Tap Your Heart

Tap Your Heart
Bagian 23


__ADS_3

Clein dan kedua orangtuanya tengah menunggu kedatangan Marcel dan keluarga Edvin. Clein dipaksa untuk menyambut kedatangan mereka semua oleh papahnya. Bukannya Clein malas untuk menyambut adik, sahabat adiknya dan juga ibu dari sahabat adiknya, akan tetapi Clein hanya malas untuk menyambut Karel. Rasa-rasanya setelah ini pria itu akan mengejeknya yang berdiri seperti pelayan menunggu sang majikan.


"Pegel nih kaki Clein, mending Clein masuk aja yah? Clein langsung nunggu di Taman." Ucap Clein.


"Tetap disini Clein! Bersabar sedikit apa susahnya? Sebentar lagi juga mereka sampai." Ucap Rio memperingatkan.


"Mau sabar sampai kapan lagi? Kita udah nunggu 15 menit disini."


"Baru 15 menit belum satu jam."


Clein hanya berdecak.


"Udah lah Clein nurut aja. Gak setiap hari juga kamu kayak gini." Tambah Eliana.


Clein hanya diam dan tak berbicara apapun. Sampai sebuah mobil memasuki halaman rumahnya. Clein langsung menjauhkan tubuhnya dan berdiri tepat di belakang Rio.


Mobil berhenti, Marcel lebih dulu turun lalu memeluk kedua orang tuanya.


"Selamat yah sayang atas penghargaannya." Ucap Eliana mengecup pipi Marcel.


"Terimakasih Bunda."


"Ayah bangga sama kamu." Ujar Rio


"Ah Ayah bisa aja."


Marcel kemudian memeluk Clein yang sedari tadi fokus memandangi


dirinya.


"Selamat yah dek." Ucap Clein. Marcel memeluk Clein dengan sangat erat. Ia sepertinya memang sangat merindukan kakaknya itu.


"Terimakasih kakak." Balas Marcel.


"Dek maafin kakak kemarin pulang duluan. Kakak gak liat kamu ngambil penghargaan dulu secara langsung dan kakak mohon supaya kamu tidak memberitahukan soal kepulangan kakak." Bisik Clein tepat di telinga Marcel. Clein berusaha berbicara sepelan mungkin agar orang tuanya tidak mendengar ucapannya.


"Tenang aja kak aman." Lirih Marcel.


Clein mengangguk dan tersenyum.


Rahma dan Edvin turun dari mobil secara bersamaan. Mereka berdua langsung menyapa Eliana dan juga Rahma.


"Selamat datang di rumah sederhana kami." Ucap Eliana.


Rahma menarik sudut bibirnya.


"Kamu ini suka merendah. Massa rumah sebesar ini di sebut rumah sederhana." Ucapnya diikuti sedikit tawa.


Eliana pun ikut tertawa.


"Selamat yah nak Edvin atas kemenangan penghargaan kamu juga." Ucap Rio.


"Makasih om."


Rio mengangguk, Edvin bergegas menghampiri Clein.


"Selamat!" Ucap Clein antusias lalu memeluk tubuh Edvin.


"Karel cepet turun!" Teriak Rahma.


Setelah memeluk Edvin, Clein melihat ke arah mobil Karel dan melipat tangannya di depan dada.


Setelah melihat pemandangan itu, Karel pun bergegas turun dan menghampiri kedua orang tua Marcel.


"Bagaimana keadaannya om, Tante sehat?" Tanya Karel.


"Alhamdulillah kami berdua sehat. Bagaimana dengan kamu?"


"Karel sehat dan akan tetap sehat." Balas Karel diikuti senyum tipis.


"Syukurlah om senang mendengarnya." Ujar Rio.


Karel hanya melihat Clein tanpa mau menyapanya. Sedangkan gadis itu mencoba untuk tak melihat wajah Karel.


"Ayo masuk, masuk! Kita udah siapin semuanya untuk kalian." Ucap Eliana mempersilahkan.


Semua orang mengangguk dan bergegas untuk masuk ke dalam rumah Clein. Keluarga Clein sudah mempersiapkan semua seperti apa yang Marcel dan Edvin inginkan.


Karel baru pertama kali masuk ke dalam rumah Clein. Disana ia dapat melihat banyak foto yang terpajang di dinding ruang tamu. Ada satu foto yang mencuri perhatiannya, disana ia dapat melihat foto Clein sewaktu SMA dan wajahnya masih tetap sama. Ingatan Karel pada masa SMA kembali muncul, saat itu tak ada rasa pertemanan diantara Karel dan Clein. Perdebatan demi perdebatan lebih mendominasi masa SMA mereka berdua. Tidak ada pertemanan yang manis.

__ADS_1


"Terhipnotis oleh kecantikan saya?" Ujar Clein yang berada di belakang Karel. Clein dan Karel hanya berdua disana. Semua keluarga mereka sudah pergi lebih dulu ke Taman belakang.


"Ckkk, anda ingin saya puji cantik?" Ujar Karel melempar pertanyaan balik.


"Tidak! Saya hanya berbicara sesuai dengan apa yang saya lihat dari tatapan anda pada foto saya!" Ujar Clein.


