Takdirku Bersamamu

Takdirku Bersamamu
Episode 66 : Di Kontrakan


__ADS_3

Di waktu yang bersamaan ketika Mario, Ken, dan Husen menuju kontrakan Anjani, Riko tetiba saja datang menemui Bastian di rumahnya. Untunglah saat itu Isabel sedang tidak ada di rumah, sehingga Riko bisa leluasa menyampaikan niatannya.


"Kak, ke kontrakan Ajani, yuk! Di rumah lagi banyak kue. Sama mama disuruh ngasihkan Anjani," ungkap Riko.


Bastian melotot. Penjelasan Riko barusan memicu banyak dugaan dalam pikiran.


"Mamamu tau posisi Anjani?" Bastian memelankan suaranya. Namun, tersirat keseriusan di mimik wajahnya.


Riko cengar-cengir. Dari sikap itulah Bastian bisa menebak tanpa perlu banyak pikir.


"Mamamu kau beri tau, ya?!" tebak Bastian.


"Maaf, Kak. Pas kita pulang sampai malem waktu itu, mama tanya aku dari mana. Ya kujawab jujur, deh. Aku kan nggak mau bohong sama mama. Tapi ... mama udah kusuruh jaga rahasia ini, kok."


Bastian tepuk jidat. Tak kuasa rasanya menahan rasa gemas ingin menjewer kuping Riko. Namun, kegemasan itu berakhir hanya sebatas rasa yang akhirnya teredam juga. Bastian memilih mengelus dada, kemudian memenuhi ajakan Riko untuk keluar kota saat itu juga.


"Yaudah. Bentar, aku pamit dulu. Eh, naik mobilmu, ya!" Bastian memastikan.


"Iya, dong. Ayo, cepetan kak! Ntar Isabel keburu datang. Kalau dia maksa ikut, aku nggak mungkin bisa nolak ntar."


"Iya-iya. Bentar!"


Usai pamit pada orang tua dengan alasan ada keperluan dan harus menginap di luar kota, Riko dan Bastian pun berangkat. Mereka tidak tahu bahwa Mario, Ken dan Husen juga sedang dalam perjalanan menuju ke tempat yang sama.


"Kenapa senyum-senyum gitu, Kak? Kangen Anjani, ya?"


"Hush. Jangan mulai deh, Rik."


"Ya habisnya Kak Bas, sih! Tetep cinta meskipun tau Anjani udah punya suami."


Bastian menarik nafas dalam, kemudian menyunggingkan senyuman.


"Yang namanya cinta, tak selamanya harus dibalas dengan rasa yang sama. Asal Anjani bahagia, kucukupkan semuanya dengan doa. Aku ... sudah berniat move on, Rik. Aku tau, mencintai istri orang itu keliru."


Tersirat ketulusan dalam setiap kata yang Bastian ucapkan. Bastian ikhlash, sabar, dan tegar dengan apa yang ditakdirkan. Takdirnya bukan bersama Anjani. Oleh karena itu, Bastian hanya akan mendoakan kebahagiaan Anjani bersama sang suami.


"Kak Bas keren. Kudoain cepat dapat cinta baru, ya Kak. Ehem ... tapi ...." Riko menggantung kalimatnya.


"Tapi apa, Rik?"


"Restuin aku sama Isabel, ya?" Riko sungguh tak sungkan meminta restu.


Bastian tidak kaget mendengar pernyataan itu. Sudah berkali-kali Bastian memergoki Riko curi-curi pandang dan curi-curi kesempatan pada adiknya.


"Untuk urusan dengan adikku, kau perjuangkan saja. Kalau ditakdirkan bersama, pasti ujung-ujungnya nikah." Bastian tersenyum, lalu menepuk bahu Riko.


Meski tidak mendengar kata 'iya, aku dukung', tapi Riko yakin sekali bahwa Bastian merestui usahanya untuk bisa memperjuangkan cintanya pada Isabel. Riko mengangguk, kemudian senyum-senyum.


***


Di kontrakan Anjani, Ma baru saja kembali dari rumah Bu Harnum, pemilik kontrakan. Sejak tinggal bersama Anjani, Ma juga lebih akrab dengan Bu Harnum, bahkan sering mengirimi masakan.


"Anjani, ini sudah sore. Jangan di dapur terus! Sini kau, duduk temani Ma."


Anjani menurut. Lekas diletakkan sayur-sayuran pemberian tetangga dekat warung di atas meja dapur.


"Anjani, sudah lebih dari seminggu Basbas sama Rikorik tak pernah lagi ke sini. Apa kalian bertengkar? Iya?" tanya Ma.


Anjani terdiam. Memang, semenjak di taman waktu itu, semenjak dirinya menolak perasaan yang tak pernah terungkapkan, Bastian dan Riko tak lagi mengunjungi kontrakan. Anjanilah yang melarang mereka berdua untuk tidak sering-sering datang.


