
Baru saja selesai merebus air, Anjani lanjut meracik gula beserta teh celupnya. Hawa di kontrakannya memang terasa lebih dingin dibanding hawa di rumah sebelumnya. Anjani menyeduh teh, dan tak lupa mengenakan jaket tebal demi mengatasi hawa dingin yang terasa di tubuhnya.
Selanjutnya, Anjani bingung. Mau menanak nasi, tapi nanggung. Sudah malam. Baru setengah jam lalu adzan isya' berkumandang. Namun, perut Anjani terasa lapar. Sedari kabur dari rumah, hanya roti yang sempat memenuhi energinya. Itupun Anjani makan usai mendapatkan kontrakan tadi siang.
Bungkusan mie instan di atas meja dapur menjadi perhatian. Seketika senyum Anjani pun mengembang saat melihatnya. Niat untuk merebus mie instan pun dikukuhkan. Memang, tidaklah seberapa untuk dirinya yang doyan makan. Akan tetapi, Anjani rasa itu sudah cukup untuk mengganjal perut agar tidak terasa terlalu lapar.
"Bu Harnum baik sekali sama bunda, Nak." Anjani mengusap-usap perutnya sambil mendekati meja makan, lantas duduk di kursi plastik yang hanya ada dua buah.
Yang dimaksud Anjani adalah ibu pemilik kontrakan. Tadi sore, Bu Harnum mengenalkan Anjani ke warga sekitar. Agar tidak dibilang macam-macam, Bu Harnum mengenalkan Anjani sebagai salah satu saudara jauh yang menempati kontrakan. Bu Harnum juga bilang, bahwa suami Anjani sedang tugas di luar kota.
Saat dikenalkan seperti itu, Anjani sama sekali tidak membantah. Saat kembali ke kontrakan, Anjani sempat mempertanyakan. Dan ... Anjani seketika tersentuh atas jawaban yang diberikan.
"Setiap orang punya ceritanya masing-masing. Simpan saja aibmu, Nak. Tidak perlu kau ceritakan padaku ataupun orang lain. Lagipula, ibu ini kan memang saudaramu. Kamu berhijab, ibu juga berhijab. Kita saudara sesama muslim. Ibu bukan orang lain. Jika perlu apa-apa, jangan sungkan bilang, ya!" Begitulah jawaban Bu Harnum atas pertanyaan Anjani.
Anjani tersenyum mengingat jawaban Bu Harnum.
"Hijab sungguh memuliakan," tutur lembut Anjani.
Tentang jawaban Bu Harnum, itu bukanlah dibuat-buat. Tidak ada yang menyuruhnya, dan tidak ada pula yang memaksanya melakukan itu semua. Bu Harnum bermain rasa. Feelingnya mengatakan bahwa Anjani butuh bantuan, dan seketika semua itu mengalir dengan keikhlasan. Ditambah lagi, Bu Harnum juga memiliki seorang anak perempuan yang sedang mengandung. Hanya saja, si anak perempuan itu tidak pernah pulang ke rumah sejak diboyong suaminya ke luar kota.
"Nak, temani bunda makan mie instan, ya." Wajah Anjani tampak girang, sembari tetap mengajak ngobrol buah hati dalam kandungan.
Sebenarnya Anjani jarang sekali mengonsumsi mie instan, apalagi sejak menjadi istri Mario. Nutrisi dan makanan bergizi untuk Anjani begitu diperhatikan oleh Mario. Namun, kali ini kondisinya berbeda. Anjani harus belajar menerima apa yang ada. Terlebih, usai keputusan kabur dari rumah.
Anjani bersiap merebus mie instan. Hingga kemudian, terdengar suara ketukan dari arah pintu depan.
Dok-dok-dok!
Terdengar ucapan salam pula dari seorang lelaki. Rasa-rasanya, Anjani mengenal suara itu.
"Suaranya terdengar tidak asing."
Anjani urung merebus mie. Kompor dimatikan, langkah pun diayunkan memuju pintu depan. Dan ... tampaklah sosok Bastian dengan senyumnya yang mengembang.
"Kak Bas?"
Kaget. Satu kata itulah yang menggambarkan ekspresi Anjani saat ini. Anjani mengira bahwa posisinya tidak akan diketahui. Ponsel dimatikan, bahkan sim card pun telah dibuang.
"Bolehkah aku masuk?"
Anjani tidak langsung menjawab, melainkan tengok kanan-kiri, memastikan tidak ada orang lain yang mengikuti khususnya sang suami.
"Aku sendirian dan tidak ada seorang pun yang tahu kamu di sini kecuali aku."
