Tap Your Heart

Tap Your Heart
Bagian 12


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan pukul 19:35 Wib. Marcel telah rapi dengan pakaiannya. Ia bergegas pergi ke kamar Clein. Sebentar lagi jam delapan, namun kakaknya belum juga turun dari kamarnya.


Saat Marcel tepat di depan pintu, Clein sudah lebih dulu keluar dari kamarnya. Clein sudah rapih dengan Hoodie dan juga celana jeans-nya. Clein menaikkan alis kanannya ketika mendapati Marcel disana.


"Mau kemana?" Tanya Clein.


"Mau ke kamar kakak tadinya. Mau mastiin aja kakak beneran mau ikut atau engga." Jawab Marcel.


"Kakak ini bukan pembohong, Cel. Kakak tidak pernah mengingkari kata-kata kakak." Ujar Clein.


"Nanti disana kakak akan ketemu sama kak Karel, kak. Apa gapapa?" Marcel sedikit ragu, mengingat hubungan Clein dan Karel sangat tidaklah baik.


"Itu juga alasan kenapa kakak ikut. Kakak harus mengawasi kamu, kakak tidak ingin Karel mempengaruhi kamu. Terlalu sering bersama dengan pria itu akan membawa pengaruh negatif bagi kehidupan kamu."


"Yasudah kak, ayo! Takutnya nanti Edvin nunggu."


Clein berjalan lebih dulu. Ia menghampiri Eliana yang tengah santai menonton televisi.


"Bunda, Clein sama Marcel pergi dulu." Clein mencium telapak tangan Eliana. Disusul oleh Marcel yang mengikuti hal yang sama.


"Iyah hati-hati. Bawa mobilnya jangan ugal-ugalan, pelan aja." Ucap Eliana.


Clein mengangguk. Mereka berdua pun bergegas untuk pergi.


"Kak beli buah-buahan dulu yah? Gak enak mau jenguk orang sakit tapi gak bawa apa-apa." Ujar Marcel.


"Iyah."


******


Mobil Clein sudah memasuki gerbang besar yang menjulang tinggi. Mereka sudah berada di Mansion milik Karel. Mobil pun berhenti tepat di halaman rumah itu. Melihat betapa besarnya Mansion milik Karel, Clein dapat menyimpulkan bahwa pria itu sekarang sudah sangat sukses.


Marcel melirik Clein yang hanya diam saja di tempatnya.


"Kak, Ayo masuk!" Ajak Marcel. Clein melihat adiknya.


"Kamu saja! Kakak tunggu disini."


Marcel sudah tau maksud dari kakaknya, ia pun tidak mengatakan apa-apa dan memilih untuk masuk ke dalam Mansion itu sendiri. Clein memilih untuk memainkan handphonenya untuk menghilangkan rasa bosannya.


Marcel menekan bel mansion. Pintu dibuka oleh Edvin.


"Eh Marcel. Masuk, masuk!" Ujar Edvin.


"Aku tunggu disini aja deh. Kasian kak Clein takutnya dia kelamaan nunggu."


"Kak Clein ikut?" Tanya Edvin sedikit terkejut.


"Iyah."


"Dimana dia?"

__ADS_1


"Di dalam mobil."


"Kenapa gak ajak masuk kesini, Cel?"


"Kak Cleinnya gak mau. Dia pengen nunggu di mobil aja."


Karel mengernyitkan keningnya ketika mendengar percakapan adiknya dan juga Marcel.


"Siapa yang kalian bicarakan?" Tanya Karel.


Baik Edvin maupun Marcel keduanya langsung melihat ke arah Karel.


"Itu bang, kak Clein."


"Dia ada disini?"


"Iyah kak." Jawab Marcel


"Dimana?"


Marcel menunjuk mobil hitam yang terparkir di halaman Mansion. Karel tersenyum miring. Ia tidak pernah menduga bahwa Clein akan datang ke Mansionnya. Karel tidak akan menghampiri gadis itu untuk sekarang. Menantang Clein untuk saat ini bukanlah sesuatu yang tepat.


"Kita berangkat sekarang!" Ujar Karel. Ia bergegas masuk ke dalam mobilnya.


"Yaudah gih Cel. Cepetan naik ke mobil kamu!" Marcel mengangguk dan bergegas untuk masuk ke mobilnya dan duduk tepat di samping kakaknya.


"Udah?" Tanya Clein. Gadis itu langsung menyimpan handphonenya.


"Udah kak."


Marcel menggenggam tangan kakaknya dengan lembut. Ia berharap kalau Clein tidak akan terpancing emosi. Dan syukurlah saat mobil Karel sudah melaju di depan, Clein tidak melakukan apapun.


"Pria yang sangat angkuh!" Gumam Clein yang dapat di dengar oleh Marcel.


Clein langsung memutar mobilnya dan mengikuti mobil Karel di belakang. Marcel langsung memegang handgrip karena Clein melajukan mobilnya dengan kecepatan yang cukup tinggi.


