
"Nyawa harus dibalas dengan nyawa! Kita harus secepatnya membalaskan dendam pada James!" Tatapan Shane lurus ke depan.
Setelah pemakaman Deva selesai, semua anggota komunitas Black Tyrannical sudah kembali ke Markas mereka. Kebencian dan dendam menyatu menjadi satu. Kejadian kali ini, kejadian yang tidak pernah mereka prediksi sebelumnya. Tidak adanya Clein membuat mereka kewalahan untuk menjaga satu sama lain. Hingga akhirnya mereka harus merelakan sahabat dekat mereka di panggil lebih dulu oleh Tuhan.
"Gue setuju sama lo Shane, kita harus serang James sekalian sama kacung-kacungnya sekarang juga! Deva udah pergi, dia gak akan mungkin balik lagi! Arghhh James sialan!" Kenzo menendang kursi dengan amarah yang membuncah. Kehilangan sahabat terdekat tentu saja membuatnya terpuruk.
"Sabar Zo, sabar. Lo harus ikhlas, kasian Deva disana kalau lo gak mengikhlaskan kepergian dia." Ucap Oki berusaha menenangkan Kenzo.
"Kita lakuin penyerangan hari ini, untuk yang menjadi pemimpin kita pilih Shane aja. Clein bukan pemimpin yang baik, sebaiknya kita segera gulingkan dia. Berharap untuk kehadiran Clein, rasanya hanya buang-buang waktu aja." Ujar Arhan.
"Lo ini senengnya mancing-mancing aja! Seneng banget memperkeruh keadaan!" Sentak Oki.
"Apa?! Emang ada yang salah dari ucapan gue?Buka mata lo Oki, buka! Bukan berarti lo temen lama Clein, lo sampai menutup mata soal sifat buruknya dia sebagai pemimpin!" Ucap Arhan meninggikan nada bicaranya.
"Gue kenal Clein lebih baik daripada lo! Gue tau betul karakter Clein seperti apa! Kayaknya ada yang salah sama diri lo! Lo seolah-olah membutakan mata lo soal kebaikan Clein selama ini!" Balas Oki.
"Udah udah! Kita obrolin masalah Clein nanti! Sekarang sebaiknya kita susun strategi aja!" Ucap Son berusaha menengahi.
"Setuju. Kita susun strategi penyerangan dengan fokus utama untuk membunuh James. Jika James tidak sampai kita dapatkan, kita bisa membunuh satu nyawa dari anggota geng mereka." Ujar Shane.
"Jadi gimana penyerangannya?" Tanya Revan.
Shane terdiam dan melihat pada teman-temannya. Ia tengah berpikir matang akan strategi terbaik dalam penyerangan kali ini.
"Setiap malam James selalu pergi ke clubbing. Dia pasti akan membawa beberapa anggotanya untuk ikut berpesta bersama dengannya. Nah sepertinya untuk sekarang kita tidak akan menyerang semua anggota di geng mereka. Kita akan serang James secara pribadi di dalam Clubbing." Jelas Shane.
"Kenapa gak serang langsung aja ke Markas mereka? Mungkin bukan hanya nyawa James aja yang akan kita dapatkan, tapi juga nyawa anggota mereka yang telah membunuh Deva!" Ujar Son.
"Cara itu akan dengan mudah mereka tebak. Kita tidak lagi memakai cara itu karena mereka pasti sudah mengantisipasinya. Apalagi sebelumnya bersama dengan Clein kita pernah menyerang langsung ke Markas mereka. Walaupun hasilnya berhasil, tapi untuk sekarang kemungkinan itu kecil." Jelas Shane.
"Apa semua anggota akan ikut?" Tanya Jeff.
"Tidak! Hanya sekitar lima orang yang akan ikut serta dalam penyerangan kali ini untuk meminimalisir gagalnya rencana kita."
"Siapa aja yang akan diikutsertakan dalam penyerangan kali ini?" Tanya Revan.
"Mungkin Kenzo, Oki, Jeff, Son dan juga saya." Ujar Shane.
