Takdirku Bersamamu

Takdirku Bersamamu
Episode 41 : (Bukan) Minta Bantuan


__ADS_3

Mimik wajah Mario berubah. Tak lagi terkejut seperti tadi. Hati dan pikirannya fokus untuk tetap menjaga jarak dengan Lovey. Terkait pesan permintaan tolong dari Lovey, Mario mengalihkannya pada Ken untuk segera ditindaklanjuti. Mario sadar posisi, apalagi sedang ada Anjani. Mario tidak ingin sang istri menaruh prasangka lagi hanya gegara Lovey.


Terlebih dahulu Mario meletakkan makanan miliknya dan milik Anjani di meja dekat kaca lebar yang sudah mereka pilih. Tak lupa, Mario pamit sebentar pada Anjani untuk menelepon Ken. Tentu Anjani mengiyakan, dan menunggu suaminya kembali untuk santap siang.


Tempat yang Mario pilih tak jauh-jauh dari tempat duduk Anjani. Akan tetapi, Mario bisa memastikan bahwa Anjani tidak akan bisa mendengar obrolan dengan Ken tentang Lovey.


"Ken, sudah baca pesanku?" Via telepon, Mario menghubungi Ken.


"Sudah. Ada apa lagi sih tuh cewek?"


"Entahlah. Tolong kau temui dia. Bilang saja bahwa kau adalah perwakilanku dalam segala hal, termasuk permintaan bantuan."


"Yaelah, Bro. Gini amat sih nasibku. Seneng sih bisa ketemu cewek cantik body sexy, tapi kalau sikapnya kayak Lovey rasa-rasanya aku pikir-pikir lagi." Ken mengeluh.


"Kau hanya belum mengenal Vey, Ken. Coba sesekali mengalah saat berdebat dengannya. Siapa tau kau bisa menyelam ke dasar hatinya."


"Ck. Aku bukan kapal selam. Udah, ah. Berarti aku harus nemuin dia, nih?"


"Iya, tapi jika kau tidak keberatan."


"Lah? Kalau keberatan gimana?"


"Tinggal kurangi saja beban beratnya, Ken. Jangan dibuat susah!"


"Ya-ya. Terserah kau saja deh. Aku segera meluncur ke sana secepat kereta kuda. Gawat juga kalau tuh cewek beneran dalam bahaya."


Mario mengambil jeda lantaran Anjani menoleh ke arahnya. Langsung saja Mario menyuguhkan senyum manisnya, melambaikan tangan, lalu memberi kode bahwa akan segera menyelesaikan panggilan suaranya.


"Bro! Kok diem, sih?"


"Ada Anjani di sini."


"Oh iya, aku lupa. Padahal tadi habis dikasih keripik. Hehe."


"Kalau begitu kukirimkan alamat resto tempat Vey menunggu. Sekarang kutinggal lunch dulu bersama istriku, ya. Good luck!"


Panggilan berakhir. Padahal Ken di ruangannya ingin protes karena Mario lunch bersama istri kesayangan, sementara dirinya harus menemui si Lovey yang bar-bar. Tetap saja, meski setengah hati, Ken tetap pergi menemui Lovey.


"Kamu sibuk sekali, ya Mas? Maaf, ya. Aku jadi mengganggumu." Anjani merasa bersalah karena pergi menemui Mario di kantornya.


"Jangan dipikirkan. Kamu boleh datang menemuiku kapanpun kamu mau. Ayo kita makan!"


"Iya, ayo!"


Capcay dan ayam krispi menjadi menu makan siang yang dipilih. Mario-Anjani lagi-lagi menyelipkan obrolan di sela aktivitas makan siang.

__ADS_1


Anjani, yang usia kandungannya belum genap tujuh bulan, tentu saja memiliki kekhawatiran. Masa magangnya tiga bulan, dan perkiraan Anjani akan melahirkan kurang lebih seminggu sebelum magang benar-benar diselesaikan. Meski itu masih menjadi perkiraan, tapi Anjani tetap kepikiran jika dirinya tidak bisa menyelesaikan magang.


