
Bergaya casual tanpa pakaian kantoran. Mario tampak seperti lelaki biasa di antara pengunjung cafe yang juga berkunjung untuk sarapan. Sesekali ada saja wanita yang menyapa, centil, dan cari perhatian, tapi Mario mengabaikan. Maklum, pesona wajah tampan Mario begitu cemerlang dan tampak bersinar. Di antara pengunjung cafe, tidak ada yang tahu status Mario ataupun beban pikiran yang saat ini sedang dia sandang. Hingga kemudian, Isabel datang.
Tepat pukul enam pagi. Isabel datang sesuai janji. Sendirian, tanpa seorang pun yang membuntuti. Meski tahu suasana hati Mario saat ini, Isabel tetap memberikan salam dan senyuman demi menunjukkan keramahan diri sebagai sahabat baik Anjani.
"Wow, Pak Mario yang pesan?" Isabel terkesan dengan hidangan di atas meja.
"Iya. Maaf, aku tidak tanya dulu yang mana seleramu. Semoga kamu suka." Mario menampilkan keramahan yang sama.
"Tidak-tidak. Jenis makanan apapun, asal gratis saya suka. Hehe." Isabel tertawa renyah demi mencairkan suasana.
Mario tersenyum, lantas mempersilakan Isabel minum. Mumpung teh dalam cangkir masih hangat. Begitulah Mario, selalu memperlakukan orang lain dengan baik. Apalagi yang hendak Mario sampaikan pada Isabel setelah ini adalah sebuah keseriusan. Bahkan, Mario benar-benar berniat meminta bantuan.
"Maaf, Pak. Bantuan yang Pak Mario maksud semalam itu ... apa ya?"
"Begini, Bel. Sebelumnya maaf, tentang posisi Anjani saat ini, aku mencurigai kakakmu."
"Hah? Maksudnya Kak Bas yang menyembunyikan Anjani?"
"Sepertinya bukan menyembunyikan. Dugaanku, Bastian hanya merahasiakan."
Terdiam sebentar. Isabel mencerna baik-baik apa yang Mario jelaskan. Tak lama kemudian, pikirannya mulai berkembang, hingga bisa melontarkan pertanyaan lain yang teramat wajar ditanyakan.
"Pak Mario tau dari mana? Kenapa bisa sampai menilai Kak Bas ada kaitannya dengan posisi Anjani yang masih belum diketahui?"
Isabel bukan wanita polos. Dia seorang mahasiswa, dan mantan aktivis di kampusnya. Untuk hal-hal semacam ini Isabel akan terus mengajukan tanya hingga jelas semuanya.
"Sementara, itu hanya dugaanku. Tapi dugaan itu sangat kuat mengarah pada kakakmu dan .... Riko."
"Hah? Riko juga?" Keterkejutan Isabel bertambah.
Demi meyakinkan Isabel, Mario pun mulai bercerita. Tentang pertemuannya dengan Bastian dan Riko semalam, juga tentang sikap tak biasa yang mereka tunjukkan.
"Pukul berapa Pak Mario bertemu mereka?" tanya Isabel, terus mencari keterangan.
"Mendekati pukul sepuluh malam."
"Apa Kak Bas nyebutin lokasi keperluannya sebelum bertemu Pak Mario?" tanya Isabel, lebih ingin meyakinkan diri.
"Tidak, Bel. Seperti yang kubilang tadi. Bastian hanya bilang kalau dia baru saja menyelesaikan keperluan. Lokasinya tidak disebutkan."
Isabel tampak sedang berpikir serius. Lekas menghubung-hubungkan kebiasaan kakaknya yang akhir-akhir ini sering pamit ke luar kota. Seketika itu Isabel ikut menduga. Isabel yakin bahwa sang kakak memang ada hubungannya dengan keberadaan Anjani yang belum diketahui hingga saat ini.
Tentang Riko, Isabel tidak menaruh curiga sama sekali. Terakhir bertemu tidak ada sesuatu yang mengarah pada kebiasaan yang sama seperti kakaknya. Isabel pernah meminta bantuan pada Riko, saat membuntuti kakaknya ke luar kota. Hanya saja waktu itu kecurigaan mengarah pada Bastian yang memiliki gebetan di luar kota.
