
โAnjani!โ seru Bastian seraya berlari.
Teriakan Bastian didengar jelas oleh Anjani. Langsung saja Anjani menoleh dan melihat Bastian tengah berlari. Akan tetapi, perhatian Anjani lebih terfokus pada seorang lelaki bertopi yang melangkah cepat, mendekat ke arahnya. Wajah si lelaki tidak asing bagi Anjani. Namun, bukan itu yang mengusik hati Anjani. Hati Anjani bergejolak, panik, lantaran melihat wajah si lelaki bertopi yang tampak emosi. Anjani lebih panik lagi saat melihat gunting runcing di genggaman si lelaki. Semakin lama langkah lelaki semakin cepat, mendekat, dan โฆ Anjani pun berteriak.
โAaaaaa!"
Sreet! Klik!
"Astaghfirullah," lirih Anjani kemudian.
Rupanya si lelaki bertopi emosi pada benang layangan yang menjerat kaki Anjani. Usai memotong benang yang menjerat, si lelaki bertopi ganti menuju bagian depan mobilnya dan menggunting benang layangan yang melintang di sana.
Anjani tertegun melihatnya. Hingga kemudian Bastian datang sembari membantu Anjani berdiri dengan benar.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Bastian.
Anjani hanya menggeleng pelan. Perhatiannya masih tertuju pada si lelaki bertopi yang kini mengumpulkan benang layangan yang sudah digunting dalam satu gumpalan.
"Layangannya dikejar, benangnya dibiarkan." Lelaki bertopi ngomel-ngomel sendiri.
Lelaki bertopi mendekat ke arah Anjani demi mengumpulkan benang layangan yang diguntingnya tadi. Saat itulah Bastian jadi tidak enak hati karena tadi sempat berpikiran macam-macam. Nyatanya, si lelaki bertopi hanya ingin mengumpulkan benang layangan agar tidak mengganggu pengguna jalan.
"Mas, di mana tempat sampahnya?" tanya si lelaki bertopi pada Bastian.
"Biar saya buangkan, Mas." Bastian berinisiatif, mengambil alih benang, dan membuangnya di tempat sampah.
"Mbak tidak apa-apa? Lain kali hati-hati jalannya, ya. Yang seperti ini kadang tidak terduga," nasihat si lelaki bertopi.
"Iya. Sebelumnya terima kasih." Anjani menampilkan mimik wajah ramah meski ada hal yang mengusik hati.
"Kalau begitu, saya permisi dulu." Si lelaki bertopi tersenyum ramah, lantas berlalu menuju mobilnya.
Anjani masih tertegun. Bukan hanya dengan sikap si lelaki bertopi, tapi Anjani merasa pernah bertemu sebelum ini.
"Anjani," panggil Bastian.
"Hm? Iya, Kak?"
"Kenapa bengong? Terpesona sama laki-laki barusan?" Bastian bercanda.
"Ish, Kak Bas apaan sih!"
"Habisnya ngelihatin sampek kayak gitu. Kalau mau terpesona, mending sama aku aja." Bastian terus bercanda. Semenjak lebih dekat, tak ada lagi kata yang tercekat.
"Kaaaak. Aku aduin ke suamiku ntar lho."
"Mau diaduin apa emangnya?" Bastian tersenyum lebar.
"Aku bilangin kalau Kak Bas suka godain aku di kantor," ancam Anjani dengan nada gemas.
__ADS_1
"Jangan, dong. Yaudah sana pulang."
"Kak Bas ngusir aku?"
"Oh, jadi kamu masih mau di sini bersamaku? Besok lagi sajalah."
"Iiiih. Tau ah. Aku pulang!"
Anjani balik badan, meninggalkan Bastian yang masih tersenyum lebar. Seperti biasa, Bastian mengambil kesempatan, pura-pura lupa dengan status Anjani, demi bisa melihat ekspresi menggemaskan di wajah Anjani.
"Kenapa cemberut, Non?" tanya Pak Gun saat Anjani masuk mobil.
"Itu, Pak. Ada benang layangan." Dan ... Kali ini Anjani justru tersenyum lebar, mengingat gombalan Bastian.
"Ada apa dengan benangnya, Non? Kok sekarang malah senyum-senyum?" Pak Gun terheran.
Anjani menggeleng. "Nggak papa, kok Pak. Benangnya sudah diberesin biar nggak kena orang."
"Oh."
Terdiam sebentar, kini Anjani mulai mengingat wajah si lelaki bertopi yang menggunting benang layangan. Itu adalah lelaki yang dahulu tidak sengaja menyenggol pundaknya.
Ah, ternyata lelaki yang waktu itu. Ternyata dia baik juga. Anjani membatin.
"Non, kok sekarang senyum-senyum lagi? Pasti pengen segera ketemu Tuan, ya?" Pak Gun menebak.
"Hehe. Iya, Pak. Pengen segera liat wajah suami saya yang penuh pesona."
"Pak Gun jangan ikutan terpesona sama suami saya, ya Pak." Anjani bercanda.
"Hehe. Non bisa saja bercandanya. Ini mau mampir-mampir dulu atau langsung pulang, Non?"
"Mampir beli bubur di perempatan depan, ya Pak."
"Siap, Non."