Karel tersenyum miring.


"Selalu saja mengelak, selalu saja tidak mengaku!"


"Saya berbicara sesuai dengan kebenarannya. Saya tidak ingin dipuji oleh anda dan saya hanya berbicara sesuai dengan pandangan saya terhadap tatapan anda!" Tegas Clein.


"Baik Clein baik! Apapun pendapat anda itu terserah anda! Saya malas terus berdebat dan berbicara dengan Anda! Buang-buang waktu saja!" Ujar Karel meninggalkan Clein sendiri disana.


Clein menajamkan matanya.


"Buang waktu? Heuh! Anda pikir waktu saya hanya diperuntukkan untuk mengurusi anda?!" Monolog Clein kemudian bergegas menyusul Karel untuk pergi ke Taman belakang.


Di Taman belakang, semua orang tengah asik mengobrol. Karel duduk tepat di samping Rahma dan Clein duduk tepat di samping Marcel. Keduanya masih memasang ekspresi dingin, sisa-sisa dari perdebatan yang tadi tidak begitu panjang.


"Kalian habis darimana? Lama sekali." Ujar Eliana.


"Mereka pasti abis berantem dulu Tante." Ucap Edvin.


Karel menatap tajam manik mata adiknya begitupun Clein. Edvin hanya cengengesan sembari menundukkan kepalanya.


"Om, Tante dekorasinya indah banget, ini kalian berdua yang dekor?" Tanya Edvin.


"Tante Eliana sama Clein yang dekor semuanya. Kalau om sibuk di kantor." Ucap Rio tersenyum.


"Wah kak Clein juga? Hebat!" Puji Edvin diangguki oleh Marcel.


Karel hanya mendelikkan matanya tidak senang. Gadis itu kembali di puji dan ia merasa muak.


"Kayaknya kita langsung potong tumpeng aja terus makan yah? Udah pada lapar juga kan?" Ujar Eliana.


Mereka tidak merencanakan acara yang begitu formal. Acara syukuran sederhana sepertinya cukup apalagi Marcel hanya memberikan waktu setengah hari pada Eliana untuk mempersiapkan acara syukuran itu.


"Hehe Tante tau aja." Ucap Edvin.


"Edvin jangan malu-maluin mamah ah!" Ucap Rahma.


"Gapapa jeng, namanya juga anak-anak." Ucap Eliana.


Eliana pun bergegas untuk mempersiapkan semuanya. Ia mempersilahkan Edvin dan Marcel yang memotong tumpeng. Edvin pun mulai memotong tumpeng dan potongan pertama selesai.


"Kita kasih potongan pertama buat siapa yah... Duh takutnya salah dan nanti ada yang syirik." Ujar Edvin.


"Iyah nih bingung." Tambah Marcel.


"Itu sih terserah kalian berdua." Ucap Eliana.


Marcel dan Edvin terlihat berunding. Rundingan mereka berakhir, Edvin mengedipkan sebelah matanya pada Marcel. Sepertinya mereka harus mengeksekusi rencana mereka sekarang.


"Potongan tumpeng pertama akan kami berikan pada kak Clein dan Abang Karel! Ini sebagai ucapan terimakasih kita berdua karena di tengah kesibukan kalian berdua, kalian mau hadir ke acara penghargaan semalam dan hadir juga ke acara syukuran ini." Jelas Edvin.


Karel dan Clein saling melemparkan tatapan datar.


"Ayo kakak-kakak sekalian cepat kesini!" Ucap Marcel.


Baik Eliana, Rio maupun Rahma ketiganya bertepuk tangan dan terlihat senang. Karel berjalan lebih dulu dan Clein menyusul di belakang. Marcel dan Edvin sama-sama menarik lengan kakak mereka agar saling berhadapan dan mendekat. Clein membulatkan matanya.


"Marcel jangan buat kakak marah!" Lirih Clein penuh penekanan. Walaupun sedikit takut, namun Marcel mencoba untuk tidak peduli demi rencananya.


Karel diam tanpa berkomentar apapun. Ekspresi wajahnya sangatlah datar seperti papan ujian.


"Nah sekarang kalian berdua silahkan saling menyuapi! Jadi gak akan ada suapan pertama atau kedua. Biar sama-sama adil." Tambah Edvin.


Karel dan Clein sontak terkejut dan melihat wajah Edvin tak percaya.


"Tunggu apalagi? Cepat suap-suapan!" Perintah Edvin tak sabar.


Karel dan Clein menatap Edvin dengan tatapan seperti ingin membunuh. Edvin yang ditatap hanya diam seolah ia tidak mengerti. Padahal keringat sebesar biji jagung akan jatuh di pelipisnya.


"Karel, Clein kenapa diam aja? Cepat turuti perintah adik kalian!" Ujar Rio yang diangguki oleh Eliana dan Rahma.


Marcel memberikan sendok pada Clein dan Karel. Sedangkan piring berisi nasi itu di pegang oleh Edvin.


"Kita harus mengabadikan momen ini!" Ucap Marcel.

__ADS_1


Marcel menyalakan handphone dan akan mulai merekam momen itu.


