Takdirku Bersamamu

Takdirku Bersamamu
Episode 56 : Membuntuti Anjani


__ADS_3

Sebagai sahabat, tentu Isabel turut khawatir atas kaburnya Anjani dari rumah. Apalagi sahabat baiknya itu dalam kondisi hamil besar dan tak lama lagi akan melahirkan. Riko dan Marisa lekas dihubungi, tapi mereka berdua sama-sama tidak mengetahui keberadaan Anjani.


"Anjani, kamu di mana, sih? Kabur kok nggak bilang-bilang dulu sama aku." Isabel mondar-mandir di depan pintu ruangan kerja kakaknya.


"Ini Kak Bas kenapa belum balik-balik juga, sih! Aku kan pengen ngasih tau tentang Anjani." Isabel kesal sendiri di depan ruangan kerja Bastian.


"Bel, mau cari Bastian?" tanya seorang karyawan yang kebetulan lewat.


"Iya, Pak. Mau ada perlu." Isabel menunduk sopan.


"Bastian izin keluar dari tadi. Ada perlu katanya. Sekalian jalan ntar sore ketemu client. Jadi sama Pak Bos diijinin."


"Ouh. Yaudah, deh. Makasih infonya, Pak."


Isabel kembali dengan langkah lesu. Mau tidak mau dirinya harus menunggu. Posisinya yang masih di tempat magang membuatnya sulit untuk izin keluar, apalagi tidak ada Bastian. Alhasil, Isabel akan melanjutkan pergerakan saat istirahat makan siang dan saat selesai magang.


***


Bastian sudah mengisi penuh tangki motornya. Lekas bergegas menuju lokasi yang diberitahukan sopir taksi yang tidak lain adalah kenalannya. Bastian khawatir pada Anjani. Oleh karenanya, dia berpesan betul pada si sopir taksi untuk mencarikan kendaraan lanjutan yang aman bagi Anjani.


"Husen, ke arah mana dia pergi?" Begitu sampai di lokasi, Bastian langsung memburu si sopir taksi dengan tanya.


"Sepertinya mau keluar kota, Bas. Sudah kucarikan bus. Kernetnya kupesenin juga buat ngasih tempat duduk yang nyaman. Bentar, kutelpon dulu kernetnya."


Bastian sabar menunggu. Tidak begitu lama, Bastian pun menerima informasi tiket bus yang dipesan Anjani. Benar-benar menuju arah luar kota, dan Bastian tidak mungkin mengejarnya dengan motor butut yang dimilikinya.


"Husen, bisa antar aku nggak hari ini? Aku booking deh taksimu." Bastian bersungguh-sungguh.


"Yaudah. Ayo! Kita pakek mobil abangku saja, ya. Soalnya ini taksi punya orang," terang Husen si sopir taksi.


"Terserah mau pakai yang mana. Pokoknya anterin aku ngejar cewek tadi. Ini, aku bayar setengah dulu. Setengahnya lagi pas aku udah gajian, ya." Bastian mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan.


"Oke, deh. Nggak masalah. Yang penting dibayar. Tunggu sini bentar, ya."


Wajah Bastian cerah. Dirinya sungguh tak sabar hingga Anjani bisa terkejar. Dan .... melajulah mobil yang dikendari Bastian dan Husen. Benar-benar menuju ke arah luar kota. Bus yang ditumpangi Anjani bahkan bisa terkejar juga.


"Sen-sen. Lajukan ke kanan. Aku mau lihat cewek tadi. Pelan-pelan," pinta Bastian.


"Oke, siap!"


Mobil yang dikemudikan Husen mengambil sisi kanan perlahan. Seolah hendak menyalip bus, tapi tidak dilakukan. Begitu ada kendaraan lain, mobil pun memelankan laju lantas mengambil sisi kiri di belakang bus. Saat jalanan kembali sepi, ritme laju mobil diulangi. Saat itulah Bastian bisa melihat jelas sosok Anjani.


"Anjani," ucap Bastian dengan lirih.


Anjani tampak duduk tenang sambil memandang ke arah jalanan. Terdiam, dan tanpa senyuman. Sesekali Bastian bahkan melihat Anjani mengusap bagian pipi dan sudut mata. Pertanda bulir bening telah ikut andil menyuarakan rasa di dada.


