
Keterkejutan tak dapat dihindari. Apalagi usai Riko menuduh Bastian sebagai dalang kegaduhan atas minggatnya Anjani.
Bastian terkejut. Anjani lebih terkejut lagi. Keterkejutan Bastian dan Anjani seketika menjelma kekhawatiran usai melihat Riko emosi.
Adegan saling tatap antara Riko dan Bastian tidak dapat dihindarkan. Keduanya tampak tak ada yang mau kalah karena masing-masing merasa benar. Hingga kemudian, Riko lebih dulu mengambil tindakan. Riko berani meraih kerah baju Bastian dengan kasar.
"Rikooo!" seru Anjani, berniat mencegah pertikaian yang sudah tersulut sejak tadi.
Riko tidak mengindahkan seruan Anjani. Yang Riko lakukan justru semakin mengeratkan cengkraman di kerah baju Bastian.
"Untuk apa Kak Bas menyembunyikan Anjani, ha?" Ucapan Riko penuh penekanan.
"Rik, tenang dulu. Aku bisa jelaskan."
"Tenang-tenang! Kak Bas pikir suami Anjani tenang selama ini, ha? Enak saja!" Riko melepas cengkraman disertai dorongan tangan.
Bastian terhuyung ke belakang.
"Riko sudah, cukup!"
Anjani mendekati Riko, hendak mencegah tindakan lebih jauh. Namun, lengan Anjani tak sengaja terkena hempasan tangan Riko yang berniat menuju Bastian.
"Astaghfirullaah." Anjani memegangi lengannya. Tidak begitu sakit, hanya kaget dan sedikit nyelekit.
Riko dan Bastian kompak menjadikan Anjani perhatian. Bastian mendadak geram, sementara Riko lekas menampilkan wajah bersalah atas tindakannya barusan.
"Anjani-anjani, maafkan aku." Riko mendekat karena merasa bersalah.
"Minggir kau!" Ganti Bastian yang mendorong tubuh Riko hingga terhuyung ke belakang.
"Jangan sekali-kali kau menyakiti Anjani!" Bastian bersungguh-sungguh dengan ucapannya kali ini.
Seketika Riko bungkam. Tak menyangka Bastian akan seemosi barusan.
"Kak Bas naksir Anjani, ya? Makanya ngumpetin Anjani di sini." Tiba-tiba saja Riko berkata demikian.
Anjanilah yang paling kaget dengan pernyataan itu. Hendak menyahuti agar Riko tidak berkata macam-macam, tapi keduluan Bastian yang melontarkan kata balasan.
"Iya. Aku memang naksir Anjani!" ujar Bastian, dengan tatapan menghujam.
"Ck. Pe-bi-nor." Riko mengejanya, tanpa sungkan dengan makna katanya.
Tangan Bastian seketika langsung mengepal. Geram. Geregetan. Tak terima dengan sebutan yang Riko sematkan. Sejurus kemudian ....
Buk!
Riko tersungkur. Tangan Bastian yang barusan didaratkan telah berhasil membuatnya tumbang. Namun, hanya sebentar. Dengan cepat Riko membalas serangan Bastian.
Buk!
__ADS_1
Gantian Bastian yang tersungkur. Riko berniat tidak memberi celah. Hendak melayangkan tangannya lagi, tapi Anjani dengan berani mencegah.
"Lebih baik kalian semua pergi dari sini!" usir Anjani.
Begitu jelas, tegas, sayangnya ada linangan air mata yang mengiringi. Anjani menangis, karena tak sanggup menguasai kondisi. Adegan saling balas hajar hingga tersungkur telah membuat hati Anjani meraung. Begitu pilu terasa, karena pertengkaran Riko dan Bastian terjadi karena dirinya.
"Pergi kalian berdua!" ulang Anjani.
Air mata semakin deras mengalir. Anjani emosi, tapi emosinya tersalurkan lewat linangan air mata yang membuat jejak di pipinya. Apalah daya Anjani yang tengah mengandung besar, hendak mencegah berlebihan tapi khawatir terkena efek tangan salah sasaran.
"Anjani, maafkan kami." Bastian memberi kode tangan pada Riko agar mengatakan hal yang sama.
"Iya. Maafkan kami, ya." Riko pun ikut minta maaf.
Akhirnya keadaan melunak karena tangisan Anjani. Baik Riko dan Bastian sama-sama tak kuasa jika air mata Anjani terus membasahi pipi.
