
"Apa infomasi yang kamu ketahui tentang gadis itu?" Tanya Karel.
Mereka berdua tengah berada di ruang tamu dengan pemandangan yang menampilkan lapangan golf yang sangat luas. Disana Edvin dan Marcel tengah bermain golf bersama.
"Gadis itu adalah seorang pemimpin dari sebuah komunitas yang bernama Black Tyrannical. Komunitas yang bisa dikatakan cukup sukses dengan memiliki beberapa bisnis, salah satunya bisnis Restauran. Komunitas mereka bisa dikatakan komunitas yang di kenal positif oleh masyarakat. Anggota mereka ada sekitar 110 orang. Meski bukan komunitas yang sangat besar, namun di belakang mereka banyak masyarakat yang mendukung majunya komunitas tersebut. Masyarakat akan menjadi benteng paling utama saat komunitas Black Tyrannical mengalami kesulitan." Jelas Frey.
"Saya sudah menduganya. Dari sejak SMA dia juga seorang pemimpin dari sebuah geng motor. Namun saya sedikit terkejut ketika mendengar kalau dia seorang pemimpin yang baik. Dulu dia terkenal dengan kenakalannya. Saya masih tidak habis pikir dia bisa memimpin komunitas dengan anggota yang cukup besar, dan saya tidak percaya bahwa komunitas itu didukung oleh masyarakat." Ucap Karel.
"Apa dia teman anda sewaktu sekolah tuan?" Tanya Frey.
"Dikatakan teman, bukan! Lebih tepatnya dia musuh saya. Dari dulu dia membenci saya begitupun sebaliknya."
"Alasan anda membencinya?"
"Dia gadis pembangkang! Sifat kami saling bertolak belakang. Saya tidak senang jika ada seseorang yang selalu membantah perintah saya. Jika saya menjelaskan secara rinci, penjelasan itu tidak akan cukup di ceritakan hanya dalam satu hari. Bagi saya dia itu wanita yang memiliki kepribadian buruk!" Ujar Karel.
Frey mengangguk-anggukan kepalanya tanda mengerti.
"Informasi telah anda dapatkan, selanjutnya apa yang akan anda lakukan?" Tanya Frey.
"Tentunya saya akan melakukan hal yang akan menguntungkan saya dan membuat saya puas!" Tegas Karel penuh tekad.
"Baik, jika seperti itu. Tugas saya selesai. Sekarang apa yang harus saya lakukan?" Tanya Frey.
"Tugas kamu belum selesai. Kamu masih harus tetap memata-matai gadis itu. Jika saya sudah mengatakan selesai, maka saat itu tugas kamu benar-benar selesai!" Tegas Karel.
"Baik tuan."
Karel berjalan menuju sebuah brankas. Ia membuka brankas itu dengan sebuah kata sandi yang ia rancang sendiri. Karel mengambil beberapa tumpukan uang. Lalu ia menutup kembali brankas tersebut. Karel berjalan mendekati Frey.
"Ini bayaran untuk kamu karena kamu sudah menjalankan tugas dengan baik." Ujar Karel. Ia memberikan tumpukan uang itu.
Frey segera mengambilnya dengan mata berbinar.
"Terimakasih tuan." Ucap Frey.
Karel hanya mengangguk.
"Kalau begitu, saya izin untuk kembali melakukan tugas saya." Ucap Frey.
"Silahkan."
Frey pun pergi dari mansion Karel. Karel berjalan menghampiri adiknya dan juga Marcel. Kedua remaja itu tengah beristirahat di teras mansionnya sembari meminum jus yang telah dipersiapkan oleh pelayan mereka.
"Abang? Udah pulang lagi? kok Cepet banget?" Ujar Edvin saat menyadari keberadaan Karel.
"Abang hanya keluar sebentar untuk menyelesaikan sedikit pekerjaan." Jawab Karel.
"Ohhh gitu. Tadi kak Alita datang kesini. Dia nyariin Abang, yaudah Edvin bilang aja Abang lagi keluar dulu." Ujar Edvin.
"Kata Alita apa?"
"Dia bilang, Oke. besok dia akan kembali kesini." Jawab Edvin jujur.
Karel hanya mengangguk. Beruntung saat Alita datang ia sedang berada di luar. Karel tidak ingin diganggu untuk hari ini. Arina tipikal wanita yang sedikit cerewet. Jika Karel tidak membutuhkan Alita dalam kebutuhan seksual, mungkin hari ini ia sudah memutuskan gadis itu. Karel tidak pernah mencicipi gadis lain selain kekasihnya. Karel bukan pria yang senang untuk bergonta-ganti pasangan, ia sedikit takut dalam melakukan hubungan dengan banyak wanita. Bagi Karel Alita mudah untuk dibodohi, hanya dengan diiming-imingi sebuah tas branded maka dengan sukarela gadis itu akan memberikan tubuhnya.
