Tap Your Heart

Tap Your Heart
Bagian 24


__ADS_3

Di balik sebuah pohon, Edvin dan Marcel tengah memperhatikan kakak mereka. Mereka menunggu rencana mereka terlaksana dengan baik. Saat keduanya sudah tidak dalam keadaan sadar Marcel dan Edvin bergerak maju untuk menghampiri kakak mereka.


"Cel kita bawa mereka kemana? Gak mungkin ke kamar kamu atau kamar kak Clein. Kalau kita bawa mereka kesana nanti ketahuan sama ortu kita." Ujar Edvin yang terlihat gelisah. Ia lupa untuk mengarahkan orang tuanya dan orang tua Marcel agar tidak berada di ruang tamu.


"Di dekat dapur ada kamar bi Idah, kebetulan bi Idah nya lagi cuti anaknya melahirkan. Jadi kita bawa kak Clein sama Abang Karel kesana aja!" Ujar Marcel.


"Gak bakal ketahuan kan ini?"


"Kayaknya enggak. Soalnya letak dapur sama ruang tamu kan lumayan jauh." Balas Marcel.


"Oke kita bawa mereka kesana! Tetap waspada Cel takutnya mereka curiga."


"Siap Vin!"


Marcel dan Edvin menyeret tubuh Clein dan Karel lalu membawanya ke kamar bi Idah. Mereka terlihat hati-hati dan berusaha untuk tidak menimbulkan suara sedikitpun.


Sesampainya di depan kamar bi Idah, dengan pelan Marcel membuka pintu kamar. Disana keduanya dapat melihat ukuran kasur yang tidak begitu besar namun bisa menampung dua orang.


"Arghhh berat banget!" Keluh Edvin.


Mereka berdua berusaha sekuat tenaga untuk menaikkan tubuh kakak mereka ke atas kasur.


"Sekarang apa lagi?" Tanya Marcel yang sudah berhasil mengangkat tubuh Clein.


"Aku buka baju Abangku kamu buka baju kakak kamu." Jelas Edvin.


"Buka baju kak Clein?!" Tanya Marcel memastikan.


"Iyah, udah tunggu apalagi? Cepetan buka!"


"Kamu aja dulu! Setelah kamu buka baju kak Karel, kamu langsung ke luar kamar. Aku gak pengen kamu liat tubuh kakakku."


"Yaelah Cel, maksudnya itu bukan buka semua baju! Buka yang setidaknya bisa buat orang tua kita percaya kalau mereka udah ngelakuin hal yang iyah-iyah. Lagian buka baju buat formalitas aja setidaknya mereka berdua akan menganggap bahwa mereka telah tidur bersama."


"Sama aja. Intinya kamu dulu Edvin, Cepetan!" Edvin hanya menghembuskan nafas kasar dan mengangguk.


Edvin membuka baju bagian atas milik Karel sampai pria itu bertelanjang dada. Kemudian Celana Karel yang hanya menyisakan celana boxer saja.


"Aku tunggu di luar, kamu jangan lama-lama. Takutnya keburu ada yang datang."


"Iyah-iyah."


Edvin pun bergegas pergi ke Taman belakang. Marcel terlihat ragu untuk membuka pakaian Clein. Mereka berbeda jenis kelamin, walaupun mereka saudara kandung tapi rasanya tidak etis melihat tubuh Clein yang notabene adalah seorang wanita.


Marcel membuka jaket yang dipakai oleh Clein. Ia dapat bernafas lega saat melihat kakaknya menggunakan tank top, setidaknya Marcel tidak perlu membuka pakaian Clein lebih dalam.


Tinggal celananya, Marcel menyelimuti tubuh Clein dan Karel. Kemudian dengan menatap ke arah lain Marcel mulai membuka celana kakaknya.


"Untung ada selimut jadi aku gak usah liat. Maafin aku kak." Lirih Marcel.


Marcel cukup kesulitan saat membuka celana Clein karena ia tidak melihatnya secara langsung. Marcel hanya menggunakan instingnya untuk membuka celana jeans itu.


"Akhirnya." Marcel dapat bernafas lega saat ia sudah melepaskan celana dari kaki Clein.


Marcel merapikan selimut dan melemparkan semua pakaian ke sembarang arah. Selanjutnya ia pergi untuk menyusul Edvin.

__ADS_1


"Gimana?" Tanya Edvin saat melihat kedatangan Marcel.


"Beres." Jawab Marcel.


"Sekarang ngapain lagi?" Tanya Marcel.


"Tunggu aja dulu sampe orang tua kita kesini. Aku udah panggil mereka tadi."


Tak berselang lama, Rahma Rio dan Eliana datang menghampiri Marcel dan Edvin.


