Tap Your Heart

Tap Your Heart
Bagian 50


__ADS_3

Clein berjalan menyusuri jalan raya yang terdapat banyak lalu lalangnya kendaraan. Tatapannya kosong, pikirannya berkelana kesana-kemari. Ia tidak menyangka bahwa Karel akan mengingkari janjinya. Ia mengatakan kalau tidak akan memberitahukan soal pernikahannya asalkan Clein mau menurut. Padahal Clein sudah berusaha mengikuti semua perintah Karel. Tapi hasilnya apa? Karel mengkhianati semua janjinya.


Berkali-kali Clein berusaha untuk menghapus air matanya. Namun berkali-kali tangisannya tidak juga reda. Bukan kehilangan satu teman, kini Clein kehilangan semua temannya. Setiap detik di malam itu, ia hanya bisa merutuki kebodohannya. Bodoh karena tidak mampu lepas dari jeratan Karel sampai dengan mudahnya pria itu memperdaya dirinya.


Saat nama Deva dan James masuk ke dalam pikirannya, tangan Clein mengepal dengan sempurna. Ia harus pergi ke markas geng hitler. Bukan hanya Karel, tapi James juga lah dalang dibalik semua masalahnya. Apalagi teman baiknya, Deva telah dibunuh dengan sengaja oleh pria sialan itu.


Clein diam di tempatnya untuk mencari sebuah tumpangan. Sampai sebuah mobil pick up datang dari arah kanan. Clein mengulurkan tangannya untuk memberhentikan mobil itu, Sampai mobil berhenti.


"Pak saya ikut ke depan sana." Ucap Clein.


"Naik aja neng, naik." Ucap supir. Clein memilih menaiki mobil pick up di belakang. Ia memegang pegangan dengan kuat.


Mobil kemudian kembali melaju. Dalam terpaan angin yang cukup kencang, rambut Clein yang terurai terombang-ambing tak beraturan. Clein tidak memperbaiki rambut itu dan memilih membiarkannya. Ia mencoba memejamkan matanya beberapa saat sebelum mata itu kembali ia buka. Tatapan tajam penuh dendam tersirat jelas dalam kilatan mata itu.


"Pak berhenti!" Teriak Clein di belakang.


Supir itu mengangguk dan menghentikan laju mobilnya. Clein langsung turun dengan meloncat kan tubuhnya.


"Terima kasih pak." Ucap Clein.


"Sama-sama neng." Balas supir itu yang kembali melajukan mobil.


Clein melangkahkan kakinya dengan tegas. Ia masuk pada jalan setapak, jalan lain yang akan lebih dekat menuju markas geng Hitler. Jalan yang tidak bisa dilalui oleh kendaraan apapun termasuk motor. Suara binatang terdengar jelas masuk ke telinga karena keheningan malam. Clein berjalan hanya mengikuti instingnya tanpa dibantu cahaya. Keyakinannya akan membawanya pada sebuah tujuan.


Clein melangkah cepat saat ia berada tepat di depan markas dimana semua anggotanya adalah musuh baginya.


BRAKKK


"JAMES, BANGS*T KELUAR! JAMES!" Teriak Clein.


Kaki Clein menendang meja dan menghancurkan barang-barang yang ada disana. Sampai suara kerusuhan tidak dapat terhindarkan. James yang tengah mengistirahatkan syaraf-syaraf otaknya di kursi kebesaran miliknya, pria itu langsung membuka mata.


"Saya mendengar suara seseorang yang memanggil-manggil nama saya." Gumam James yang dapat di dengar oleh anak buahnya.

__ADS_1


"Iyah, saya juga mendengarnya bos. Sebentar saya lihat dulu." Ucap Pria itu.


James mengangguk dan menunggu di kursi kebesarannya.


Pria yang melangkah untuk melihat keadaan luar, kini sudah kembali lalu menghampiri James.


"Di depan sana ada Clein pemimpin dari komunitas Black Tyrannical. Dia tengah mengamuk bos." Ucapnya.


Seketika James langsung berdiri, ia bergerak cepat untuk menghampiri Clein. James membuka pintu, saat itu Clein langsung menghentikan gerakannya.


Tangan Clein bergerak untuk mencengkram kerah baju yang dipakai oleh James. Ia menatap tajam manik mata pria itu.


"KEMBALIKAN NYAWA DEVA! DASAR BANGSAT!"


Bughhh


Clein mendaratkan satu pukulan di wajah James. Sampai pria itu tersungkur ke belakang. Beberapa anggota geng Hitler langsung mendekat dan memegang kedua tangan Clein ke belakang. Clein terus mencoba memberontak namun kekuatan para pria itu sangatlah kuat. Sampai ia tidak bisa melepaskan tubuhnya dari cengkraman mereka.


