Tap Your Heart

Tap Your Heart
Bagian 31


__ADS_3

Clein mencari informasi mengenai Karel. Ia mencoba untuk mengecek laptop milik suaminya. Disana tidak ada data pribadi yang bisa Clein korek. Clein mencoba untuk mencari lebih jauh. Namun ia masih belum menemukan apapun juga.


Saat itu pintu terbuka, Clein mematung di tempatnya.


"Anda sedang apa?!" Tanya Karel. Pria itu bergegas cepat untuk menutup berkas dan mengambil laptopnya.


"Saya hanya penasaran soal pekerjaan anda." Jawab Clein.


"Sangat tidak sopan!"


Karel mematikan laptop kemudian menaruhnya. Seharusnya Karel tidak sembarangan menyimpan laptop apalagi di dalam laptop itu terdapat percakapan antara dia dengan anak buahnya soal sindikat narkoba yang menjadi salah satu bisnisnya.


"Memangnya apa yang anda sembunyikan? Sepertinya anda mempunyai sesuatu yang penting." Tanya Clein penasaran.


"Bukan urusan anda!" Singkat Karel.


Karel menekan remot lalu dengan otomatis jendela terbuka kembali. Sirkulasi udara lebih terasa dan Clein tidak lagi merasa pengap seperti tadi. Semua yang ada di kamar Karel, semuanya hanya bisa di kendalikan olehnya. Bahkan soal remot untuk membuka jendela kamarnya. Hanya tangan Karel yang bisa melakukannya.


Drrrtttt drrrttt


Satu panggilan masuk ke handphone Karel.


Hallo


^^^Saya sudah berada di depan^^^


^^^mansion^^^


Masuk saja dan tunggu


saya di taman


Setelah itu telepon dimatikan. Karel melihat wajah Clein dengan tatapan malas.


"Ikut saya!" Perintah Karel.


"Kemana?" Tanya Clein.


"Saya akan mempertemukan anda dengan orang kepercayaan saya. Sebelumnya kalian pasti sudah saling mengenal." Ujar Karel.


Clein mengernyitkan keningnya, siapa yang Karel maksud? Karel berjalan lebih dulu di depannya. Lalu di belakang, Clein mengikuti pria itu. Clein baru sadar kalau ternyata sekarang badan Karel terlihat lebih berotot, bahunya juga terlihat lebar, berbeda jauh dari masa sekolah dulu, dimana tubuhnya lebih kurus. Penampilannya pun memiliki banyak perbedaan, Dimana dulu pria itu lebih cupu dan penampilannya sedikit urakan. Kini Karel jauh lebih berwibawa dan lebih rapi.


Mereka berdua menuruni anak tangga, Clein hanya bisa melihat sepatu dari seseorang yang tengah berdiri di samping taman. Semakin Clein melangkah, semakin ia bisa dengan jelas melihat wajahnya.


Clein menaikkan alis kanannya, ia mencoba untuk mengingat kembali siapa pria yang kini berdiri dihadapannya.


"Bukankah anda ini mata-mata yang Karel perintahkan?" Tanya Clein.


"Iyah nona, saya Frey, mata-mata yang dulu sempat anda tangkap kemudian anda lepaskan." Jawab Frey membungkukkan sedikit badannya.


"Dia masih bekerja dengan anda? Saya pikir dia anda pecat karena tidak mampu menyelesaikan pekerjaannya dengan baik." Tanya Clein pada Karel.


"Diluar menjadi mata-mata lalu gagal, diluar itu pekerjaannya sangat bagus dan rapi. Saya masih sangat membutuhkan dia." Jawab Karel dingin.

__ADS_1


Clein mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Berhubung kalian sudah saling mengenal, sepertinya tidak usah ada perkenalan lagi. Saya akan to the poin saja." Ujar Karel.


Ia melihat Frey dan Clein bergantian.


"Frey tugas kamu sekarang yaitu untuk-"


"Hah? Kamu?!" Tanya Clein berusaha memastikan kalau telinganya tidak salah mendengar.


"Diam Clein!" perintah Karel, nada bicaranya semakin terdengar dingin.


