
Di atas balkon kamar, Clein tengah duduk menikmati semilir angin yang berhembus pelan. Setelah Karel memberikan akses padanya, Clein tidak lagi sulit mencari ruang untuk menenangkan diri.
Jarum jam bergerak setiap detik menyapu titik yang ada pada lingkaran yang menempel di dinding kamar. Sedari tadi, Clein tidak melihat ada tanda-tanda kedatangan Karel. Sepertinya pria itu tengah sibuk menyelesaikan pekerjaannya. Sampai adzan dzuhur berkumandang, Clein beranjak dari tempat duduknya dan bergegas untuk melaksanakan kewajibannya.
Clein mengambil wudhu terlebih dahulu, saat itu pintu terbuka. Karel terlihat mencari keberadaan Clein. Namun ia tidak dapat menemukan wanita itu. Suara gemericik air pun terdengar. Dari sana Karel dapat menyimpulkan bahwa Clein tengah berada di kamar mandi.
Karel melepaskan jas nya, mengambil laptop lalu duduk di atas kasur. Ia harus melihat progres pengiriman barangnya berhasil atau tidak. Tak berkisar lama, Clein pun telah selesai mengambil wudhu.
Karel melirik sekilas kemudian kembali fokus pada laptopnya. Clein membentangkan sajadah menghadap kiblat. Sebelum memakai mukena, ia membalikkan tubuhnya untuk melihat Karel yang sepertinya tidak tertarik melihat padanya.
"Maukah anda menjadi imam sholat dzuhur hari ini?" Tanya Clein.
"Uhukkk! Ehemmm..." Tenggorokan Karel tiba-tiba sakit.
"Kenapa? Anda mau minum? Sebentar." Clein bergegas mengambil air minum yang berada disana.
Clein menyerahkan air minum yang berada di dalam gelas pada Clein. Sebelum mengambil air minum, Karel melihat wajah Clein selama beberapa detik. Sepertinya memang kepala Clein benar-benar terbentur. Perlahan Karel mengambil air minum dan meminumnya sedikit.
"Minum yang banyak agar tenggorokannya tidak terasa sakit lagi." Ucap Clein. Nada bicaranya terdengar lembut.
"Sudah." Tolak Karel saat Clein kembali menyodorkan gelas itu.
Clein mengangguk dan menyimpan gelas yang ia pegang ke atas nakas.
"Jadi bagaimana, apa anda bersedia untuk mengimami saya solat dzuhur?" Ulang Clein.
"Sholat?"
"Iyah."
"Dzuhur?"
"Iyah, Karel. Memangnya kenapa?" Tanya Clein mengerutkan keningnya.
Karel hanya diam. Permintaan itu sangat sulit ia kabulkan.
"Apa jangan-jangan anda ini tidak bisa gerakan sholat sampai bacaannya?" Lanjut Clein dengan tatapan menyelidik.
"Bukannya tidak bisa, saya hanya lupa. Sudah lama saya tidak dekat dengan Tuhan. Banyak bacaan Alquran yang sudah hilang dalam memori saya." Jujur Karel.
Clein menarik sudut bibirnya dan berusaha menyunggingkan senyum seteduh mungkin.
"Oh begitu, tidak apa-apa hari ini saya akan sholat sendiri. Nanti saya akan ajarkan anda agar anda kembali mengingat bacaan sholat maupun rukunnya." Ujar Clein.
Clein mengambil mukena lalu memakainya. Ia berdiri di atas sajadah. Sebelum sholat, Clein menoleh pada Karel dan melemparkan seulas senyuman. Sebelum akhirnya ia mulai melaksanakan sholat dzuhur.
Rasa pusing tiba-tiba hinggap di kepala Karel. Mungkinkah Clein takut dengan ancamannya sampai-sampai gadis itu berperilaku baik? Biasanya setiap menit, setiap detik saat mereka disatukan dalam satu tempat, mereka harus berakhir dalam sebuah perdebatan.