"Ini terlalu berlebihan! Clein gak mau suap-suapan sama Karel!" Tegas Clein.


"Udah nak gak usah banyak protes. Tinggal suap-suapan doang apa susahnya?" Ucap Eliana.


"Kayaknya kak Clein sama Abang Karel malu diliatin sama mamah sama Tante Eliana sama om Rio juga. Apa sebaiknya kalian masuk dulu ke dalam? Nanti kalian bisa lihat hasilnya di handphone Marcel. Bagaimana?" Ujar Edvin.


Rio terlihat melihat Eliana kemudian Rahma dan mereka semua mengangguk.


"Iyah Vin, kayaknya para orang tua harus masuk ke dalam. Maklum mereka ini kan masih muda dan kami paham dengan keadaan ini." Ucap Rio.


Soal permusuhan Karel dan Clein bukan rahasia lagi bagi orang tua mereka. Keduanya yang secara terang-terangan memperlihatkan kebencian satu sama lain tanpa menyembunyikannya.


Rio, Eliana dan Rahma mereka bertiga bergegas masuk ke ruang tamu dan akan menunggu disana.


Edvin terlihat memberikan isyarat lewat matanya pada Marcel. Marcel mengangguk pelan.


"Nih pegang bang piringnya! Edvin mau siapin minum dulu. Nanti Marcel bakal itung sampai tiga, kalian berdua mulai saling suap-suapan." Ujar Edvin.


Karel tidak ingin berlama-lama. Ia tidak ingin terus berada di kondisi seperti itu.


"Cepet mulai Cel! Saya tidak tahan berada di dekat dia!" Ujar Karel.


"Saya juga muak ada di dekat anda!" Balas Clein tak kalah sengit.


"Terserah anda! Cepat lakukan saja apa yang mereka perintahkan agar kita bisa segera mengakhiri ini!" Ujar Karel.


Clein mendelikkan matanya.


"Oke kita mulai yah... Satu, dua, tiga!" Marcel menekan tombol mulai.


Tangan mereka berdua terangkat dengan tatapan saling beradu. Mereka sama-sama memasukkan sendok berisi nasi itu secara kasar. Sampai-sampai keduanya sama-sama meringis kesakitan.


"Pelan-pelan dong mulut saya sakit!" Ujar Karel.


"Uhuk-uhuk! Anda juga melukai bibir saya, Karel!" Ucap Clein disela ringisannya.


Marcel langsung menghampiri kedua kakaknya.


"Kak Clein, Abang Karel, kalian gapapa?" Tanya Marcel.


"Marcel tolong ambilkan kakak minum, uhuk!" Marcel mengangguk dan bergegas menghampiri Edvin.


"Vin mereka butuh minum sekarang!" Ucap Marcel saat sudah berada di dapur.


"Kenapa cepet banget?"


"Mereka nyendokin makanannya pake emosi, dua-duanya kesakitan terus tersedak dan ya sekarang mereka butuh minum!" Ujar Marcel.


"Ya Tuhan! Bentar aku mau masukin obat dulu." Edvin memasukan obat pada kedua gelas yang berada disana.


"Tangan aku panas dingin, aku beneran deg-degan." Ucap Marcel.


"Udah tenang aja. Pastiin aja orang tua kita gak tau." Lirih Edvin.


Edvin membawa minuman itu secepat mungkin diikuti oleh Marcel di belakang.


"Bang ini minumnya. Kak Clein ini minumnya." Edvin memberikan gelas berisi minuman itu pada Karel dan Clein. Keduanya langsung menenggak minuman itu sampai tak ada sisa.


"Sepertinya anda ingin membunuh saya!" Ujar Clein setelah menenggak habis minumannya.


"Anda juga melakukan yang sama! Anda pikir saya saja yang salah? Lihat?! Bibir saya sampai luka seperti ini!" Imbuh Karel.


"Apa anda tidak melihat luka yang sama di bibir saya juga? Brengsek!" Umpat Clein.


"Acara suap-suapannya udah selesai. Kita mau panggil dulu yang lainnya." Ucap Edvin diangguki Marcel.


"Sudah-sudah sana!" Ketus Karel.


Edvin dan Marcel hanya menahan tawanya dan bergegas untuk pergi.


Clein langsung duduk di tempatnya dan Karel masih tetap berdiri dengan tangan menopang pada meja. Mereka berdua merasa pusing dan tiba-tiba mata mereka terasa kabur. Clein memegang kepalanya dan Karel rasanya tidak kuat untuk tetap berdiri. Dengan mata yang berkunang-kunang, Karel dapat melihat Clein yang terus saja menguap dan Karel mengikuti hal yang sama.


Clein menidurkan kepalanya di atas meja dan saat itu kesadarannya telah hilang. Karel duduk untuk menyandarkan punggungnya dan sedikit memijit pelipisnya, ia tidak kuat lagi untuk menahan rasa kantuk yang tiba-tiba hinggap. Karel memejamkan matanya dan kesadarannya juga sudah sepenuhnya hilang mengikuti Clein.


...*****...


...Terima Kasih Sudah Membaca 💚...

__ADS_1


__ADS_2