Tap Your Heart

Tap Your Heart
Bagian 10


__ADS_3

Mobil Karel berhenti tepat di sebuah gudang bekas ruko yang sudah tidak terpakai lagi. Ketika ia turun dari mobil, beberapa pria bertubuh kekar datang untuk menyambutnya.


"Dimana Alden?" Tanya Karel tanpa menolehkan wajahnya.


"Dia sudah menunggu di dalam!" Ujar Jeff, Bodyguard dengan kepala plontos itu. Karel mengangguk dan semakin cepat melangkahkan kakinya.


Karel masuk ke dalam gudang itu. Beberapa orang yang berada disana hanya bisa menundukkan wajah mereka.


Brakkk


Semua orang terkesiap kaget saat Karel menggebrak meja yang berada di depannya. Tatapan pria itu tajam pada satu persatu orang yang berada disana. Karel menghampiri pria berambut cokelat yang tak berani melihat wajahnya. Tangan Karel terangkat untuk mencengkram pundak pria itu.


"Kenapa semuanya bisa gagal?! Sudah melewati jalur laut, sudah disembunyikan dengan rapi, Kenapa masih gagal, hah?! kamu tau berapa kerugian yang saya terima saat semua obat-obatan itu berhasil disita? Milyaran bro milyaran!!!" Ujar Karel menaikkan sedikit nada bicaranya.


Karel mendorong pundak pria itu sampai pria itu kehilangan keseimbangannya. Ia mengusap wajahnya kasar.


"BODOH! KALIAN MEMANG BODOH! saya tidak tau lagi apa yang akan terjadi setelahnya! Audrey di tangkap, dia akan buka mulut. Dan lambat laun sindikat narkoba kita akan diketahui oleh polisi dan media!" Jelas Karel tak habis pikir.


"Saya mengakui kalau kami tidak berhati-hati. Maka dari itu saya meminta maaf atas apa yang terjadi."


Karel tersenyum miring dengan melihat langit-langit gudang itu.


"Kau pikir dengan minta maaf uang saya akan kembali? Saya tidak menerima permintaan maaf dari bibir kamu, Alden! Saya tidak mau tau. Bebaskan Audrey, jangan biarkan dia buka mulut terhadap polisi! Lakukan apapun! Maka kamu akan tetap aman dan saya akan tetap mempertahankan kamu!" Tegas Karel.


"Jika saya bisa membebaskan Audrey, saya ingin bukan hanya saya saja yang dipertahankan tapi juga mereka!" Ucap Alden melihat kawan-kawannya yang masih menundukkan wajah mereka.


Karel mengangkat bahunya.


"Saya tidak berjanji, tapi kita lihat saja nanti!" Jawab Karel enggan.


"Beri saya bukti bahwa kamu bisa membebaskan pria itu dan pastikan kalau dia tidak membuka mulutnya!" Lanjut Karel.


Karel tidak membuang waktunya untuk berlama-lama disana. Ia memilih pergi diikuti dua bodyguard dibelakangnya.


"Kekayaan membutakan rasa kemanusiaan seorang manusia!" Gumam Alden.


Alden melihat pada beberapa pria yang menatap sedih padanya. Di balik tatapan itu mereka berharap besar pada Alden, mereka memikul harapan besar anak istri di rumah. Jika mereka tidak lagi bekerja di tangan Karel, mau makan apa keluarganya dirumah. Alden menghampiri mereka.


"Tidak perlu khawatir, saya akan membebaskan Audrey. Dengan begitu kalian akan tetap dipertahankan untuk bekerja disini." Ucap Alden.


Mereka semua hanya mengangguk lemah. Alden pun memilih pergi dan memikirkan apa rencana selanjutnya.


Karel memasuki mobilnya. Ia menoleh ketika mendengar suara ketukan kaca mobil.


"Masuk!" Perintah Karel.


Pria itu mengangguk. Ia membuka pintu mobil dan duduk di samping kursi kemudi.


