Tap Your Heart

Tap Your Heart
Bagian 14


__ADS_3

Clein menghentikan laju mobilnya ketika sudah berada di depan gerbang rumahnya. Marcel melihat kakaknya dengan tatapan bingung. Apa yang akan Clein lakukan sekarang? Sedari tadi gadis itu hanya diam tanpa mau mengeluarkan satu katapun.


"Cepat turun dan segera masuk ke dalam rumah!" Perintah Clein.


"Lah? Kenapa gak masukin mobilnya ke dalam aja kak? Emangnya kakak mau kemana dulu?"


"Kakak harus pergi ke Markas. Teman-teman kakak disana sudah menunggu."


"Udah malem loh ini kak, lebih baik sekarang kakak istirahat terus tidur. Jangan kemana-mana dulu!" Ujar Marcel.


Marcel sangat peduli dengan kondisi kesehatan kakaknya. Clein hampir setiap malam selalu pergi dan pulang saat menjelang subuh. Sebagai seorang adik, Marcel tidak ingin melihat kakaknya sakit karena terlalu sering begadang.


"Kakak sudah berjanji untuk datang ke Markas. Kakak tidak ingin janji kakak hanya dianggap sebagai wacana. Kepercayaan orang lain dibentuk oleh sikap serta sifat kita sendiri. Jika kita menanamkan sesuatu yang positif maka mereka akan memberikan sesuatu yang positif juga. Contohnya seperti tidak mengingkari sebuah janji." Jelas Clein.


"Hmmm, Marcel gak pengen liat kakak sakit cuma itu aja. Tapi kalau alasannya kayak gitu, Marcel juga gak bisa apa-apa. Tapi kakak jangan pulang pas subuh yah kak? jangan lama-lama disananya. Kakak juga harus istirahat. Tidur yang cukup supaya kakak juga sehat." Ucap Marcel.


Clein tersenyum tipis. Ia mengusap puncak kepala adiknya dengan sayang.


"Terimakasih atas kepedulian kamu terhadap kakak. Kakak tidak akan lama disana dan kakak juga akan menepati janji kakak. Kamu pun harus segera tidur! Jangan main handphone terus-terusan!" Ujar Clein Memperingatkan Marcel.


"Siap kak. Marcel bakalan langsung tidur. Apapun yang kakak inginkan pasti akan Marcel lakukan." Ucap Marcel.


Clein mengangguk. Sebelum turun, Marcel mengecup ringan pipi Clein.


"Marcel sayang kakak." Ucapnya, setelah melepaskan kecupan dari pipi Clein.


"Kakak juga sayang adik kakak yang paling baik." Balas Clein.


Setelah turun dari mobil, Marcel terlihat melambaikan tangan pada kakaknya. Setelah itu Marcel pergi menuju rumahnya. Clein sangat bersyukur mendapatkan anugerah seorang adik seperti Marcel, setidaknya hidupnya lebih berwarna dan ia tidak kesepian. Clein sangat membatasi pergaulan adiknya, apalagi dari seorang Karel. Marcel pria polos yang rentan terpengaruh oleh orang lain. Jadi Clein harus bisa mengontrol interaksi sosial yang dilakukan oleh Marcel.


Clein kembali melajukan mobilnya. Ia tidak bisa membuang-buang waktu lagi. Anggota komunitasnya pasti sudah menunggu kedatangannya. Ada beberapa poin penting juga yang harus Clein bahas malam ini. Tentu saja topik yang paling utama mengenai Reynold, James dan Geng Hitler.


******


Gelapnya malam serta rimbunnya pohon bambu tanpa ada lampu yang menerangi membuat orang-orang tak berani untuk masuk ke wilayah komunitas Black Tyrannical. Bukan hanya terlihat menyeramkan saat mata memandang, tetapi juga atmosfer yang di berikan begitu terasa berbeda.


Dari kejauhan Clein dapat melihat seseorang tengah berdiri di balik semak-semak. Pria itu tengah mengawasi sesuatu. Clein memilih menghentikan mobilnya lalu turun dari sana. Ia berjalan dengan pelan untuk menghampiri pria itu. Clein berpikir bahwa itu adalah mata-mata yang ditugaskan oleh James.


Saat tepat di belakang pria itu, Clein langsung menarik belakang Hoodie dan mengunci pergerakannya.


"Siapa Anda?!" Tanya Clein dengan sedikit meninggikan nada bicaranya.


"Lepaskan!" Pria itu terus memberontak tanpa mau menyebutkan namanya. Clein menarik tudung Hoodie, saat melihat wajah pria itu. Clein merasa asing dan tak tau siapa dia. Ia tau semua orang-orang di geng Hitler. Namun melihat wajah pria itu Clein merasa sangat asing.


"Ikut saya!" Clein menarik tubuh pria itu. Ia mencekal kedua tangan pria itu dengan satu tangannya dan satu lagi ia pakai untuk memegang pundak pria itu dan mendorongnya untuk menuju Markas.


"Itu Clein bawa siapa guys?!" Tanya Revan saat melihat Clein berjalan menuju ke arahnya. Semua anggota melihat ke arah Clein dan langsung menghampiri gadis itu.

__ADS_1


"Clein ada apa?" Tanya Shane.


"Siapa dia?" Tanya Kenzo.


"Saya tidak tau. Kita akan meinterogasi dia di dalam!" Semua orang mengangguk dan mempersilahkan Clein untuk lebih dulu masuk ke dalam lalu mengikutinya di belakang.


"Ambilkan tali!" Perintah Clein saat sudah berada di dalam Markas.


Seorang pria pergi mengambil tali dan kembali membawa tali kemudian memberikannya pada Clein. Clein langsung mengikat tangan pria itu kemudian kakinya.


