
Suara kicauan burung terdengar riang menyambut pagi. Karel menggeliat pelan dan mengerjap-ngerjap matanya. Ia melihat ke bawah, disana dia tidak menemukan keberadaan Clein.
"Cari siapa?" Karel langsung melihat ke arah sumber suara. Di depan meja rias, Clein tengah duduk dengan menopang dagunya.
"Anda sudah bangun?" Tanya Karel yang langsung mendudukkan tubuhnya.
"Pertanyaan bodoh!" Balas Clein dingin.
"Pagi-pagi bukannya siapin sarapan untuk suami, ini malah jutek terus. Bisa-bisa saya mati muda kalau terus-terusan seperti ini!" Ujar Karel melipat tangannya.
"Karel, Karel, otak anda ini sebenarnya di pakai atau tidak sih? Bagaimana saya akan membuat sarapan untuk anda, sedangkan pintu kamar anda saja di sandi! Sandinya saja saya tidak tahu!" Ucap Clein.
Karel melihat pintu kamarnya kemudian melihat Clein.
"Sandi pintu terdiri dari huruf K terus A lalu angka tiga, tujuh, sembilan!" Balas Karel.
"Anda membohongi saya?" Tanya Clein curiga. Ia merasa curiga karena sebelumnya pria itu kuat menjaga rahasia sandi pintunya.
"Coba saja anda buka!"
Clein berdiri dari tempat duduknya. Ia menekan huruf dan angka yang Karel sebutkan tadi. Correct! Pria itu tidak membohongi dirinya. Saat pintu terbuka, Clein melihat Karel.
"Apa yang anda rencanakan? Aneh sekali, padahal sebelumnya anda tidak ingin memberitahukan sandi pintu ini. Anda tidak takut jika nanti saya kabur dari sini?"
Karel turun dari tempat tidur, ia mengambil remot dan membuat gorden kamarnya.
"Saya berpikir saya tidak perlu membatasi aktivitas anda di mansion ini. Jika anda berniat untuk kabur, maka anda harus siap menerima konsekuensi dari saya!" Ucap Karel santai.
"Daripada anda capek-capek mengurusi saya, kenapa anda tidak melepaskan saya saja, Karel? Apapun yang anda rencanakan pasti tidak akan pernah mencapai tujuan anda. Akui saja kalau saya ini lebih hebat daripada anda!"
"Hebat? Sekarang saja anda tidak bisa berbuat apa-apa. Kehebatan anda tidak bisa menyaingi kehebatan saya. Dan lagi, saya tidak akan melepaskan anda. Saya sudah berniat akan mendaftarkan pernikahan kita dan kita akan melakukan akad ulang dalam waktu dekat. Kita juga akan melangsungkan resepsi nantinya."
Clein membulatkan matanya dengan sempurna. Ia melangkah cepat dan menarik lengan Karel dengan kasar.
"Apa?! Mendaftarkan pernikahan ini? Dan melakukan resepsi? Anda gila?! Anda bilang anda akan merahasiakan hubungan pernikahan ini, tapi ini apa-apaan! Kalau teman-teman komunitas saya tau bagaimana?"
Karel menyingkirkan tangan Clein dari tangannya. Ia membalikkan tubuhnya dan menatap istrinya dengan tatapan datar.
"Sebenarnya saya juga tidak ingin melakukan itu, tapi jika di pikir baik-baik, menikah secara agama tidak punya hukum yang kuat. Terpaksa saya harus mendaftarkan pernikahan kita, melakukan akad ulang dan juga resepsi. Resepsi akan diadakan secara sederhana yang hanya mengundang kerabat saya dan anda saja. Teman-teman anda tidak akan tahu karena mereka tidak terdaftar dalam undangan." Jawab Karel santai.
"Tetap saja, kalau ada yang memberitahukan pernikahan ini pada mereka bagaimana? Anda ini menambah pikiran saya saja!"
"Tidak akan ada yang memberitahukan soal ini pada mereka, terkecuali saya dan anda!"
