Tap Your Heart

Tap Your Heart
Bagian 22


__ADS_3

Clein baru saja tiba di rumahnya, perdebatan dengan Karel cukup menguras emosi dan tenaganya. Clein masuk ke rumahnya dan ia tidak mendapati Eliana disana.


"Clein sini nak! Bunda ada di Taman belakang!" Teriak Eliana yang ternyata sudah mengetahui kedatangan Clein.


Tanpa membalas teriakan Bundanya, Clein pun bergegas pergi ke Taman belakang. Clein terkejut saat di Taman belakang rumahnya sudah diubah dengan sedemikian rupa. Dekorasi bunga dan balon terlihat lebih mendominasi hiasan disana. Tidak lupa juga dengan lampu tumblr warna warm white yang akan menambah kesan elegan.


"Akhirnya kamu datang juga, sini bantu Bunda pasangin bunga ini!"


"Untuk apa? Memangnya mau ada acara apa?" Tanya Clein.


"Ini acara syukuran buat adik kamu Marcel dan temannya Edvin. Mereka kan udah dapat penghargaan." Jelas Eliana.


"Penghargaan? Mereka menang bunda?" Tanya Clein.


"Iyah. Memangnya kamu gak tau? Padahal kamu kemarin datang ke acara penghargaan itu." Ujar Eliana.


"Oh itu, Clein-" Clein menggantungkan ucapannya.


"Ini di pasang dimana bunda?" Lanjut Clein yang berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Pasang di meja tengah!" Jawab Eliana. Clein mengangguk dan langsung pergi ke meja yang ditunjuk oleh Eliana. Ia bergerak cepat karena tidak ingin jika Eliana meminta jawaban atas pertanyaannya.


Clein rasanya enggan untuk mengatakan hal sebenarnya. Clein tidak tau mengenai adiknya yang menang nominasi penghargaan. Setelah Karel berusaha untuk menyanderanya lalu gagal, setelah itu Clein kembali ke markas untuk menyelesaikan urusannya. Clein memang cukup lama berada di Markas Black Tyrannical, Sampai ia harus mengabari Eliana lewat chat. Setelah itu Clein di telepon dan di perintah untuk membantu Eliana di rumah. Clein benar-benar baru tahu soal adiknya dan juga Edvin yang memenangkan penghargaan football internasional awards semalam.


Setelah memasang bunga di meja tengah, Clein pun kembali menghampiri Eliana.


"Setelah ini apalagi Bunda?"


"Bantu Bunda buat masak." Ucap Eliana.


"Masak?" Tanya Clein memastikan.


"Iyah emang kenapa? Kamu kan bisa masak kenapa harus kaget?"


"Clein sudah lama gak pernah ke dapur dan terakhir ke dapur pas SMP. Kayaknya Clein bakalan tremor buat pegang alat-alat masak, Bunda."


Eliana hanya menggelengkan kepalanya.


"Makanya biar gak tremor lagi, kamu bantu Bunda. Bunda yang akan kasih tau resepnya dan siapin bahan-bahannya. Nah tugas kamu ikutin resep bunda lalu masak deh bahan yang sudah bunda siapin." Jelas Eliana.


Clein menelan salivanya susah payah.


"Gak usah takut. Aman kok sayang, ayo!" Ucap Eliana menarik paksa lengan Clein.


Clein hanya bisa pasrah dan mau tidak mau ia pun harus membantu Eliana untuk memasak.


Di dapur, Clein hanya diam mematung. Ia tidak tau harus memulainya darimana.


"Mau masak apa aja ini?" Tanya Clein menggantung sebuah ayam di tangannya.


"Masak nasi tumpeng." Jawab Eliana.


"Hah? Tumpeng?! Bunda gak salah?!" Tanya Clein lagi.


"Enggak! Emangnya kenapa?"


"Bunda kalau buat nasi tumpeng kan banyak lauk pauknya." Ucap Clein.

__ADS_1


"Ya emangnya kenapa? Tenang aja Clein. Bunda kan tadi bilang gak usah khawatir. Udah cepet masukin bahan-bahan ini dulu!" Ucap Eliana menyerahkan beberapa bahan pada Clein.


Dengan hati-hati dan sedikit ragu, Clein pun memasukkan bahan-bahan yang di berikan oleh bundanya. Ia tidak bisa lagi menolak ataupun menyela. Sementara ini Eliana akan menjadi bos untuk Clein.


"Lama banget! cepet dong masukin semua bahannya, nak! Gimana nanti kalau punya suami?!" Ucap Eliana sedikit gemas dan dengan cepat memasukkan bahan masakan ke dalam wadah.


"Apa sih bunda! malah nyambung ke suami."


"Ya bener kan? Emangnya kamu gak mau nikah?" Tanya Eliana.


"Clein belum mikir kesitu, banyak rencana yang lagi Clein rencanakan dan itu belum terwujud."


"Kalau nungguin itu keburu kiamat Clein." Ucap Eliana.


"Jangan ngomong gitu dong Bunda."


"Lagian kamu ini ada-ada saja." Balas Eliana.


Clein hanya mengangkat bahunya tak acuh. Soal suami di pikiran gadis itu masih terlalu jauh. Ia belum siap dalam segala hal apalagi soal harus meninggalkan komunitasnya demi mengurus suami dan memiliki anak. Terlalu berpikir ke arah sana bisa saja membuat Clein gila. Suami lalu anak Clein bergidik ngeri saat memikirkan hal itu.


