
Semua anak-anak telah berpamitan untuk pergi. Clein tengah duduk di atas rumput dan di sampingnya Karel tengah setia menunggu.
"Kenapa masih disini sih? Kenapa gak langsung pulang aja?!" Tanya Clein dengan nada ketus.
"Memangnya kenapa? Bagus dong jika saya menunggu istri saya sampai selesai, berarti saya ini pria yang luar biasa." Ucap Karel.
"Urus saja pekerjaan anda, saya tidak menyukai hal-hal seperti ini untuk anda lakukan!" Tegas Clein.
Karel hanya berdecak dan enggan untuk membalas ucapan Clein.
Karel menatap anak-anak yang mulai di jemput oleh orang tua mereka dengan senyum mengembang. Ia menoleh pada Clein dan menatap wajah gadis itu dari samping.
"Sepertinya akan sangat menyenangkan kalau kita memiliki anak. Saya akan penasaran sifat dan wajahnya nanti mirip siapa." Ucap Karel. Clein menaikkan alis kanannya.
"Anak? Stop untuk berhalusinasi." Desis Clein.
"Memangnya anda tidak ingin memiliki anak?"
"Mau, tapi tidak dengan anda." Ucap Clein.
Karel menghembuskan nafas kasar.
"Sayang sekali padahal saya ingin memiliki anak dari rahim anda."
"Kenapa tidak minta pada kekasih anda saja? Kenapa harus saya? Bukankah kemarin anda memperkenalkan seorang gadis sebagai kekasih anda. Apakah kalian sudah putus?"
Malas mendengar pembahasan yang membicarakan perihal seseorang yang bahkan tidak ingin ia dengar. Perasaannya sudah pudar terhadap Alita, walaupun Karel sendiri belum mengakhiri hubungannya dengan gadis itu. Tapi untuk sekarang fokusnya hanya tertuju pada Clein. Ia ingin fokus untuk membuat wanita yang sudah ia nikahi jatuh cinta padanya.
"Kenapa diam saja?" Tanya Clein.
"Saya tidak ingin membicarakan orang lain diantara kita. Lagi pula saya tidak akan terburu-buru untuk memiliki anak. Saya akan memprioritaskan untuk membuat agar anda jatuh cinta pada saya." Ucap Karel.
"Terserah anda Karel, saya tidak ingin mendengar lagi pembahasan yang tidak akan mungkin terjadi! Sekarang sebaiknya kita pulang lalu setelah itu kita sholat Ashar."
"Tapi saya belum bisa bacaan sholat, rukun, dan lainnya. Saya lupa, Clein."
__ADS_1
"Saya akan mengajarkan anda." Balas Clein.
Seketika senyum Karel kembali mengembang.
"Jangan ge-er dulu, saya mengajarkan anda bukan berarti saya membuka hati saya untuk anda. Saya disini hanya mencoba untuk membantu anda karena kita ini sesama muslim yang harus saling tolong menolong dan tidak pelit ilmu." Ujar Clein berusaha mengingatkan Karel.
"Tentu saja saya tidak berpikir seperti itu. Saya tau, tidak usah dijelaskan saya pun paham."
"Baguslah!"
"Tapi saya akan berusaha menjadi kunci untuk membuka hati anda yang anda coba tutup rapat." Ucap Karel. Clein menaikkan alis kanannya.
"lagi, pembahasan itu kembali anda bicarakan." lelah Clein.
"Saya serius saya akan mengetuk hati anda dengan sekali ketukan. Saat anda terus berusaha menutup rapat pintu hati anda, maka saya akan membuka pintu itu dengan sebuah kunci yang tidak pernah anda bayangkan sebelumnya." Ucap Karel sembari berimajinasi.
"Mari kita lihat apakah anda akan berhasil!" Ucap Clein bangkit lalu berjalan lebih dulu.
Karel tersenyum senang, dari nada bicara Clein ia sudah paham kalau ada sebuah kesempatan yang coba Clein buka untuknya. Karel bangkit dari tidurnya lalu berlari menghampiri Clein.
"Berarti anda memberikan kesempatan untuk saya? Wah saya sangat senang sekali." Karel langsung memeluk tubuh Clein dari belakang dan mengecup ringan pipi kanan Clein.
"Karel stop untuk melewati batas! Anda ini sudah gila, ishhh kesempatan yang saya berikan tidak akan mungkin membuat anda mampu untuk meluluhkan hati saya!" Tegas Clein.
"Dih siapa tau saya akan berhasil. Tekad saya sudah seratus persen, jadi kemungkinan besar kita akan membuat anak secepatnya. Senangnya saya!" Ucap Karel antusias memeluk tubuh Clein kembali.
******
Shane tengah duduk menghadap teman-temannya dengan tatapan kecewa dan sedih. Baru saja ia dipercaya untuk menjadi pemimpin komunitas Black Tyrannical, tapi tiba-tiba semuanya tidak berjalan dengan baik. Omset restauran mengalami penurunan yang sangat jauh. Semua bisnis yang baru mereka rintis, semuanya stuck di tempat tanpa bergerak maju.