James bangkit sembari memegang setengah topeng yang hampir saja lepas. Ia mengusap darah yang mengalir di sudut bibir dengan ibu jarinya. Senyuman menyeringai tercetak disana.


"BANGS*T JAMES! LEBIH BAIK ANDA JUGA MATI DARIPADA HARUS HIDUP! SAYA AKAN MEMBUNUH ANDA!" Teriak Clein yang masih mencoba untuk memberontak.


James kembali tersenyum dan berjalan perlahan menghampiri Clein.


"Singkirkan tangan kalian!" Perintah James pada anggota komunitasnya. Mereka mengangguk lalu bergerak mundur. James berada tepat di depan mata Clein.


Belaian tangan James mengenai rambut Clein. Dengan kasar Clein langsung menyingkirkan sentuhan tangan James.


"JAUHKAN TANGAN ANDA!" Sentak Clein.


James mengangguk lalu mengangkat kedua tangannya seolah-olah ia mengikuti perintah Clein.


"Galak sekali, sudah lama saya menantikan kedatangan anda. Akhirnya wanita yang selalu membayang-bayangi pikiran saya sekarang berada tepat di depan mata saya. Betapa merindukannya saya ini kepada anda." Ucap James.

__ADS_1


"CUIHHH! HENTIKAN OMONG KOSONG YANG MEMUAKKAN!"


James berdecak diikuti tawa sumbang.


"Seandainya anda mau menerima tawaran saya kemarin, mungkin teman anda itu sampai sekarang masih hidup. Saya tidak pernah main-main dengan ancaman saya." Ucap James.


"Cara anda ini sangatlah licik! Kenapa anda tidak serang saya? Kenapa harus teman saya yang anda serang?" Desis Clein.


"Karena saya mencintai anda!" Ucap James.


Deg


Jantung Clein berdetak cepat. Perkataan temannya kemarin benar, ternyata James menaruh hati padanya.


"Mencintai saya?" Ulang Clein.


"Saya mencintai anda! Jadilah kekasih saya, tinggalkan komunitas anda dan gabung bersama dengan geng yang saya buat. Saya akan jamin hidup anda akan bahagia dan sejahtera. Sekarang komunitas anda tengah susah sedangkan komunitas saya berada di puncak kesuksesan. See, saya tengah menawarkan kesenangan kepada anda." Ucap James.


Clein tersenyum miring.


"Saya bukan Reynold yang mampu anda perdaya! Berikan saja penawaran itu pada orang-orang bodoh! Satu yang saya inginkan sekarang, saya hanya ingin anda mati!" Desis Clein.


"Keinginan yang sangat mustahil tercapai. Kedatangan anda kesini hanya buang-buang waktu saja! Pergi dan enyahlah dari hadapan saya." Ujar James membalikkan badannya.


Clein mengepalkan tangannya. Ia mengambil sebuah anak panah yang akan di tusukkan di punggung James, namun dengan cepat para anak buah James bertindak. Mereka berhasil menahan Clein dan membawa wanita itu untuk menjauh dari James.


"Mari kita lihat sampai kapan anda akan bersikap sok jual mahal seperti itu." Gumam James yang sempat menoleh pada Clein kemudian masuk kembali ke dalam Markas.


Ringisan terdengar ketika Clein jatuh tersungkur ke bawah. Anak buah James mendorong kasar tubuh Clein. Clein memegang bokongnya dengan mengusap wajah kasar.


"SIALAN! BANGS*T! JAMES! KEMBALIKAN DEVA! JAMES!" Teriak Clein diikuti tangisan yang amat terdengar sakit.


Suara petir terdengar, rintik-rintik hujan mengguyur bumi. Dari kejauhan James berdiri tepat di depan sebuah jendela yang memperlihatkan Clein yang masih terduduk. Perlahan pakaian yang ia kenakan pun terlihat basah. Clein beringsut untuk bangkit, perasaannya sangatlah kacau. Ia mengerang kesal. Apapun yang ia lakukan pasti akan selalu salah. Nasi sudah menjadi bubur, jika saja ia lebih awal bertindak dan mengesampingkan ketakutan akan Karel yang memberitahukan masalah pernikahannya, mungkin hidupnya tidak akan seperti itu.

__ADS_1


Langkah demi langkah, Clein mencoba untuk meninggalkan markas geng Hitler. Ia rasanya tak mampu berjalan dan hanya bisa menyeret kakinya di bawah guyuran hujan. James menghela nafas panjang kemudian kembali ke tempatnya.


__ADS_2