Bastian tak kuasa melihatnya. Rasa-rasanya ingin berada di samping Anjani, menemani dan menghiburnya. Namun, apalah daya. Bastian bukanlah siapa-siapa. Bukanlah kekasih, apalagi suaminya.


"Tapi aku mengenal Anjani, dan Anjani mengenalku. Aku bisa membantunya atas nama teman." Batin Bastian.


Bastian terus memperhatikan Anjani. Perlahan, senyumnya mengembang. Saat ini Bastian sedang melihat Anjani mengobrol dengan si calon buah hati dalam kandungan. Bastian melihat Anjani mengusap-usap perut besarnya, sambil sesekali menorehkan senyum di wajahnya.


"Terus tersenyumlah seperti itu, Anjani. Kamu berhak bahagia," ucap Bastian sambil senyum-senyum sendiri.


"Eh, Bas!" Husen, si sopir taksi menepuk bahu Bastian.


"Hm, apa?" Bastian bertanya tanpa mengalihkan perhatiannya dari Anjani.


"Tuh cewek siapa, sih?" Husen baru sempat bertanya.


"Temanku."


"Kenapa dia? Korban KDRT, ya?" tebak Husen.


Bastian sontak menoleh pada Husen.


"Hanya sedang salah paham. Ini aku berniat membujuknya untuk pulang."


"Oh."


Bastian terdiam sebentar. Langsung bersikap awas pada keadaan.


"Sen, rahasiakan tentang ini ya!" pinta Bastian pada Husen.

__ADS_1


"He? Maksudnya aku nggak boleh bilang-bilang kalau kamu mau nolongin tuh cewek? Kenapa emang?"


"Dia sedang hamil besar. Aku mau membujuknya perlahan tanpa membuatnya merasa tertekan. Jika tidak, aku ingin membiarkan dia merasa nyaman dulu di tempat yang dia inginkan."


"Hiii. Merinding dengernya, Bas! Dahlah. Terserah kau saja!"


Bastian tersenyum. Setelahnya, tak ada lagi obrolan yang berarti. Hingga beberapa jam kemudian, Bastian dan Husen hampir tiba di terminal.


"Sen, cepat hubungi kernet kenalanmu. Suruh bantu cewek tadi turun dari bus, sekalian nyariin kendaraan!" Bastian sigap memikirkan tindakan lanjutan.


"Oke-oke. Sabar. Kamu juga tenang, dong Bas!"


"Iya, ini aku tenang."


Bastian deg-degan. Kekhawatiran berlebihlah yang menyebabkan.


"I-itu sudah turun." Bastian sampai terbata.


"Hei-hei. Tenang, Bas. Itu kernet busnya bantuin dia cari kendaraan kok. Eh-eh. Lah kok dicariin ojek motor sih. Nggak bener nih." Husen ambil ponsel, lantas menelpon kernet bus kenalannya.


Sebenarnya Bastian tak sabaran. Rasa-rasanya ingin turun dari mobil dan langsung memberi Anjani tumpangan. Namun, itu tidak bisa Bastian lakukan. Bastian yakin betul suasana hati Anjani sedang tidak karuan. Kemunculan dirinya yang tiba-tiba khawatir akan menbuat Anjani tidak nyaman dan justru akan memilih kabur ke kota lainnya.


"Bener-bener nih si Toni. Nggak tau apa tuh cewek perutnya besar gitu!" Husen ngomel-ngomel sendiri.


"Gimana, Sen?" Bastian sungguh tak sabaran.


"Aman. Tuh lihat! Mending naik becak daripada ojek motor!"


Bastian lega melihatnya. Tanpa sadar senyumnya juga merekah. Segera Bastian meminta Husen untuk bersiap membuntuti Anjani lagi.


Sepanjang perjalanan, sudah lebih dari tiga kali Bastian melihat becak yang dinaiki Anjani berhenti. Abang becak berhenti, bertanya pada warga, begitu tidak mendapat apa yang dibutuhkan, abang becak pun kembali mengemudikan.


Bastian terus bersabar menahan rasa penasaran. Terhitung hingga tujuh kali becak berhenti, barulah Bastian meminta bantuan Husen untuk mencari tahu apa yang terjadi. Husen yang juga peduli langsung menurut tanpa bertanya-tanya lagi.


"Cari kontrakan ternyata," terang Husen usai mencuri dengar.