Waktu itu kan aku ninggalin Riko di tempat Kak Bas CODan. Mungkin setelah itu Riko menemui Kak Bas lalu diajak ketemuan sama seseorang? Atau jangan-jangan ketemuannya sama Anjani? Batin dan pikiran Isabel mulai menduga-duga.
"Bel?" Mario membuyarkan lamunan Isabel.
"Baiklah. Apa yang bisa saya bantu untuk menemukan Anjani, Pak?"
"Tolong awasi gerak-gerik kakakmu. Setiap kali dia hendak bepergian, ataupun telepon seseorang. Kamu bisa telepon Pak Gun sewaktu-waktu untuk mengantar kemana pun. Jika perlu bantuan bodyguard atau sejenisnya, tinggal bilang padaku. Akan kukirimkan segera."
"Serahkan Kak Bas pada saya, Pak. Saya pun juga penasaran. Bisa minta nomor teleponnya Pak Gun?"
"Tentu saja. Sebentar. Aku kirimkan."
Satu misi tersampaikan. Isabel bersedia, dan kini memiliki dugaan yang sama dengan Mario.
***
Pukul delapan, mobil Mario memasuki area parkir perusahaan. Bukan perusahaan miliknya, melainkan perusahaan Lovey. Akan tetapi, bukan Lovey yang Mario temui, melainkan Ken.
Ya, sejak sah menjadi suami Lovey, Ken resmi pindah tempat kerja. Sesuai janji, Ken akan menjaga dan mencintai Lovey. Di sinilah Ken saat ini. Menjabat sebagai sekretaris pribadi Lovey, sekaligus suami yang siap siaga mendampingi ke manapun Lovey pergi.
"Pak Mario mau bertemu Nona Lovey?" tanya sekretaris lama Lovey, yang kini menjabat sebagai wakil direktur.
"Iya. Suaminya juga."
__ADS_1
"Akan saya antar. Silakan ke arah sini!"
Mario mengikuti langkah. Menaiki lift dan sampailah di sebuah ruangan termegah. Ruangan tempat kerja Lovey.
Pintu ruangan diketuk lebih dahulu, khawatir Ken dan Lovey sedang mesra di dalam sana. Tentu, Mario tidak ingin membuat mereka merasa malu karena kehadirannya yang tiba-tiba.
"Mario." Ken dan Lovey kompak terkejut dengan kedatangah Mario.
"Kenapa wajah kalian terkejut seperti itu, hm? Apa barusan aku mengganggu kemesraan kalian?" Mario tersenyum penuh arti.
"Tidak sama sekali. Aku dan suamiku baru saja membahas kerjasama baru." Lovey sudah bisa bersikap tenang dan menjelaskan aktivitasnya barusan.
"Baguslah. Vey, bolehkah hari ini aku pinjam suamimu? Hanya sampai tengah hari. Tidak sampai malam seperti kemarin."
"Jika itu tentang misi pencarian Anjani, silakan saja. Sampai malam juga tidak apa-apa. Kami berhutang maaf pada Anjani. Jadi, kami pun akan membantu sebisa kami." Lovey berkata dari hati.
Sejenak, ada momen melow. Terjadi karena Lovey menampilkan raut wajah bersalah yang teramat kentara. Sebagai suami yang peka, Ken lekas mendamaikan dengan membesarkan hati Lovey agar tidak terus larut dalam rasa bersalah.
"Beb, jangan sedih gitu, ah! Kalau Anjani ketemu, kita minta maaf bareng-bareng. Ya?" Tutur kata Ken terdengar lembut di telinga Lovey.
"Iya. Sana, ikut Mario. Bantu dia cari Anjani!" perintah Lovey.
"Okey. Yuk, Bro! Kita pergi!"
Mario tidak langsung menjalankan mobilnya. Dia lebih dulu bercerita sedikit tentang kecurigaannya pada Bastian dan Riko. Sama seperti Isabel, Ken pun tidak menyangka. Bahkan, Ken lebih parah. Ken lebih banyak melontarkan pertanyaan sebelum akhirnya sepemikiran dengan Mario.
"Jadi Isabel sudah bersedia membantumu?" tanya Ken usai penjelasan Mario yang panjang lebar.
