
Penampilan berbeda dengan perut membesar karena kandungannya, sama sekali tidak menyurutkan semangat Anjani untuk magang dengan sebaik-baiknya. Sesuai pesan Mario, Anjani akan memaksimalkan kinerja magangnya selama dua bulan pertama, sebelum nantinya Anjani izin melahirkan buah hatinya.
Baru saja Anjani, Isabel, dan delapan teman magang lainnya mengikuti Bastian melihat-lihat area kantor, termasuk melakukan salam sapa dengan pemimpin perusahaan yang sering dipanggil Pak Bos. Kini mereka diarahkan Bastian menuju ruangan dengan meja-meja yang sudah disiapkan. Selanjutnya, mereka melaksanakan pekerjaan yang telah diarahkan.
"Silakan kalian semua istirahat dulu, kemudian bisa kembali melaksanakan tugas masing-masing. Jika ada suatu hal yang ingin ditanyakan, jangan sungkan untuk bertanya pada saya." Bastian begitu ramah mengarahkan mahasiswa-mahasiswa magang, yang sekaligus menjadi anak buahnya untuk sekarang dan tiga bulan ke depan.
Bastian tidak langsung kembali ke ruangan, melainkan lebih dulu menghampiri meja tempat Anjani berada. Satu senyum disuguhkan, disusul pertanyaan ramah yang membuat Anjani turut mengembangkan senyuman.
"Apa kamu lelah?" tanya Bastian.
"Tidak, Pak." Anjani profesional, menyapa Bastian dengan sapaan Pak saat magang.
"Jika perlu apa-apa, langsung sampaikan saja padaku, ya. Jangan sungkan! Eh-eh, pelan-pelan berdirinya." Bastian lagi-lagi menampilkan perhatiannya.
Anjani mengangguk. Tidak lagi menambah pertanyaan ataupun kalimat panjang. Anjani menyadari tatapan tidak menyenangkan dari beberapa teman magang dan karyawan. Anjani jadi tidak enak hati karena merasa terlalu diperhatikan. Sungguh, Anjani tidak ingin diistimewakan hanya karena buah hati dalam kandungan.
"Ssut. Anjani," panggil Isabel yang mejanya kebetulan bersebelahan dengan meja Anjani.
"Apa, Bel?" Anjani menoleh.
"Kakakku berlebihan, ya? Jangan diambil hati. Nanti sepulang magang langsung kuhakimi," terang Isabel dengan nada setengah berbisik.
"Sudah, Bel. Nggak perlu. Nanti kamu ribut lagi sama kakakmu gimana?" Anjani makin tidak enak hati.
"Nggak akan. Dijamin, deh. Okey?" Isabel meyakinkan.
"Em, iya deh. Terserah kamu aja, Bel." Anjani pasrah.
Setelahnya, kegiatan magang berlangsung seperti pada umumnya. Disuruh ini dan itu, tapi semua demi ilmu. Lagipula, Anjani merasa nyaman dengan sistim kerja di tempat magangnya. Karyawan-karyawan di sana ramah-ramah. Ya, meski ada saja beberapa pasang mata yang menatap tidak suka. Namun, Anjani memilih untuk mengabaikannya.
Lain cerita di tempat magang Riko dan Marisa. Jika Anjani dan Isabel disambut dengan kelewat ramah, Riko dan Marisa justru disambut dengan penuh wibawa oleh Ken. Tampang Ken sengaja dibuat tanpa canda. Nada suaranya pun sengaja dibulatkan agar terdengar mengesankan di mata para mahasiswa.
"Ken." Mario memanggil Ken agar menemuinya sebentar.
"Baik. Silakan kerjakan tugas yang sudah terbagi dengan jelas. Tiga puluh menit lagi saya kembali untuk mengecek. Permisi." Ken, masih dengan gestur tubuh penuh wibawa, pergi dengan mimik wajah yang membuat mahasiswa magang jadi gelisah.
Sepuluh mahasiswa magang langsung lega ketika Ken pergi. Riko dan Isabel yang mengenal Ken, berusaha meredam kegelisahan teman-temannya.
"Enjoy aja, gaes." Riko dengan gaya santainya menenangkan teman-temannya.
"Iya, biasanya nggak gitu, kok. Pak Ken ramah banget orangnya." Marisa ikut meyakinkan teman-temannya.