Meninggalkan Bastian dan Riko di teras, Anjani memilih masuk ke dalam rumah. Anjani duduk di ruang tamu, agar tidak ada yang mampu melihat tangisannya selain Riko dan Bastian saja. Untunglah saat pertengkaran barusan suasana di sekitar sepi, tidak ada tetangga yang sampai menghampiri.
"Rik, tolong jaga emosi Anjani." Bastian berpesan sebelum ikut masuk ke dalam.
Riko melotot, tapi sayangnya tidak diketahui Bastian. Setelahnya Riko pun ikut masuk ke dalam.
Anjani diam. Sengaja tidak mengajak ngobrol Riko ataupun Bastian.
"Anjani, maafkan kami, ya?" Riko kembali meminta maaf dengan tutur lembutnya.
"Selesaikan urusan kalian dalam sepuluh menit. Jika tidak, silakan kalian pulang. Jangan pernah menemuiku lagi di sini. Atau, kalian memang ingin aku pergi lebih jauh dari ini? Iya?" Anjani sengaja mengancam, karena tak ingin lagi ada baku hantam.
"Aku ke dalam dulu." Anjani beranjak, lantas pergi menuju dapur.
Tinggallah Riko dan Bastian berdua. Atmosfir ruang tamu mendadak saja tampak tak ramah karena aura dari keduanya. Pantas saja jika demikian, sebelum ini mereka berdua terlibat adegan adu tangan dan itu masih meninggalkan rasa geram.
Setelah sekian menit berlalu, Bastianlah yang memulai kata lebih dulu. Sedangkan Riko, dia memang menunggu. Menunggu Bastian agar memberi penjelasan dan menyelesaikan sesuai dengan apa yang Anjani pesankan barusan.
"Anjani sendiri yang memilih kota ini untuk bersembunyi dari Mario. Waktu itu aku membuntutinya. Demi menjaga suasana hati Anjani, aku merahasiakannya. Tapi, sepertinya tidak lagi menjadi rahasia. Sekarang kau ada di sini. Jadi bertambah yang tahu tempat persembunyian Anjani," ungkap Bastian.
Riko jaim. Tidak langsung melunak dan mengiyakan penjelasan Bastian. Terang saja, sebelum ini Riko menuduh Bastian macam-macam. Usai mendengar penjelasan barusan, rasa-rasanya Riko malu karena tadi telah emosi berlebihan.
"Apa kamu masih menuduhku menyembunyikan Anjani, Rik?" tanya Bastian.
"Maaf, Kak. Maaf untuk yang tadi. Aku hanya terbawa emosi. Lagian sih Kak Bas." Riko memutar badan agar bisa leluasa mengarah ke arah Bastian. "Kenapa sih nggak bilang ke salah satu dari kita kalau Anjani ada di sini? Bukan hanya suami Anjani, kita bertiga sebagai teman kuliah Anjani tentu khawatir."
"Seperti yang kubilang tadi, Rik. Aku hanya menjaga suasana hati Anjani. Lagipula Anjani berpesan untuk merahasiakan posisinya."
"Terus Kak Bas mengiyakan gitu aja? Iya? Anjani hamil besar loh, Kak. Nggak baik tinggal sendirian. Ntar kalau sewaktu-waktu lahiran terus siapa yang siaga di sampingnya? Kak Bas? Iya?" Riko mulai menyudutkan Bastian lagi.
"Aku bukan siapa-siapa, Rik. Kau tau betul tentang itu. Anjani begitu mencintai Mario. Hanya saja saat ini mereka berdua sedang dihadapkan dalam ujian jalinan ikatan cinta halal." Bastian mengambil jeda sebentar. "Kau pasti juga sudah tau tentang video skandal yang sempat menyebar itu, kan?" imbuh Bastian.
Deg!
__ADS_1
Dada Riko berdesir kala Bastian menyinggung video skandal. Tentu berita itu sempat dia dengar, karena dirinya magang di kantor Mario. Hampir semua karyawan perusahaan dipastikan sudah tahu. Khususnya Riko, yang bahkan sudah menonton dua video skandal yang sempat menyebar dan menggemparkan perusahaan.
"Apa Anjani masih emosi karena video itu?" tanya Riko kemudian.
"Kalau emosi ... entahlah. Aku sendiri tidak tahu. Tapi aku masih sering memergoki Anjani diam-diam menangis sendiri."
"Bagaimana kalau kita kasih tau saja Anjani kalau selama ini Pak Mario mencarinya. Sekalian bilang kalau Ken dan Lovey sudah menikah," ide Riko.
"Bagus juga. Tapi kita tetap tidak tahu tanggapan apa yang akan ditunjukkan Anjani setelah mendengarnya. Rik, kita berdua sama-sama bukan orang terdekat di kehidupan Anjani. Kita tidak bisa menjamin reaksi yang ditunjukkan Anjani nanti."
