Takdirku Bersamamu

Takdirku Bersamamu
Episode 43 : Titip ala Mario


__ADS_3

Baru saja Anjani dan Isabel selesai menunaikan ibadah isya'. Mereka berdua langsung lanjut lagi berkutat dengan laptop dan kertas-kertas. Isabel bagian mengurutkan kertasnya, sementara Anjani yang mengecek ulang urutannya.


"Sudah, Bel. Tinggal tanda tangan. Em ... mana tadi pulpennya, ya?"


"Pakai pulpenku, gih. Pulpen suamimu sepertinya ketinggalan di dekat printer." Isabel menyerahkan kotak pensilnya agar Anjani mengambilnya sendiri.


"Eh-eh. Bukan yang itu." Isabel mengamankan pulpen yang baru saja diambil Anjani.


"Eheehe. Hampir saja. Itu pulpen yang dari Riko kemarin, kan?"


"Iya. Tuh anak akhir-akhir ini suka banget ngasih barang-barang aneh."


Anjani tersenyum melihat mimik wajah Isabel. Tampak cemberut, tapi kemudian senyum-senyum sendiri. Isabel sama sekali tak sungkan memperlihatkan ekspresi itu pada Anjani.


"Cie .... Kayaknya happy banget dikasih barang aneh sama Riko."


"Biasa aja, kok. Udah, ah. Ayo buruan tanda tangan." Isabel mengalihkan.


"Oke. Nih, kamu juga."


Selesai sudah. Anjani dan Isabel merenggangkan badan. Tak lama kemudian, Mario menghampiri lantas menyuruh Anjani dan Isabel untuk makan malam.


"Sayang, ajaklah Isabel makan malam dulu."


"Iya, Mas. Ayo, Bel!"


"Aduh. Jadi ngerepotin kan. Udah nggak papa. Aku langsung pulang aja. Sudah malam juga, nih." Isabel sungkan.


Tak ada lagi penawaran. Anjani berdiri, kemudian menarik pelan lengan Isabel menuju meja makan.


"Nggak boleh nolak lagi. Ayo aku temani!"


"Hehe. Iya, deh. Eh, Pak Mario nggak ikutan makan?"


"Kalian duluan saja, ya." Mario tersenyum, lalu mempersilakan Isabel dan istrinya.


Anjani dan Isabel makan malam berdua dengan menu ayam teriyaki. Keduanya tidak berlama-lama karena memang sudah sama-sama lelah lantaran berkutat dengan persiapan magang mereka sejak sore tadi. Usai makan, Anjani meminta tolong Pak Gun untuk mengantar Isabel pulang.


Dengan mendekap laptop dan barang-barang, Anjani naik perlahan menuju kamar. Dilihatnya Mario sedang memilih baju ganti di lemari pakaian.


"Mas, mau kemana?"


"Ken mengajakku keluar. Sepertinya ada yang ingin dia curhatkan."


"Pasti mau bahas Lovey lagi, atau mungkin Marisa." Anjani menebaknya.


"Mungkin. Atau sesuatu yang lain. Sini, duduklah di sini." Mario menyuruh Anjani duduk di tepi ranjang.


Anjani menurut. Lekas duduk di tepi ranjang seperti yang Mario perintahkan. Di luar dugaan, Anjani justru mendapat perlakuan spesial dari suaminya yang pengertian.


"Mas, harusnya aku yang mijitin kamu. Pasti kamu yang lebih lelah daripada aku."


"Ssut. Nikmati saja, Sayang. Aku pijitin sebentar, kemudian aku tinggal keluar. Mau titip sesuatu?"


"Bolehkah?"


"Sebutkan saja. Nanti aku belikan. Mau makanan, bunga, atau body mist aroma Bunga Moringa?" Mario tersenyum lebar begitu menyebut body mist kesukaan Anjani.


"Ish. Body mist yang kamu beliin minggu lalu masih ada, tuh."


"Sebelum habis, pasti akan kubelikan lagi." Mario memelankan pijitan di pundak Anjani, kemudian mengambil kesempatan memberi pelukan untuk sang istri. "Terus mau titip apa?" imbuh Mario.


"Titip pesan buat Kak Ken, ya Mas. Jangan nyuruh kamu pesan kopi. Ntar nggak bisa tidur lagi, terus ngusilin aku tengah malem seperti waktu itu." Anjani mencubit pelan pipi Mario.