"Halah. Ramah dari mana? Serem gitu!" celetuk salah satu teman magang.
"Ssut. Jangan keras-keras napa, sih?!" Riko menegur teman-temannya. "Nikmati aja apa pun situasinya. Ntar juga lama-lama betah," imbuhnya.
Marisa mengangguk-anggukkan kepala, tanda setuju dengan apa yang Riko sampaikan kepada teman-temannya.
Sementara itu, Ken yang barusan dipanggil, begitu sampai di ruangan Mario langsung meneguk air mineral. Wajah Ken tampak lega usai menandaskan isi gelas minumannya.
"Gillaaa, Bro!"
"Apa sebutan itu untukmu, Ken?"
__ADS_1
"Ah! Sahabat macam apa kau ini." Ken kembali menuang air mineral ke gelas, lantas meneguknya lagi hingga tandas.
"Aku sahabat sekaligus bosmu, Ken. Sekarang, coba jelaskan! Kenapa sikapmu bisa sampai menakutkan mahasiswa magang?" Mario serius.
Ken melonggarkan dasi yang melingkar. Satu tarikan nafas dalam tak sungkan ditampilkan. Setelahnya, Ken mengaku bahwa tadi dirinya merasa bingung sekaligus deg-degan. Makanya, yang keluar justru sikap yang tidak diharapkan.
"Karena Marisa. Betul begitu, Ken?" Mario menebak.
"Benar, Bro. Wajah Marisa benar-benar mirip Berlian. Ah, ngapain juga sih Berlian mau menerima perjodohan, jadi terpaksa menikah, kan. Nggak tau apa kalau aku patah hati berat waktu itu." Ken malah curhat tentang Berlian, mantan kekasih yang menikah dengan lelaki lain karena perjodohan.
"Garis bawahi kata 'waktu itu', Ken. Kulihat kau sudah bisa move on sejak bertemu Lovey."
"Lovey? Ah, aku jadi ingat perkataanmu. Huft. Aku harus memastikan perasaanku sesegera mungkin."
"Pastikan juga kinerjamu benar, atau bonus yang kujanjikan batal."
Ken auto mengubah mimik wajah. Dari lesu langsung kaget karena ancaman Mario padanya.
"Yaelah, Bro. Gitu amat sama sahabat."
"Aku bosmu."
"Ya-ya. Kau bosnya, dan aku hanya karyawan biasa."
Ken kembali pada sikap semula. Tentu saja di mata Mario itu jauh lebih baik daripada membuat mahasiswa magang gelisah.
"Jadi, kau tau apa yang harus dilakukan setelah ini?" tanya Mario.
Ken menjentikkan jarinya. "Yap. Setelah ini akan kutanyai Marisa. Dia sudah punya kekasih atau belum. Jika belum, akan kudekati dia. Ah, si Lovey juga akan kudekati juga. Dari sana aku akan bisa memastikan perasaanku lebih condong pada siapa." Dengan bangga Ken mengutarakan pemikirannya.
"Kenapa lesu begitu, Bro?" tanya Ken tanpa dosa.
"Tidak. Aku hanya ingin segera pulang ke rumah, lalu memanjakan istriku dengan penuh cinta." Mario mengalihkan pikiran agar tidak terlalu geram.
"Bucin amat sih, Bro. Ingat, Anjani belum pulang magang. Udah sana! Kerja lagi!" Ken santai saja menasihati Mario.
"Keeeen! Cepat perbaiki sikapmu di depan mahasiswa magang. Jika sampai dua hari ke depan kau masih gagal profesional, bonus dan gaji bulan ini aku pending sampai lebaran." Mario geregetan.
"Waduh! Iya-iya. Jangan galak-galak gitu, dong. Nanti kuaduin Anjani lho!"
"Ken!"
"Iya-iya. Aku benahi sekarang juga, nih. Daaa!"
Ken kabur, meninggalkan Mario yang kini justru merasa terhibur.
"Hah! Sahabatku satu ini memang paling bisa membuatku naik darah."
Mario memijit pelan keningnya. Tak begitu lama, satu senyum ditampilkan olehnya. Mario tetap merasa beruntung bisa bersahabat dengan Ken begitu lama. Meski terkadang suka membuat ulah, tapi Mario tetap bisa menerima sikap Ken yang apa adanya.
