Takdirku Bersamamu

Takdirku Bersamamu
Episode 38 : Kekhawatiran


__ADS_3

Meski samar, Anjani bisa merasakan atmosfir di sekitar mendadak berubah. Apalagi usai Anjani menyapa, tersenyum, bahkan melambaikan tangan ke arah Bastian. Anjani dapat merasakan ada aura kurang nyaman pada tatapan mata yang disorotkan Mario pada Bastian.


Sebenarnya tidak ada yang salah dengan sikap menyapa. Hanya saja, yang disapa Anjani adalah seseorang yang pernah dicemburui oleh Mario. Terkesan kekanakan, tapi bagi Mario yang begitu mencintai Anjani, cemburu itu masih sah-sah saja selama masih dalam batas wajar, tidak berlebihan, dan terkontrol dengan baik dan benar.


"Hai Anjani." Bastian menyapa Anjani lebih dulu. "Mario, apa kabar?" Bastian mengulurkan tangan.


"Baik. Sedang istirahat makan siang?" Mario menjabat tangan Bastian.


"Iya. Beberapa senior nitip es krim. Silakan dilanjut. Aku mau pesan dulu."


Anjanilah yang terlihat paling ramah menanggapi. Sementara Mario hanya mengangguk singkat, lantas mempersilakan Bastian pergi.


"Senyum yang tadi mana, sih?" Anjani menempelkan sendok es krim ke mulut Mario.


"Senyumku terjeda, karena pemicu senyumnya sedang menyapa pria lain dengan ramah." Mario tersenyum usai berkata seperti itu.


"Kan kan .... Jangan gitu, ah. Ayo senyum lebih lebar lagi!" Anjani menyuapkan sesendok es krim, dan setelahnya senyum Mario pun mengembang lagi.


Mario-Anjani kembali romantis berdua. Menikmati es krim sembari membuat canda. Hingga kemudian, Bastian kembali mendekati mereka.


"Aku duluan, ya." Bastian pamit.


"Silakan."


Mariolah yang menanggapi, sementara Anjani hanya mengangguk. Anjani tidak lagi bersikap berlebihan seperti tadi. Tidak tersenyum lebar-lebar apalagi sampai melambaikan tangan. Anjani ingin menjaga perasaan sang suami.


Mario-Anjani kembali fokus pada es krim dan obrolan. Mencipta kata romantis diselingi dengan candaan. Keharmonisan begitu nyata tersuguhkan. Hingga kemudian harus terjeda lagi karena Mario kembali melihat Bastian. Tentu saja akan sangat tidak sopan apabila abai dengan keberadaan Bastian.


"Apa ada yang tertinggal?"


"Ada titipan yang kelewat, nih. Ke situ dulu, yah." Bastian langsung menuju tempat pemesanan.


Mario memperhatikan Bastian sampai di meja pemesanan. Tak hanya memperhatikan, Mario juga tampak sedang ada yang dipikirkan.


"Mas. Kok ngelihatin Kak Bas sampai segitunya, sih? Nggak lagi cemburu lagi, kan?" Anjani menggenggam tangan kiri Mario.


"Tidak. Aku hanya kepikiran dengan tempat magangmu nanti." Ganti Mario yang kini menggenggam erat tangan Anjani.


"Ada apa dengan tempat magangku nanti?"


"Tidak ada apa-apa. Hanya saja ...." Mario menggantung kalimatnya. Memilih untuk lebih menatap bola mata Anjani kemudian melanjutkan kata-katanya. "Sayang, maganglah di kantorku."


"Loh? Kenapa tiba-tiba, Mas? Bukankah waktu itu kamu mendukungku magang di mana saja?"


Mario mempererat genggaman tangannya pada Anjani. Hendak menjelaskan dengan ramah, tapi lebih dulu Bastian datang menghampiri. Alhasil, obrolan Mario-Anjani pun terjeda lagi.


"Maaf, aku duluan ya." Untuk kedua kalinya Bastian pamit.