Baik Marcel maupun Edvin, keduanya terlihat mulai berakting sedemikian rupa. Marcel dan Edvin sedang berpura-pura melihat rekaman video tadi.


"Coba ayah pengen lihat video tadi! kayaknya asik banget." Ucap Rio lalu bergabung bersama Marcel dan Edvin.


"Asik banget yah... liat aja kak Clein sama Abang Karel lagi suap-suapan juga tetep aja emosi!" Ujar Marcel tertawa.


Edvin ikut tertawa walaupun tidak ada yang lucu dari pembahasan mereka. Sekarang ia tengah mencoba mengikuti skenarionya. Rio ikut menonton rekaman video itu dan sesekali tertawa.


"Clein sama Karel nya mana?" Tanya Eliana.


"Enggak tau. Edvin sama Marcel gak terlalu merhatiin sekitar." Ujar Edvin bohong.


"Kita kan mau makan. Nah sebaiknya kalau kita cari Karel dan Clein dulu untuk makanĀ  bersama."


"Biar Edvin sama Marcel aja yang cari mereka. Bunda, om Rio sama Tante Eliana, tunggu dan duduk aja disini." Ucap Edvin.


"Nah itu bener bunda."


Marcel dan Edvin mulai berpura-pura mencari kakak mereka. Mereka berakting semaksimal mungkin mencari di setiap ruangan selain kamar bi Idah.


Marcel terlihat memasang wajah panik, ia langsung menghampiri orang tuanya kembali setelah puas berkeliling mencari, walaupun itu hanya akal-akalannya saja.


"Duh jangan sampe mereka ribut lagi!" Ucap Rio.


"Astaga! Om, Tante, Mamah!" Teriak Edvin berpura-pura terkejut.


"Itu yang teriak Edvin kan?" Tanya Eliana memastikan.


"Iyah kayaknya. Kenapa yah sama Edvin?" Tambah Marcel untuk menambah kepanikan orang tuanya.


Rio lebih dulu pergi dengan sedikit berlari diikuti Rahma di belakang, kemudian Eliana dan Marcel berjalan bersamaan. Rio berjalan lalu menghampiri Edvin yang mematung di depan kamar bi Idah.


"Ada apa Edvin? Kenapa teriak-teriak?!" Tanya Rio khawatir.


"I-itu!" Edvin menunjuk ke arah kasur dengan telunjuknya. Rio langsung berjalan dan melihat ke arah yang ditunjuk oleh Edvin.


Bola mata Rio hampir saja keluar saat mendapati putri satu-satunya itu tengah tertidur satu ranjang dengan pria lain. Rahma dan Eliana menutup mulut mereka tak percaya. Rio langsung berjalan cepat ke dalam kamar. Ia menatap keduanya dengan perasaan marah.


"Bangun!" Tepuk Rio pada Karel kemudian Clein.


"BANGUN KAREL! BANGUN CLEIN!" Teriak Rio mengguncang tubuh keduanya.


Karel dan Clein mengusap wajah dan mengerjap-ngerjapkan kepala mereka. Baik Clein ataupun Karel, keduanya terlihat hanya memegangi kepala mereka yang masih terasa pusing. Karel perlahan beringsut untuk menyandarkan punggungnya.


"Kalian ini apa-apaan?! Disaat orang lain tengah sibuk dengan urusan mereka, seenaknya sekali tidur seranjang padahal kalian bukan suami istri! Ya Tuhan Clein, Ayah gak habis pikir sama kamu! Ayah tidak pernah mengajarkan hal seperti ini sebelumnya!" Cerocos Rio yang nampak frustasi.

__ADS_1


Clein belum paham dengan ucapan ayahnya. Clein dapat merasakan angin menusuk ke tulangnya. Karel membulatkan matanya dengan sempurna begitupun Clein saat sadar dengan keadaan mereka saat ini.


"Katanya kalian saling benci, katanya kalian ini musuh. Kenapa melakukan hal sehina ini?!" Tanya Rahma.


"Ayah, bunda, Tante ini tidak seperti yang kalian lihat. Kami tidak melakukan apapun dan ini pasti jebakan." Ujar Clein mencoba membela dirinya sendiri.


Karel mengenyahkan keterkejutannya dan mencoba santai dengan masih menyandarkan punggungnya tanpa mengatakan apa-apa. Ia terlihat senang ketika Clein mencoba untuk menjelaskan sebuah kebenaran di tengah kepanikannya.


"Gak seperti yang kami lihat bagaimana?! sedangkan kami semua bisa melihat kondisi kalian seperti ini! Apa lagi yang harus kami percaya? Kami tidak bisa dibodohi oleh pembelaan kamu Clein!" Ujar Eliana.


