Takdirku Bersamamu

Takdirku Bersamamu
Episode 68 : Hati untuk Menetap


__ADS_3

Mendekati pukul sepuluh malam, Ma, Ken, Riko, dan Husen berniat menguping di balik pintu. Sebelum ini mereka sudah melakukan, tapi lekas kabur ke ruang tamu depan karena mendengar seruan dan tangisan Anjani. Setelahnya, begitu lama mereka menunggu hingga akhirnya jenuh.


"Tidak ada suara apa-apa." Riko di barisan terdepan memberi kode bisikan pada orang-orang yang baris di belakang.


"Balik aja!" perintah Ken dengan suara pelan.


"Cek sekali lagi. Tempelkan kuping kau!" Ma belum rela untuk pergi.


Kali ini Riko mencoba menguping sekali lagi, sesuai perintah Ma. Akan tetapi, tetap sama. Di dalam sana tidak terdengar suara apa-apa.


Sesaat kemudian, Riko menggeleng. Kode bagi yang lain untuk berhenti menguping.


"Ayo balik!" Husenlah yang kini berbisik, meminta balik.


Ma dengan setengah hati ikut-ikutan balik ke ruang tamu. Ken, Riko, dan Husen sudah duduk di kursi masing-masing. Begitu pula dengan Bastian yang sedari Mario datang minim pembicaraan. Bahkan saat yang lain menguping, Bastian memilih untuk tidak ikutan.


"Ma, kubuatin teh hangat, ya?" Riko perhatian karena melihat Ma begitu gelisah.


"Tak perlulah. Ma tak tenang nih rasanya." Ma mengambil kue pemberian Riko, lantas mencomotnya.


"Ini. Makan lagi yang banyak, Ma. Biar nggak gelisah." Riko menyodorkan kotak kue yang lainnya.


Ma tidak menanggapi, dia justru melihat ke arah Ken. Satu kode diberikan pada Ken agar dia mengajak ngobrol Bastian yang sejak tadi banyak diam.


Ken mengangguk. Dia mengerti apa yang Ma perintahkan padanya. Namun, yang Ken lakukan selanjutnya bukan memulai obrolan, melainkan menjejalkan sepotong donat ke mulut Bastian.


"Nih. Makanlah!"


Ken terus menjejalkan, hingga Bastian mau tak mau harus mengunyah donat yang sudah masuk mulut sebagian.


"Sepertinya Mario-Anjani sudah berbaikan." Itulah kalimat yang Bastian katakan usai menghabiskan setengah bagian donat kentang.


"Yaps! Aku sependapat denganmu, Bas. Mario pasti sudah bisa menggenggam lagi hati Anjani." Ken. dengan donat kentang di tangan ikut mengutarakan dugaan.


Ma tampak lega karena mendengar keyakinan dua orang di sana. Meski belum melihat sendiri, tapi Ma juga mulai yakin bahwa anak dan menantunya sudah berbaikan.


"Kak Bas kok murung gitu, sih? Kayak nggak rela aja mereka baikan!"


Deg!


Bastian langsung menoleh ke arah Riko dan memberikan tatapan tajam. Seketika itu Riko sadar atas apa yang dia ucapkan. Ya, tak seharusnya Riko berkata demikian. Jelas-jelas kata-katanya barusan menyinggung Bastian.


"Sorry, Kak. Nggak maksud ngomong gitu. Ehehe." Riko cengar-cengir.


Tak lagi menatap tajam, Bastian memilih mengalihkan pandang dan kembali larut dalam kunyahan donat kentang.


Terdiam. Itulah yang mereka lakukan di ruang tamu depan. Tak lagi memulai obrolan. Ada yang memang sudah mengantuk, lelah, dan tidak tahu harus mengobrol apa.


"Pak Ken, tolong ambilkan cangkir minumanku di sana dong!" Posisi Riko memang sedikit jauh dari cangkir minumnya.


"Sana, ambil sendiri!" Ken malas mengambilkan.


"Pak Ken galak amat, sih. Mentang-mentang karena saya nggak jujur tentang posisi Anjani, sikapnya jadi ketus gitu. Maapin ya, Pak." Riko masih sering bersikap sopan, meski Ken bukan lagi atasan magang.


"Terserah kau saja, deh. Yang penting sekarang Mario sudah ketemu Anjani." Ken malas berdebat.


Ya, sebelum ini terjadi perdebatan kecil di ruang tamu, tentang Ken yamg memburu penjelasan dari Riko karena ketidakjujurannya. Untung di sana ada Ma. Jadinya Riko bisa menjelaskannya dengan mudah dan sesekali dibela oleh Ma. Semua demi kenyamanan hati Anjani, itulah keterangan Riko sebagai alasannya.