Clein hanya berdecih pelan.


"Aneh sekali saat mendengar kata kamu dari bibir pria berhati iblis ini!" Gumam Clein yang masih dapat di dengar oleh Karel dan juga Frey.


Karel hanya menggeleng pelan. Ia kembali melihat ke arah Frey dan berusaha tidak memperdulikan Clein.


"Tugas kamu sekarang yaitu untuk menjaga dan mengawasi Clein. Awasi dia dari anggota komunitasnya. Saya tidak ingin sekalipun mereka bertemu dengan dia atau dia bertemu dengan mereka. Dia ini selalu punya cara buruk untuk menghancurkan saya. Saya tidak ingin jika nanti dia bersekongkol dengan mereka semua." Ujar Karel.


Clein hanya memutar bola matanya malas saat mendengar ucapan Karel. Frey hanya tersenyum tipis nyaris tak terlihat saat melihat ekspresi Clein.


"Antar kemanapun dia pergi untuk menekuni hobinya. Hanya saja pastikan interaksi dengan orang lain dibatasi. Saya akan memberikan list tempat-tempat yang boleh Clein datangi!" Ujar Karel.


"Baik Tuan."


"Tugas anda dimulai hari ini! Saya akan pergi untuk menyelesaikan pekerjaan saya. Pastikan bekerja dengan baik, Frey!" Ujar Karel berusaha mengingatkan.


"Baik Tuan. Saya pasti tidak akan mengecewakan anda." Balas Frey.


"Jadi wanita yang baik! Nurut apa kata Frey. Untuk kali ini kita harus saling bekerja sama. Saya akan menjaga rahasia pernikahan ini dengan baik. Saya sudah memberikan anda keleluasaan untuk menekuni hobi anda. Jika sekali saja anda tidak mengikuti perintah saya, maka ingat kembali kalimat saya tadi pagi!" Ancam Karel kemudian pergi dari sana.


Tangan Clein mengepal dengan sempurna. Tangannya terangkat dan bersiap untuk meninju. Ia sudah tidak tahan dengan sikap angkuh dari pria yang kini sudah menjadi suaminya.


"Kalau saya jadi anda Frey, lebih baik jika saya mengkhianatinya saja. Belum satu hari saya tinggal bersamanya, tingkahnya ini sudah membuat saya hampir gila!" Seru Clein.


"Tuan Karel itu sebenarnya baik, hanya saja harta dan wanita kadang memang membutakan dia." Ucap Frey.


"Anda lihat kebaikan dia darimana Frey? Buka mata anda baik-baik, lihatlah sifat iblisnya!" Geram Clein.


Frey hanya tertawa kecil. Malam itu saat ia tertangkap, ia melihat bagaimana sikap tegas nan dingin dari Clein. Tapi sekarang ia bisa melihat sisi lain dari gadis itu. Ternyata ia sama saja seperti wanita-wanita lain, gadis itu terlihat cukup menggemaskan dibalik ketegasannya.


"Sekarang kita akan pergi kemana?" Tanya Frey.


Clein melihat jam yang berada di pergelangan tangannya. Jam menunjukan pukul 16:00 Wib.


"Masih sore, sepertinya saya butuh latihan menembak saja sekarang. Kita pergi ke tempat latihan saya, nanti di mobil, saya kasih tau alamatnya." Ujar Clein.


"Beri saya alamat yang benar yah nona. Saya berharap nona Clein tidak akan menyusahkan saya." Ucap Frey.


"Tenang saja saya tidak akan membohongi anda." Jawab Clein santai.


Frey mengangguk kemudian mempersilahkan Clein untuk berjalan lebih dulu.

__ADS_1


******


Di dalam mobil, Clein hanya diam dan menghela nafasnya berkali-kali. Entah kenapa perasaannya tidak enak. Pikirannya tertuju pada teman-teman dalam komunitasnya. Ada sesuatu yang mengambang namun menghentak pada dadanya. Clein tidak tau itu apa. Ia berharap semua baik-baik saja. Jika ia sudah bisa melawan Karel, mungkin Clein akan langsung menceritakan semuanya pada teman-temannya dan kembali pada mereka. Clein perlu untuk mencari waktu dan cara yang tepat untuk mengatakan semuanya.