"Semua itu kondisional. Yang terpenting, di dua bulan masa magang bersungguh-sungguhlah. Andai kamu melahirkan sebelum masa magang berakhir, kinerjamu di dua bulan itu akan jadi pertimbangan. Percayalah, pihak kampus dan perusahaan tempat magangmu tidak akan mempersulit kelulusan magang." Mario menyemangati sang istri.


"Begitu, ya Mas?"


Mario mengangguk. "Setelah makan siang kukasih gambaran seperti apa kerja kantoran, dan apa-apa yang biasa ditugaskan untuk anak magang. Mau?"


"Mau banget, dong. Makasih, ya Mas. Beruntungnya aku punya kamu."


Senyum Mario makin mengembang usai Anjani melontarkan pujian.


"Fokus saja pada magangmu, terlebih lagi kandunganmu. Juga ... suami tampanmu ini. Jangan lupa diperhatikan juga, ya." Mario mengedipkan sebelah matanya.


Anjani senyum-senyum sendiri usai mendengarkan penjelasan Mario.


"Suamiku yang baik, em ... andai aku malas mengerjakan tugas, boleh minta bantuanmu nggak?"


"Hm?"


Mario menajamkan pendengaran, khawatir salah dengar. Namun, yang Mario dapatkan bukanlah sebuah penegasan, tapi justru tawa cekikikan. Dari sanalah Mario tahu bahwa istrinya sedang bercanda.


"Sayang, jangan coba-coba mengajari anak kita malas-malasan sejak dalam kandungan, ya."


"Nak, kamu jadi dibawa-bawa tuh sama daddy. Nanti minta bantuan Om Ken aja, yuk!" Anjani mengusap-usap perutnya.


"Biarin. Yang penting Om Ken mau bantuin bunda."


Tawa Mario pecah. Sikap Anjani sungguh menggemaskan di matanya. Untung saja saat ini mereka berdua sedang di kantin kantor dan banyak orang, kalau tidak pastilah Mario sudah mencuri kesempatan untuk modus berlebihan.


"Sudah-sudah. Maafkan aku, ya Mas. Akhir-akhir ini aku suka sekali bercanda denganmu."


"Aku justru senang. Itu artinya kamu semakin nyaman bersamaku. Ayo makan lagi! Mau kusuapi?"


"Ish. Banyak karyawanmu, tuh. Aku makan sendiri aja. Oya, tadi katanya nelpon Kak Ken. Kok nggak diajak makan siang sekalian bareng di sini, Mas?"


Disinggung Anjani soal Ken, Mario langsung teringat pada pesan singkat Lovey. Mario menduga saat ini Ken sudah dalam perjalanan menemui Lovey di sebuah restoran.


"Ken sedang menemui seseorang di restoran."


"O. Yaudah kalau begitu. Kak Ken pasti makan siang di restoran itu."


Mario membenarkan. Setelahnya, obrolan pun dialihkan agar Anjani fokus pada dirinya dan calon buah hati dalam kandungannya. Tidak ada lagi pembahasan tentang Ken, apalagi Lovey yang saat ini pastilah sudah bertatap muka dengan Ken.


***

__ADS_1


Di restoran, Lovey duduk sendirian. Di hadapannya ada segelas jus alpukat. Biasanya Lovey akan memesan jus semangka, tapi kali ini berbeda.


Ada sebuah gejolak yang akhir-akhir ini Lovey rasakan, yang memicu perubahan kebiasaan. Gejolak itulah yang ingin Lovey curhatkan pada Mario. Bukan untuk pamer perasaan, tapi hanya untuk meminta bantuan saran atas perasaan yang sedang dirasakan.


Lovey tahu Mario masih menjaga jarak dengannya, juga menghindari pertemuan dengannya. Itulah sebabnya Lovey membuat pesan singkat dengan dalih meminta pertolongan, padahal Lovey hanya ingin curhat tentang perasaan. Bukannya Lovey tak punya teman curhat. Hanya saja menurut Lovey, Mario adalah sosok yang tepat menjadi wadah curhat karena Mariolah yang sangat dekat dengan sosok yang saat ini membuat hati Lovey bergejolak.