Karel terus diam dan melihat gerakan sholat dari Clein, sampai sholatnya berakhir di kedua salam. Clein terlihat mengangkat kedua tangannya lalu menengadahkan kepalanya. Ia mulai memanjatkan doa agar kehidupannya berjalan dengan baik. Saat itu Karel dapat melihat kalau Clein seperti wanita sesungguhnya. Ada aura yang terpancar dari gadis itu yang tidak pernah ia lihat sebelumnya, jantungnya berdetak dengan kencang.
Mukena dan sajadah dilipat lalu di simpan oleh Clein di tempatnya.
__ADS_1
"Ternyata anda ini seseorang yang religius juga. Saya tidak menyangka anda begitu hafal bacaan sholat sampai gerakannya." Ucap Karel.
Clein bergerak maju dan duduk tepat di samping Karel. Saat itu Karel langsung menjauhkan sedikit tubuhnya.
"Sholat itu kewajiban. Walaupun saya ini bisa dikatakan bukan orang baik, tapi namanya kewajiban harus tetap dilaksanakan. Agama saya muslim, masa hanya sekedar untuk sholat saja, tidak saya lakukan." Ujar Clein.
"Saya juga muslim tapi sudah lama saya tidak melaksanakan sholat."
"Sudah berapa lama?" Tanya Clein sedikit penasaran.
"Dari setelah lulus sekolah sampai sekarang."
Clein sedikit terkejut namun dengan cepat ia menyembunyikan keterkejutannya.
"Walaupun saya bukan seseorang yang paham betul tentangĀ hukum-hukum Islam, tapi saya akan mengajarkan anda apa yang saya tau. Dan kita bisa belajar bersama-sama nanti. Banyak kajian di mesjid-mesjid juga, nanti kita bisa hadir disana." Ujar Clein.
Karel mengerjap-ngerjapkan matanya selama beberapa detik. Wah, sulit untuk percaya dengan sikap yang Clein perlihatkan sekarang. Sampai dering telepon menyadarkan lamunan Karel.
Hallo
^^^Hallo tuan makan siangnya ^^^
^^^sudah datang. Saya sudah ^^^
^^^menaruhnya di atas meja^^^
Baik, terima kasih Frey
Setelah itu telepon dimatikan. Karel melihat kembali pada Clein.
Karel menaruh laptopnya.
"Beli makanan apa?"
"Yang pastinya bukan sup batu atau telor ceplok gosong." Balas Karel lalu pergi lebih dulu.
Clein memejamkan kedua matanya.
"Dih, saya sudah bersikap baik masih saja mancing-mancing amarah! Dasar sialan!" Gumam Clein menghentakkan kakinya kemudian pergi menyusul Karel di belakang.
Saat sudah berada di meja makan, Clein dapat melihat banyak sekali makanan yang tersedia disana. Dari mulai nasi, sup, sayur, tahu, tempe, ayam, sate, sampai pada ikan yang di masak berbagai masakan pun tersedia. Entah mau syukuran atau apa, tapi makanan sebanyak itu untuk berdua rasanya terlalu berlebihan.
"Banyak sekali! Anda yakin makanan sebanyak ini akan anda habiskan?" Tanya Clein. Ia menarik kursi dan duduk tepat dihadapan Karel.
"Tidak! Mungkin anda yang akan menghabiskan semuanya."
Clein membulatkan matanya.
"Hah?! Mana bisa! Saya masih seorang manusia bukan hulk!" Kesal Clein.
"Ya harus bisa. Saya sudah memesan makanan sebanyak ini, masa tidak anda habiskan. Itu sama saja anda tidak menghargai saya." Ucap Karel. Sengaja Karel memesan makanan sebanyak itu karena ingin menjahili Clein.
__ADS_1
Clein tidak akan mengatakan apa-apa selain manut saja akan apa yang Karel inginkan. Ia tidak ingin Karel tau tentang rencananya.
"Cepat makan lalu habiskan!" Ujar Karel.
Belum mencoba sesuap makanan, Clein sudah merasa sangat kenyang. Dengan perasaan enggan Clein mengambil piring dan memasukkan nasi dan satu persatu lauk-pauknya. Clein melihat Karel dengan wajah memelas.
"Anda yakin saya harus menghabiskan semua ini?" Tanya Clein.
"Tentu saja." Balas Karel.