"Gue juga mau ikut, kenapa gue gak diajak sih?" Tanya Arhan.
"Butuh pertimbangan untuk mengajak siapa yang akan ikut. Gue pilih mereka berlima karena mereka punya kemampuan dasar bela diri. Lo gak bisa beladiri, Han. Gue takut kalo lo yang ikut nanti itu akan beresiko untuk keselamatan lo!" Jelas Shane.
"Lo meremehkan kemampuan gue, Shane?" Tanya Arhan tak habis pikir.
"Bukan meremehkan, Gue ini cuma mencegah sebelum hal yang gak gue inginkan bener-bener terjadi. Kali ini gue mohon kerja samanya Arhan. Jangan berpikir buruk dulu soal maksud dari gue." Ujar Shane.
"Kalo lo pengen Shane memimpin penyerangan kali ini, seharusnya lo setuju sama strategi Shane dan juga anggota yang dipilih untuk melakukan penyerangan. Shane lebih tau mana orang-orang yang lebih layak untuk melawan mereka." Ujar Andres. Sedari tadi pria itu hanya diam dan kini ia ikut mengeluarkan suara.
__ADS_1
"Untuk setiap strategi pasti ada aja yang pro dan kontra, tapi tetap pemimpin penyerangan adalah seseorang yang wajib kita patuhi." Timpal Oki.
Arhan hanya memutar bola matanya malas dan terdiam.
"Shane, gue mau siapin dulu beberapa senjata selain pistol untuk antisipasi aja." Ucap Kenzo.
"Silahkan Zo." Balas Shane.
"Revan, tolong persiapkan pakaian yang akan di pakai untuk penyamaran nanti."
"Siap Shane."
Kenzo dan Revan bergegas menyiapkan semuanya. Dendam mereka sudah menggebu-gebu. Mereka tidak dapat menundanya lagi. Adanya Clein atau tidak, rencana tetaplah rencana.
*******
"Pakaian itu sangat jelek!" Ujar Karel ketika Clein keluar dari ruang ganti.
"Saya sudah lima kali berganti pakaian, tapi anda selalu saja menyuruh saya untuk memakai pakaian lain!" Gerutu Clein.
"Semua pakaiannya terlalu sopan, Clein. Cari pakaian yang setidaknya memperlihatkan lekuk tubuh anda!" Ujar Karel.
"Untuk apa? Saya tidak mau! Sepertinya anda ini mau menjual saya sebagai ******!" Ucap Clein. Permintaan Karel sangat tidak masuk akal.
Karel hanya berdecak.
"Saya akan bertemu dengan para pemain bola terkenal di club saya. Mereka juga membawa istri-istri mereka, Saya tidak ingin istri saya kalah cantik dengan istri-istri mereka."
Karel menghembuskan nafas kasar lalu berjalan menghampiri seorang pelayan yang tengah berdiri seperti patung disana.
"Apa ada pilihan dress lain yang terlihat sexy?" Tanya Karel pada pelayan itu dan tidak menanggapi ucapan Clein.
"Ada tuan, Sebentar saya ambilkan dulu." Ucap pelayan.
Karel duduk kembali di tempatnya dan melihat Clein yang hanya mematung di depan ruang ganti.
"Selera fashion anda sangat buruk sampai-sampai saya sendiri yang harus turun tangan." Cibir Karel.
"Itu keinginan anda sendiri, saya tidak pernah memintanya." Balas Clein jengah.
Tak berapa lama pelayan itu datang dengan membawa mannequin lengkap beserta dengan dress.
"Hanya ini yang tersisa tuan. Ini dress terbaru yang kita punya dan sepertinya akan cocok dipakai oleh istri anda." Ucap pelayan itu.
Tatapan Clein membulat, pakaian yang direkomendasikan oleh pelayan itu seperti pakaian dinas. Clein langsung menggeleng cepat.
"Apa tidak ada pilihan lain? Tidak! saya tidak mau memakai pakaian seperti itu!" Tolak Clein dengan tegas.