"Sen, kamu nggak punya kenalan di daerah sini yang punya kontrakan?" Meski rasanya tidak mungkin, tapi Bastian tetap bertanya.


Husen yang terbiasa mengemudi keluar kota, lekas mengingat-ingat.


Bastian tersenyum cerah. Dirinya benar-benar beruntung mengajak Husen ikut bersamanya. Segalanya jauh lebih mudah.


"Ada, Bas. Tapi agak kecil. Nggak papa, ya?"


"Nggak papa. Yang penting ada."


"Bayarnya tapi setahun. Kan kontrakan. Nggak bisa kalau harga kos-kosan bulanan. Kata temenku sih gitu."


Bastian langsung mengangguk mengiyakan. Soal berapa yang harus dibayar, Bastian sangat yakin bahwa Anjani tidak akan mempermasalahkan. Mengingat juga, Anjani adalah istri Mario yang memiliki banyak kekayaan. Bastian pun yakin, sebelum kabur dari rumah, pastilah Anjani sudah bersiap dengan segala kebutuhannya.


Dalam waktu singkat, Bastian menyusun rencana. Husen disuruh pura-pura menjadi warga, lantas memberitahukan info kontrakan saat abang becak bertanya. Dan ... berhasil. Rencana itu berjalan begitu mudah. Kini, Anjani diantar Husen dan abang becak menuju kontrakan yang dimaksudkan.


Dari kejauhan, masih di dalam mobil, Bastian menyaksikan sendiri betapa leganya ekspresi Anjani usai membayar biaya kontrakan yang akan menjadi tempat tinggalnya.


"Alhamdulillaah," ucap Bastian ikutan lega.


Selanjutnya, Bastian mengambil smartphonenya. Mencari kontak Mario untuk memberi tahu keberadaan Anjani saat ini. Akan tetapi, niatannya terhenti. Bastian menimbang-nimbang lagi.


"Tidak. Mario tidak boleh tahu dulu. Aku harus memastikan suasana hati Anjani seperti apa." Bastian mantap dengan keputusannya.


Drrt drrt


Pesan dari Isabel. Bastian hanya membacanya sekilas, lantas mengabaikan tanpa membalas.


Drrt .... drrt ....


Kali ini bukan pesan, melainkan panggilan. Isabel dua kali melakukan penggilan suara. Yang pertama tidak diterima, dan yang kedua ... Bastian mau juga menerimanya.


"Kaaaak! Anjani kabur dari rumah!" seru Isabel via telepon.


Bastian sedikit menjauhkan ponselnya karena kaget dengan seruan adiknya. Bastian mengira bahwa sang adik baru saja selesai makan siang, makanya seruannya sampai terdengar memekakkan.


"Ya. Aku sudah tau beritanya," jawab Bastian singkat.

__ADS_1


"Kok santai gitu sih jawabnya?! Bantuin cari Anjani dong!"


"Nanti kubantuin. Kamu duluan aja sana! Ajak si Riko sama Marisa buat cari juga!"


"Kak Bas lagi sibuk, ya?"


"Iya, aku sibuk sekali. Oya, tolong bilangin ayah sama ibu, aku nggak pulang malam ini. Begitu selesai urusan, besok pagi aku pulang."


"Ntar kubilangin, tapi bantu cari Anjani ya!"


"Iya bawel. Aku tutup telponnya. Da!"


Tut-tut-tut.


Bastian berhati-hati. Dirinya tidak ingin keberadaan Anjani lebih dulu diketahui. Bukan berniat menyembunyikan Anjani, tapi Bastian sedang menjaga suasana hati Anjani. Bastian lebih membiarkan emosi Anjani mereda lebih dulu, untuk sementara waktu.


"Beres, Bas!" ungkap Husen, si sopir taksi yang baru saja kembali.


"Sen, terima kasih banyak atas bantuanmu, ya!"


"Ya. Sama-sama. Pokoknya jangan lupa bayar sisanya begitu kamu gajian, ya!"


"Iya. Tenang saja. Oya, Sen. Cariin satu tempat lagi, dong. Kos-kosan saja, bukan kontrakan. Tapi yang deket sini, ya!"


"Buat siapa, Bas?"


"Ya buat aku lah!"


"Heeem. Kau ini, Bas. Yaudah. Kucariin. Tapi pas gajian, traktir aku mie ayam, ya!"


"Itu bisa diatur! Ayo buruan!"