Clein mengigit bibir bawahnya, kemudian mulai memakan makanannya. Karel yang juga tengah menyantap makanannya, sesekali melihat Clein.
Setengah piring sudah Clein habiskan, perutnya sudah tidak memiliki ruang lagi untuk makanan-makanan itu. Sedikit ada perasaan iba ketika melihat wajah Clein yang berubah pucat pasi. Sepertinya gadis itu merasa mual karena kekenyangan.
"Jangan dipaksakan kalau memang anda tidak sanggup untuk menghabiskan semua makanan." Ujar Karel setelah mengelap bibirnya dengan serbet yang tersedia di atas meja.
"Saya harus tetap menghabiskan semuanya karena semua ini perintah dari suami saya." Lirih Clein menyuap kembali makanan.
Karel menatap Clein sembari melipat tangannya. Clein sepertinya sudah mengalah dan menerima pernikahan ini.
"Yang menyuruh Anda berhenti juga saya, suami anda." Ucap Karel. Clein melihat pada pria yang senantiasa menatap padanya.
Clein mengangguk perlahan, ia sangat bersyukur karena Karel merasa kasihan padanya. Setidaknya perut Clein akan baik-baik saja. Makanan yang masuk ke perutnya pun tidak akan melewati kapasitas yang berlebihan.
Setelah minum dua gelas air putih, Clein pun bangkit dan akan membereskan semuanya. Ia terpaksa harus mau melakukan pekerjaan rumah agar misinya berhasil.
"Mau apa?" Tanya Karel membuat tangan Clein terhenti.
"Saya akan mengambil piring kotor lalu mencucinya." Balas Clein.
"Tidak perlu. Saya memiliki pelayan, tugas itu bukan tugas anda." Ucap Karel.
"Pelayan? Dimana? Saya tidak pernah melihatnya." Tanya Clein bingung. Matanya menerawang mencari keberadaan pelayan yang Karel maksud.
"Memang di waktu-waktu tertentu saja dia datang dan tidak semua pekerjaan rumah ia kerjakan. Tugasnya hanya mencuci baju, mencuci piring dan merapikan mansion. Nanti kalau dia sudah datang, saya akan kenalkan pada anda." Jelas Karel.
"Kalau memasak?"
"Dulu dia pernah memasak, tapi makanan yang dia buat tidak cocok di lidah saya. Jadi biasanya mamah yang masak atau saya yang beli di luar." Balas Karel.
Clein mengangguk mengerti. Karel punya banyak uang, mungkin tak hanya satu pelayan yang ia punya. Saat di stadion saja, bawahannya terlihat cukup banyak. Bisnisnya banyak dan lebih sukses daripada bisnis yang komunitasnya miliki.
"Saya juga tidak bisa masak, tapi kenapa anda terus-menerus menyuruh saya belajar masak?" Tanya Clein penasaran.
"Saya tidak mendapatkan hak saya sebagai suami, tapi setidaknya anda bisa memasak makanan untuk saya. Paling sedikit anda memiliki manfaat sebagai seorang istri." Ucap Karel dingin.
Clein memajukan bibirnya kesal. Pernikahannya saja dibuat terpaksa, wajar saja kalau Clein tidak memberi hak pada Karel. Tidak ada rasa cinta yang Clein miliki untuk pria yang masih ia benci.
"Sebaiknya sekarang anda kembali ke kamar lalu tidur siang. Sore nanti akan ada seorang chef yang akan mengajari anda memasak." Ujar Karel.
"Baik suami, apapun yang anda inginkan akan saya lakukan." Balas Clein tanpa menyela. Senyuman yang terukir pun berusaha ia paksakan.
__ADS_1
Clein bergegas pergi ke kamarnya. Karel melihat punggung itu kemudian beralih melihat pada bekas piring yang tidak Clein habiskan.
"Jika dia nyaman dengan posisinya sebagai istri saya, dia tidak akan mungkin menderita. Untuk menghancurkan hatinya pasti akan sangat sulit. It's okay, setidaknya dengan pernikahan ini saya bisa memerintah dia sesuka hati, seperti apa yang dia lakukan tujuh tahun lalu." Batin Karel diikuti senyum menyeringai.