"Saya sudah mencari tau mengenai wanita yang bernama Clein Andrea Klarisa!" Ucap pria itu. Pria yang bernama Frey Yudistira. Dia adalah bawahan Karel yang ditugaskan untuk menjadi mata-mata. Biasanya Frey bertugas memata-matai polisi atau rival Karel yang sangat mengganggu usahanya. Hari ini ia beralih profesi untuk mencari tahu soal gadis itu. Entah apa hubungan Karel dengannya.


"Sebaiknya kita bicarakan hal itu di mansion saya saja!"


"Sesuai keinginan anda tuan."

__ADS_1


Karel mengangguk. Frey memasang sabuk pengaman, setelahnya Karel melajukan mobilnya.


******


Suara deru motor terdengar nyaring. Clein dan anggota komunitas Black Tyrannical yang tengah berkumpul seketika merasa terganggu dengan suara bising itu.


"Siapa yang datang?" Tanya Shane.


"Bentar, gue liat dulu." Ujar Deva.


Deva melangkahkan kakinya untuk mengintip siapa yang datang dari celah pintu. Ia membulatkan matanya, Deva bergegas untuk bergabung bersama yang lainnya.


"Gawat Clein!" Suara Deva terdengar panik membuat semua orang langsung berdiri.


"Ada apa, Va?" Tanya Kenzo.


"Di depan ada James sama anggota geng Hitler! Mereka datang rame-rame Clein! Kayaknya mereka mau ngebebasin Reynold!"


Raut panik tergambar di wajah semua orang.


"Shane, Revan, Kenzo persiapkan banyak senjata! Kita harus mengantisipasi, khawatir jika mereka akan melakukan penyerangan!" Perintah Clein.


"Baik." Mereka bertiga pun bergegas pergi ke gudang persenjataan. Mereka akan memanfaatkan senjata yang ada di gudang saja. Clein berjalan lebih dulu, semua anggota mengikuti langkah Clein di belakang.


Pintu Markas di buka. Disana seorang pria yang memakai topeng seperti Batman tengah berdiri memimpin barisan. Ia menarik sudut bibirnya lalu melangkahkan kakinya untuk mendekat pada Clein. Anggotanya hanya diam di tempat mereka dan tidak melakukan apapun. Tentu saja hal itu membuat semua orang bingung.


"Saya meminta kepada pemimpin komunitas Black Tyrannical, nona Clein Andrea Klarisa yang terhormat agar berkenan untuk kita berbicara empat mata!" Ujar James ketika ia sudah berdiri tepat di hadapan Clein.


"Jangan Clein! Itu pasti jebakan!" Cegah Son diangguki anggota komunitas Black Tyrannical lainnya.


"Saya tidak pernah menjebak seseorang! Jika kalian tidak mempercayainya, kalian boleh menggeledah anggota geng saya. Apakah mereka membawa senjata atau tidak. Dalam kamus besar kami, kami tidak pernah menggunakan jebakan untuk mendapatkan sesuatu hal yang kami inginkan!" Tegas James.


Clein menatap James dengan tatapan dingin penuh kebencian.


"Geledah mereka!" Perintah Clein.


Semua anggota komunitasnya mengangguk dan bergegas menuruti perintah Clein. James dan Clein ditinggalkan saja berdua dengan sorot mata yang saling beradu.


"Masih sama, tidak pernah berubah. Hitam, gelap, namun jika di lihat dengan seksama, nona Clein terlihat sangat indah." Bisik James dengan nada sedikit menggoda.


"Hentikan omong kosong itu!" Tegas Clein.


James tersenyum miring.


"Aman Clein!" Teriak Son.


Clein mengangguk dan mengisyaratkan agar semua anggota segera kembali dan menjauh dari anggota geng Hitler.


"Ikut saya!" Ujar Clein. Ia berjalan lebih dulu ke arah kanan dan masuk ke ruangan yang biasa di pakai untuk berunding. James mengikuti langkah Clein di belakang.


Clein mempersilahkan James untuk duduk di bangku kayu disana dengan tangannya. James pun menurut lalu duduk tepat dihadapan Clein.