"Ngomong-ngomong koper sama pakaian kamu dimana? Udah dimasukin ke kamar belum?"


"Eummm itu, itu ada di Markas bunda. Nanti deh Clein ambil, Clein lupa." Ucap Clein bohong. Eliana hanya mengangguk saja sebagai tanda mengerti.


Sebenarnya koper Clein masih berada pada Karel. Clein lupa soal kopernya. Ia buru-buru untuk pergi saat percobaan penyanderaan akan Karel lakukan. Dan entah, Clein juga tidak mengetahui secara pasti dimana letak kopernya itu.


******


Marcel dan Edvin sudah berada di Indonesia. Perjalanan jauh cukup membuat tubuh mereka terasa pegal. Marcel tengah berada di rumah Edvin. Mereka tengah serius membahas rencana mereka.


"Enggak lah! Lanjut aja. Kita bisa mundurin ke jam sepuluh malam. Chat tante Eliana dan bilang kita bakalan ke rumah kamu jam sepuluh. Nanti kita berangkat bareng sama mamah sama Abang Karel juga."


"Kamu udah bilang sama Abang kamu?" Tanya Marcel.


"Udah tadi di chat, katanya oke." Jawab Edvin.


"Tumben?"


"Ya gak tumben. Sebetulnya Abang Karel itu kalau diajak datang ke acara yang berhubungan sama aku gak susah. Dia orang yang gak peduli kalau di tempat itu ada musuh atau rivalnya. Kalau sama aku dia itu cuek-cuek tapi peduli. Kayaknya sekarang dia gak terlalu masalah juga buat ketemu kak Clein." Ujar Edvin.


"Kalau kak Clein sih orangnya berkebalikan dari Abang Karel. Kak Clein kayaknya masih gak pengen banget buat ketemu Abang kamu. Dia itu keliatan benci, benci, benci banget!" Ujar Marcel.


"Makanya kita buat kebencian mereka berubah menjadi cinta. Nah cara malam ini nih harus berhasil." Ucap Edvin.


"Oke, oke! Kalau cara malam ini gagal, Aku gak mau ikutin cara dari kamu lagi." Ujar Marcel.


"Ngomong gagal-gagal mulu! Kata aku apa, makanya kerja sama kita harus solid. Jangan berharap dari salah satu pihak aja supaya rencana ini berjalan dengan baik." Ucap Edvin.


"Hmmm iyah, aku juga ini mau nyoba ikutin arahan kamu. Jadi mau berangkat ke rumah aku kapan nih?" Tanya Marcel.


"Sekarang aja, udah mau jam 10 malem juga." Ucap Edvin.


"Yaudah cepet panggil Tante Rahma sama Abang kamu. Kita kan mau berangkat bareng."


"Tenang Cel tenang menggebu-gebu amat." Goda Edvin.


"Yaiyalah, rencana kali ini itu taruhan antara hidup dan mati!" Balas Marcel.

__ADS_1


Edvin hanya menggelengkan kepalanya sembari terkekeh pelan, kemudian setelahnya ia bergegas menghampiri Karel dan Rahma.


"Mah! Bang!" Teriak Edvin.


Rahma bergegas menghampiri anaknya.


"Apa sayang?" Tanya Rahma.


"Udah siap belum buat ke rumah Marcel?"


"Udah nih."


"Abang mana?" Tanya Edvin yang tidak melihat keberadaan Karel.


"Apa?"


Karel tiba-tiba datang dari kamarnya sembari mengancingkan lengan kemejanya.


"Hehe... Abang udah siap?"


"Udah."


"Oke! Bentar aku panggil Marcel dulu." Ucap Edvin.


Edvin bergegas pergi ke kamarnya untuk memanggil Marcel. Clein berbalik dan berniat untuk melangkahkan kakinya.


"Karel mau kemana?" Tanya Rahma.


"Mau siapin mobil, mah. Kenapa?"


"Bawain paperbag ini!" Perintah  Rahma.


"Apa ini?"


"Hadiah buat Clein."


"Gak mau! Karel gak mau bawa! Mamah aja bawa sendiri! Lagian ngapain sih bawa-bawa hadiah buat cewek sialan itu!" Ujar Karel.


"Karel jaga bicara kamu! Udah jangan banyak ngebantah!"


Rahma menyerahkan paperbag itu secara paksa. Dengan rasa malas Karel pun mengambilnya. Ia mengambil dan membawa paperbag itu dengan telunjuknya saja.


"Jijik banget pegang barang-barang punya dia!" Gerutu Karel.


"Karel! Itu mamah yang beli, ngapain jijik-jijik?! Pegang yang bener!" Sentak Rahma.


Karel hanya memutar bola matanya malas kemudian meremas paperbag itu dengan kasar.


"Siap mah." Jawab Karel malas.


Tak menunggu waktu lagi Karel langsung pergi untuk menyiapkan mobilnya. Karel sangat kesal ketika Rahma selalu saja membela Clein dalam momen apapun. Jelas-jelas wanita itu bukan wanita yang Karel senangi, tapi sepertinya Rahma tidak memperdulikan itu.


...******...


...Terima Kasih Sudah Membaca 💚...


Silahkan beri komentar dan like nya yah💚💚

__ADS_1


__ADS_2