Riko membenarkan penjelasan Bastian. Riko pun sadar, dalam kondisi Anjani yang sedang hamil besar, suasana hati Anjani tetap harus diutamakan.
Raut penuh pikir, seketika berubah cerah. Riko memiliki sebuah pemikiran yang bisa membuat Anjani lebih terbuka. Orang terdekat, lebih tepatnya lagi sahabat terdekat.
"Gimana kalau kita kasih tau Isabel tentang ini? Isabel pasti akan banyak membantu." Riko setengah berbisik.
Bastian menggeleng. "Itu ide buruk, Rik. Aku lebih kepikiran untuk menghubungi keluarga Anjani," ungkap Bastian.
"Cari ribet aja, sih Kak. Mending langsung kita kasih tau suaminya Anjani aja kalau begitu. Pak Mario lebih berhak tau tentang kondisi istrinya."
Riko benar, tapi sayangnya Bastian tidak ikut membenarkan. Bastian memiliki pemikiran sendiri tentang apa yang lebih baik untuk Anjani.
Rumit, memang iya. Tetapi, itulah pemikiran mereka, terutama Bastian. Usai Bastian melihat Anjani begitu sakit hati, rasa-rasanya Bastian enggan dan khawatir jika harus mempertemukan Anjani dengan suaminya lagi. Ya, satu pemikiran yang tidak seharusnya terjadi. Tapi jangan lupakan perasaan Bastian pada Anjani sebelum ini. Sedikit banyak, Bastian pun berharap lebih. Meski pada kenyataannya, Bastian merasa bahwa dirinya sama sekali tidak mungkin menang dari pesona suaminya Anjani.
"Au ah. Pusing aku jadinya!" Riko malas diajak berpikir rumit.
"Kalau begitu sepakat kita rahasiakan dulu keberadaan Anjani di sini. Setuju?" Bastian sungguh-sungguh.
"Iya, deh. Terserah Kak Bas saja."'
Setelahnya, Anjani kembali sambil membawa beberapa hidangan. Hidangan sederhana hasil masakan Anjani yang ditemani buah hati dalam kandungan.
Tak ada obrolan yang serius usai makan. Anjani hanya menegaskan pada Riko dan Bastian agar keberadaannya dirahasiakan, khususnya dari suaminya. Jujur saja, Anjani masih terbayang video Mario bersama Lovey, dan itulah yang membuatnya sakit hati hingga kadang menangis sendiri.
***
Mario baru saja sampai di kantor. Langkahnya diayunkan menuju tempat sang ayah berada. Sayangnya, John dan Paman Li tidak ada di sana. Mario tidak tahu bahwa sang ayah tengah melangsungkan pertemuan dengan mantan kekasih Lovey.
Tak mendapati sang ayah ataupun Paman Li, Mario pun lekas mengambil keputusan sendiri. Mario menghubungi Ma, ibu kandung Anjani. Akhirnya Mario bercerita juga. Tidak terlalu detil. Mario hanya berkata bahwa Anjani kabur dari rumah karena kesalahpahaman dalam rumah tangga. Lebih detilnya lagi, Mario berjanji pada Ma akan menceritakan semuanya saar Ma tiba di Jakarta. Ya, Mario meminta Ma datang ke Jakarta bersama suaminya.
"Anjani sayang, aku berjanji akan menemukanmu. Kumohon kembalilah. Aku mengundang Ma dan ayah datang ke Jakarta. Pasti kamu akan bahagia bertemu mereka." Mario bermonolog sendiri.
Getir. Hati Mario kembali terasa getir. Rasa bersalah dan penyesalan yang bertahta dalam dada benar-benar membuat Mario menderita. Berharap sang istri akan segera kembali dia rengkuh dalam dekapan penuh cinta. Itulah doa Mario di setiap kesempatan ikhtiar yang ada.
Ma akan datang ke Jakarta. Bagaimana reaksinya? Nantikan lanjutan ceritanya.
Bersambung ....
Ribet-ribet, dah 😅 Tapi, ya beginilah alurnya. Semoga masih banyak yang suka dan menantikan lanjutan ceritanya.
__ADS_1
This is story of Mario-Anjani. Semua bermula dari novel Cinta Strata 1. Kepoin yuuk. Eit, sahabat baiknya Anjani di Jogja kepoin juga. Ada Meli dan Azka dalam novel MENANTI MENTARI karya Cahyanti. Mohon dukungan untuk kami. Salam Luv 💙
***