Tap Your Heart

Tap Your Heart
Bagian 44


__ADS_3

Elandra sudah berpamitan untuk pulang ke rumahnya. Clein sempat menawarkan agar Elandra makan terlebih dulu sebelum pulang. namun pria itu menolak dan memilih kembali.


Clein melihat Karel dengan berkacak pinggang. Ia meringis pelan saat melihat luka itu. Dalam hembusan nafas kasar, Clein mengambil kotak P3K dan juga gunting. Sore tadi Karel yang mengobati luka Clein, namun kali ini sebaliknya. Clein harus mengobati luka yang tergores di dada suaminya.


Mata Karel masih terpejam. Pria itu belum juga sadar. Clein langsung duduk di samping tubuh suaminya. Perlahan ia mulai menggunting kemeja Karel. Clein memejamkan matanya sebentar saat melihat tubuh bagian atas Karel yang sudah telanjang. Tubuh Karel sangat atletis membuat Clein harus menelan salivanya susah payah.


"Tahan-tahan... Huh jiwa wanita normal saya sekarang meronta-ronta." Seru Clein. Kalimat itu begitu saja keluar dari bibirnya.


"Astagfirullah! Tidak, tidak! Ingat Clein siapa manusia di depanmu ini. Dia ini manusia bertopeng iblis." Gumam Clein lagi menepis pikiran kotornya.


Saat Clein tengah berkecamuk dalam pikirannya, Karel terlihat mengerjap-ngerjapkan matanya pelan. Kepalanya masih terasa sedikit pening dan nyeri pada leher belakangnya sangat terasa.


Samar-samar Karel dapat melihat bayangan Clein yang tengah diam sambil berbicara sendiri. Karel melihat robekan kemeja yang telah lepas dari tubuhnya. Perlahan Karel beringsut untuk menyandarkan punggungnya.


Clein yang menyadari kalau Karel telah sadar, ia pun langsung melihat pria itu dan mencoba untuk membantunya. Setelah menyandarkan punggungnya, Karel nampak diam tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.


Clein mulai mengambil alkohol dan juga kapas di kotak itu untuk membersihkan luka Karel.


"Saya akan mengobati luka anda. Mungkin rasanya akan sedikit perih jadi tolong ditahan!" Ucap Clein.


Karel kembali diam tak menjawab.


Clein mencoba mengoleskan kapas berisi alkohol itu pada luka Karel.


"Ssssst, ini sangat perih bukan sedikit!" Desis Karel memegang tangan Clein.


"Tahan sedikit, saya akan mengobatinya pelan-pelan." Ucap Clein.


Karel melihat wajah Clein, seperti terhipnotis entah rasanya Karel seperti percaya saja. Karel melepaskan tangannya dan mempersilahkan Clein untuk mengobati lukanya lagi.


Saat kapas itu kembali di oleskan, mata Karel langsung terpejam dengan terlihat kerutan di dahinya. Clein meniup-niup luka itu agar rasa sakitnya sedikit berkurang. Karel langsung membuka matanya tatapannya fokus pada wajah Clein. Sangat cantik, dua kata itu yang tiba-tiba muncul dalam hatinya.


"Apakah rasanya lebih baik?" Tanya Clein. Karel mengangguk.


Setelah mengoleskan alkohol, Clein pun mulai memberikan salep antibiotik kemudian membalut luka itu dengan perban.


"Sudah, selesai." Ucap Clein menaruh kembali obat-obatan di dalam kotak.


Karel melihat lukanya yang sudah tertutup rapi kemudian melihat pada Clein. Gadis itu begitu cekatan dalam mengobati lukanya.


"Anda sengaja menunggu saya atau kedatangan saya sudah mengganggu tidur anda?" Tanya Karel tiba-tiba.


Clein melirik Karel sekilas kemudian menaruh kotak P3K itu di atas nakas.


"Saya sengaja menunggu anda." Balas Clein lalu duduk kembali di atas ranjang.


Karel tersenyum tipis.


"Sudah saya katakan jika mau tidur, tidur lah lebih dulu, jangan menunggu saya." Ucap Karel.


Clein mendelikkan matanya.


"Anda jangan kepedean dulu. Sebenarnya saya menunggu anda itu karena saya telah memasak beberapa makanan hasil belajar tadi. Saya ingin tau penilaian anda dari makanan hasil tangan saya." Jelas Clein.

__ADS_1


"Benarkah? Dimana makanannya?" Tanya Karel melihat seisi kamar yang tidak terdapat makanan.


"Ada di bawah. Tapi sebelum anda makan, saya ingin bertanya dulu, sebenarnya apa yang terjadi sampai anda terluka seperti ini?" Tanya Clein.


Karel terdiam sebentar. Haruskah ia mengatakan kejadian sebenarnya? Tapi bagaimana jika Clein khawatir dengan kondisi teman-temannya.


"Karel jawab dong, jangan diem aja!" Lanjut Clein membuyarkan lamunan Karel.


"Tadi saya berpesta di dalam clubbing untuk merayakan kemenangan penghargaan beberapa aktor dan juga aktris, tapi saat itu terjadi perkelahian di dalam clubbing. Saya terluka karena saya mencoba untuk membantu seseorang." Jelas Karel.


"Seseorang? Apa seseorang itu orang yang anda kenal? Kalau orang asing rasanya anda tidak mungkin mau bersikap sebaik ini." Ujar Clein.


"Anda pikir saya ini sejahat apa?" Tanya Karel menyipitkan matanya.


