
Di dalam Markas komunitas Black Tyrannical, semua orang tengah menunggu kedatangan pemimpin mereka. Ada rasa gelisah dan khawatir. Biasanya Clein tidak pernah telat untuk datang.
"Lo udah chat Clein, Shane?" Tanya Kenzo.
Shane mengangguk.
"Gue udah coba chat dia tapi nomornya belum aktif." Ujar Shane.
"Jangan-jangan dia lagi nyiapin pidato. Lo udah bilang kan?" Tanya Deva.
"Udah, semalam gue udah bilang. Cuma anehnya chat gue di baca aja, padahal biasanya Clein selalu balas dan selalu konsultasi soal pakaian ke acara-acara tertentu!" Jelas Shane.
"Terus gimana ini? Acaranya tinggal 15 menit lagi di mulai. Kalau Clein gak dateng siapa yang bakal gantiin dia?" Tanya Son.
"Semoga aja Clein datang, coba kita tunggu lima menit lagi, kalau Clein gak datang dalam waktu lima menit, kita cari aja pengganti Clein siapa." Ujar Shane.
Semua anggota mengangguk. Mereka masih berharap besar akan kedatangan Clein.
Jarum jam perlahan bergerak maju, semakin bergerak semua anggota semakin gelisah. Hanya tinggal beberapa menit lagi waktu yang di tetapkan mereka akan selesai. Shane sudah menelpon Clein beberapa kali namun telepon tidak pernah dia angkat.
"Shane gimana?" Tanya Revan.
"Bentar ini gue lagi telepon dulu. Berharap aja diangkat."
"Udah lima menit kita nunggu, kita gak bisa lagi buat nunda-nunda Shane." Ucap Son.
Shane harus bisa mengambil keputusan, ia tidak bisa lagi berharap pada Clein.
"Kalau gitu sekarang kita pilih, Siapa yang akan pergi menggantikan Clein sebagai perwakilan?" Tanya Shane.
"Kenapa gak lo aja Shane?"
"gue gak bisa pergi kesana, gue ada jadwal buat nyiksa Reynold hari ini. gue pengen salah satu dari kalian aja yang pergi, supaya kalian bisa belajar untuk berbicara di depan khalayak umum." Ujar Shane.
"Siapa yah yang kira-kira cocok?" Tanya Revan. Semua orang nampak berpikir.
"Saya punya solusi, jika ada yang ingin untuk mengajukan diri silahkan!"
Semuanya saling melemparkan tatapan, tak ada yang mengangkat tangan dan mau untuk menggantikan Clein.
"Gue aja!" Ujar Deva. Pria itu terlihat percaya diri.
"Lo yakin Va?" Tanya Revan.
"Yakin gak yakin. Kita gak bisa buat banyak mikir, soalnya acara bentar lagi di mulai. Gue gak pengen buat malu komunitas kita apalagi yang hadir disana banyak tamu-tamu penting. Banyak media juga kan yang ngeliput?" Ujar Deva.
"Jadi fiks, hasilnya yang akan menggantikan Clein adalah Deva. Deva akan di temani oleh Revan, Andres, Kenzo dan juga Arhan. Kita tidak akan mengerahkan banyak anggota. Cukup lima saja." Jelas Shane.
"Di dalam lemari ada kemeja lengkap sama jas. Kamu bisa pakai itu!" Lanjut Shane.
"Siap. Yaudah gue berangkat dulu." Ucap Deva.
"Sip, good luck!" Balas Shane.
Deva diikuti beberapa anggota yang telah Shane tugaskan, mereka semua bergegas pergi ke peresmian hotel.
"Kemana perginya lo, Clein? Semoga lo baik-baik." Gumam Shane.
Pikirannya masih berjalan memikirkan Clein yang belum juga membalas atau memberikan kabar padanya.
__ADS_1
******
Sementara di rumahnya, Clein tengah sibuk membuatkan sarapan dan juga kopi untuk Karel yang sudah berstatus sebagai suaminya. Clein tersenyum senang ketika melihat sarapan dan juga kopi telah berhasil ia buat.
