
Hayyooo ... siapa kemarin yang sudah menebak-nebak?? Meli? Alenna? atau ... hehe. Enjoy reading 😊
💙
Anjani kaget karena Lovey tiba-tiba memberi pelukan. Satu pelukan yang erat. Anjani menduga bahwa Lovey tengah mencoba untuk akrab. Tak ingin ada kecanggungan, Anjani pun membalas pelukan.
"Aku senang bisa bertemu denganmu," ungkap Lovey.
"Aku juga. Apa kabar, Vey?"
"Aku baik. Kamu sendiri? Em ... perutmu sudah tambah besar, ya." Lovey mencondongkan tubuhnya, lantas mendekatkan wajah ke perut Anjani. "Halo baby. Tante Lovey datang, nih. Salam kenal, ya."
Anjani kikuk mendapati Lovey berbicara dengan calon buah hati dalam kandungannya. Biasanya yang mengobrol seperti itu hanya suaminya, tapi kali ini Lovey pun melakukannya.
"Iya, Tante Vey. Salam kenal, juga. Doakan aku sama bunda sehat selalu, ya." Anjani menanggapi demi memecah kekikukan yang sempat terjadi.
"Iya. Tante Lovey akan doain kamu. Tante ajak ngobrol bunda dulu, ya."
Tepat setelah kalimat Lovey berakhir, Anjani dan Lovey kompak tertawa. Tidak ada lagi rasa canggung di antara mereka. Anjani dan Lovey tampak lebih akrab usai obrolan kepada anak kecil yang seolah telah lahir ke dunia.
"Kita pesan dulu, yuk. Aku mau jus alpukat saja. Kamu mau pesan apa, Vey?"
"Sama. Jus alpukat juga, tapi dua gelas." Lovey antusias.
"Hm? Kamu lapar? Atau sekalian pesan makanan?"
"Nggak. Itu aja. Jus alpukat dua gelas."
Lovey menyebutkan pesanannya dengan bangga. Itu adalah pesanan dari hati, yang mengisyaratkan kekaguman pada si pengusik hati.
"Yaudah. Oke."
Sementara Anjani menyebutkan pesanannya pada pelayan, Lovey terus-terusan memperhatikan Anjani. Gestur tubuh, mimik wajah, hingga sikap Anjani yang rendah hati menjadi perhatian Lovey.
Ada perasaan ingin jadi seperti Anjani, itulah yang Lovey rasa. Dalam dada rasanya ada sesuatu yang menyejukkan kala hijab yang dipakai Anjani dipandang. Tanpa sadar, senyum Lovey pun mengembang.
Pantas saja Mario begitu mencintai Anjani. Dia cantik luar dalam. Lovey membatin.
Anjani memergoki Lovey yang tengah memperhatikan dirinya.
"Vey, kenapa lihatin aku kayak gitu?"
Lovey menggeleng tegas berulang. Tak lupa, senyumnya tetap mengembang sebagai wujud keramahan. Ya, maksud Lovey menemui Anjani adalah karena ingin berteman. Lebih tepatnya lagi, Lovey ingin lebih dekat dengan Anjani agar bisa leluasa bertanya tentang sosok yang dikaguminya saat ini, yakni Ken.
Kira-kira, apakah Anjani akan menertawakanku kalau aku curhat sesuatu? Batin Lovey menimbang.
"Hei, Vey! Ada apa, sih? Sekarang malah bengong." Anjani tersenyum sembari mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah Lovey.
"Em ... nggak kenapa-napa, kok. Oya, Mario gimana kabarnya?" tanya Lovey, dan seketika menyesal telah bertanya demikian. Duh, kenapa tanya Mario, sih. Harusnya kan aku mulai tanya-tanya Ken.
"Suamiku baik, tapi ya gitu. Sibuk." Anjani tersenyum ramah.
Lovey manggut-manggut. Hati dan pikirannya terarah dan sedang merancang rencana agar bisa segera tanya-tanya lebih banyak tentang Ken.
"Oya, tadi katanya mau ada perlu sama aku. Ada perlu apa?" Anjani membenahi posisi duduk agar lebih leluasa mendengarkan Lovey.
"Cuma perlu buat ketemu aja, sih. Habisnya Mario terus jaga jarak sama aku. Yaudah, aku temenan sama kamu aja. Boleh kan?" Lovey auto nyengir kuda. Lagi-lagi Mario jadi alasannya, padahal dalam hatinya nama Ken adalah target utamannya.