Karel tidak dapat menyembunyikan kesenangannya saat melihat ekspresi Clein dari kaca spion mobilnya. Wanita mudah sekali terpancing emosi, padahal Karel tidak mengatakan apa-apa.


"Kau lihat Edvin? Gadis itu sedang dirasuki oleh iblis. Menyenangkan sekali." Ucap Karel terkekeh pelan.


Edvin hanya menghela nafas panjang.


"Udah bang. Gak usah cari perkara, abang ini senang banget ganggu kak Clein. Dia itu cewek loh bang."


"Abang gak peduli!" Ujar Karel. Ia langsung menancap gas. Hingga mobil itu melaju cukup jauh.


"Sialan! Cowok Rese!" Umpat Clein yang juga semakin melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Marcel hanya bisa memejamkan matanya dan melafalkan doa agar ia bisa datang dengan selamat sampai rumah sakit.


Mobil Karel sudah memasuki rumah sakit dimana papahnya dirawat. Mereka memarkirkan mobilnya di area khusus parkir. Edvin terlihat memegang dadanya, nafasnya pun terlihat naik turun. Ia masih syok dengan perjalanan tadi, yang dimana seperti adegan pengejaran yang dilakukan oleh polisi di adegan sinetron.

__ADS_1


Mobil Clein menyusul menuju parkiran dan memarkirkan mobilnya di samping mobil Karel. Marcel pun mengalami ketakutan yang luar biasa saat kakaknya mengendarai mobil tadi. Marcel masih mengatur nafasnya dan enggan membuka mata.


"Ya Allah, kak aku gak kuat buat berdiri nih kayaknya." Ujar Marcel.


Clein terlihat khawatir. Ia langsung mendekat pada adiknya.


"Maafin kakak, kakak tidak bermaksud untuk mencelakai kamu." Ujar Clein. Clein bergerak memeriksa dada adiknya.


Marcel membuka matanya dan tersenyum tipis.


"It's okay kak, Marcel cuma sedikit syok aja." Ucap Marcel.


"Syukurlah. Kalau gitu ayo turun!"


Marcel mengangguk dan bergegas turun dari mobilnya. Karel tengah berdiri tepat di samping pintu mobilnya. Sorot mata Clein berubah tajam.


Brukkk


Clein menutup pintu mobil dengan kasar. Ia dapat melihat keangkuhan yang luar biasa saat Karel berdiri sembari melipat tangannya.


"Pertemuan kedua kalinya setelah tujuh tahun, menyenangkan sekali bisa bertemu dengan teman lama." Ujar Karel yang diakhiri dengan nada mengejek.


"Saya tidak punya waktu untuk membalas celotehan sampah anda!" Tegas Clein. Clein berniat untuk menjauh dari Karel, namun pria itu lebih dulu mencekal pergelangan tangannya.


Clein membulatkan matanya, ia menghempaskan tangan Karel dengan kasar.


"Jauhkan lengan Anda untuk menyentuh sedikit saja kulit saya!" Peringat Clein.


Karel hanya tersenyum miring dan semakin berani untuk mendekatkan tubuhnya pada Clein.


"Meski sentuhan itu akan membawa anda terbang melayang?" Karel menarik dagu Clein dengan telunjuknya.


Clein menepis tangan Karel dengan kasar.


"Perbedaan kualitas bisa di lihat dari ucapan seseorang. Seseorang dengan kualitas terbaik tidak akan pernah mengucapkan kata-kata menjijikan. Ckkk, wajar saja jika anda berkata begitu. Anda ini laki-laki murahan yang dengan senang hati meniduri banyak wanita, saya tidak merasa aneh sama sekali." Cibir Clein.


"CLEIN SIALAN!"


Clein menghembuskan nafas kasar.


"Turunkan nada bicara anda. Ini rumah sakit, tidak sepantasnya anda berteriak." Ujar Clein.


Marcel dan Edvin yang berada di balik mobil, mereka tidak bisa membiarkan perdebatan itu semakin panas. Marcel mengisyaratkan Edvin agar pergi lebih dulu. Ia sedikit takut dengan kemarahan Clein dan Karel. Edvin pun mengangguk dan langsung menghampiri Abangnya.


"Abang, udah! Sebaiknya kita cepetan masuk ke dalam!" Ucap Edvin yang langsung menarik lengan Karel.


Karel dan Edvin sudah masuk ke dalam rumah sakit terlebih dulu. Selanjutnya Marcel yang maju untuk menghampiri kakaknya.


"Kak, ayo!" Ajak Marcel.


Clein mengangguk. Sebelum pergi ia terlihat mengatur nafasnya. Ia mencoba untuk menenangkan suasana hatinya. Marcel langsung menggenggam tangan kakaknya dengan satu tangan memegang satu keranjang buah-buahan. Clein dan Marcel, mereka berjalan beriringan mengikuti langkah Karel dan Edvin di belakang.

__ADS_1


...Terima Kasih Sudah Membaca 💚 ...


See you part selanjutnya 💚


__ADS_2