"Anjani nggak bertengkar, kok Ma. Anjani cuma nyuruh Kak Bas sama Riko buat nggak sering-sering datang. Sungkan, Ma. Tiap kali ke sini pasti bawa makanan," terang Anjani.


"Datang atau tidak, makanan yang dikirim tetap sama. Mie goreng sama nasi goreng yang dianter Mang Bakul depan sana tiap habis maghrib, itu dari Basbas, kan?" tebak Ma.


Anjani menoleh. Dia kaget juga. Tak menyangka Ma akan tau bahwa bungkusan makanan yang tiap malam dikirimkan ke kontrakan adalah pemberian Bastian.


Ya, Bastian memang perhatian, karena tau Anjani doyan makan. Meski tidak datang ke kontrakan, tapi makanan pemberian Bastian tetap sampai sesuai pesanan.


"Iya. Itu dari Kak Bas, Ma. Anjani sudah nyuruh berhenti ngirim, kok. Tapi Kak Bas ngeyel."


Ma terdiam sebentar. Memperhatikan mimik wajah Anjani dalam-dalam.


"Basbas sepertinya tak ingin hanya sebatas jadi teman kau, ya?" tebak Ma.


Deg!


Anjani lebih kaget kali ini. Mimik keterkejutan di wajahnya tak dapat ditutup-tutupi. Tak menyangka sekali bahwa Ma akan bisa menebak tanpa lebih dulu basa-basi.


"Em ... untuk itu ...." Ada jeda. Anjani lebih dulu menguasai mimik wajahnya. "Tentang hal itu Anjani sudah bicara sama Kak Bas, Ma."


Menunduk sebentar. Anjani tak ingin membuat kesalahan kata yang bisa membuat Ma salah sangka.


"Kak Bas sudah berlapang hati memahami status Anjani. Insya Allah, Kak Bas tidak akan sampai menjatuhkan hati lagi."


Ma tersenyum. Sedikit banyak, Ma memahami posisi Anjani. Dicintai oleh Bastian di saat hubungan Anjani dengan sang suami sedang dalam ujian, pastilah perasaan Anjani sempat tidak karuan.

__ADS_1


"Ma percaya sama kau. Syukurlah jika Basbas lapang hati menerima keputusan kau."


Anjani mengangguk. Senyumnya merekah. Untuk pertama kalinya, Ma akhirnya tau apa yang telah terjadi antara Anjani dan Bastian. Anjani bersyukur, telah mengambil keputusan untuk menolak perasaan Bastian sebelum semua terlanjur lebih dalam.


"Terus, kapan kau mau ketemu sama Nak Mario, ha? Bayi kau tak lama lagi lahir. Seminggu pun tak ada."


Sendu. Itulah yang terasa seketika itu. Anjani merindu, tapi rasanya masih enggan untuk bertemu dan menerima segala sesuatu. Lagi-lagi lantaran lara hati yang belum sepenuhnya terobati. Anjani telah mendustai diri, tapi apalah daya diri yang terkadang masih merasakan perih.


"Anjani bingung, Ma."


"Lah? Bingung-bingung melulu, kau. Sudahlah! Obati saja dulu luka hati kau. Tapi jangan lama-lama, ya! Anak kau juga butuh sosok ayah." Ma tak pernah jera menasihati Anjani.


Ma tidak mendengar jawaban. Yang terlihat hanya anggukan samar.


"Ma tinggal ke dapur dulu buat minuman, ya. Ini. Makanlah kue dari Bu Harnum."


"Iya, Ma."


Saat sendirian, rindu itu semakin tak tertahankan. Anjani rindu belaian dan kasih sayang Mario.


"Mas. Aku rindu. Tapi ... rasanya hatiku belum bisa sepenuhnya memaafkanmu." Begitu lirih Anjani berkata.


Tertunduk. Anjani menunduk, sambil sesekali memperhatikan perutnya yang besar.


"Aku egois, ya Mas? Maaf. Video itu ... benar-benar telah membuatku panas."


Kali ini tidak ada air mata yang jatuh. Mata Anjani hanya berkaca-kaca. Tak lama kemudian, ada rasa yang bergejolak dalam dada. Anjani sedang perang dengan hati dan pikirannya.


"Sepertinya aku tak pantas disebut hamba-Nya. Memaafkan saja aku tak bisa. Astaghfirullaah."


Istighfar, menjadi pilihan Anjani usai tak sanggup berperang dengan diri. Setelahnya, Anjani tenang. Mencoba terus tenang sambil berpikiran matang-matang. Tak lama kemudian, Anjani sampai pada sebuah keputusan. Anjani akan belajar untuk memaafkan. Ya, masih belajar untuk memaafkan.


