
Pesawat sudah mendarat di Bandara Soekarno Hatta. Karel beranjak dari kursi penumpang, ia menoleh untuk melihat gadis yang selama perjalanan tengah berkelana ke alam mimpi. Karel melihat ke arah belakang, orang-orang sudah mengantri untuk turun dari pesawat.
"Bangunlah!" Lirih Karel sembari menyenggol kaki Clein dengan kakinya.
Clein mengerjap-ngerjapkan matanya perlahan. Tanpa sepatah kata pun ia beranjak dari tempat duduk lalu pergi meninggalkan Karel lebih dulu. Karel berdecak.
"Dasar gadis sialan!" Umpat Karel.
Karel berjalan menyusul Clein di belakang. Pria itu berjalan sembari sesekali menoleh ke belakang untuk mencari keberadaan teman-teman Clein, namun ia tidak melihat satupun teman Clein. Sepertinya mereka masih mengantri untuk turun dari pesawat karena tempat duduk mereka berada di bagian belakang.
Karel tersenyum miring, rasanya sekarang kesempatan yang tepat untuk memberikan pelajaran pada gadis itu. Ia yakin kali ini akan berhasil. Clein tidak akan bisa mengejeknya lagi, ejekan yang selalu mengungkit bagaimana Karel gagal untuk melakukan pembalasan. Ia menoleh ke samping kanan dan kiri.
Bughhh
Saat itu Karel langsung memukul tengkuk Clein sampai wanita itu tak sadarkan diri. Karel langsung menangkap dan membopong tubuh gadis itu. Ia meninggalkan kopernya dan langsung membopong tubuh Clein untuk bergegas menaiki taksi.
"Clein! Clein! Sadarlah! Ya Tuhan Saya akan bawa kamu ke rumah sakit!" Monolog Karel berpura-pura panik. Ia mencoba berakting sebaik mungkin agar orang lain tidak merasa curiga padanya.
Aktingnya berhasil, Karel dapat dengan mudah membawa tubuh Clein sampai di dalam taksi.
"Jl.Raflesia nomor 06." Ucap Karel pada sopir taksi.
"Baik pak."
Mobil taksi pun melaju mengikuti alamat yang Karel beritahukan.
Karel merogoh ponsel di saku celana dengan sebelah tangannya. Tangan yang lain ia gunakan untuk menahan tubuh Clein. Karel mencari nama seseorang di kontak ponselnya kemudian ia menekan nomor dengan nama yang tertera.
Ambil dua koper yang saya
tinggalkan di Bandara.
Kemudian bawa koper itu ke Mension.
^^^Baik Tuan^^^
Karel mematikan telepon secara sepihak.
"Selama satu hari anda akan menjadi tawanan saya! Lihat saja apa yang akan saya lakukan pada anda!" Batin Karel sembari diikuti seringaian dibibirnya.
Mobil berhenti di depan gerbang Mansion. Ia pun segera turun dengan menggendong tubuh Clein. Karel mengambil dompet di saku celananya sembari menyangga tubuh Clein. Ia mengambil beberapa lembar uang seratus ribu lalu menyerahkannya pada sopir taksi.
Karel langsung masuk ke dalam mansion. Ia membawa Clein ke kamarnya. Karel harus berhati-hati ia takut jika mamahnya dan Edvin tahu kalau dia tengah menyandera Clein.
"Karel! Kamu sudah pulang nak?" Karel terkejut saat mendengar panggilan dari Rahma. Ia bergegas menidurkan Clein di atas ranjangnya. Kemudian keluar dari kamar dengan terburu-buru sebelum mamahnya itu masuk ke kamarnya.
"Ada apa mah?" Karel langsung menutup pintu dan menghadap Rahma.
"Kamu pulang cepat sekali? Mamah kira setelah menghadiri acara penghargaan adekmu, kamu liburan terlebih dulu disana."
__ADS_1
"Karel gak ada waktu buat liburan mah. Kerjaan Karel masih numpuk."
"Waktu yang kamu habiskan selama perjalanan pasti gak sebentar. Kamu juga pasti belum sarapan. Mau mamah buatkan sarapan apa?"
"Terserah mamah."
"Yasudah mamah buatkan kamu sarapan dulu. Sambil menunggu, sebaiknya kamu istirahat dulu. Nanti biar mamah antar makanannya ke kamar kamu."
"Ehhh euuu gak usah mah. Mamah taro aja makanannya di atas meja nanti Karel sendiri yang ambil. Gak usah di anter ke kamar."