"Ucapan anda tidak akan menjamin kalau pernikahan ini tidak akan bocor pada mereka. Sebaiknya simpan saja uang anda, lalu talak saya sekarang!" Tegas Clein. Itulah yang ia inginkan, lepas dari belenggu pernikahan jebakan.
"Tidak akan! Saya akan tetap mempertahankan pernikahan ini. Sudah Clein ikuti saja apa yang saya mau. Anda hanya tinggal menjalani pernikahan ini, seharusnya anda merasa beruntung menikah dengan pria tampan dan kaya raya seperti saya!"
Kepercayaan diri dari Karel sungguh luar biasa sampai membuat Clein merasa muak. Gadis itu berdecih pelan.
__ADS_1
"Beruntung? Anda salah. Saya menikah dengan anda adalah sebuah musibah bukan keberuntungan. Di mata saya anda ini biasa saja. Pesona anda kalah oleh pria di luaran sana!"
"Yakin?" Perlahan Karel berjalan maju, jemarinya ia pakai untuk membingkai wajah Clein, lalu jemari itu turun pada leher jenjang milik Clein.
"Pesona tersembunyi saya hanya akan anda rasakan di atas ranjang. Sekali saja anda melakukannya dengan saya dan dalam keadaan sadar, saya yakin anda akan mengakui pesona saya lebih unggul daripada pria di luaran sana!" Bisiknya sensual di telinga Clein.
Bughhh
Satu pukulan berhasil mendarat mulus di perut Karel.
"Ssssst, tidak bisakah kalimat dibalas dengan kalimat? Lama-lama anda ini bisa kena pasal KDRT, Clein." Desis Karel memegangi perutnya yang terasa sakit akibat pukulan Clein.
"Itu baru pukulan perut, saya belum memukul wajah anda dan mematahkan leher anda. Sudah saya peringatkan untuk tetap menjaga batasan!"
Clein berjalan menjauh dari Karel.
"Mau kemana?"
"Buatkan anda sarapan istimewa." Balas Clein.
"Buat sarapan yang enak! Awas saja kalau saya dibuatkan sup batu lagi, saya akan memberikan pelajaran pada anda!" Ucap Karel memperingatkan Clein. Gadis itu tidak peduli dan bergegas pergi menuju dapur.
"Tenaganya sangat kuat, tangannya seperti masuk ke dalam perut saya. Ouh sakitnya." Gumam Karel. Dengan langkah menahan sakit, Karel bergegas masuk ke dalam kamar mandi.
******
Shane terlihat sibuk menghubungi Clein untuk menyampaikan berita kematian Deva. Bagaimanapun sebagai seorang pemimpin, Clein harus mengetahui kabar itu. Puncak solidaritas harus mereka junjung karena komunitas mereka dibuat dengan ikatan kekeluargaan.
Handphone Clein berdering, namun tak ada tanda-tanda kalau telepon itu diangkat.
"Please Clein angkat dong..." Gumam Shane yang mulai merasa frustasi.
Jika handphone Clein bermasalah, seharusnya telepon tidak tersambung. Tapi ini tersambung! Shane semakin merasa ada yang tidak beres dengan hilangnya kabar dari pemimpinnya.
"Shane gimana? Sebentar lagi Deva akan dimakamkan, Lo masih belum bisa hubungin Clein?" Tanya Oki.
"Belum." Balas Shane.
Shane terus mencoba menghubungi Clein, sampai akhirnya telepon itu diangkat.
Hallo Clein?
Hening, tak ada suara di seberang telepon. Namun telepon itu masih tersambung.
Clein lo cepetan balik kesini,
Deva meninggal Clein...
Masih hening tak ada yang mau menjawab.
__ADS_1
Clein, Lo baik-baik aja kan?
Clein ngomong dong, jangan
diem aja!
Tut Tut Tut
Setelah itu sambungan telepon terputus. Shane langsung melihat pada Oki.
"Gimana?"
"Aneh Ki, aneh banget! Padahal jaringan telepon bagus, terus teleponnya tersambung. Tapi anehnya Clein diem aja. Habis itu telepon dimatiin, dia kayak yang gak peduli gitu, Ki." Ujar Shane.