Pelukan pada tubuh Anjani lebih dieratkan. "Baiklah. Aku pesan jus alpukat saja. Sekarang kamu istirahat, ya. Aku tinggal keluar dulu."


Anjani mengangguk. "Hati-hati di jalan, ya Mas."


"Jangan menungguku pulang, ya. Khawatirnya sampai malam."


Mengangguk lagi, Anjani akan menuruti perintah Mario kali ini. Anjani akan istirahat lebih dulu karena tubuh yang sudah terasa letih.


Usai Mario berangkat, Anjani memilih langsung merebahkan diri. Tubuhnya benar-benar terasa letih. Untungnya tadi Mario begitu peka dan sempat memijiti.


"Nak, perut bunda udah makin besar. Kamu baik-baik terus ya di dalam perut bunda. Daddy sayang banget sama kamu." Anjani bermonolog sambil mengusap-usap perutnya.


Mata Anjani dipejamkan. Berharap kantuk yang menyerang bisa lekas membuatnya terlelap dengan cepat. Namun, getar smartphone membuat kantuknya kabur. Khawatir ada pesan penting, Anjani pun berdiri dan mengecek smartphone.

__ADS_1


"Kak Bas," ucap Anjani lirih begitu nama Bastian tampil di kotak pesan.


Anjani membalas pesan Bastian sambil duduk di tepian ranjang. Sambil tetap berbalas pesan, kini Anjani berbaring di ranjang. Awalnya obrolan yang dibuat hanya seputar magang. Selebihnya, obrolan via pesan terus mengalir hingga membuat candaan. Emoticon dan stiker pesan pun sesekali mengambil bagian.


Anjani menguap. Kantuk terasa begitu berat. Namun, jemari Anjani masih saja berbalas pesan singkat. Hingga kemudian, Anjani terlelap. Smartphone terjatuh, tapi jemari Anjani tanpa sengaja sempat menekan stiker bentuk hati merah berdenyut sebanyak empat.


❤❤❤❤


Deg-deg Deg-deg


***


Mario masih setia mendengar curhatan Ken tentang Lovey. Awalnya Ken hanya memberi kabar tentang Lovey yang akan mengajak nikah seorang pria yang berhasil mencuri hatinya. Lama-lama Ken baper sendiri dan akhirnya mengaku cemburu juga. Namun, di curhatan selanjutnya Ken justru menceritakan sosok Marisa yang juga mampu mencipta debaran, lantaran wajahnya begitu mirip dengan sang mantan.


"Jadi, sebenarnya siapa yang kau sukai, Ken?" tanya Mario di ujung curhatan.


"Nah, itu dia yang membuatku bingung. Dua-duanya bikin aku deg-degan."


"Hah. Kebingunganmu membuatku bingung, Ken."


"Makanya aku butuh saran darimu, Bro! Sebagai seorang yang sudah beristri, kau pasti berpengalaman dengan urusan hati."


Mario terdiam. Jus alpukat dalam genggaman seketika jadi perhatian.


"Jadi, Lovey tidak memberi tahu siapa lelaki yang akan diajak menikah olehnya?"


"Yap. Betul sekali. Tapi katanya sih aku kenal. Kan makin bikin penasaran, Bro!"


"Baiklah. Kalau begitu sebaiknya kita pulang saja."


"Lah kok?" Ken melongo.


Sementara Ken masih dalam kebingungan, Mario justru bersiap pulang.


"Bro, kok pulang sih? Saran buatku belum, lho!"


"Saranku, sebaiknya pastikan dulu siapa yang benar-benar telah merebut hatimu. Lovey atau Marisa. Jika itu Lovey, perjuangkan hatinya sebelum dia benar-benar menikah. Tapi jika itu Marisa, dekati dia saat masa magangnya."


Ken diam. Saran Mario langsung masuk ke hati begitu dalam. Mario benar, Ken memang harus segera memastikan perasaan.


"Sudah, ya. Aku pulang dulu."


"Ken, aku punya istri. Dan aku ingin segera memeluknya malam ini."


"Wah, bener-bener kau ...."


"Kenapa? Ingin juga?" Mario menepuk bahu Ken. "Lekaslah menikah dan buat dirimu bahagia." Mario mengembangkan senyum di akhir kalimatnya.


Ken tak dapat berkutik lagi. Semua saran dan pesan yang Mario titipkan benar-benar patut dipertimbangkan.


"Oke, Bro!" Ken mengangguk mantap.