"Saya tidak mampu lagi memimpin komunitas ini. Tanpa Clein, komunitas kita tidak akan dipandang lagi oleh orang lain. Keuangan yang telah Clein serahkan di rekeningnya, tidak mampu menutup semua kerugian yang kita dapatkan." Jelas Shane.
"Meskipun begitu, tapi kita tidak mungkin menerima seorang pengkhianat lagi." Tegas Arhan.
"Engga Arhan, benar apa yang dikatakan Shane. Kita butuh Clein. Kita harus meminta Clein untuk kembali pada komunitas kita." Ucap Kenzo.
__ADS_1
"Bagaimana dengan hubungan Clein dan juga Karel? Pria itu dari awal tidak menyukai Clein dan juga komunitas kita. Gue takut kalau nanti Karel hanya memanfaatkan Clein untuk menghancurkan apa yang Clein miliki." Ucap Arhan.
"Gue rasa sih enggak, soalnya kemarin aja pas di Clubing, pas kita berantem sama James, Karel datang dan nolongin Shane. Jadi gue percaya kalau Karel udah berubah." Ucap Oki.
Shane kembali mengingat malam dimana ia bisa melihat Karel tak sadarkan diri hanya untuk menolongnya. Ia bisa melihat sebuah ketulusan, bukan sebuah kemauan untuk mencapai sebuah keinginan tersembunyi.
"Iyah, gue inget Ki. Cowok itu bela-belain terluka demi nolongin gue. Walaupun masih sulit untuk percaya dan yakin, tapi lebih baik kita mencoba." Ucap Shane.
"Gue gak mau! Kalau kalian tetep mau nerima Clein untuk jadi bagian dari komunitas ini sekaligus pemimpin, lebih baik kalo gue keluar aja dari komunitas Black Tyrannical! Seharusnya Reynold mendapat keadilan yang sama!" Ujar Arhan.
"Arhan, jangan mentang-mentang dulu lo ada di kubu Reynold dan lo salah satu tangan kanan Reynold, lo bisa segitunya sama Clein. Reynold dan Clein tidak bisa disamakan karena mereka berada pada masalah yang berbeda. Karel itu bukan musuh komunitas kita, dia itu awalnya musuh Clein. Kita membenci Karel karena kita hanya mencoba untuk melindungi Clein. Tapi kalau akhirnya seperti ini, kita bisa apa? Semua ini sudah rencana Tuhan." Ucap Oki.
Revan mulai memicingkan matanya.
"Gue curiga jangan-jangan lo ini salah satu mata-mata yang James kirimkan untuk memata-matai komunitas ini. Apa lo yang memberitahukan soal tidak adanya Clein lalu memberitahukan soal Deva dan juga anggota lainnya untuk menjadi perwakilan?" Tanya Revan.
Arhan terlihat gugup lalu kembali memasang wajah seperti semula.
"Eh bangs*t jangan asal nuduh ya! Gue gak mungkin ngelakuin hal kayak gitu!" Tegas Arhan.
"Kalau enggak, kenapa mukanya panik gitu?" Tanya Kenzo.
"Terserah, intinya keanggotaan gue di komunitas ini berakhir! Gue yakin kalau kalian terima Clein di komunitas ini lagi, komunitas Black Tyrannical gak akan lama pasti bakalan hancur!" Tegas Arhan menatap tajam manik mata orang-orang yang ada disana.
Oki maju melangkah, ia sudah berang dengan semua pernyataan Arhan. Kemarin ia bisa sabar untuk saat ini tidak. Arhan terlalu melampaui batas dalam menjelek-jelekkan Clein.
"Kalo lo mau pergi silahkan! Komunitas ini gak rugi kok kehilangan anggota kayak lo! Lebih baik kehilangan satu benalu daripada kehilangan satu berlian!" Desis Oki.
Semua orang hanya diam seperti sudah merelakan Arhan untuk pergi dari komunitas Black Tyrannical. Tidak dapat dipungkiri kalau mereka butuh seorang Clein dalam membangun komunitas itu. Sekarang mereka akan mulai menerima Karel karena pria itu tidak ada sangkut-pautnya dengan rival komunitas.
"Benar. Apa yang Oki katakan. Kalo lo mau pergi tinggal pergi aja. Kepemimpinan Clein tidak dapat ditukar dengan apapun." Ucap Jeff.
Arhan terperangah dan menatap teman-temannya tidak percaya.
"Oke! Gue pastikan akan membalaskan perlakuan kalian hari ini!" Tegas Arhan kemudian pergi dengan rasa dendam yang menyelimuti hatinya.
__ADS_1
"Malam ini kita akan jemput Clein!" Ucap Shane setelah kepergian Arhan.
"Siap!" Jawab semua anggota.