"Tapi yakin tersambung?"
"Yakin banget!" Jawab Shane mantap.
Keduanya tengah berpikir apa yang terjadi pada Clein. Perubahan dari wanita itu begitu signifikan.
"Guys ini kita masih mau nunggu Clein, atau mau langsung kuburin Deva? Soalnya kasian sama jenazahnya." Tanya Arhan diikuti Revan, Kenzo, Jeff, Andres dan juga Son.
"Kita langsung kuburin aja! Clein gak bakalan Dateng kayaknya!" Ujar Shane.
"What? Kenapa? Tapi lo berhasil ngehubungin dia?" Tanya Revan.
"Udah, tapi dia gak ngomong apa-apa. Setelah itu telepon mati." Jawab Shane.
"Apa gue bilang, kayaknya Clein itu udah gak mau jadi pemimpin komunitas kita. Dia itu ada hubungannya sama kematian Deva. Menurut gue dia sengaja sandera Reynold agar dia bisa menggantikan posisi Reynold di geng Hitler. Kejadian beberapa tahun yang lalu sekarang terulang lagi." Ujar Arhan.
Oki menggeleng cepat.
"Gak usah menambah kisruh keadaan Arhan. Gue tau karakter Clein kayak apa!" Timpal Oki yang merasa tidak terima ketika sahabat lamanya dibicarakan buruk oleh Arhan.
"Tapi buktinya apa? Saat kematian Deva yang notabene adalah anggotanya, kenapa dia diem aja dan gak dateng kesini? Dimana nurani dia sebagai pemimpin? Bahkan semua keuangan bisnis kita, Clein yang pegang. Gue sih mikir kalau Clein ambil uang itu kemudian bersekutu sama geng Hitler!" Ucap Arhan yakin.
"Kayaknya gue kali ini setuju sama Arhan. Bisa aja Clein mengikuti Reynold yang dulu. Manusia yang paling berbahaya itu orang terdekat. Clein cukup tertutup, kita gak tau niat asli seseorang itu apa." Ucap Son.
"Iyah gue juga. Dulu aja zaman penjajahan Jepang, Jepang diterima baik di Indonesia karena Indonesia menganggap kalau Jepang itu negara yang bisa membebaskan negara ini dari belenggu Hindia Belanda. Indonesia memiliki harapan tinggi pada negara Jepang, tapi nyatanya apa? Mereka hanya ingin menguasai negara kita hanya untuk kepentingan bangsanya sendiri. Begitupun dengan Clein, bisa aja dia mencoba berpura-pura baik agar dia bisa masuk ke komunitas kita, mencari kelemahan komunitas lalu memberitahukannya pada musuh kita. setelah ia mendapatkan apa yang dia inginkan selanjutnya dia meninggalkan komunitas ini dan mencari tempat yang lebih baik. Kurang lebih seperti Reynold lah." Jelas Kenzo.
Kewaspadaan harus tetap mereka jaga. Kejadian yang sama bisa saja terulang kembali. Trauma pada masa itu terus saja memutar dalam memori mereka. Bagaimana tangisan, permohonan, rintihan, suara itu masih menggelayut manja dalam bayang-bayang mereka ketika mereka memejamkan mata.
Shane memijit pelipisnya, semua yang anggotanya katakan memang masuk akal. Tapi apakah semudah itu Clein berpaling dan mengkhianati mereka? Untuk sekarang Shane tidak punya banyak waktu untuk mencari tahu. Kapasitas pengetahuannya soal strategi dan mata-mata tidaklah lebih besar daripada Clein.
"Kalau Clein sampai seperti itu, kita harus cepat menggulingkan dia. Kemudian mencari pemimpin yang cocok untuk memimpin komunitas Black Tyrannical." Ujar Jeff.
"Sebaiknya kita bahas ini nanti saja. Kita harus segera memakamkan jenazah Deva." Ucap Shane.
Mereka semua mengangguk dan bergegas pergi.
__ADS_1