"Ya Allah. Gimana Clein harus ngejelasin lagi, Clein pasti di jebak sama Karel! Ayah sama bunda kan tau bagaimana Clein! Clein gak mungkin ngelakuin ini."


"Tetap saja ini aib Clein. Ayah tidak bisa percaya dengan ucapan kamu tanpa adanya bukti. Ayah akan nikahkan kalian berdua!"


Seperti mendengar letusan balon tepat di telinganya, jantung Clein rasanya seperti akan copot saat itu juga. Clein mengeratkan pegangan pada bagian selimut dan mencoba memohon pada ayahnya.


"Ayah kenapa ayah gak cari bukti dulu yah? Clein ini benci sama Karel! Clein tidak ingin hidup bersama Karel apalagi sebagai seorang istri! Ikatan pernikahan itu bukanlah ikatan main-main. Clein mohon ayah, jangan nikahkan Clein sama dia!" Mohon Clein menyatukan telapak tangannya di depan dada.


Tiba-tiba ada sekelibat pikiran buruk yang masuk ke otak Karel.


"Sepertinya akan menarik menikah dengan dia. Saya akan lebih banyak bertemu dengannya lalu membalaskan semua penghinaan di masa lalu. Menjadi suami akan sangat mudah mengendalikan seorang wanita yang sudah menjadi istri." Batin Karel diikuti senyuman miring.


"Nikahkan saja saya dengan Clein om. Saya tidak apa-apa. Saya sudah terlanjur melakukannya, apalagi saya tidak memakai pengaman saat melakukan itu. Saya takut jika tidak secepatnya dinikahkan, Clein akan hamil anak saya." Ujar Karel.


Clein menoleh dan menatap Karel tak suka. Entah ada apa dengan pria itu. Clein semakin yakin kalau Karel yang sudah menjebaknya.


"Berhenti berbicara omong kosong! Saya tidak ingin menikah dengan anda! Saya yakin anda tidak melakukannya dan ini hanya akal-akalan anda saja! Jangan memperkeruh keadaan! Dasar brengsek!" Umpat Clein dengan sedikit meninggikan nada bicaranya.


Edvin dan Marcel hanya saling meringis saat mendengar ucapan kasar dari bibir Clein.


"Anda saja dalam keadaan tidak sadar bagaimana mungkin anda tau saya melakukannya atau tidak?" Tanya Karel dengan senyum meremehkan.


"Saya tau! Saya tidak bodoh!" Jawab Clein lantang.


"Sudah! Ayah tidak mau tau Clein. Karel sudah mengaku dan sekarang ayah akan memanggilkan penghulu untuk secepatnya menikahkan kalian! Ini demi nama baik keluarga! Ayah benar-benar kecewa Clein!" Ujar Rio kemudian pergi untuk memanggil penghulu.


"Ayah!" Panggil Clein namun Rio tidak menghiraukan panggilan dari Clein.


"Bunda tolong bunda, Clein tidak mau menikah. Clein tidak berbohong kalau Clein tidak melakukannya dan Karel hanya mencoba untuk menjebak Clein. Dia sengaja membuat rencana ini untuk menghancurkan Clein bunda."


Karel melirik Clein sekilas.


"Menjebak? Saya saja tidak tau siapa yang menjebak saya dengan anda disini! Tapi saya cukup berterima kasih karena dengan begini rencana saya untuk menghancurkan anda itu akan sangat mudah." Batin Karel.


"Bunda gak bisa bantu kamu. Ayah sudah memberikan keputusan dan jika kamu hanya berbicara tanpa memberikan bukti, kami tidak akan mungkin percaya. Karena apa yang kita lihat ini lebih kuat dari omongan kamu, Clein." Ucap Eliana.


"Karel kamu benar-benar yah! Mamah gak habis pikir dengan kejadian ini!" Ujar Rahma menatap Karel dengan tatapan tajam.


"Namanya juga anak muda, kadang khilaf!" Balas Karel santai.


"DIAM KAREL! BERHENTI BERBOHONG!" Tegas Clein dengan nada tinggi.


"Sudah-sudah! Sebaiknya cepat pakai pakaian kalian dan bersiap untuk menikah!" Ujar Eliana.


Clein hanya bisa menundukkan kepalanya dengan perasaan kalut. Ia mengusap wajahnya kasar. Dosa apa yang telah ia perbuat sampai semuanya berakhir seperti itu? Bagaimana lagi Clein harus menolak dan lari dari pernikahannya sedangkan semua orang saja mencoba untuk menulikan telinga mereka dan tidak mau mencari tau lebih jauh soal fakta yang terjadi. Bisakah Clein menerima hidup dengan pria yang paling ia benci di dunia ini?

__ADS_1


...Terima Kasih Sudah Membaca...


Support terus cerita inišŸ’š


__ADS_2