Anjani mendengar dengan jelas apa yang Lovey katakan, tapi rasa-rasanya agak sulit untuk dipahamkan. Soal Mario yang menjaga jarak dengan Lovey, Anjani memang sudah tahu. Mario sendiri yang mengatakan usai kesalahpahaman kata olahraga waktu itu, saat Mario di luar kota. Namun, Anjani sama sekali tidak menyangka sikap Lovey sampai demikian adanya. Kini, saat ditawari sebuah pertemanan, akan sangat tidak sopan bila Anjani menolak dengan alasan mencegah kecemburuan. Alhasil, Anjani pun mengiyakan.
"Iya, boleh. Mari kita berteman. Em, perlu jabat tangan lagi apa nggak? Biar resmi. Hehe." Anjani mengulurkan tangannya.
Mata Lovey berbinar cerah. Uluran tangan Anjani lekas disambutnya. Meski tak bisa mengutarakan niat utama, Lovey tetap lega karena bisa berteman dengan Anjani mulai hari ini.
"Bolehkah aku kapan-kapan main ke rumahmu?" tanya Lovey lagi.
"Boleh. Silakan saja, Vey."
"Apakah biasanya Ken juga main ke sana?" Akhirnya Lovey bisa menyebut nama Ken juga.
__ADS_1
"Sering banget. Kontrakan Kak Ken nggak jauh dari rumahku, kok. Kadang sarapan juga di rumah."
Kebiasaan Ken yang suka asal muncul waktu sarapan pun tak luput dari penceritaan. Lantaran melihat ekspresi Lovey yang antusias mendengarkan, Anjani justru makin melebih-lebihkan. Makanan kesukaan Ken dan cemilan yang biasa dicomot asal di kulkas pun disebutkan.
"Ken suka main nyelonong obrak-abrik isi kulkasmu?" Lovey mengulang, mencari penegasan.
Anjani mengangguk. "Iya. Suka banget nyomot apel merah. Langsung ambil pisau, terus dikupas-kupas sendiri," imbuhnya.
"Ngupas sendiri?"
"Iya, ngupas sendiri."
"Trus dimakan sendiri?" tanya Lovey dengan mimik wajah yang semakin menyiratkan ketertarikan pada cerita tentang Ken.
"Ya iya dimakan sendiri, Vey. Kalau Kak Ken udah menikah, ya pastinya ntar makannya nggak sendiri lagi, tapi sama istrinya."
"Memangnya Ken mau menikah? Kapan? Siapa calonnya? Aku kenal nggak?" tanya Lovey bertubi.
Anjani yang peka, seketika langsung melebarkan senyumnya.
"Masih baru berniat. Untuk calonnya, Kak Ken masih lihat-lihat. Em ... apa kamu tertarik sama Kak Ken, Vey?" bidik Anjani.
"Oh enggaaaaak. Siapa juga yang tertarik sama dia. Suka asal bicara, ngeselin, suka bikin aku marah, dan lagi, minumnya dua gelas jus aplukat disendiriin pula. Huh. Nggak kira-kira."
Fokus Anjani langsung diarahkan ke arah dua gelas jus alpukat yang ada di depan Lovey.
"Lah? Itu kamu juga pesan dua gelas jus alpukat," ucap Anjani.
Lovey salah ucap. Dirinya pun langsung bingung bagaimana harus menjawab.
"Cuma kebetulan aja aku lagi kehausan." Lovey cuek saja menjawab demikian.
Meski tak ada pengakuan dari Lovey, Anjani tetap yakin bahwa Ken telah mengisi hati Lovey. Namun, Anjani tidak mendesak Lovey agar mengakui. Anjani ingin pelan-pelan, mengingat dirinya dan Lovey baru saja mendeklarasikan pertemanan.
"Yaudah. Yuk diminum dulu jusnya." Anjani mempersilakan.
Awalnya Lovey malu-malu hendak meminum dua gelas jus pesanannya, tapi lama-lama wajah Lovey girang juga karena bisa mengikuti kebiasaan Ken, sang pujaan hatinya.