Memulai hubungan percintaan pasti saja akan berakhir pada hubungan ranjang. Karel mengenal Alita sejak dua tahun lalu, Alita adalah cinta pertama yang bisa dikatakan hanya cinta semu. Cinta pada pandangan pertama. Ia memberanikan diri untuk mengatakan cintanya dan tanpa ia duga Alita langsung menerima cintanya.
Awalnya cinta, hubungan mereka terus berlanjut sampai cinta itu berubah menjadi kepuasan. Karel bisa mengatakan bahwa Alita wanita yang beruntung karena dia adalah wanita pertama yang mengambil keperjakaannya, sedangkan Karel sebaliknya. Saat mereka pertama kali melakukan hubungan, mahkota Alita sudah tidak ada dan gadis itu mengakuinya. Karel tidak menyesal, karena ia bisa merasakan sebuah sensasi yang tidak pernah ia rasakan. Maka rasa itu berubah candu, hingga sampai hari ini ia seolah enggan untuk melepaskan Alita.
"Kapan Abang mau jenguk papah ke rumah sakit?" Tanya Edvin.
Karel menoleh pada adiknya.
"Mungkin malam ini." Jawab Karel.
Memang sudah sejak tiga bulan lalu papah dari Karel dan Edvin di rawat di rumah sakit karena menderita Tuberkulosis paru. Hanya mamahnya saja sendiri yang menjaga papah mereka disana. Karel tidak bisa melakukan apapun selain menempatkan papahnya di rumah sakit terbaik. Kesibukannya dalam bekerja mengharuskan Karel tidak bisa diam untuk menjaga papahnya. Begitupun Edvin yang selalu berada di Asrama karena kesibukannya berlatih.
__ADS_1
"Edvin juga ikut bang, Edvin kangen sama mereka." Ujar Edvin.
"Kalau aku ikut boleh engga?" Tanya Marcel.
Baik Karel maupun Edvin, keduanya hanya saling melemparkan tatapan. Edvin pun menoleh pada Marcel.
"Eummm boleh. Tapi bakal diizinin sama kakak kamu engga?" Tanya Edvin.
"Kalau soal itu kayaknya boleh. Soalnya aku kan mau jenguk papah kamu, bukan mau main-main gak jelas. Dan yang paling penting juga perginya gak cuma sama ka Karel doang tapi sama kamu juga." Ucap Marcel.
"Kenapa memang kalau perginya hanya dengan saya? Apa ada yang kakak kamu katakan soal saya?" Tanya Karel.
Marcel nampak meremas jemarinya dan tersenyum canggung.
"Katanya, Marcel gak boleh terlalu deket sama kak Karel." Ujar Marcel.
Karel sedikit berdecak.
"Clein, gadis yang selalu merasa paling baik!" Ujar Karel tak habis pikir.
"Eummm udah mulai sore nih. Aku mau pulang dulu yah Edvin, kak Karel. Nanti malam aku kesini lagi. Berangkatnya selepas isya kan?" Ujar Marcel.
"Iyah sekitaran jam delapanan." Jawab Edvin.
"Oke siap. Kalau gitu aku pamit yah."
Marcel bersalaman dengan Edvin kemudian mencium telapak tangan Karel. Karel tertegun, tentu saja. Marcel ini sangat sopan dibandingkan Clein, kakaknya.
"Assalamualaikum." Ucap Marcel.
"Waalaikumsalam." Hanya Edvin yang menjawab.
Marcel sudah pergi. Sedangkan Karel masih diam di tempatnya.
"Orang ngucap salam kok gak di jawab bang?" Tanya Edvin.
"Sudah! Dalam hati." Jawab Karel.
Pria itu kemudian pergi menuju kamarnya. Edvin hanya mengerutkan keningnya.
"Aneh! Minimal ada suaranya kek. Salam kan ungkapan doa. Bikin orang lain soudzon aja." Ketus Edvin tak habis pikir.
******
Marcel yang baru saja datang, ia langsung menghampiri kedua orangtuanya yang tengah menonton televisi bersama disana. Marcel langsung mengambil tempat duduk di tengah-tengah Rio dan Eliana. Marcel memeluk tubuh Rio kemudian bergantian dengan Eliana. Kedua orangtuanya tentu saja merasa bingung dengan tingkah anaknya yang tiba-tiba bersikap manja.
"Pasti pengen sesuatu nih kalau udah gini." Ujar Rio.
"Mau minta apa?" Tanya Eliana.
Marcel tersenyum lebar. Orang tuanya tau saja apa yang ada di pikiran Marcel.