Clein membawa nampan berisi sarapan ke kamarnya. Tepat saat Clein masuk ke dalam kamar, saat itu Karel keluar dari kamar mandi. Pakaiannya sudah terpakai lengkap dengan rambut basah, dimana di setiap helaian rambut masih menetes butiran-butiran air.
"Ngapain aja di kamar mandi? Saya saja sudah selesai buatkan anda sarapan, tapi anda sendiri baru keluar dari sana." Ujar Clein menyimpan nampan itu di atas meja yang berada di balkon kamar.
"Kalau anda ingin tau apa yang saya lakukan di dalam kamar mandi, lain kali setiap saya mandi, anda bisa ikut saya dan melihat apa yang saya lakukan!" Balas Karel.
"Idih najis!" Ketus Clein.
Karel berjalan ke depan meja rias. Disana tidak banyak makeup yang Clein punya. Disana hanya ada satu lipstik, satu sisir dan satu bedak. Tidak ada skincare atau apapun.
Karel mengambil sisir lalu menyisir rambutnya ke belakang. Sekarang wajahnya sudah terlihat fresh dan semakin tampan.
"Sepertinya anda tidak pernah merias wajah anda. Apa anda tidak punya uang untuk sekedar membeli alat make up?" Tanya Karel yang berjalan menuju balkon kamar.
"Saya bukan wanita yang senang menghambur-hamburkan uang untuk mempercantik diri saya sendiri." Balas Clein.
"Tampil cantik itu penting apalagi di zaman sekarang. Setidaknya wajah anda tidak akan membosankan." Ujar Karel.
"Tidak usah memakai makeup wajah saya sudah cantik." Ucap Clein.
"Terlalu percaya diri." Balas Karel memutar bola matanya malas.
"Udah jangan banyak omong, cepat makan sarapannya!" Ujar Clein.
Karel duduk di kursi yang ada disana. Clein pun mengambil tempat duduk tepat di seberang kursi yang diduduki oleh Karel. Gadis itu mencoba menahan tawa agar tawanya tidak pecah. Karel mulai meminum kopi itu dan terlihat biasa saja.
Tutup mangkuk yang ada di atas nampan coba Karel buka. Karel terkejut dan langsung menoleh pada Clein.
"Makanan apa ini?"
Karel mengaduk-aduk bulatan-bulatan hitam yang lengkap dengan kuah sup.
"Saya baru pertama kali melihatnya, apa ini enak?"
"Ya coba saja!"
Karel menyendokkan bulatan-bulatan kecil itu. Agak sedikit ragu Karel menyuap makanannya, namun wajah Clein terlihat meyakinkan. Sendok itu berhasil masuk ke mulut Karel. Perlahan Karel mencoba untuk menggigit bulatan-bulatan kecil hitam. Dan saat itu ia memuntahkan semuanya.
"Sialan! Ini keras! Masakan apa ini? Rasanya aneh!" Umpat Karel.
"Itu sup batu!" Jawab Clein santai.
"Anj*ng! Anda mau buat saya mati?! Saya ini manusia Clein, binatang aja gak mau kalau dikasih makan batu!" Sentak Karel.
Clein berdiri dari tempat duduknya.
"Itu anda tahu! Kerasnya batu sama seperti kerasnya hati anda untuk membuat saya menderita! Anda tidak mau kan diberi makan batu? Begitupun saya yang tidak mau jika anda kekang dan anda atur!" Tegas Clein.
"Sebagai suami itu sudah menjadi tugas saya."
"Tugas anda menjadi suami itu bukan hanya menguntungkan diri anda sendiri, tapi juga saya. Tapi ini apa? anda sendiri hanya memikirkan diri anda." Ucap Clein. Ada sebuah rasa sesak yang masuk ke dalam dadanya.
"Saya akan memberikan anda nafkah seperti yang dilakukan para suami. Nafkah yang tidak sedikit, bukankah itu yang disukai oleh para wanita?" Ujar Karel.
Clein berdecih pelan,
__ADS_1
"Lagi-lagi soal uang! Saya tidak kekurangan uang Karel. Saya hanya menginginkan agar anda untuk mengakhiri hubungan kita dalam waktu cepat. Saya ingin kebebasan dan saya tidak ingin agar hubungan pernikahan kita ini bertahan!"