"Yakin tidak ada yang tertinggal lagi?" Mario mengingatkan. Bukan khawatir pada Bastian, tapi khawatir obrolannya dengan sang istri akan terjeda lagi.


"Kali ini aku yakin tidak ada yang tertinggal. Duluan, ya. Daa!" Bastian melangkah riang meninggalkan Mario-Anjani.


Fokus Mario kembali pada Anjani. Genggaman tangan mereka bahkan belum terlepas sampai saat ini. Mario menyuguhkan senyum ramah sembari memberi pengertian pada Anjani.


"Sayang, aku khawatir kamu nanti disuruh-suruh seperti Bastian barusan. Kalau magang di kantorku, aku bisa menjagamu."

__ADS_1


Tutur lembut Mario begitu mudah dipahami, merasuk ke hati. Namun, Anjani tidak mengiyakan begitu saja. Anjani berusaha meyakinkan Mario agar tidak khawatir berlebih.


"Mas, insya Allah tidak akan disuruh-suruh sampai berlebihan. Jika senior menyuruhku, pastilah demi kebaikanku dalam hal ilmu."


Senyum Mario merekah. Hatinya tergugah lantaran jawaban yang diberikan sang istri tercinta. Mario merasa istrinya semakin dewasa pemikirannya. Makin cinta saja Mario pada istrinya.


"Kalau seperti Kak Bas barusan, aku yakin mereka cuma nitip, bukan menyuruh. Kak Bas memang sering beli es krim di sini, kok."


"Hm?" Dahi Mario berkerut. "Kok kamu bisa tau Bastian sering beli es krim di sini?"


"Em ... sebenarnya waktu jalan-jalan kemarin aku nggak sengaja ketemu Kak Bas di sini, Mas." Anjani jujur.


"Terus makan es krim bareng? Berdua saja?" Pertanyaan Mario jadi kemana-mana.


Meski sudah dijelaskan dengan hati-hati, tapi rupanya Mario terpancing untuk bertanya lebih. Hal yang wajar, dan Anjani memaklumi.


"Mas, kemarin itu aku nggak sengaja ketemu. Lagian cuma bentar, kok. Habis itu Kak Bas balik ke kantor duluan."


"Memangnya kantornya Bastian di mana?"


"Katanya sih di dekat sini, Mas."


"Oh. Pantesan."


"Pantesan apa, Mas?"


Mario tidak menjawab lagi. Sorot matanya masih tertuju pada Anjani sambil mengangguk-anggukkan kepala beberapa kali.


Melihat itu, Anjani spontan menyendok es krim vanilla miliknya, kemudian menyodorkannya pada Mario.


Seketika Mario tersadar. Hampir saja dirinya bersikap berlebihan. Untung saja Anjani lekas mengingatkan. Kini, senyum Mario pun mengembang.


"Nyaam!" Mario menerima suapan Anjani dengan riang. "Apa wajah tampanku menakutkan?" tanya Mario kemudian.


"Iya. Kayak mau menerkam," canda Anjani.


Mario tak lagi bertanya tentang Bastian. Lebih memilih percaya pada Anjani dan akan membiarkannya magang di mana pun dia kehendaki.


"Sudah puas? Atau masih mau pesan lagi?"


"Sudah cukup, Mas. Ayo kita pulang!"


"Ayo, Sayang." Mario berdiri kemudian membisikkan sesuatu di telinga Anjani. "Lain kali beli es krim di tempat lain saja, ya. Biar tidak ada yang mengganggu obrolan kita."


"Maaaas," desis Anjani sambil geleng-gelang kepala. Anjani tau betul siapa yang dimaksud suaminya.


Mario tersenyum jahil. Tak lupa menggandeng lengan Anjani hingga sampai di mobil.


"Sayang, kuantar ke pasar, yuk!"


"Pengen dimasakin sesuatu?"


Mario mengangguk. Ada sebuah ide yang terbersit begitu saja.


"Sore ini kita main masak-masakan. Mbak Surti sama Mbok Darmi kita suruh nonton sinetron, biar fresh pikiran mereka. Mumpung aku di rumah. Setuju nggak?"