Beginilah ekspresi wanita yang sedang jatuh cinta. Ekspresi yang tampak adalah dari hati, meski lisan tidak mengakui. Aku bisa merasakannya, karena dulu pun aku pernah menampilkan ekspresi yang sama pada Mario. Lovey menyukai Kak Ken. Ya, aku yakin sekali. Anjani membatin. Begitu yakin.
"Vey, maaf. Sudah mau maghrib. Kalau tidak ada apa-apa lagi aku pamit, ya." Anjani sedikit khawatir karena belum izin pada Mario.
"Iya. Setelah ini aku juga ada pertemuan dengan relasi. Sekretarisku pasti sudah mencariku dari tadi."
Lovey tersenyum. Hatinya sedikit lega, meski pada akhirnya tidak dapat curhat tentang perasaan yang sebenarnya. Bagi Lovey, untuk saat ini yang terpenting adalah bisa berteman dengan Anjani.
Anjani dan Lovey berpisah di parkiran. Mereka tidak melajukan mobil berbarengan. Mobil Anjani duluan. Saat itulah Lovey melihat ada yang tidak beres dari laki-laki bertopi yang terus memandang ke arah mobil Anjani.
"Apakah itu Dewangga? Masa iya, sih? Untuk apa dia di kota ini?" Lovey menajamkan pandangan dari dalam mobilnya.
Drrt drrt ... Smartphone Lovey bergetar, membuatnya harus mengalihkan pandang. Sekretaris Loveylah yang membuat panggilan. Begitu berakhir, Lovey tidak menemukan sosok lelaki yang tadi diyakininya sebagai Dewangga, mantan relasi yang dulunya menghalalkan sistim curang demi meraup keuntungan.
"Mungkin hanya mirip. Lagipula kalau benar itu Dewangga, ngapain juga dia berpakaian super biasa seperti itu. Dahlah, bodoh amat. Yang penting aku punya informasi baru. Ken belum memiliki kekasih. Jadi, ini kesempatan bagiku untuk menunjukkan pesona diri." Lovey senyum-senyum sendiri.
***
Mobil yang dikemudikan Pak Gun sampai juga di rumah. Anjani seketika mengucap hamdalah. Pasalnya, tadi itu mobil Anjani sempat dibuntuti mobil lain.
"Yang tenang, Non. Sudah aman." Pak Gun menenangkan.
"Iya, Pak. Sepertinya saya saja yang pikirannya berlebihan, Pak. Mungkin saja mobil yang tadi memang searah dengan mobil kita, ya Pak. Astaghfirullah, kebanyakan nonton drama ini." Anjani beristighfar.
"Bisa jadi, Non. Sudah, jangan terlalu dipikirkan lagi, Non. Kalau ada yang mau jahat, Pak Gun siap melindungi pakai jurus sentilan buaya. Hap! Hap!"
"Hehe. Pak Gun bisa aja. Yasudah, Pak. Terima kasih banyak sudah ngantar saya keliling hari ini."
"Sama-sama, Non."
Anjani berjalan perlahan menuju kamar. Setiap anak tangga dinaiki dengan penuh kehati-hatian. Wajah Anjani memang tampak lelah, tapi hatinya senang. Sejak di mall bersama Isabel, traktiran atas kesuksesan Bastian, hingga disusul pertemanannya dengan Lovey. Semua itu membuat Anjani senang.
__ADS_1
Ceklek! Anjani membuka pintu kamar.
"Mas," panggil Anjani karena tidak mendapati Mario di dalam kamar.
"Mungkin masih mandi." Anjani yakin, karena sebelum ini Mario mengirim pesan bahwa tidak jadi lemburan.
Ceklek!
Dugaan Anjani benar. Mario baru saja keluar dengan hanya mengenakan handuk sepinggang. Tampak segar dengan aroma sabun yang menguar.
"Sayang, kamu dari mana saja?" Mario langsung menyuguhi tanya.
Anjani salim dulu, kemudian menjelaskan rentetan kegiatan yang dilalui seharian.
"Bastian traktiran?"
"Iya, Mas. Tadi sama Isabel juga, kok."
"Oh. Yasudah. Tidak apa-apa kalau ada Isabel juga di sana."
"Em, barusan aku juga habis ketemuan sama Lovey di restoran."
"Hm?"
Kali ini Mario tidak dapat menutupi keterkejutannya. Wanita yang selama ini dihindarinya, justru mulai berteman dekat dengan istrinya.