"Bagus." Mario mengacungkan jempolnya. "Oya, besok jangan lupa ikut aku ke kantornya Bastian."


"Yah. Kukira nggak jadi. Oke. Cepetan pulang sana!"


Mario tertawa ringan, kemudian meninggalkan Ken yang masih memilih untuk bertahan. Saat di parkiran, Mario sempat melihat seorang lelaki masuk ke dalam mobil yang terparkir tak jauh dari mobilnya.


"Seperti Dewangga. Tapi, apa benar dia di kota ini?" Mario berdiri sebentar sampai mobil yang dlihatnya melaju keluar dari area parkiran.


"Tapi bisa jadi hanya mirip." Mario mengedikkan bahu, kemudian memilih acuh. Tak lama kemudian, mobil Mario pun melaju.


***


Sampai di rumah. Mario melihat Anjani sudah tertidur dengan lelapnya. Selimut dibetulkan, kemudian smartphone hendak dikembalikan. Namun, niatan Mario lekas dihentikan karena melihat riwayat obrolan balasan pesan sang istri bersama Bastian.


"Hm?" Mario menaikkan sebelah alisnya. "Love-love-love-love. Ada empat stiker love dan Bastian membalasnya dengan ..."


Mario menggantung kalimatnya sendiri. Seutas senyum seketika menghiasi.


"Satu stiker love warna biru dan satu stiker bunga mawar. Hem. Bastian lucu sekali. Pasti dia menganggap stiker yang dikirim Anjani sungguhan."


Mario terus bermonolog. Melihat dari riwayat pesan sang istri dengan Bastian, stiker love itu menegaskan ketidaksengajaan. Mario tetap berprasangka baik pada Anjani. Untuk balasan Bastian, Mario sendiri yang akan meluruskan.


Bas, ini Mario. Maaf, istriku ketiduran saat membalas pesan. Semoga kau tidak salah paham dengan stiker yang tidak sengaja dikirimkan.


Pesan balasan terkirim. Mario tidak menunggu Bastian menanggapi pesan yang dikirimkan barusan. Mario memilih meletakkan smartphone milik Anjani, tapi sebelumnya smartphone itu dinonaktifkan.

__ADS_1


"Pesonaku harus tetap terpancar, dan tidak boleh sampai terkalahkan oleh Bastian." Mario merapikan anak rambut Anjani yang menutupi wajah.


"Aku mencintaimu, dan aku punya cara tersendiri untuk menjagamu di tempat magangmu." Mario tersenyum, kemudian mengecup kening Anjani. "Selamat malam istriku."


***


Pagi menjelang. Mario-Anjani sudah selesai sarapan. Lantaran Anjani berangkat ke kampus agak siang, jadilah Mario yang berangkat duluan.


"Mas, nanti siang aku ijin pergi ke mall sama Isabel, ya. Mau beli baju buat dipakai magang, sama beberapa barang lainnya. Boleh?" Anjani izin sebelum Mario menuju mobil.


"Tentu saja, Boleh. Minta tolong Pak Gun buat antar, ya." Mario mengeluarkan dompetnya. "Pakai ini. Bayari juga belanjaan Isabel." Mario menyerahkan benda pipih untuk transaksi keuangan.


"Makasih, ya Mas."


"Hanya terima kasih, nih?" Mario tersenyum penuh arti.


"Em ... Nanti kumasakin ikan pindang plus sambalnya biar kamu makin doyan makan."


"Ah, istriku nggak peka, nih."


"Pekanya nanti malam aja, ya Mas. Sini, aku salim lagi." Mario meraih tangan Mario lantas kembali mencium punggung tangannya.


Mario gagal modus pagi-pagi. Meski demikian, dirinya tetap senang karena bisa melihat Anjani tersenyum lebar.


***


Mendekati pukul sembilan, Mario dan Ken sudah sampai di area parkir kantor tempat kerja Bastian. Baru saja Mario selesai memberi penjelasan singkat pada Ken tentang apa yang akan dia lakukan di kantor Bastian.


"What? Seragam?" Ken terkejut dengan penjelasan yang baru saja Mario sampaikan."


"Benar. Satu hari dalam sepekan, semua karyawan akan memakai baju dengan corak yang sama. Perusahaan kita akan bekerjasama dengan perusahaan ini untuk menyediakan kebutuhan kain dalam jumlah besar. Bukan hanya untuk perusahaan kita, tapi semua karyawan di perusahaan milik ayahku, adikku, dan kantor cabang lainnya juga akan menggunakannya. Pembedanya hanya corak dan warna." Mario dengan bangga menjelaskan pada Ken.