"Anda siapa? Apa yang anda lakukan di balik semak-semak?!" Tanya Clein. Nada bicaranya terdengar lebih santai. Pria itu hanya melihat wajah Clein tanpa mau membuka mulutnya.


"Heh, Jawab!" Sentak Deva sembari menendang kaki pria itu.


"Deva!" Clein menatap Deva dan menggelengkan kepalanya.


"Kalau gak dikasarin dia gak bakalan mau buat buka mulut Clein!"


"Itu bukan yang seharusnya dilakukan, Deva." Ujar Clein.


"Saya tidak akan menyakiti anda jika anda mau mengatakan sebuah kejujuran. Saya hanya ingin tau siapa Anda dan siapa yang sudah menyuruh Anda?!" Lanjut Clein.


"Saya tidak akan mengatakan siapa saya dan siapa yang menyuruh saya!" Ujar pria itu.


Bughhh!


"Deva! Apa kamu tidak menganggap saya pemimpin lagi?! Segala sesuatu tidak bisa hanya di selesaikan dengan emosi! Kita harus tau alasan dia dan siapa dia sebelum kita menyakiti dia! Saya tidak ingin jika kita melukai seseorang yang tidak berdosa!"


"Gak berdosa gimana? Jelas dia udah mata-matain komunitas kita. Dia ini bisa jadi duri untuk kehancuran komunitas Black Tyrannical!"


"Dia hanya disuruh! Yang salah itu orang yang menyuruh dia! Bisa saja dia terpaksa melakukan itu dengan diiming-imingi uang, dimana uang itu dia pakai untuk menafkahi keluarganya! Apa dia punya pilihan? Kita tau pekerjaan di negara ini sangat sulit! Tentu saja dengan uang orang baik mudah tergoda untuk melakukan hal jahat! Namun itu karena terpaksa bukan atas kemauannya sendiri!" Tegas Clein.


Deva hanya diam.


Pria yang tengah diikat tali menatap tidak percaya saat mendengar penuturan gadis yang menurutnya kata-kata seperti itu tidak pantas keluar dari bibirnya. Semua perkataanya hampir benar, ia melakukan hal itu untuk mendapatkan uang dan uang itu ia pakai untuk berobat ibunya yang tengah di rawat di rumah sakit.


Clein berjongkok tepat di depan pria itu.


"Saya tidak ingin anggota saya menyakiti anda. Jadi lebih baik cepat katakan Anda siapa dan siapa yang telah menyuruh Anda?" Tanya Clein dengan suara yang masih sama tidak meninggi.


Tatapan Clein begitu lembut hingga ia tidak bisa lagi menyembunyikan identitasnya.


"Saya akan membisikkannya." Ujar Pria itu.


Clein mengangguk. Ia mendekatkan telinganya ke bibir pria itu.


"Saya Frey! Karel yang telah menyuruh saya!" Bisik pria itu. Tangan Clein langsung mengepal, tatapannya berubah tajam.

__ADS_1


"Untuk apa dia menggunakan seorang mata-mata? Apa yang dia inginkan? Semakin lama semakin menjadi saja perilakunya!"


"Saya tidak dapat mengatakannya! Saya sudah mengatakan apa yang anda inginkan. Hanya itu! Jadi lepaskan saya sekarang!"


Clein menarik nafasnya. Tidak ada cara lain selain menanyakan hal itu secara langsung pada Karel.


"Lepaskan dia!" Perintah Clein lalu berdiri.


"Tapi Clein? Gimana bisa semudah itu?"


"Kita akan bicara nanti! Tapi lepaskan dulu dia!" Ujar Clein.


Semua orang mengangguk. Kenzo berjalan mendekat dan melepaskan tali di tangan pria itu. Revan membantu Kenzo untuk membuka tali yang berada di bagian kakinya. Setelah semua tali terlepas, Frey berdiri dan melihat wajah Clein lama.


"Terima kasih!" Singkatnya kemudian pergi dari sana.


Clein duduk di atas sofa, semua orang langsung mendekat dan ingin meminta penjelasan akan apa yang terjadi. Mereka masih tidak dapat mencerna akan sikap Clein itu.


"Apa James yang menyuruhnya, Clein?" Tanya Shane.


"Bukan."


"Apa dari rival bisnis kita?" Tanya Revan.


"Bukan."


"Pria yang mengganggumu di stadion itu, apa dia yang menyuruh mereka?" Tanya Kenzo.


Clein mengangguk. Semua orang terkejut dan merasa tidak percaya.


"Sepertinya Karel mulai tertarik sama lo, Clein!" Ucap Oki.


Shane mendengar ucapan Oki merasa sedikit terganggu.


"Bukan tertarik! Sepertinya pria itu mencoba untuk mencari celah dalam membahayakan Clein dengan mengirim seorang mata-mata!" Ujar Shane.


"Saya sepakat dengan Shane! Saya pastikan saya tidak akan tinggal diam!ย  Dia sedang mencoba untuk memancing asap dengan cara menyalakan api! Karel, pria bodoh!" Tukas Clein, diakhiri dengan senyum menyeringai.


"Apa yang bakalan lo lakuin Clein?" Tanya Deva.


"Sesuatu yang akan terlihat sangat menyenangkan. Dan kalian semua akan menyaksikannya nanti!" Ujar Clein.


Semua orang hanya saling melemparkan senyum miring. Clein bukanlah wanita yang mudah di tebak. Mereka akan menunggu dengan sabar untuk menyaksikan pertunjukkan menarik dari seorang Clein Andrea Klarisa.


...Terima Kasih Sudah Membaca ๐Ÿ’š...


support terus cerita ini๐Ÿ’š

__ADS_1


__ADS_2