Rahma memicingkan matanya, ada yang aneh dari gelagat anaknya itu.
"Emang kenapa? Apa kamu nyembunyiin sesuatu dari mamah? Atau kamu bawa wanita ke kamar kamu, Karel?"
Rahma terlihat penasaran dan akan membuka pintu kamar Karel dengan cepat pria itu menahannya.
"Enggak! Mana ada Karel bawa cewek ke kamar. Gak mungkin!" Ucap Karel tersenyum miris. Padahal tanpa sepengetahuan mamahnya, Karel sering tidur satu ranjang dengan Alita dan melakukan hal yang iya-iya.
"Udah mah, katanya tadi Karel di suruh istirahat. Karel istirahat dulu yah? Capek." Lanjut Karel mencoba berakting.
"Yasudah." Ucap Rahma akhirnya.
Karel langsung masuk kembali ke dalam kamar dan dapat bernafas lega saat mamahnya tidak mencoba mencari tahu lebih jauh. Ia langsung mengunci pintu.
"Ckkk terlalu banyak mengotori tangan anda sendiri! Untuk apa anda membawa saya kesini?" Clein sudah terbangun sembari memijit tengkuknya yang kembali sakit akibat ulah pria itu.
Karel membulatkan matanya. Ia lupa mengikat Clein. Ia lupa melakukan itu, jika sudah seperti ini apalagi yang bisa ia perbuat.
"Kata siapa tidak akan berhasil? Anda sudah berada di kamar saya. Dan rencana saya kali ini tidak mungkin gagal." Karel bergegas menghampiri Clein dan mencengkeram kedua tangan gadis itu.
Clein mencoba pasrah sebelum akhirnya ia menendang area sensitif Karel dan memukul dada pria itu. Clein melihat pria itu dengan melipat tangannya di depan dada.
"Belajarlah beladiri dan jangan hanya mengandalkan kekuatan uang! Jika ingin sejajar dengan saya, belajarlah banyak hal dan jangan hanya belajar tentang bercinta saja!"
Karel hanya bisa meringis dan tak bisa membalas. Clein menggeleng pelan kemudian pergi dari sana lewat jendela kamar Karel. Karel hanya bisa diam menatap kepergian Clein.
"Terlalu mudah." Monolog Clein.
******
"Lo udah nemuin Clein belum?" Tanya Revan.
"Belum!" Jawab Kenzo.
"Yang lainnya gimana?" Tanya Revan kembali. Semuanya menggeleng.
"Belum juga. Udah nyari kemana-kemana tapi gak nemu." Ucap Deva.
"Shane gimana ini?"
__ADS_1
"Kayaknya ada yang gak beres ini. Apa ini ulah sih cowok gila itu yah?" Ucap Shane.
"Cowok gila yang mana?" Tanya Kenzo yang tidak mengerti perkataan Shane.
"Karel yah?" Tanya Deva.
"Iyah. Bisa aja dia yang bawa Clein pergi untuk membalaskan perlakuan Clein semalam." Ucap Shane.
"Nah bisa jadi juga. Kita harus datengin mansionnya sih! Kita harus cek Clein ada disana atau enggak."
"Setuju! Coba aja dulu!"
Mereka semua mengangguk dan langsung pergi dari sana. Kecurigaan mereka hanya tertuju pada Karel tidak ada yang lain. Mereka bergegas menaiki taksi dengan perasaan cemas karena pemimpin mereka belum juga ada.
Drrrtttt drrrtttt drrrtttt
Shane mengambil ponselnya yang berdering.
"Siapa Shane?" Tanya Kenzo
"Clein!" Ujar Shane
"Angkat-angkat!" Ucap Revan tak sabar.
Shane mengangguk dan langsung menggeser tombol hijau.
Hallo Clein! Lo dimana?
^^^Saya di jalan menuju ke Markas.^^^
^^^Saya menunggu akan kalian disana.^^^
^^^ ^^^
Oke Clein.
Telepon dimatikan.
"Gimana?"
"Clein lagi dijalan buat pergi ke Markas. Kita di suruh nyusul kesana aja."
"Alhamdulillah syukurlah. Ternyata pemikiran kita gak bener dan Clein baik-baik aja." Ucap Revan.
Mereka semua mengangguk dan bersyukur.
"Pak ganti tujuan, jadinya ke jalan Asmara nomor 03." Ucap Shane.
Supir taksi itu mengangguk dan melajukan taksi ke tempat yang Shane dan temannya tuju.
__ADS_1
...Terima Kasih Sudah Membaca 💚...