Sementara itu, tepat di belakang mobil Anjani, si lelaki bertopi yang tadi dianggap baik terus membuntuti. Dialah Dewangga, yang selama ini telah menyiapkan sebuah rencana.
"Kandungan istri Mario sudah sangat besar. Pasti tak lama lagi akan melahirkan. Dan ... Mario begitu mencintai Anjani. Jadi .... Hahahaaa." Dewangga bergumam, tanpa mengalihkan perhatian dari mobil Anjani di depan.
Sesampainya di tempat penjual bubur.
"Buburnya lima dibungkus, ya Bang." Anjani menyebutkan pesanan, lantas menuju sebuah kursi kayu panjang yang disediakan.
"Awas, Mbak!" seru seorang lelaki.
Anjani mendapati lengannya dipegangi oleh seorang lelaki. Begitu melihat wajah, rupanya lelaki bertopi yang tadi. Meski sudah mengetahui kebaikan si lelaki, tapi Anjani tetap tidak suka lengannya dipegangi.
"Maaf, Mbak. Kursinya basah yang ini. Agak sebelah sana saja duduknya." Si lelaki bertopi yang tak lain adalah Dewangga mempersilakan dengan ramah.
__ADS_1
"Terima kasih," ucap Anjani sambil tersenyum ramah.
"Sama-sama. Eh, Bang. Pinjam kain lapnya, ya." Dewangga langsung mengambil kain lap yang disodorkan abang penjual bubur. Kursi kayu yang basah dilap, kemudian mempersilakan pembeli lain untuk duduk di sana.
Dewangga tidak membeli bubur seperti yang lainnya, melainkan hanya membeli beberapa kerupuk yang juga dijual di sana. Usai membayarnya, Dewangga pergi. Akan tetapi, tak lupa tersenyum ramah lagi kepada Anjani.
Lelaki itu baik betul. Anjani membatin sambil tersenyum. Meski belum mengenal nama, tapi Anjani sudah dipertontonkan kebaikannya. Hanya saja, Anjani tidak tahu kalau kebaikan Dewangga hanyalah sebuah kebaikan pura-pura.
Dewangga hendak melangkah menuju mobil, tapi urung karena melihat kesempatan lain. Kebaikan pura-pura yang diniatkan olehnya berlanjut. Dewangga menuju mobil sopir Anjani, lantas bertanya perihal yang terjadi.
"Ada yang bisa saya bantu, Pak?"
"Ini, Mas. Tadi saya mencet apa ya kok layarnya jadi kayak gini?" Pak Gun merasa Dewangga adalah orang baik-baik.
Dewangga melihat ke arah layar smartphone Pak Gun. Sebelumnya Dewangga sudah tahu bahwa Pak Gun adalah sopirnya Anjani, makanya dia rela menyisihkan waktu untuk membantu.
"Pencet yang itu, Pak." Dewangga mengarahkan tanpa mengambil alih smartphone Pak Gun.
"Yang ini, ya Mas?"
"Iya, Pak. Terus yang sebelah kiri. Yap, pilih OK. Nah. Beres." Dewangga ramah sekali.
"Wah-wah. Terima kasih banyak, ya Mas. Anak-anak muda jaman sekarang memang baik-baik. Dua majikan saya masih muda, dan mereka baik semua. Eh, sekarang ketemu masnya yang masih muda tapi juga baik mau bantuin orang tua." Pak Gun terus memuji.
"Hehe. Sama-sama, Pak. Kalau begitu saya permisi dulu."
Dewangga pamit. Saat balik badan, dia langsung melihat Anjani. Pas sekali, begitulah yang ada di batin Dewangga begitu melihat Anjani.
"Mari, Mbak." Dewangga tersenyum pada Anjani.
Anjani hanya membalas senyum Dewangga. Sempat memperhatikannya juga saat menuju mobilnya.
"Ada apa, Pak?" tanya Anjani pada Pak Gun usai si Dewangga pergi.
"Itu, Non. Tadi saya nggak tau mencet apa sampai layar HP nggak karuan. Untung ada mas mas yang barusan. Baik banget mau bantuin orang tua." Pak Gun kembali memuji.
Anjani tersenyum. Semakin yakin saja bahwa sosok si lelaki bertopi tadi begitu baik hatinya.
"Ayo pulang, Pak."
"Mari, Non."
Di dalam mobil yang sudah dilajukan, Dewangga terus tertawa. Begitu yakin bahwa rencananya akan berjalan lancar tanpa celah.
"Mario-Anjani dan ... Lovey. Kita lihat, apa yang akan terjadi setelah ini," gumam Dewangga dengan penuh percaya diri.
Bersambung ....
Apa kira-kira rencana Dewangga? Hehe. Apa alurnya sudah mulai ketebak ke mana arahnya?? ๐ Dari sini akan banyak tegangnya, ya. Humor dan meweknya juga bakal author sediakan. Komplit deh buat menghibur reader dan author sekalian. LIKE-nya jangan sampai tertinggal yaa ๐
__ADS_1
Hayyuuuk, yang belum merapat ke Cinta Strata 1, Menanti Mentari, dan Cinta yang Terpendam, buruaaaaan! Jangan sampai ketinggalan kisah serunya. Dukung kami, ya. Salam Luv dariku ๐
***