"Kenapa Kak Bas bisa tau aku di sini?"
"Maaf, aku tadi membuntutimu."
Deg!
Anjani terkejut lagi. Mimik wajah Anjani tampak nyata penuh kekhawatiran. Namun, Bastian yang peka langsung bisa mengondisikan.
"Hanya aku yang membuntutimu. Teman-temanmu tidak tau. Isabel, Riko, Marisa, apalagi suamimu. Mario tidak tau," terang Bastian.
Bastian menjelaskan dengan ekspresi meyakinkan. Perlahan, Anjani pun mulai tenang. Tidak lagi terkejut, dan kekhawatiran yang tampak di wajahnya mulai samar.
"Kenapa Kak Bas membuntutiku?" tanya Anjani, dan masih dalam posisi di ambang pintu.
Bastian tersenyum ramah. "Bisakah kita duduk lebih dulu? Ehem." Bastian berdehem. "Kakiku mengeluh karena berdiri di depan pintu," imbuh Bastian.
Anjani tersenyum atas alasan yang dibuat Bastian.
"Duduk di teras aja, ya Kak. Aku nggak enak sama tetangga kalau masukin laki-laki ke dalam rumah."
"Tapi aku barusan papasan sama pemilik kontrakan. Kubilang aja aku saudaramu."
"Kak Bas ketemu sama Bu Harnum?" Anjani tidak menyangkanya.
"Oh, jadi namanya Bu Harnum. Kelihatan baik sih orangnya. Jadi, boleh masuk nggak nih?"
Anjani menggeleng. "Tetep nggak boleh meskipun Kak Bas ngaku sebagai saudaraku. Duduk teras sini aja, ya."
__ADS_1
"Baiklah. Tidak masalah."
Duduklah Anjani dan Bastian di teras depan kontrakan. Tak langsung memulai obrolan, yang Bastian lakukan justru menyodorkan bungkusan makanan.
"Buat kamu. Makanlah." Bastian memberikan sebungkus lalapan ayam dan sebungkus nasi goreng untuk Anjani. "Sengaja aku bawakan dua, karena aku tau kamu doyan makan."
Anjani tertawa pelan. Ada rasa senang karena malam ini Anjani tidak jadi merebus mie instan. Terlebih dengan alasan yang diberikan Bastian, Anjani auto mengakui bahwa dirinya memang doyan makan.
"Terima kasih, Kak. Setelah ini akan kumakan."
"Bagus. Harus kamu makan, biar baby dalam kandunganmu tidak kepikiran sama bundanya," ujar Bastian dengan sebenarnya.
Anggukan kecil tercipta disertai senyum yang merekah. Sebisa mungkin Anjani tidak menampakkan wajah sedihnya di hadapan Bastian. Akan tetapi, usahanya gagal dilakukan saat Bastian mempertanyakan alasan Anjani kabur dan memutus kontak agar tidak ditemukan.
"Apakah karena video itu?" tanya Bastian setelah beberapa detik tidak ada jawaban. Bastian sempat tau berita tentang video skandal Mario dan seorang wanita. Meski saat ini link video itu sudah tidak dapat diakses lagi link-nya.
Anjani bingung mau mengiyakan atau tidak. Jika dia mengiyakan, sudah dapat dipastikan ceritanya akan mengalir deras kemudian. Bulir bening yang berulang kali jatuh, pasti akan kembali hadir mengiringi cerita yang diulang. Anjani tidak mau menangis di depan Bastian.
"Jangan dipaksakan jika kamu tidak mau bercerita. Untuk saat ini, tenangkan dirimu." Bastian mencoba memahami Anjani.
Anjani mengangguk. "Kak, tolong jangan bahas lagi tentang video itu, ya. Dan ... kumohon jangan bilang siapapun kalau aku ada di sini."
Bastian tidak mengiyakan, tidak pula berkata tidak. Darinya, hanya tersuguh anggukan ringan.
"Bolehkah kutemani kamu makan?" Bastian mengalihkan pembicaraan.
"Nggak mau. Aku makannya belepotan, Kak."
"Kan aku sudah tau. Saat di kantor aku pernah makan di mejamu. Lupa ya?"
"Oh iya. Hehe. Tapi ntar aja aku makannya."
"Yaudah. Kalau begitu aku pulang saja biar kamu cepat makan makannya."
Anjani tertawa ringan karena melihat ekspresi Bastian yang setengah cemberut.
"Aku nggak ngusir, loh. Tapi, Kak Bas mau balik ke Jakarta malam-malam begini?"