"Langsung bicara ke poinnya!" Ucap Clein.

__ADS_1


"Bebaskan Reynold!"


Mendengar itu Clein terkekeh pelan dan menggelengkan kepalanya.


"Setelah susah payah saya mendapatkannya, dengan mudah anda mengatakan agar saya membebaskan Reynold? Permintaan yang mustahil untuk saya kabulkan!" Imbuh Clein.


"Saya akan memberikan apartemen dan satu peti emas. Syaratnya cukup kembalikan Reynold pada saya, itu saja."


Clein berdecih.


"Kembalikan? Apa saya tidak salah dengar?! Reynold tumbuh di dalam komunitas Black Tyrannical. Dia menjadi pengkhianat karena diiming-imingi sebuah kekuasaan, padahal faktanya anda hanya memanfaatkan informasi darinya saja." Ujar Clein.


Ia menatap manik mata James serius.


"Seperti manusia yang diciptakan dari tanah dan akan dikembalikan ke dalam tanah, seperti itulah Reynold. Dia tumbuh di dalam komunitas Black Tyrannical maka dia akan mati di dalam komunitas ini juga!" Lanjut Clein.


"Sebagai pemimpin kamu terlalu angkuh, Clein!"


"Apa kabar dengan anda? Apa anda sudah sangat baik menjadi seorang pemimpin?" Cibir Clein.


"Buang-buang waktu saja menghadapi gadis seperti kamu. Saya tidak percaya itikad baik saya hanya di balas dengan sebuah penghinaan." Ucap James.


"Saya tidak meminta anda untuk datang. Saya sudah mengirim penolakan pertemuan. Anda yang memaksa untuk datang kesini. Jangan pernah mengharapkan impact yang baik dari saya. Saya tidak akan melakukan penyerangan dan tidak akan menahan Reynold, jika kalian tidak memantik api lebih dulu!" Ujar Clein.


James hanya diam di tempatnya.


"Sudah cukup pertemuan hari ini! Silahkan pergi!" Perintah Clein. Ia lebih dulu berdiri.


"Memori hari ini tidak akan saya lupakan! Saya akan membalasnya, saya berjanji!" James berdiri dan menggeser kursi dengan kasar. Pria itu pergi dengan wajah penuh emosi.


Semua orang yang berada di luar melihat ke arah pintu saat James keluar dengan langkah cepat. Pria itu menaiki motornya, begitupun anggota geng Hitler. James melajukan motornya lebih dulu kemudian anggotanya mengikuti laju motor James di belakang.


Tak berkisar lama Clein pun keluar dari ruangan itu. Shane langsung mendekat pada Clein.


"Apa yang James omongin? Dia gak nyakitin lo, kan?" Tanya Shane. Raut khawatir terpancar di wajahnya.


"Saya baik! Dia hanya ingin membebaskan Reynold dan melakukan penawaran-penawaran murahan!" Ujar Clein.


"Udah gue duga! Dan gue udah tau endingnya. Keliatan dari mukanya James, Lo nolak penawaran itu kan?" Timpal Kenzo.


"Tentu! Mau sebesar apapun harta yang dia beri, kita tidak akan pernah membebaskan Reynold. Harta tidak akan cukup untuk membalas semua siksaan dan pengkhianatannya!" Jelas Clein.


"Shane beri Reynold makanan. Kita tidak akan membiarkannya mati secara cepat. Dia baru saja di cambuk dan belum memakan apapun, jadi kemungkinan kondisinya akan sangat buruk. Kita masih harus menyiksanya sebagaimana banyaknya penderitaan yang dia berikan!" Ujar Clein.


"Baik Clein."


Shane pun pergi untuk melaksanakan perintah dari Clein.


"Saya harus kembali ke rumah. Nanti malam saya akan kembali kesini." Ujar Clein pada teman-temannya.


"Siap Clein, aman." Ucap Revan, diangguki oleh anggota lainnya.


...

__ADS_1


...


...Terima kasih sudah membacađź’š...


__ADS_2