Tak lama kemudian, usai donat kentang dalam genggaman habis dimakan, Bastian pamit hendak menuju kos-kosan. Ma menawari Bastian untuk menginap di kontrakan saja, tapi Bastian menolak dengan sopan. Tak lupa pula, Bastian mengajak Riko untuk ikut bersamanya.


Sekarang, tinggal Ken dan Husen di kontrakan. Ma yang sudah mengantuk izin masuk kamar, sedangkan Ken dan Husen dibiarkan menginap.


"Ma ambilkan tikar dulu, ya!"


"Nggak perlu, Ma. Tidur di sofa aja. Nyaman kok. Ma silakan istirahat saja." Ken mempersilakan Ma.


"Baiklah. Kalau mau bikin kopi, bikin aja sendiri. Jangan sungkan-sungkan, ya!"

__ADS_1


"Siaap, Ma."


Dan ... Ma pun menuju kamar. Tersisa Ken dan Husen di ruang tamu kontrakan. Ken hendak memulai obrolan, tapi saat menoleh didapatinya Husen sudah terbaring karena kantuk yang menyerang. Jadilah, tinggal Ken yang masih terjaga di sana.


Belum ingin tidur, Ken pun video call Lovey, untuk memberi kabar terkini tentang Mario-Anjani. Tentu, Lovey di sana sampai terharu mendengar cerita Ken tentang perjuangan Mario menemukan Anjani.


"Terus kapan balik ke Jakarta?" tanya Lovey via video call.


"Sepertinya baru besok. Tapi lihat situasi dulu, ya."


"Beb, kalau Anjani sudah balik ke Jakarta, temenin aku minta maaf, ya." Lovey minta ditemani Ken.


"Istri bar-barku ternyata manja juga, ya. Minta ditemani segala." Ken bercanda. Sudah jelas dia akan sukarela mengantar istrinya.


Tampak dilayar, Lovey cemberut sambil membuang pandang. Itu seringkali dilakukan setiap Ken memberi julukan istri bar-bar. Bukan tanpa sebab Ken memberi julukan demikian, selain ingin menggoda Lovey, sikap sang istri padanya memang begitu berani. Bukan berani dalam artian melawan suami, tapi lebih ke arah berani beraksi demi menyenangkan hati sang suami. Ya, begitulah Lovey saat bersama Ken.


"Udah ah, jangan cemberut gitu. Sana tidur!"


"Yaudah, deh. Kamu juga tidur, ya. Jangan begadang, ntar mata pandanya muncul." Lovey mengingatkan dengan menyunggingkan senyuman.


"Iya-iya. Sudah dulu, ya. Good night, Beb. Luv yu!"


"Luv yu too. Mumumu."


Begitu video call berakhir, Husen tertawa cekikikan. Rupanya sedari tadi dia mendengar obrolan. Langsung saja seketika itu bantal sofa mendarat menghentikan tawa si Husen.


"Siapa tuuuuh??!"


"Pilihan hati guelah! Istri tercinta!" Ken PeDe menjelaskan.


"Ecieeee!"


"Tidur-tidur! Sana tidur! Besok kau yang nyetir, ya!" seru Ken.


Husen hanya mengacungkan jempolnya kemudian kembali dalam posisi tidurnya. Tak lama kemudian, Ken ikutan berbaring di sofa guna mengistirahatkan tubuhnya yang lelah.


***


"Kak, ngobrol yuk!"


"Kau saja sana!" Bastian masih tetap dalam posisinya. Duduk di dekat jendela sembari melihat langit berbintang di atas sana.


Riko tidak memaksa membuat obrolan. Yang Riko lakukan adalah menunggu sebentar. Memberi kesempatan pada Bastian untuk lebih tenang.


"Kak, boleh aku ngomong sesuatu?" Riko memulai tanya usai melihat ada perubahan mimik wajah Bastian.


"Katakan saja, Rik."


"Tapi Kak Bas jangan tersinggung, ya? Janji?"


Bastian tidak langsung menjawab. Dia menoleh lebih dulu, memperhatikan Riko, kemudian mengiyakan permintaan.


"Katakan!" pinta Bastian.


"Kak, semakin kita dewasa, semakin kita butuh satu hati untuk menetap di sana."


"Maksudnya?" Bastian langsung menyahuti dengan tanya.


"Maksudku wanita. Kita laki-laki butuh hati seorang wanita. Yaaa, Kak Bas pasti taulah maksudku apa."


Riko tersenyum sekilas, sembari mengecek perubahan mimik wajah Bastian.


"Anjani, dia sudah menetapkan hatinya untuk Pak Mario. Seperti yang Kak Bas lihat. Sebesar apapun cobaan mereka, pada akhirnya mereka kembali bersama. Pak Ken dan Bu Lovey, mereka juga sudah menetapkan hati. Lalu aku ... dan Isabel." Riko tersenyum sebentar saat menyebut nama Isabel.