***
Sore hari pun tiba. Saatnya jam pulang kerja. Anjani dan Isabel berpamitan lebih dulu pada karyawan kantor dan teman-teman magang lainnya. Sejauh ini Anjani lega, karena tatapan mata yang tadinya tak suka telah berubah menjadi ramah.
__ADS_1
"Bel, kamu ngomong apaan sama Kak Bas? Kok bisa sikapnya sekarang jadi adil ke semua? Teman-teman yang lain jadi merasa diperhatikan juga."
"Ada, deh. Ra-ha-si-a."
Hanya itu penjelasan yang Isabel berikan. Isabel tidak mungkin menceritakan ancaman kata yang ditujukan pada Bastian. Sebenarnya Isabel mengancam akan membeberkan kebiasaan memalukan sang kakak saat di rumah, khususnya pada Anjani. Syaratnya mudah agar rahasia itu tetap terjaga, yakni Bastian harus memberi perhatian yang sama pada semua teman magangnya. Jika ingin bertanya hal pribadi pada Anjani, Bastian harus sembunyi-sembunyi, dan Isabel pun menyarankan agar disampaikan lewat pesan singkat saja.
"Seriusan nih nggak mau cerita?" Anjani masih kepo.
"Nggak mau, ah. Biar kamu kepo. Hihi." Isabel menahan tawanya. "Eh, Pak Gun mana?" Isabel celingukan mencari mobil yang biasa dikemudikan Pak Gun untuk menjemput Anjani.
"Di depan sana." Anjani menunjuk ke arah luar kantor.
"Jauh amat, sih. Pasti kamu nggak pengen jadi omongan orang karena diantar jemput mobil mewah, kan?" Isabel sudah hafal dengan kebiasaan Anjani.
"Hehe. Udah, ah. Jangan dibahas lagi. Kamu mau kuantar pulang atau bareng Kak Bas?"
"Bareng kakakku aja. Karyawan di sini sudah pada tau kok kalau aku ini adiknya."
"Oke, deh. Kalau begitu aku pamit duluan, ya Bel. Sampai ketemu besok. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Anjani meninggalkan Isabel setelah berpamitan. Sementara Isabel bertahan di parkiran menunggu Bastian, Anjani melangkah keluar area kantor dengan perlahan. Mobil yang dikemudikan Pak Gun sudah tampak dari kejauhan.
"Bismillaah. Begitu sampai di rumah, aku ingin cerita banyak hal pada Mario. Semoga dia tidak lembur hari ini." Anjani bermonolog sambil tetap melangkah pelan-pelan.
Kurang beberapa meter lagi sampai di mobil, tapi tetiba saja ada seorang lelaki yang menyenggol pundak Anjani.
"Astaghfirullah." Anjani tidak sampai limbung, karena si lelaki memegangi lengan Anjani.
"Maaf, Mbak. Saya tidak sengaja." Si lelaki bertopi meminta maaf.
"Iya." Anjani buru-buru melepas lengannya yang masih dalam genggaman si lelaki yang tidak dikenal.
Anjani tidak memperpanjang lagi, lebih memilih segera menuju mobil dengan tetap melangkah hati-hati.
Hingga mobil Anjani melaju, si lelaki bertopi dari kejauhan terus mengamati. Tadi itu si lelaki bertopi memang sengaja menyenggol pundak Anjani. Ya, memang sengaja, demi bisa lebih jelas melihat wajah Anjani.
"Ternyata istri Mario cantik juga. Haha, sepertinya aku tidak perlu buru-buru menjalankan rencanaku. Perlu sedikit bumbu, khususnya pada istri Mario yang cantik itu," gumam si lelaki bertopi yang tak lain adalah mantan relasi Mario dan Lovey. Dialah .... Dewangga.
Bersambung ....
Terima kasih sudah mampir dan membaca. Semoga tetap suka dengan jalan ceritanya. Salam Luv dariku untuk kakak-kakak semua yang sudah mendukung author dan novel ini. 💙💙💙
Kunjungi novel pertama author, yuk. Cinta Strata 1, kisah Mario-Anjani bermula dari sana. Meli, teman baik Anjani kepoin juga yuk di Jogja. Merapat ke novel my best partner, Menanti Mentari karya Cahyanti. Kepoin novel lainnya juga, yuk. Ada novel Cinta yang Terpendam karya Dian Safitri. Dukung kami, ya.
Salam Luv
Penuh Cinta
Teruntuk Semua
💙
__ADS_1
***