Setelah berkata demikian, Bastian berdiri. Melangkah mendekat ke kursi Anjani, lantas sedikit mencondongkan badan ke arah perut Anjani yang besar. Anjani yang tidak menduga dengan sikap Bastian pun sedikit deg-degan.
"Om Bas pulang dulu, ya. Baik-baik di sini sama bundamu." Bastian ganti melihat ke arah Anjani. "Aku pulang dulu. Jaga dirimu baik-baik. Ini, ponsel untukmu. Gunakan untuk menghubungiku, Bu Harnum, atau mungkin ... keluargamu."
Bastian mengeluarkan smartphone baru. Bukan smartphone mahal, tapi sangat bisa jika hanya digunakan untuk membuat panggilan ataupun berkirim pesan. Smartphone itu bahkan sudah diisi sim card. Tentang nomornya, hanya Bastian saja yang mengetahuinya.
"Kak Bas terlalu jauh membantuku," ungkap Anjani.
"Aku tidak keberatan melakukannya. Anjani, aku bukan orang lain. Aku mengenalmu, dan kamu mengenalku. Sudah semestinya aku membantu." Terdiam sebentar, sorot mata Bastian tengah meyakinkan. "Aku letakkan smartphonenya di sini."
Bastian berdiri tegak lagi. Senyumnya mengembang. Setiap gurat yang ditunjukkan menyimpan ketulusan.
"Terima kasih, Kak." Anjani akhirnya memilih untuk menerima kebaikan Bastian.
"Sama-sama. Oya, di seberang jalan sana ada klinik bersalin. Kamu bisa datang ke sana sewaktu-waktu. Terus, di ujung gang ada penjual lalapan. Ada juga penjual nasi goreng dan beberapa minuman. Jika kamu lapar dan sedang tidak ingin memasak, kamu bisa datang ke sana. Satu lagi, di dalam smartphone itu sudah ada nomorku dan nomor Isabel. Buat jaga-jaga jika kamu rindu salah satunya." Di akhir kalimatnya, Bastian justru membuat canda.
"Hehe. Kak Bas bisa saja." Anjani ikutan berdiri.
"Pelan-pelan dong berdirinya." Bastian hampir saja memegangi lengan Anjani.
Setelahnya, Bastian pamit. Sengaja Bastian tidak mengatakan pada Anjani kalau dirinya akan sering-sering datang untuk menengok kondisi Anjani. Pastilah Anjani akan keberatan jika Bastian memberi tahu. Seperti sebelumnya, Bastian menggunakan mobil yang telah dibooking. Bersama Husen, Bastian pun kembali menuju Jakarta, meninggalkan Anjani yang telah tertoreh senyum di wajahnya.
Begitu Bastian pulang, bulir bening Anjani tumpah. Diusap perlahan, tapi kembali jatuh hingga membuat jejak tangisan. Perlakuan Bastian dirasa Anjani sungguh manis. Sayangnya, Bastian hanyalah orang lain dalam kehidupan Anjani. Bukanlah sahabat istimewa, apalagi suami.
"Nak, kita makan nasi gorengnya yuk!" Anjani menghibur dirinya dengan mengajak ngobrol buah hati dalam kandungannya.
Satu suap, dua suap, tiga hingga beberapa suap yang terasa nikmat, tapi juga sesak. Semua kejadian yang membuatnya sakit hati belum ada sehari. Wajar bila Anjani masih sering teringat, apalagi adegan dalam video yang menampilkan Mario dan Lovey.
"Astaghfirullaah. Andai semua ini tidak pernah terjadi, maka rumah tanggaku akan baik-baik saja. Tapi ... Ma pernah bilang, yang namanya ujian rumah tangga itu pasti ada. Meskipun Ma waktu itu menyuruhku untuk tabah, tapi kelakuan suamiku dan Lovey sulit aku terima." Anjani menarik nafas dalam, lantas dihembuskan perlahan.
"Ma, aku rindu. Ingin memelukmu. Tapi untuk sementara ini aku tidak mau siapa pun mengetahui keberadaanku." Anjani teringat ibunya.
Suasana lekas berubah saat Anjani merasakan gerakan bayi dalam kandungannya. Cepat-cepat Anjani mengusap air matanya, lantas tersenyum dan mengusap perut besarnya.
__ADS_1
"Maaf, ya Nak. Bunda barusan agak baper. Ayo kita makan lagi. Bunda akan coba untuk lebih sering tersenyum demi kamu."
Setelahnya, tak ada lagi air mata meski rasa kecewa dan sakit hati masih meraja. Anjani berniat tabah, meskipun terasa susah.