"Iya. Sekarang, aku minta bantuanmu juga, Ken. Tentang Riko, tolong dekati dan cari informasi darinya. Selama magang, kaulah yang paling dekat dengan Riko dan Marisa."
Ken mengangguk-angguk. Ken siap menjalankan misi. Seketika otak Ken menyusun strategi untuk bisa mengorek informasi tentang Anjani.
"Btw, kau jauh-jauh ke sini untuk menyampaikan ini? Tumben tanpa telepon dulu, Bro?"
"Kenapa? Kau terganggu? Apa benar barusan kau dan Vey mesra-mesraan di ruangan?"
Mario membiarkan Ken sebentar, sebelum akhirnya kembali serius dalam usaha pencarian. Mario meminta Ken segera menjalankan niatan. Mumpung mahasiswa magang di kantor sedang senggang. Mario menyarankan agar Ken mengajak Riko jalan-jalan ke bagian produksi produk perusahaan, sambil Ken menjalankan misi tanpa dicurigai.
"Aku setuju dengan idemu. Akan kuajak Riko ke sana sekalian tanya-tanya tentang Anjani." Ken makin mantap hati.
"Pelan-pelan saja, Ken. Jika tidak berhasil hari ini, kau bisa mencoba lagi besok."
Mario tidak ingin Ken tergesa, hingga membuat rencananya gagal dan sia-sia dicoba.
"Oya, kalau fokus kita pada Anjani, yang nyari Ma siapa?" Tetiba saja Ken teringat Ma.
"Ayah mertuaku, dan ayahku sendiri yang turun tangan. Ayah menyuruhku untuk fokus mencari Anjani."
"Okey, deh. Ayo langsung saja antar aku ke kantormu. Sekalian pinjam mobil perusahaan, ya Bro?"
"Iya. Pakai saja."
Misi kedua, tersampaikan juga. Mario mempercayakan misi-misinya pada dua orang kepercayaan. Ken dan Isabel.
Mario sendiri tidak duduk diam. Mario terus memaksimalkan usaha pencarian. Begitu mengantar Ken ke kantor, Mario langsung tancap gas lagi menuju lokasi-lokasi yang rutin dia kunjungi.
Ke kampus Anjani, Mario menemui salah satu dosen yang membimbing magang sang istri. Ya, Mario sedikit bercerita tentang kaburnya Anjani dari rumah tanpa membeberkan permasalahan yang ada. Mario berpesan pada sang dosen untuk mengabari dirinya apabila ada seuatu yang mengarah pada keberadaan Anjani. Untunglah, dosen Anjani friendly. Beliau siap membantu memberi informasi dan akan lekas menghubungi.
Mario benar-benar tidak gengsi. Tidak peduli lagi dengan omongan orang yang menyalahkan dirnya atas kaburnya Anjani. Mario tidak peduli lagi dengan semua omongan miring orang di sekitaran. Satu hal yang Mario fokuskan, yakni memaksimalkan pencarian.
"Anjani sayang, aku ingin segera bisa bersama-sama lagi denganmu. Tunggu aku, ya. Aku akan menemukanmu."
Lanjut lagi. Mobil Mario dilajukan lagi. Kali ini Mario menuju ke tempat-tempat yang sering dikunjungi Anjani. Kedai es krim, toko bunga, toko penjual body mist. Sudah tak terhitung lagi berapa kali Mario mengunjungi. Berharap, Anjani akan muncul di salah satu lokasi yang dia kunjungi.
Hingga siang hari, tak ada perkembangan yang berarti. Mario rehat sebentar, kemudian lanjut lagi dalam pencarian. Beberapa tempat dikunjungi, tanya sana-sini sambil menunjukkan foto sang istri. Itulah yang Mario lakukan. Mario bersungguh-sungguh dalam pencarian. Akan tetapi, nihil. Usahanya belum berhasil.
Dan ... sore hari pun tiba. Jam yang melingkar di tangan sudah menunjukkan pukul empat sore. Cukup lama juga Mario berkeliling seharian. Hanya rehat sebentar untuk ibadah dan mengisi perut agar rasa lapar tidak menghambat usaha pencarian.
