-anak kecil yang mengejar layangan putus. Anjani tersenyum melihat mereka berlarian di trotoar. Sempat berseru hati-hati, khawatir anak-anak tadi ada yang berlarian di jalanan.
"Astaghfirullah."
Kaki Anjani terjerat benang layangan. Untung saja Anjani jalannya pelan-pelan.
"Bahaya juga kalau sampai kena orang, nih." Anjani melepas jeratan benang di kaki kiri, tapi jeratannya jadi berganti di kaki kanan karena ulah kaki Anjani yang tidak benar menempatkan.
Bastian yang hendak membayar pesanan makanan online di depan kantor pun tidak sengaja melihat Anjani. Buru-buru Bastian membayar pesanan, lantas berniat menghampiri Anjani. Akan tetapi, pandangan Bastian langsung teralih pada seorang lelaki bertopi yang baru turun dari mobil. Dalam genggaman tangan si lelaki bertopi ada gunting dengan ujung teracung. Seketika, pikiran macam-macam Bastian langsung tak terbendung.
"Anjani!" seru Bastian seraya berlari.
Bersambung ....
Mulai agak tegang ya ceritanya. Moga yang baca tidak terlupa dengan LIKE-nya. Hihi.
Terima kasih atas doa dan ucapan milad untuk author kak Raditya, kak Rita Deliyanti, dan akak besan yang uwwu sekali sampai ngasih kado spesial buat novel ini, juga terima kasih buat kakak-kakak lain yang memberi ucapan via chat, grup chat, dan sosmed. Kembali kebaikan untuk kalian 😘💙💙💙
Terima kasih sudah mampir dan membaca. Rekomendasi novel the best buat kalian baca nih. Ada novel Menanti Mentari karya Cahyanti, dan ada novel Cinta yang Terpendam karya Dian Safitri. Dukung kami, ya.
Salam Luv
💙
***
__ADS_1