"Kita baru saja menikah dan anda ingin mengakhiri hubungan pernikahan ini? Otak anda dimana Clein?"
"Pernikahan kita hanya sah di mata agama, Karel! Kamu hanya tinggal menjatuhkan talak saja. Lalu bicara pada ayah saya berikan dia pengertian, itu saja." Ucap Clein.
Karel berdiri dan mendekat pada Clein. Ia menarik pinggang Clein dan menatap mata istrinya dengan tatapan dalam.
"Saya tidak bisa!" Singkat Karel.
"Sampai saya bisa membuat anda menderita." Batin Karel saat tatapannya masuk lebih dalam ke dalam mata Clein.
Clein mendorong dengan kasar tubuh Karel.
"Jika saya ini seorang pria, mungkin saya akan dengan mudah melepaskan diri saya dari pernikahan ini dengan menjatuhkan talak. Tapi apa? Power saya sebagai seorang istri tidaklah lebih besar sebelum saya menjadi seorang istri. Saya pastikan anda tidak akan tahan dengan pernikahan ini dan secepatnya anda akan menalak saya!" Tegas Clein.
Clein berjalan masuk ke dalam kamarnya. Ia mengambil jaket dan berniat akan pergi. Namun dengan cepat Karel menahannya.
"Mau kemana?" Tanya Karel.
"Mau kemanapun saya pergi itu bukan urusan anda!"
"Sudah saya katakan tetap dirumah!"
"Saya tidak mau!"
Clein berjalan dan akan memutar knop pintu. Dengan gerakan cepat, Karel menahan tangan Clein lalu menariknya dan membawanya ke atas kasur.
"Lepaskan tangan saya!"
Karel tidak peduli dengan teriakan Clein. Erangan terdengar dari bibir Clein ketika Karel mendorongnya, sampai ia jatuh terbaring disana. Karel langsung mengungkung tubuh Clein di bawahnya.
"Tolong minggir! Saya mau pergi!"
"Rasanya anda ini tidak takut dengan ancaman saya. Baik!" Karel bangkit dan bergegas mengambil handphone Clein yang ia sita.
"Sekarang saya akan melakukan panggilan group di komunitas anda dan saya akan memberitahukan soal pernikahan ini!" Ujar Karel.
Clein bangun, ia berjalan cepat untuk mengambil handphone yang berada di tangan Karel.
"****! Jangan coba-coba melakukan itu!" Clein mencoba meraih handphone yang berada di tangan Karel, namun ia tidak berhasil.
"Jadilah istri penurut, jika anda tidak ingin saya menghancurkan kehidupan anda!" Tegas Karel.
"Bajingan! Sialan!" Desis Clein. Gadis itu mulai menjauh dan duduk di tepi kasur dengan perasaan campur aduk.
"Semakin anda mencoba untuk mendebat saya, kita tidak akan pernah menjalani rumah tangga ini dengan baik. Jika anda ingin semuanya baik-baik saja, tetaplah diam mengikuti semua perintah saya dan tidak mencoba untuk melawan!"
Clein hanya diam ditempatnya dan mencoba untuk mengatur nafasnya yang naik-turun.
"Segera kemasi pakaian dan barang-barang anda! Kita akan pindah siang ini!" Ujar Karel.
Pria itu memutar kunci lalu mengambilnya. Karel memilih untuk menenangkan dirinya di balkon kamar Clein lalu duduk disana.
Semangkuk sup batu itu hanya ia lihat saja.
"Dari semalam energi saya terkuras habis. Perut lapar, minta di buatkan sarapan yang enak. Ini malah dikasih sup batu! Otaknya ini emang agak-agak!" Batin Karel kesal.
Ia hanya bisa menyesap kopi dan membiarkan perutnya bergemuruh menahan lapar. Sekarang tugasnya hanya satu yaitu menjaga Clein agar gadis itu tidak pergi kemana pun. Urusan Alita, Karel tidak akan terlalu keras dengan pikirannya.
__ADS_1
...Terima Kasih Sudah Membaca...
Support terus cerita ini💚