"Huft. Jika dipikir-pikir lagi aku memang butuh bantuan. Bantuan saran. Daripada terus kepikiran nggak jelas." Lovey menyeruput jus alpukatnya.


"Ah. Ternyata alpukat enak juga. Pantesan dua gelas diminum sendirian." Lovey kembali menyeruput jus alpukatnya.


Posisi tangan Lovey masih menggenggam gelas jus, hingga kemudian ada seseorang yang menepuk pundaknya. Lovey mengira itu adalah Mario. Cepat-cepat Lovey menoleh dengan wajah girang.


"Mari ... o. Loh?" Lovey terkejut dengan kehadiran Ken. Ya, Mario memang tidak mengkonfirmasi bahwa yang datang adalah Ken.


"Halloo. Wow, jus alpukat, tuh? Tumben bukan jus semangka?"


Ditanya seperti itu membuat Lovey kelagapan. Lovey bergerak cepat, hendak menghadap ke arah sebelumnya. Namun, gelas dalam genggaman tangan Lovey justru menyenggol meja.


Klotak!


Gelas plastik pun jatuh, sementara baju Lovey basah karena hal itu. Dari sanalah tangan Ken dan Lovey terarah bersamaan menuju kotak tisu.


Adegan sentuhan tangan tersuguh seketika. Rasa kaget dari keduanya bahkan sampai membuat jeratan tatap mata. Debar jantung pun tanpa sungkan turut menyumbang rasa. Begitu terasa indah, dan hanya dipahami oleh masing-masing dari mereka.


Bukan salah Anjani yang mengunjungi perusahaan, hingga membuat Mario meminta Ken menjadi perwakilan. Bukan salah jus alpukat yang dipesan, dan bukan pula salah keadaan. Pertemuan Ken dan Lovey di restoran, bukanlah kesalahan. Nyatanya, kini Lovey tidak merasakan gejolak itu sendirian. Tanpa sadar, Ken juga merasakan hal yang Lovey rasakan.


"M-maaf." Ken sadar lebih dulu.


"Iya." Lovey menunduk, malu.


Duo bar-bar yang suka berdebat dan bertengkar, mendadak kalem karena sentuhan tangan barusan.


Urung mengambil tisu, tujuan Ken dan Lovey pun berubah. Gelas di lantai menjadi perhatian mereka. Tangan mereka terulur, dan sentuhan tangan pun kembali mereka rasa. Jerat tatapan mata kembali terulang, begitu juga dengan debaran. Hingga kemudian, terdengar seruan seseorang yang langsung membuyarkan adegan.


"Pak Keeeeen!"


Itu suara Marisa, yang kebetulan berada di restoran yang sama dan baru saja tiba. Wajah Marisa tampak ceria, dan tanpa sungkan menghampiri Ken yang sedikit kecewa karena adegannya dengan Lovey harus berakhir seketika itu juga.


Bersambung ....


Sampai di sini adakah yang masih suka dan ingin segera tau lanjutannya? Author berharap banyak dukungan yang mengalir untuk novel ini, ya. Hehe 😁


Terima kasih sudah mampir dan membaca. Sahabat baik Anjani di Jogja kepoin juga, ya. Merapat ke novel my best partner, Kak Cahyanti dengan novel kecenya yang berjudul Menanti Mentari. Ada juga novel the best lainnya, nih. Karya author kece Dian Safitri dengan novelnya yang berjudul Cinta yang Terpendam. Terima kasih atas dukungannya, ya.


NB : Novel IKATAN CINTA ALENNA sudah END di episode 63. Silakan mampir bagi yang kepo sama kisah bar-bar adik bulenya Mario yang berjodoh dengan cowok super polos. Ups, apa jadinya, tuh!

__ADS_1


***


__ADS_2