***


Usai beristirahat sebentar, selepas isya' mobil Mario kembali dilajukan. Menurut Husen, masih kurang sekitar satu setengah jam perjalanan hingga benar-benar sampai di tempat tujuan. Dengan tetap melajukan kendaraan dengan kecepatan sedang, Mario terus bersabar, tenang, dan tidak mengebut di jalanan yang sudah mulai gelap, minim penerangan. Tak lama kemudian, tak ada angin tak ada hujan, tetiba saja mobil Mario mogok.


"Biar aku lihat dulu." Ken langsung turun tangan.


Menunggu, itulah yang paling membuat hati tak sabaran. Meski demikian, Mario tetap harus bersabar. Apalagi dirinya sudah mendapat titik terang dan sudah selangkah lebih dekat dengan pertemuan.


Ken menyerah, karena tidak tahu permasalahan. Hal inilah yang membuat Mario kecewa, dan sempat membuat hatinya kembali tak tenang. Mario bahkan sempat berpikir akan ikut kursus memperbaiki mesin mobil setelah semua urusan terselesaikan.


"Biar saya lihat, Mas. Saya sudah biasa memperbaiki mesin mobil." Husen maju.


"Oke. Cobalah!" Ken mempersilakan.


"Bro, beli kopi dulu di sana, yuk! Sekalian bawain Husen."


"Baiklah. Ayo!"


Dan .... di saat itulah mobil Riko dan Bastian melewati mobil Mario yang mogok. Mobil itu terus melaju ke arah kontrakan Anjani.


***


Tiba di pukul setengah sembilan malam tidak menjadi masalah besar bagi Riko dan Bastian. Ada kos-kosan yang akan menjadi tempat bermalam.


"Anjani kaget nggak, ya?" tanya Riko begitu mesin mobil dimatikan.


"Nggak akan kaget, Rik. Anjani sudah kukirimi pesan."


"Waw. Kak Bas gercep (gerak cepat)."


"Ya karena kita sampainya malam, Rik. Daripada ntar kena omelin Ma. Mending aku bilang aja."


Bastian yang sudah kenal dengan karakter Ma telah mengambil jalan yang tepat. Memberi tahu Anjani lebih dulu sebelum berkunjung. Bastian sungguh tidak ingin kena omel Ma malam-malam.


Yang dibicarakan muncul duluan. Ma menyambut Riko dan Bastian.


"Hei Basbas, Rikorik, ayo masuk!" Ma mempersilakan.


Riko dan Bastian menurut. Saat masuk ke ruang tamu, di sana sudah ada dua cangkir teh yang tersuguh. Tak lama kemudian Anjani keluar dengan membawa sepiring gorengan. Tampak masih hangat, dan Anjani pun mempersilakan.


Sama sekali tak ada kecanggungan antara Anjani dan Bastian meski telah ada penolakan perasaan. Ya, mereka berdua benar-benar memposisikan diri sebagai teman sesuai kesepakatan. Khususnya Bastian, hatinya benar-benar telah lapang menerima keputusan.


"Rikorik, sampaikan salam terima kasih Ma buat mama kau ya. Kuenya banyak betul." Ma tampak bahagia.


"Iya, Ma. Siap!"


"Eh, Basbas. Terima kasih juga buat makanan yang tiap malam kau kirimkan."


Bastian tersenyum, kemudian mengangguk-angguk. "Sama-sama, Ma."


"Anakku beruntung betul punya teman baik macam kalian berdua. Pokoknya Ma restui kalian berdua jadi teman Anjani selamanya. Hahaha."


Riko, Bastian, dan Ma kompak tertawa renyah. Mereka bertigalah yang tampak sangat bahagia. Sementara Anjani, dia biasa-biasa saja. Tersenyum biasa, dan menanggapi secara biasa.

__ADS_1


"Anjani, kau tampak lelah." Bastian peka.


"Sedikit, Kak."


"Kalau begitu istirahatlah. Aku sama Riko masih ingin ngobrol sama Ma."


"Ya. Anjani, kau masuk saja sana. Istirahat!" perintah Ma.


"Kak Bas sama Riko mau menginap di sini?" tanya Anjani.


"Kami berdua mau ke kos-kosan." Riko keceplosan.


Bastian melotot pelan sambil menyunggingkan senyuman. Riko yang merasa salah ucap pun langsung meluruskan.


"Cuma malam ini saja, kok. Kami sekalian ada perlu. Iya kan, Kak?" Riko agak kelagapan.


"Iya. Ada perlu, makanya ngekos malam ini."


Anjani tampak biasa saja. Tidak mempermasalahkan ataupun bertanya lebih lanjut tentang kos-kosan Riko dan Bastian. Justru Ma yang lebih peduli dan menawari mereka untuk menginap di kontrakan.


"Rikorik, Basbas, lain kali kalau mau menginap bilang, ya. Tak perlu cari kos. Kalian berdua bisa tidur di sofa. Menginap saja di sini."