"Marcel izin yah nanti malam mau ikut Edvin ke rumah sakit jenguk papahnya, boleh engga?" Tanya Marcel.
"Jam berapa?" Tanya Eliana.
"Sekitar jam delapanan bunda."
"Soal itu ayah sama bunda gak bisa ambil keputusan. Kita pasti boleh-boleh aja, tapi problemnya ada di kakak kamu. Dia yang akan menentukan keputusan itu." Ujar Rio.
"Kak Clein?" Tanya Marcel ragu.
"Iyah siapa lagi? kalaupun ayah sama bunda mengizinkan, kalau kakak kamu gak izinin, kita berdua gak bisa apa-apa." Jawab Eliana.
Hembusan nafas kasar keluar begitu saja dari mulut Marcel.
"Kakak ada di kamarnya?"
__ADS_1
"Ada. Dia juga baru aja datang."
Dengan langkah gontai Marcel berjalan untuk pergi ke kamar kakaknya.
Saat tepat di depan pintu kamar Clein, Marcel nampak ragu untuk masuk ke dalam kamar kakaknya. Tubuhnya terasa panas dingin, ia harus bisa membujuk kakaknya bagaimana pun caranya.
Tok tok tok
Marcel mengetuk pintu dengan pelan. Tapi tak ada jawaban dari dalam kamar.
Tok tok tok
Sekali lagi Marcel mengetuk pintu. Namun masih belum juga ada jawaban atau ada tanda-tanda Clein membuka pintu kamarnya. Marcel berdecak.
Tok tok tok
Kali ini ia mengetuk pintu dengan sedikit kuat. Dan pintu di buka. Disana Clein tengah menatap Marcel dengan balutan mukena yang terpasang rapi di tubuhnya.
"Kakak lagi sholat Cel, kalau kakak engga bukain pintu berarti kakak lagi sibuk!" Sentak Clein.
Marcel hanya menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Hehe, maaf kak. Takutnya kakak gak denger. Marcel kan gak tau kalau kakak lagi sholat. Lain kali kasih tulisan di depan pintu, Harap jangan diganggu sedang menunaikan sholat, gitu kak." Ujar Marcel.
Clein hanya memutar bola matanya malas.
"Ckkk, semakin pandai menjawab kamu ini. Sudah cepat masuk! ada apa?"
Clein membuka mukena dan melipatnya lalu menaruhnya di dalam lemari besar.
"Sholatnya udah beres kak?"
"Seperti yang kamu lihat. Udah langsung ke intinya saja, ada apa?!"
"Udah kak jangan marah-marah dong, kan Marcel mau ngomongnya agak takut." Ujar Marcel mengerucutkan bibirnya.
Clein menarik nafasnya dalam kemudian melihat adiknya dengan tatapan yang lebih tenang.
"Kakak sudah tidak marah lagi, cepat katakan apa yang ingin kamu bicarakan?"
"Begini kak, nanti malam sekitar jam delapan aku mau pergi ke rumah sakit nemenin Edvin untuk jenguk papahnya." Ucap Marcel. Ia terlihat menundukkan kepalanya tanpa mau melihat manik mata Clein.
"Hanya dengan Edvin?"
"Eu-enggak kak, ada kak Karel juga."
"Kakak tidak mengizinkan! Kamu jangan terlalu sering bersama dengan pria itu. Kakak tidak ingin pria itu mempengaruhi kamu soal kakak." Ujar Clein.
"Ih kak, aku gak enak sama Edvinnya. Lagian niat Marcel baik. Marcel mau jenguk papahnya Edvin, Edvin kan sahabat Marcel kak. Demi rasa kemanusiaan, kakak harus mengesampingkan dulu masalah kakak sama kak Karel." Ujar Marcel.
Clein memijit pelipisnya.
"Kenapa tidak menurut saja Marcel? Kakak mencoba untuk melindungi kamu. Kakak dan kakak sahabat kamu itu, kita ini musuh. Kakak khawatir jika dia akan melakukan hal yang tidak kakak inginkan terhadap kamu!"
"Kak Karel baik kok Kak. Dia tidak pernah mencampur-adukkan masalah pribadi dengan Marcel. Marcel percaya kak Karel tidak akan melakukan sesuatu seperti apa yang kakak pikirkan." Imbuh Marcel.
"Baik, baik! Kamu boleh pergi untuk menjenguk papah Edvin ke rumah sakit!"
Marcel langsung bersorak gembira.
"Tapi ada syaratnya."
Marcel seketika terdiam dan menatap kakaknya bingung.
"Syaratnya apa?"
"Pergi dengan kakak!" Tegas Clein.
__ADS_1
...Terimakasih sudah membaca💚...