***
Malam hari, di waktu yang sama, di tempat yang berbeda.
Mario duduk di balik meja kerja. Bukan di rumah, melainkan di kantornya. Layar komputer dan smartphone sengaja tetap dibuat on. Barangkali ada yang menghubunginya dan memberitahukan keberadaan istrinya.
Tiga orang suruhan diminta mencari, tapi sampai saat ini belum ada kabar tentang Anjani. Tak ada jejak. Ponsel dan sim card Anjani pun tidak terlacak.
Mario hanya berpesan pada tiga sahabat baik Anjani, yakni Isabel, Riko, dan Bastian. Selain itu, Mario menyimpan kabar. Di satu sisi Mario tidak ingin banyak orang yang tahu, apalagi usai video skandalnya menyebar. Namun, di sisi lainnya Mario berharap Anjani akan segera ditemukan.
"Bagaimana?" tanya John, sang ayah, yang baru saja masuk ke ruang kerja Mario.
"Belum ada perkembangan." Mario menjawabnya dengan lirih. Perasaan bersalah jelas masih menggelayuti.
John berjalan mendekati sang putra. Sekotak makanan lengkap dengan minumannya lekas diletakkan di atas meja.
"Makanlah!" perintah John.
"Aku tidak selera makan, ayah."
"Makan saja mekipun tidak selera. Kau butuh tenaga untuk mencari istrimu. Makanlah!" John tegas memerintah.
Mario kalah. Sekotak makanan lekas ditandaskan isinya. Ayahnya benar, Mario butuh makan, butuh tenaga besar agar bisa lebih gencar mencari Anjani.
"Sudah?" tanya John usai melihat Mario menghabiskan isi makanannya. Sedari Mario makan, John memang sengaja tidak membuat obrolan.
Mario mengangguk. "Terima kasih, ayah."
"Kalau begitu sekarang cepat hubungi mertuamu!"
Deg!
Mario refleks menoleh ke arah John. Perintah sang ayah sangat tidak mungkin untuk dilakukan olehnya.
"Tidak, ayah. Orangtua Anjani pasti akan sangat kecewa jika tau Anjani kabur dari rumah."
"Lalu, kau mau merahasiakannya? Sampai kapan, Mario?"
Nada tegas sang ayah membuat Mario bungkam. Posisinya yang salah memang membuatnya serba salah, karena Mario memang bersalah, meski ada bagian yang membuatnya tidak patut disalahkan sepenuhnya.
"Mario, mertuamu itu bukan orang lain. Dia adalah orangtua Anjani. Kalian berdua memang pemeran utama dalam rumah tangga yang kalian jalani, tapi jangan lupa .... Pernikahan itu juga tentangmenyatukan dua keluarga. Ingat itu baik-baik!"
Mario sama sekali tidak bisa membantah. Yang dikatakan sang ayah benar adanya.
"Baiklah. Akan kuhubungi Ma. Tapi tidak sekarang. Akan kumaksimalkan dulu usahaku untuk mencari istriku," ungkap Mario pada akhirnya.
"Bagus. Tapi sebaiknya jangan lama-lama. Siapa tahu Anjani memilih pulang ke rumah orangtuanya. Posisimu akan jauh lebih tidak termaafkan andai semua terlambat untuk dijelaskan."
Deg!
Bola mata Mario membulat usai mendengar nasihat sang ayah. Pikirannya tidak sampai ke arah sana.
"Jernihkan pikiranmu agar bisa lebih fokus mencari istrimu." John menepuk pundak Mario. "Tentang video skandal itu, orang suruhan ayah sudah mulai bisa menelusuri jejaknya."
"Siapa dalangnya, ayah!" Nada Mario terdengar geram usai John mengatakan.
"Masih dalam penelusuran, tapi sudah ada titik terang. Kau fokus saja pada istrimu. Biar ayah bantu mengurus dalang penyebaran videomu."
Ada rasa baru dalam hati Mario. Rasa geram, dan tak sabar mengetahui sosok si dalang. Jelas, Mario akan membuat perhitungan.
"Anjani Sayang. Maafkan aku. Aku berjanji akan menemukanmu." Batin Mario, bersungguh-sungguh.
Bersambung ....
This is story of Mario-Anjani. LIKE-nya dong buat author dan novel ini 😊 Enjoy reading kakak-kakak pembaca. Sahabat baik Anjani, Meli di Jogja sudah mulai magang juga, lho. Kepoin yuk di novel MENANTI MENTARI karya Cahyanti. Sudah up hari ini. Mohon dukungannya untuk kami.
Salam Luv 💙
__ADS_1
***