__ADS_1


"Asyiiik. Aku setuju, Mas. Masak terong balado mau?"


"Mau, dong. Sama ikan pindang, ya. Ah, nanti biar aku yang ngulek sambelnya sama goreng ikan pindangnya."


Anjani cemberut. "Terus aku ngapain, dong? Masa iya cuma motong-motong terong."


"Kamu jagain anak kita saja." Mario mengusap-usap perut Anjani. "Anaknya daddy nanti duduk manis sama bunda, ya? Lihat daddy jadi koki sehari."


Anjani terkekeh pelan. Dirinya begitu menikmati keakraban yang demikian. Hadirnya calon buah hati benar-benar membawa suasana nyaman dan mempererat ikatan cinta halal. Mario yang menyebut dirinya daddy, sebutan itu selalu terngiang-ngiang di pikiran Anjani.


"Mas, boleh minta sesuatu, nggak?"


"Apa itu?" Mario mengubah posisi duduknya hingga menghadap persis ke Anjani.


"Aku minta kesetiaanmu. Jangan pernah menduakan cintaku, ya?"


Bukan tanpa sebab Anjani meminta kesetiaan. Meski barusan merasa begitu nyaman dengan keakraban, tapi Anjani masih menyimpan kekhawatiran akan wajah tampan dan status Mario yang mapan. Sangat rawan didekati wanita-wanita cantik dengan body yang menarik perhatian.


"Kemarilah!" Mario meminta Anjani mendekat, kemudian mendekap. "Sayang, aku mencintaimu. Cintaku hanya satu untukmu. Percayalah padaku."


"Insya Allah, aku percaya. Terima kasih, Mas."


Anjani membalas dekapan Mario lebih dalam lagi. Senyum indah semakin merekah lantaran jawaban sang suami.


"Aku mencintaimu. I love you, suamiku."


"Love you too, istri solihahku."


Saat ini, Mario-Anjani sedang romantis berdua. Saling mengungkap cinta demi mengeratkan ikatan mereka. Namun, jauh di sana, di kota tempat Ken sedang mengemban amanah pekerjaan, ada pula sesuatu yang mengkhawatirkan.


Saat menikmati santap siang sendirian, Ken didatangi seseorang yang menawarkan pertemanan. Ken yang merasa baru dan ingin menambah teman langsung mengiyakan. Ken sama sekali tidak tahu bahwa kenalan barunya ini adalah mantan relasi Mario dan Lovey.


"Kenalan dulu, dong."


"Oh, iya. Kenalkan, namaku Ken. Tadi siapa namamu?"


"Dewangga."


"Em, kepanjangan ah. Manggil Dewa aja boleh nggak?"


"Boleh, dong. Ohya, boleh gabung di sini. Aku traktir deh."


"Yahuuuu. Asik banget, nih. Dengan senang hati." Ken kegirangan begitu mendengar kata traktiran.


Dan .... begitulah awal mula Ken berteman dengan Dewangga, sosok relasi yang sebenarnya begitu dihindari Mario dan Lovey.


Bersambung ....


Jika suka dengan novel ini, LIKE-nya buat author jangan lupa ya 😁 Hayuuk, rekomendasikan juga novel ini ke teman, saudara, gebetan, atau yang lainnya agar author makin semangat untuk berkarya.


Terima kasih sudah mampir dan membaca.


Mampir juga ke novel pertama author yang berjudul Cinta Strata 1, ya. Kisah Mario-Anjani bermula dari sana. Hayuuk. Kenal juga novel-novel kece karya my best partner. Novel MENANTI MENTARI karya Cahyanti dan Novel Cinta yang Terpendam karya Dian Safitri. Dukung kami.


NB : Novel IKATAN CINTA ALENNA sudah END di episode 63. Silakan mampir bagi yang kepo sama kisah bar-bar adik bulenya Mario yang berjodoh dengan cowok super polos.

__ADS_1


***


__ADS_2