__ADS_1
"Bro, pamit pulang dulu, ya!" ujar Ken begitu masuk mobil Mario.
"Baiklah. Ayo, kuantar!"
Saat ini Mario memang berada di depan kantornya. Menjemput Ken sekalian bertanya kemajuan misi. Sayang, usaha Ken juga tak berkembang. Namun, ada info penting yang Ken sampaikan.
"Meskipun info tentang Anjani tidak kudapatkan, tapi aku yakin Riko terlibat. Maksudku, dia tau sesuatu."
Deg!
Mario menajamkan pendengaran. Kemudian, menyuruh Ken untuk melanjutkan apa yang hendak disampaikan.
"Tiap kali aku singgung Anjani, pasti Riko langsung mengalihkan pembicaraan. Ya meskipun nggak terang-terangan, tapi aku sadar. Terus lagi, tuh anak sepertinya keceplosan bilang."
"Bilang apa, Ken?"
"Riko kemarin sama Bastian habis dari luar kota, Bro!"
Deg!
Pikiran Mario seketika itu berkembang. Banyak dugaan muncul bersamaan.
"Luar kota mana?" tanya Mario lagi.
"Nah itu dia, Bro. Seperti yang kubilang tadi. Sepertinya si Riko keceplosan bilang kalau dia dari luar kota. Pas aku tanya di mananya, eh langsung dialihkan lagi sama dia."
Mario tampak kecewa, karena informasinya setengah-setengah. Namun, usai sekali tarikan nafas dalam, Mario pun bisa mengendalikan pikiran. Mario berusaha tenang.
"Baiklah. Terima kasih informasinya, Ken. Kuantar kau pulang sekarang!"
"Oke deh, Bro! Ayo!"
Mobil melaju dengan tanpa banyak obrolan di antara Mario dan Ken. Keduanya larut dalam pikiran masing-masing. Khususnya Mario, dia jadi memiliki opsi tempat pencarian baru untuk menelusuri jejak Anjani.
Stasiun. Terminal. Ya, aku akan melakukan pencarian di sekitaran sana. Anjani pasti ada di luar kota. Batin Mario.
Keyakinan Mario diperkuat dengan pesan singkat dari Isabel.
Pak Mario, coba lakukan pencarian juga di area lintas kota. Kak Bas sama Riko kemarin dari luar kota, Pak.
Begitulah pesan Isabel. Pesan singkat yang memberi harapan lebih pada diri Mario untuk bisa segera menemukan Anjani.
Anjani sayang, aku akan menemukanmu. Aku yakin bisa menemukanmu. Tunggu aku, ya. Aku sudah sangat merindukanmu. Batin Mario, menggema seru.
***
Ada sesak yang menyeruak. Nafas terasa tak bebas. Kegelisahan pun turut menyumbang rasa tak nyaman. Anjani, dia tengah terjebak kerinduan. Rindu akan hadirnya sosok suami yang begitu dia cintai. Akan tetapi, tak dapat dia temui lantaran rasa perih di hati yang belum sepenuhnya terobati.
"Mas, sebenarnya aku rindu. Tapi ... videomu dan Lovey masih sering membuatku kembali merasakan sakit hati."
Mata Anjani terpejam. Satu senyum mengembang kemudian, karena Anjani merasakan gerakan buah hati dalam kandungan. Diusapnya pelan perutnya yang besar.
"Nak, apa kamu juga merindukan daddymu?"
Ada gerakan lagi, dan Anjani terkejut kali ini.
"Rupanya kamu merindukan daddymu, ya Nak."
Anjani sendu. Kembali hati dan pikirannya merindu. Candu, cinta Mario baginya telah menjadi candu. Meski lara hati, Anjani bahkan masih tetap merindu.
"Apakah memberi maaf adalah jalan yang harus kulakukan?" Anjani bimbang.
Bersambung ....
Nantikan lanjutannya! 😉
LIKE dan dukungannya buat author dan novel ini, dong. Rekomendasikan juga ke kenalan hingga yang tersayang. Kepoin juga sahabat baiknya Anjani di Jogja, yuk. Ada novel Menanti Mentari karya Cahyanti. Dukung kami, ya. Salam Luv 💙
__ADS_1
***