Mobil melaju membelah jalanan kota. Keheningan lebih mendominasi di dalam mobil.


"Sepertinya ada sesuatu yang tengah anda pikirkan? Maafkan saya jika saya lancang." Ujar Frey melihat wajah Clein dari kaca didepannya.


"Entahlah, saya tidak dapat meraba perasaan saya. Tapi disini rasanya seperti ada sesuatu yang mengganjal." Balas Clein menunjuk hatinya.


Frey nampak berpikir,


"Sepertinya anda perlu untuk berbicara dengan Tuhan, mungkin akan ada ketenangan yang akan nona Clein dapatkan."


Clein melihat punggung Frey. Ternyata Frey ini pria yang cukup religius tidak seperti Karel.


"Iyah sepertinya begitu. Saya juga belum melaksanakan sholat ashar. Gara-gara sepanjang hari ini bertengkar dengan Karel, saya jadi lupa dengan Tuhan saya." Ujar Clein.


"Di sekitar sini ada Mesjid, mungkin jika berkenan saya akan mengantarkan anda kesana." Ujar Frey.


"Boleh, terimakasih Frey." Ucap Clein.


"Sudah seharusnya." Jawab pria itu kemudian melajukan mobilnya ke arah kanan.


Hanya sekitar 10 menit jarak yang mereka tempuh untuk sampai ke sebuah mesjid. Frey turun lebih dulu dan berniat membukakan pintu untuk Clein. Namun dengan gerakan cepat Clein langsung membuka pintu mobil dengan tangannya sendiri, membuat Frey langsung mendekat panik.


"Tidak usah repot-repot, saya masih punya tangan untuk sekedar membuka pintu mobil ini." Ujar Clein.


"Tapi anda ini sudah menjadi atasan saya, anda pantas untuk mendapatkan perlakuan seperti itu." Balas Frey dengan menundukkan wajahnya.


"Ah terlalu berlebihan. Anggap saja saya sebagai teman anda, jangan terlalu kaku untuk berinteraksi dengan saya." Tegas Clein.


Kebaikan hati Clein memang tidak dapat dipungkiri, Karel tidak pernah memperlakukan Frey seperti apa yang dilakukan oleh Clein. Karel seringkali menganggapnya sebagai bawahan. Walaupun Frey sendiri sudah menganggap Karel sebagai teman karena Karel sudah banyak membantu dirinya.


"Apa anda akan sholat juga?" Tanya Clein, menghentikan pikiran Frey yang sempat berkelana.


Frey menundukkan pandangannya semakin dalam.


"Maaf nona Tuhan kita berbeda." Lirih Frey.


Clein melebarkan matanya, ia cukup terkejut karena tidak menduga akan hal itu. Wajah Frey sendiri terlihat sejuk seperti ubin mesjid. Wajah-wajah islami seperti ada turunan Arabic.


"Maafkan saya, saya tidak tau mengenai itu." Sesal Clein.


"tidak apa-apa nona tidak perlu minta maaf." Jawab Frey tersenyum.


Clein mengangguk.


"Kalau gitu saya masuk ke dalam."


"Silahkan nona."


Clein masuk ke dalam mesjid kemudian mengambil wudhu. Setelah selesai berwudhu, Clein pun bergegas masuk ke shaf khusus wanita lalu memakai mukena yang tersedia disana. Sekarang waktunya Clein untuk mencurahkan keluh kesahnya kepada sang pemilik alam semesta ini.

__ADS_1


Angin berhembus cukup pelan, rambut Frey terombang-ambing mengikuti tarian dari angin. Ia menarik sudut bibirnya, namun perlahan senyuman itu menghilang seiring angin yang mulai hilang perlahan.


"Wanita yang sangat baik. Sayang sekali dia ditakdirkan untuk pria seperti Karel." Gumam Frey, ia menyandarkan punggungnya pada depan mobil dan hanya bisa melihat Clein yang tengah melaksanakan gerakan sholat dengan tatapan iba.


__ADS_2