__ADS_1
"Tidak ada nona." Lirihnya menundukkan wajahnya.
"Sudah pakai saja! Saya jamin pakaian itu akan terlihat indah di tubuh anda." Ucap Karel.
"Berhenti membodohi saya! Pakaian itu tidak masuk pada fashion saya. Selain terlalu terbuka, warna merah muda, saya tidak menyukai warna itu, Karel!" Tegas Clein.
"Coba saja pakai, jangan banyak alasan."
Karel mengulurkan tangannya dan saat itu pelayan memberikan dress berwarna merah muda itu pada Karel.
"Cepat pakai, jangan membuat saya terlambat!" Tegas Karel menyerahkan dress itu pada Clein.
"Karel anda ini benar-benar si-"
"Syuttt! Sudah cepat ganti sana!" Perintah Karel memotong ucapan Clein.
Clein menggertakkan giginya. Kemudian ia berbalik dan masuk kembali ke ruang ganti.
"Saya tidak tahan dengan pernikahan ini. Ya Allah beri hamba jalan untuk mengakhiri semua ini." Lirih Clein.
Dress itu menggantung di tangan Clein. Ia mengusap wajahnya kasar. Mimpi buruknya kini menjadi kenyataan dimana ia harus menjadi boneka mainan milik Karel.
Karel mengetuk-ngetukkan jarinya pada sisi kursi. Sesekali ia melirik jam yang berada di pergelangan tangan kirinya.
"Lama sekali, sedang apa dia di dalam sana!" Gumam Karel.
Gorden terbuka, Karel diam terpaku di tempatnya. Betapa indahnya ciptaan Tuhan ia dapat melihat dengan jelas keindahan itu. Karel mencoba untuk menelan salivanya susah payah. Pakaian yang sexy melekat pada tubuh yang sangat sexy menurutnya. Karel tidak menyangka kalau Clein memiliki keindahan tersembunyi.
Melihat tatapan Karel, membuat Clein merasa tidak nyaman. Ia mencoba untuk menutupi bagian dadanya. Dress selutut tanpa lengan itu terlihat pas di tubuh Clein. Karel tak henti-hentinya berdecak kagum.
"Jangan menatap saya seperti itu!" Tegas Clein. Karel langsung tersadar dan langsung memperbaiki ekspresinya.
"Lihat! Pakaian itu sangat cocok pada anda." Puji Karel.
"Lebih baik saya cari pakaian lain saja. Saya tidak nyaman memakai ini. Saya merasa seperti memakai baju tapi telanjang." Ucap Clein yang terus berusaha menutupi bagian tubuhnya yang terekspos.
"Tidak ada waktu untuk memilih pakaian lain. Belum tentu saat anda mencari pakaian pengganti, pakaian itu akan cocok di tubuh anda." Ujar Karel.
Clein berdecak dan memajukan bibirnya. Ia merasa kesal dengan Karel yang terus menerus memaksa dirinya memakai sesuatu yang tidak ia sukai.
"Permisi Tuan Karel." Ucap seorang pria kemayu yang datang dengan dua asisten di belakangnya.
"Akhirnya kau datang juga, cepat dandani dia secantik mungkin. Saya ingin rambutnya di gelung ke atas untuk memperlihatkan leher jenjangnya." Ucap Karel pada pria kemayu itu.
"Baik tuan, saya akan melakukannya sesuai permintaan anda." Balasnya.
"Karel jangan menyiksa saya dalam ketidaknyamanan. Setelah anda memaksa saya memakai pakaian jahanam ini, sekarang anda menyuruhnya untuk menggelung rambut saya. Apa pikiran anda hanya dipenuhi oleh hal-hal mesum?" Cecar Clein.
__ADS_1
Karel tersenyum tipis. Sangat disayangkan jika ia melewatkan keindahan yang mungkin tidak akan ia lihat untuk yang kedua kalinya.
"Tentu saja!" Jawabnya mantap diikuti kedipan mata.