Riko dan Bastian kompak mengangguk, meski nyatanya tidak akan mereka lakukan. Mereka menghargai status Anjani dan masalah yang sedang dia hadapi.


Selanjutnya Anjani masuk ke dalam kamar. Badannya memang sedikit terasa lebih letih dari biasanya. Mungkin karena hari ini begitu banyak aktivitas yang Anjani lakoni di rumah.


Anjani tidak langsung tidur, melainkan duduk di tepi kasur. Sejurus kemudian Anjani tersenyum simpul saat melihat body mist yang biasa dipakainya. Anjani yang tengah belajar memaafkan, tetiba teringat momen indah saat sedang berdua saja bersama suaminya.


"Mas, masih bolehkah aku bilang i love you?"


Sejenak, tak ada rasa perih di hati. Anjani senyum-senyum sendiri. Hingga kemudian, rasa lelah kembali datang dan kantuk pun menyerang. Anjani terlelap sambil menyunggingkan senyuman.


***


"Belok di gang depan gerobak nasi goreng itu, Mas!" Husen mengarahkan Mario.


"Apa kita sudah lebih dekat?" Pertanyaan ini muncul dari mulut Mario lebih dari lima kali.


"Kali ini tidak sampai lima menit." Husen semangat.


"Lanjuuuut!" seru Ken.


Akhirnya, mobil Mario sampai juga di kontrakan istrinya. Ada rasa senang, deg-degan, dan banyak lagi rasa yang berkecamuk dalam dada. Hingga kemudian, Ken melihat mobil Riko terparkir tak jauh dari sana.


"Bro, itukan mobil Riko!" Ken menunjuk ke arah seberang. "Mungkinkah Riko sama Bastian ada di dalam?" Ken menebak.


"Ayo kita turun, Ken!" Mario mematikan mesin mobil di tempat yang tidak menghalangi kendaraan lain untuk lewat.


Mario, Ken, dan Husen melangkah beriringan. Sampai di depan kontrakan, suara Riko dan Bastian terdengar. Lebih mengejutkan lagi, Mario juga mendengar suara Ma yang begitu khas di telinga. Mario pun mempercepat langkah.


"Assalamu'alaikum!" salam Mario.


Ma, Riko, dan Bastian langsung menoleh ke arah pintu. Kaget. Mereka bertiga kaget sampai-sampai kompak berdiri dari duduknya.


Mario melihat ke arah Ma, Riko, dan terakhir .... Bastian. Pandangan mereka sempat bertemu dan sulit diartikan. Namun, hanya berlangsung sebentar. Mario meredam keegoisan dan memilih untuk segera menyelesaikan permasalahan.


"Ma." Mario menghampiri Ma dan menyalaminya.


"Syukurlah kau bisa sampai di sini, Nak. Nanti akan Ma jelaskan semua. Sekarang, kau selesaikan masalahmu dulu dengan Anjani."


"Kalau begitu Mario izin ke dalam dulu."


"Silakan."


Mario melangkah ke arah kamar yang ditunjukkan oleh Ma. Dada Mario berdebar-debar saat berdiri di depan pintu kamar. Hingga kemudian ....


Ceklek!


Pintu dibuka perlahan. Mario melangkah masuk. Tampak Anjani sedang terlelap dengan menyunggingkan senyuman. Sang istri tampak maniiiiiss sekali. Tanpa sadar senyum Mario sampai merekah. Matanya pun berkaca-kaca. Ada rasa syukur yang membuncah karena akhirnya Mario bisa kembali melihat istrinya.


"Sayang."


Suara Mario bergetar. Terdengar lirih, jadi tidak sampai membangunkan Anjani.


Perlahan, tangan Mario terulur ke depan. Diusapnya pelan wajah sang istri yang teramat dirindukan. Hanya beberapa kali usapan, kemudian Anjani terbangun dan langsung menepisnya dengan kasar.


Mulanya Anjani mengira Riko atau Bastian lancang masuk kamarnya. Setelah benar-benar terjaga dan melihat wajah lelaki yang berada di hadapannya, Anjani pun menajamkan mata.


Bersambung ....


Lanjuuuut?!!!


Mohon maaf kemarin tidak bisa up. Authornya agak kurang fit, dan ada beberapa deadline yang harus diselesaikan di dunia nyata. Semoga masih setia menanti up novel ini, ya. Enjoy reading.


Terima kasih yang sudah membaca novel Cinta Strata 1 dan Ikatan Cinta Alenna. Merapat juga ke novel sahabat baiknya Anjani di Jogja, yuk! Ada novel MENANTI MENTARI karya Cahyanti yang siap bikin baper pembaca. Mohon dukungannya untuk kami berdua.

__ADS_1


Salam Luv 💙


***


__ADS_2