"Jadi saranku, Kak Bas harus segera memilih hati untuk menetap, dan itu bukan hati Anjani." Riko begitu bijak kali ini.


Bastian paham betul apa yang Riko katakan. Dirinya pun sudah sadar akan sebuah kesalahan. Mencintai istri orang, itu adalah sebuah kesalahan. Kini, saat hati sudah berniat untuk melupakan, Bastian justru kesulitan.

__ADS_1


"Kak Bas sudah bekerja, berpenghasilan. Modal materi sudah cukup untuk menjalin ikatan halal dengan seseorang."


Riko mengambil jeda lagi. Kali ini tak ada canda yang dia buat lagi. Riko serius memberi nasihat agar Bastian tidak terpuruk lagi.


"Kak," panggil Riko.


"Hm?" Bastian menoleh.


"Katakan sesuatu, dong Kak."


"Terima kasih atas nasihatmu, Rik."


Hanya itulah tanggapan Bastian atas semua kata-kata bijak yang Riko sampaikan. Ya, hanya itu.


Riko sendiri tidak mendesak agar Bastian memberi jawaban lebih. Sejauh ini Riko sudah mulai hafal karakter Bastian. Riko yakin sekali setelah pikiran Bastian tenang, setelahnya Bastian akan menanggapi dengan benar. Dan ... benar saja. Usai lima belas menit berlalu dengan keheningan, Bastian pun menanggapi dengan benar.


"Semoga Anjani berbahagia dengan Mario. Bersama buah hati mereka juga." Itulah yang Bastian katakan setelah beberapa menit terdiam.


"Jadi, Kak Bas sudah ikhlash sekarang?" Riko memancing dengan pertanyaan.


"Insyaa Allah, Rik."


"Alhamdulillaah. Terus, Kak Bas mau langsung nyari hati wanita buat diajak menetap bersama sampai tua?"


Bastian tertawa ringan. Gemas juga melihat Riko yang tampak antusias mempertanyakan.


"Aku mau merantau, Rik. Jika tinggal di Jakarta, pasti akan terus teringat dengan perasaan sebelumnya."


"Hah? Merantau kemana, Kak? Terus Kak Bas mau ninggalin kerjaan di sini?"


"Itu lebih baik, Rik. Untuk pekerjaan, bisa diusahakan. Aku akan merantau ke tempat sahabat baikku di Jogja."


"Jogja? Jauh banget, Kak. Nanti kalau Isabel kangen Kak Bas gimana?"


Bastian tertawa lebih renyah. Bahkan kali ini mimik wajahnya sudah tampak jauh lebih lega dari sebelumnya.


"Bukankah kau sudah menetapkan hatimu untuk adikku, Rik?"


Riko cengar-cengir kali ini. Tidak mengelak sama sekali.


"Segera halalkan, lalu bahagiakan!"


Pesan Bastian pada Riko disambut dengan kesungguhan. Sungguh, Riko berniat untuk menghalalkan, bukan mengajak Isabel berpacaran. Mendapat dukungan dari Bastian, tentu saja tidak akan Riko sia-siakan.


Dan ... malam pun semakin larut mengikis hati yang tadinya carut marut. Hati telah tertata ulang. Misi baru berniat diwujudkan. Hati untuk menetap, insyaAllah siap.


***


Anjani terjaga. Rasa syukur itu membuncah kala mendapati Mario ada di sampingnya. Dengkuran halus pun terdengar, membuat senyum Anjani spontan mengembang. Anjani tahu, raga Mario lelah. Anjani pun tahu, terselip rasa bahagia di hati suaminya.


Wajah Mario ditatap dari jarak dekat. Begitu lama Anjani memandang, hingga senyum itu pun terus mengembang. Wajah Mario benar-benar tampan.


"Tampan itu ujian. Begitu pula dengan cinta dan kesetiaan. Alhamdulillaah, aku dan kamu masih ditakdirkan dalam kebersamaan."


Batin Anjani menggema syukur. Sembari tersenyum, Anjani mengusap pelan pipi Mario. Memberinya kecupan pelan, mengusapnya lagi, kemudian kembali terlelap dengan perasaan penuh cinta kasih.


Teruntuk kalian yang sudah memiliki hati untuk menetap, bersyukurlah! 💙💙💙


Nantikan selalu lanjutan ceritanya! Em ... kira-kira baby-nya Mario-Anjani cowok apa cewek ya???? 😁


Bersambung ....


Terima kasih sudah mampir dan membaca. Merapat yuk ke Jogja. Ada sahabat baiknya Anjani di novel MENANTI MENTARI karya Cahyanti. Mohon dukungan untuk kami.


Salam Luv 💙


***

__ADS_1


__ADS_2