"Sangat jahat. Anda ini bisa dikatakan spesies tidak punya hati. Jadi, mana mungkin anda mau mempertaruhkan nyawa anda untuk orang lain." Ucap Clein.


"Kalau anda tau orang yang saya selamatkan itu teman anda, mungkin anda akan memuja saya." Batin Karel.


"Sebelum menilai saya, sebaiknya anda kenali saya lebih jauh. Saya masih manusia biasa yang memiliki hati walaupun kadang saya tidak memakai hati saya. Tapi saya bisa menggunakan hati saya di waktu-waktu tertentu, contohnya sekarang." Ujar Karel.


"Halah mana ada seperti itu." Cibir Clein.


"Saya tidak memaksa agar anda percaya, yang paling penting saya sudah mengatakan yang sejujurnya." Ujar Karel.


"Tapi saya penasaran kenapa anda mau mengobati saya, Padahal kan anda ini sangat membenci saya?" Tanya Karel.


"Tidak ada alasan yang harus saya berikan. Saya hanya mengikuti naluri saya." Jawab Clein.


"Ssshhh melihat lukanya saya cukup merinding. Sepertinya perkelahian yang cukup hebat yang terjadi di dalam clubbing." Gumam Clein.


Hati Karel langsung berdesir ketika sentuhan lembut menyentuh kulit dadanya. Karel mencoba untuk menahan hasrat agar ia tidak berbuat lancang. Pernikahan antara ia dan Clein dibuat tidak berdasarkan cinta. Image Karel yang akan dipertaruhkan saat ia tidak dapat menahan gairahnya.


"Mau makan sekarang?" Tanya Clein membuyarkan lamunan Karel.


Karel menatap lembut wajah Clein.


"Boleh." Saat kaki Karel turun dari atas ranjang, lantas Clein langsung menahan pergelangan tangan Karel.


"Biar saya saja yang ambilkan. Anda bisa tunggu disini." Ucap Clein.


Karel mengangguk lalu menaikkan kembali kakinya ke atas ranjang. Wanita yang sangat ia benci kini bersikap seperti layaknya seorang istri.


Clein bergegas turun ke bawah. Di dapur ada Frey yang tengah membuat segelas kopi.


"Hai Frey!"


"Hallo nona."


"Sudah makan?" Tanya Clein yang mengambil piring lalu memasukkan nasi beserta pelengkapnya.


"Belum nona." Jujur Frey.


"Kebetulan sekali! Tadi saya belajar masak dan ini semua makanan hasil belajar saya bersama dengan Chef. Anda bisa memakannya dan nanti beri penilaian untuk saya." Ujar Clein.

__ADS_1


Frey melihat semua makanan.


"Terima kasih sebelumnya atas perhatian anda, nona, tapi saya tidak bisa menerima tawaran nona." Lirih Frey.


"Kenapa?" Tanya Clein.


"Saya takut tuan Karel marah." Cicitnya.


"Owalah, tenang saja. Kalau Karel memarahi anda, saya yang akan pasang badan untuk anda."


"Ta-tapi nona-"


"Tidak ada tapi-tapian, kalau anda tidak memakannya saya yang akan tersinggung." Ujar Clein.


"Baik nona nanti saya akan memakannya." Lirih Frey.


Clein memberikan jempol pada Frey kemudian ia kembali ke kamar dengan membawa sepiring makanan.


Di dalam kamar, Karel tengah memejamkan matanya sebentar. Ketika suara langkah kaki terdengar, Karel pun kembali membuka matanya. Ia membenarkan posisi duduknya.


"Makan sendiri bisa kan?" Tanya Clein. Ia duduk di samping Karel.


Karel menggelengkan kepalanya.


"Tangan saya tidak kuat untuk mengangkat sendok, rasanya lemas. Sepertinya saya perlu untuk anda suapi." Ucap Karel menggerak-gerakkan tangannya seperti anak kecil.


"Ckkk, manja!" Ketus Clein. Tangan Clein terangkat untuk menyuapkan sendok berisi makanan ke mulut Karel. Namun Karel terlihat hanya merapatkan bibirnya.


"Buka dong mulutnya! Mau makan atau tidak sih Karel!" Geram Clein.


"Saya butuh kelembutan Clein. Anda ini menyuruh saya makan seperti menyuruh penjahat makan saja!" Ketus Karel.


Clein memejamkan matanya sebentar.


"Tuan Karel yang baik hati tolong buka mulut anda." Ujar Clein memaksakan senyumnya.


Akan tetapi Karel masih belum juga mau membuka mulutnya.


"Pakai sayang dong. Biar kesannya romantis gitu." Goda Karel mengedipkan sebelah matanya.


"Dih no!" Tolak Clein dengan tegas.


"Yasudah saya tidak akan mau makan." Balas Karel mencebikkan bibirnya.


"Baik, baik. Sayangku, cintaku, my honey yuk makan dulu yuk. Kalau tidak mau makan, nanti piring ini bisa saja saya lempar ke wajah anda." Ucap Clein lembut menekankan setiap kata-kata terakhirnya.


Karel menahan tawanya lalu ia langsung membuka mulutnya. Karel mengunyah makanan itu dengan lahap.


"Gimana enak?" Tanya Clein antusias.


"Lumayan." Balas Karel yang kembali lahap menyuap makanan dari tangan Clein.


Clein tersenyum kecil. Setidaknya Karel tidak mengatakan buruk soal hasil masakannya.

__ADS_1


__ADS_2