Mobil kembali dilajukan. Bastian diantar Husen mencari kos-kosan.


Sementara itu, Anjani tidak tahu kalau kemudahan yang diterimanya sedari tadi ada campur tangan dari Bastian. Anjani hanya tahu, bahwa dirinya berhasil kabur dari rumah dan telah berhasil menemukan kontrakan untuk dijadikan hunian barunya. Di luar kota. Jauh dari kampusnya, teman-temannya, dan ... suaminya.


"Nak, maafkan bunda, ya. Bunda terpaksa harus melakukan ini." Anjani duduk selonjoran sambil mengusap-usap perutnya yang besar.


"Bunda tidak sanggup melihat ayahmu bermesraan dengan Lovey seperti dalam video itu, Nak" Suara Anjani lirih, bernada serak, dan ... begitu terasa perih. Sesak di hati. Sakiiiiiiiit sekali.


Tes ... tes-tes ... tes ...


Untuk ke sekian kalinya, air mata mengambil peran atas sesak yang merajai hati Anjani.


"Maafkan bunda. Maafkan bunda, Nak. Maafkan bunda." Anjani terisak.


Air mata Anjani terus mengalir. Hatinya perih. Sakiiiit sekali.


"Hiks. Huuuuhuhuhu. Astaghfirullaah." Kembali Anjani mengusap-usap perutnya. "Maafkan bunda ya, Nak!"


Meski menangis dalam rasa sakit hati, Anjani tidak merasa sendiri. Ada sang buah hati dalam kandungan yang menjadi alasan bagi Anjani untuk tetap tegar dan melanjutkan langkah kehidupan. Sementara ini, Anjani memilih bersembunyi. Sempat terbersit untuk menghubungi Ma, untuk meminta saran dan nasihat darinya. Akan tetapi, Anjani tidak akan melakukannya untuk saat ini. Mungkin nanti, saat Anjani telah siap keberadaannya diketahui.


***


Beberapa jam usai menerima amarah beserta nasihat dari sang ayah, Mario larut dalam rasa penyesalan yang luar biasa. Mario menyesal atas keputusan tergesa yang dipaksakan olehnya. Tanpa tahu dasar hukumnya, Mario hampir saja terjerumus dalam dosa lantaran kontrak nikah yang dibuatnya. Meski kini niatannya berhasil digagalkan sang ayah, tapi Mario harus merasakan derita karena kehilangan jejak istrinya.


"Anjani sayaaaang. Maaf," desis Mario dalam rasa penyesalan.


Mario mengusap wajahnya kasar. Rambutnya awut-awutan. Tak sempat menjaga penampilan. Hatinya terobrak-abrik lantaran tindakan yang semula dianggapnya benar. Nyatanya, keputusannya saat itu adalah salah, dan kini Mario harus menanggung deritanya. Tenggelam dalam rasa menyesal yang teramat menyesakkan.


"Maafkan suamimu yang tidak becus menjadi imam yang baik untukmu. Aku tidak pandai menjaga perasaanmu."


Tes


Akhirnya, bulir bening Mario lolos juga. Meluncur deras membasahi pipinya. Ketegaran Mario hancur karena terkikis rasa bersalah.


"Maaf .... Maafkan suamimu ini. Kumohon ... jangan bersembunyi lagi, Anjani."


Bersambung ....


Author mau tanya, nih. Kalau puasaan, terus bikin pembaca geregetan atau nyesek karena alur, kira-kira dosa nggak ya? 😅 Atau mau dipercepat saja alurnya biar segera ketemu yang manis-manis? 😁 Hehe. Para pembaca masih ingin tahu lanjutan kisah Mario-Anjani, kan? Nantikan, ya.


Beginilah kehaluan author. Suka muter-muter kayak dermulen, tapi juga suka mengobrak-abrik perasaan lewat tulisan. Ya, meskipun author sendiri nggak suka diobrak-abrik sih. Hehe.

__ADS_1


Enjoy reading kakak-kakak online yang berbahagia. Menyambut ramadhan, author pribadi mengucapkan mohon maaf bila ada kata atau tulisan yang kurang berkenan, ya. 😊 Salam Luv dariku 💙 Eits, jangan lupa untuk selalu mampir ke novel my best partner. Novel Menanti Mentari karya Cahyanti. Dukung kami. Luv-luv buat kalian semua yang sudah setia mendukung kami.


***


__ADS_2