"Ngapain Lovey ketemu kamu? Apakah dia cerita yang aneh-aneh?" Mario khawatir Lovey menceritakan dosa dan kekhilafan di sore itu, yang telah sepakat untuk dirahasiakan.
Anjani menggeleng. "Kalau menurutku sih nggak ada yang aneh dari obrolan tadi. Eh, tapi. Aku yakin sekali kalau Lovey naksir Kak Ken." Anjani senyum-senyum.
"Benarkah? Dari mana kamu bisa seyakin itu?" Mario kepo. Dirinya juga lega karena Lovey tidak bercerita tentang dosa mereka.
"Em ... feeling. Hehe. Gini deh. Weekend minggu depan kita undang mereka main ke sini. Boleh?" Binar mata Anjani penuh pengharapan, membuat Mario tak kuasa memberi penolakan.
"Tentu saja boleh, Sayang." Mario menarik pelan tubuh Anjani hingga mendekat ke arahnya.
"Aw. Mau ngapain, Mas?" tanya Anjani, lirih.
"Mau dengar ceritamu dari jarak dekat, dong. Suami istri itu nggak boleh jauh-jauhan." Mario semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Anjani. "Ayo cerita lagi, Sayang!" pinta Mario dengan tutur lembutnya.
"Em ... cerita apa, ya?" Anjani tampak berpikir. Sempat terpikir untuk cerita mobil yang sempat membuntutinya, tapi urung karena tidak ingin membebani pikiran suaminya. "Udah, ah. Nggak mau cerita apa-apa lagi." Anjani mencubit pelan hidung Mario agar tidak terlalu dekat-dekat lagi.
"Au. Sayang, kenapa malah dicubit?" Mario protes dengan menampilkan senyuman.
"Terus maunya diapain?" tanya Anjani, berlagak tidak mengerti keinginan sang suami.
"Maunya dimanjain." Mario memeluk Anjani dengan mesranya. Sesekali tangannya mengusap-usap perut Anjani yang terlihat semakin membesar saja.
"Sini aku manja." Anjani mendekatkan wajahnya. Kecupan demi kecupan terarah ke pipi kiri, kanan, dan dahi suaminya.
"Sudah? Hanya tiga itu saja?" Mario menunggu, dan berharap lebih dari itu.
Anjani senyum-senyum. Malu-malu tapi sudah terbiasa seperti itu. Dilihatnya Mario sudah bersiap, dan Anjani pun mulai mendekat. Ketika sudah benar-benar saling menghadap dengan jarak super dekat, tiba-tiba ....
Dok-dok-dok!
"Marioooo! Numpang mandi di sini, dong! Air di kontrakan nggak ngalir!" seru Ken sambil menggedor pintu kamar Mario.
Mata Mario terpejam sebentar demi meredam rasa geram. Sementara Anjani, dia sudah cekikikan. Perlakuan yang diharapkan Mario dari Anjani pun gagal.
"Keeeeen!"
Bersambung ....
Ada yang sempat senyum-senyum? Atau geram? Atau justru penasaran? Hehe 😁
Mohon maaf kemarin author nggak bisa up, dan hari ini pun up telat. Kebetulan agenda lagi padat merayap. Btw, terima kasih yang sudah ngasih VOTE dan hadiah poin untuk novel ini. Thank you very muuuach buat kak Rita Deliyanti, kak Yanti Urip, kak Arthi Aurora, kak cia._chifa, kak raka^, kak BooCiL, kak RosAbi, juga kakak-kakak reader lainnya yang sudah like dan mendukung novel ini. Terkhusus buat kak besan, kak cahya, salam luv dariku 💙
Terima kasih sudah mampir dan membaca. Sahabat baik Anjani di Jogja kepoin juga, ya. Ada Meli dan Azka di sana. Merapat ke novel my best partner, Kak Cahyanti dengan novel kecenya yang berjudul Menanti Mentari. Ada juga novel the best lainnya, nih. Karya author kece Dian Safitri dengan novelnya yang berjudul Cinta yang Terpendam. Terima kasih atas dukungannya, ya.
__ADS_1
NB : Novel IKATAN CINTA ALENNA sudah END di episode 63. Silakan mampir bagi yang kepo sama kisah bar-bar adik bulenya Mario yang berjodoh dengan cowok super polos. Ups, apa jadinya, tuh!
***