"Tunggu-tunggu. Kapan kau punya ide ini?" Ken curiga.


"Sejak tau Anjani magang di kantor ini." Mario tidak menutup-nutupi.


"Wow. Pantesan. Aku tau bagaimana dirimu, Bro. Biasanya kau akan membidik perusahaan besar, tapi kali ini justru pesan seragam di perusahaan yang beru berkembang. Aku tau ini cuma modusmu aja kan? Biar sekalian titip-titip Anjani di sini."


Mario tidak membantah, tapi juga tidak mengiyakan. Sebagai tanggapan, Mario hanya memberikan senyum lebar. Sebuah senyum yang justru semakin menjelaskan bahwa dugaan Ken adalah benar. Cara yang digunakan Mario untuk menjaga Anjani di tempat magang sungguh elegan. Dengan melakukan kerjasama dengan perusahaan tempat Anjani magang, Mario akan leluasa mengawasi sang istri agar tetap aman, nyaman, dan terhindar dari kerja yang berlebihan.


"Apa kau akan mengumumkan statusmu dan Anjani di depan semua karyawan di kantor ini?" tanya Ken, penasaran.


"Aku tidak sebodoh itu, Ken. Jika kulakukan, Anjani akan marah padaku. Istriku itu tidak mau diistimewakan. Jadi, cukuplah pimpinan perusahaan yang kuberi tau. Sekalian titip pesan agar segera menghubungiku bila terjadi sesuatu dengan istriku."


"Daebak! Keren, Bro. Eh, tapi Anjani jangan sampai tau kalau kau titip-titip pesan sama pimpinan kantor ini."


"Tentu saja, Ken. Semua terselubung di balik kerjasama antar perusahaan."


Ken tak henti-hentinya mengacungkan jempolnya.


"Jadi, sebenarnya kau ini cemburu apa nggak sih sama Bastian?" Ken makin penasaran.


"Sedikit, tapi itu tidak masalah selama aku bisa meredamnya. Ayo, turun! Kita temui pemilik perusahaan. Direktur sudah membuat janji dengannya kemarin siang."


"Oke, ayo!"


Sekitar satu jam Mario dan Ken menemui pimpinan perusahaan. Kerjasama yang ditawarkan Mario langsung disambut baik, karena jelas-jelas menguntungkan perusahaan tempat Anjani magang. Kontrak kerjasama juga ditandatangani saat itu juga, dan akan berlangsung selama setahun ke depan.


"Terima kasih banyak, Pak Mario. Sungguh suatu kehormatan bagi kami bisa bekerja sama dengan perusahan besar seperti perusahaan Pak Mario."


"Sama-sama. Kalau begitu kami permisi dulu."


Mario dan Ken pamit. Keduanya melangkah ringan keluar dari lift menuju lantasi dasar.


Di lobby, sosok Mario dan Ken ditangkap oleh Bastian. Wajah Mario sungguh familiar. Meski demikian, Bastian tidak menghampiri Mario karena harus segera merampungkan pekerjaan.


Untuk apa suaminya Anjani ke sini, ya? Bastian bertanya-tanya dalam hatinya.


Drrt ... Drrt ...


Ponsel Bastian bergetar. Pimpinan perusahaan yang meneleponnya, menyuruh Bastian agar segera ke ruangannya.


Bersambung ...


Em ... masih suka kan??? 😁 LIKE dan dukungannya buat author dan novel ini dong. Favoritkan juga, yuk! 😉


Terima kasih sudah mampir dan membaca. Sahabat baik Anjani di Jogja kepoin juga, ya. Ada Meli dan Azka di sana. Merapat ke novel my best partner, Kak Cahyanti dengan novel kecenya yang berjudul Menanti Mentari. Ada juga novel the best lainnya, nih. Karya author kece Dian Safitri dengan novelnya yang berjudul Cinta yang Terpendam. Terima kasih atas dukungannya, ya.

__ADS_1


NB : Novel IKATAN CINTA ALENNA sudah END di episode 63. Silakan mampir bagi yang kepo sama kisah bar-bar adik bulenya Mario yang berjodoh dengan cowok super polos. Ups, apa jadinya, tuh!


***


__ADS_2