Tap Your Heart

Tap Your Heart
Bagian 37


__ADS_3

Clein telah selesai mengganti pakaiannya. Dengan langkah cepat ia menuruni anak tangga dan menghampiri Karel yang tengah menunggunya di ruang tamu.


"Yang benar saja pakaiannya seperti ini, Clein?" Gerutu Karel dari kejauhan. Pria itu langsung berdiri dan melihat Clein dari ujung rambut sampai ujung kaki.


"Ini fashion saya. Apa yang salah?" Tanya Clein berjalan santai mendekati Karel.


"Tentu saja salah. Anda ini akan saya kenalkan sebagai nyonya Karel Alvarez, masa iyah penampilan anda seperti ini? Tidak ada feminim-feminimnya sama sekali. Mana saya bosan lagi liat pakaian anda yang hampir semuanya warna hitam!" Kesal Karel.


"Adanya ini bagaimana lagi?" Tanya Clein yang tak kalah kesal.


"Memangnya anda tidak memiliki dress? Anda ini wanita Clein!" Tanya Karel tak habis pikir.


"Tidak ada." Singkat Clein.


Karel terlihat memijit pelipisnya lelah.


"Saya lupa kalau anda ini wanita jadi-jadian." Lirih Karel. Clein membulatkan matanya.


"Coba ulangi, apa yang anda katakan tadi?"


"Selain jadi-jadian ternyata anda juga budeg." Ucap Karel menggelengkan kepalanya dan melangkahkan kakinya.


"Dasar keparat! Saya tidak jadi ikut!" Umpat Clein.


"Harus ikut! Saya lelah harus mengulang ancaman saya, Clein."


"Ya tidak usah mengancam dan tidak usah memaksa. Gitu aja ribet!" Ketus Clein


"Sudah ayo cepat kita pergi sekarang! Diperjalanan nanti kita bisa mampir dulu ke toko baju sekalian ke salon juga. Agar wajah anda terlihat cantik nantinya, enggak malu-maluin saya." Ujar Karel.


"Sudah saya katakan, Fashion saya Seperti ini, jangan coba-coba untuk mengubahnya, Karel!" Tegas Clein menatap Karel tak suka.


"Berhenti menolak karena saya tidak akan mendengarkan satu penolakan pun dari bibir anda!"


Karel mengangkat tubuh Clein lalu membawanya di pundaknya. Clein berontak dan mencoba untuk memukul-mukul punggung Karel dengan kepalan tangannya.


"Arghhh! Karel turunin saya sekarang juga! Berani sekali anda ini!" Teriak Clein sambil terus memukul punggung Karel. Pria itu mencoba untuk tidak peduli dan membawa Clein secara paksa untuk masuk ke dalam mobilnya.


Setelah sampai di depan mobil, Karel mengisyaratkan Frey dengan matanya agar membuka pintu mobil. Frey mengangguk lalu mengikuti perintah Karel. Karel memasukkan Clein ke dalam mobil dengan kasar.


"Karel! Pelan-pelan punggung saya sakit!" Tegas Clein disertai dengan ringisan.


Karel masuk ke dalam mobil lalu menutup pintu mobil.


"Saya sudah mengajak anda secara halus tapi anda sendiri yang memilih agar saya menggunakan cara kasar!"


Clein hanya diam dan memegang pundaknya yang terasa sakit.


"Frey! Hari ini kamu yang mengemudi. Antar saya ke kantor Nerves Of Steel." Ujar Karel pada Frey yang hanya berdiri mematung di depan pintu mobil.


Frey mengangguk dan bergerak patuh. Ia langsung duduk di kursi kemudi. Kemudian mobil melaju.


Clein melipat tangannya, tatapannya fokus menatap jalanan dari kaca mobil. Ia malas untuk sekedar mengeluarkan kata ataupun melihat wajah Karel. Tak ada yang bisa mendefinisikan moodnya kali ini. Moodnya menjadi buruk ulah dari pria yang tengah santai duduk di sampingnya.


"Dari dulu anda ini tidak pernah berubah. Anda selalu membantah perintah saya, Selalu mencoba untuk memancing emosi saya dan selalu tidak pernah mau mendengarkan ucapan saya!" Tutur Karel.


Clein hanya diam dan masih enggan untuk mengeluarkan suara sedikitpun.


"Selain saya, mungkin tidak ada pria lain yang mau menikahi anda. Selain tidak cantik, sifat anda juga sangatlah buruk." Lirih Karel.

__ADS_1


Clein menoleh dengan cepat, enteng sekali Karel mengatakan hal seperti itu padanya.


"Memang sudah sebaik apa anda sampai-sampai bisa menganggap kalau sifat saya ini buruk? dan lagi, wajah saya tidak akan pernah anda pandang cantik, anda hanya melihat diri saya dengan sebelah mata anda!" Desis Clein.


"Semua orang tau saya ini sangat baik. Saya memiliki hati seperti malaikat, wajah saya pun tampan bak dewa. sedangkan wajah anda ini wajah-wajah pasaran, hatinya pun penuh dengan kotoran, tidak ada yang bisa anda banggakan dari diri anda." Balas Karel. Frey tersenyum kecut saat mendengar ucapan Karel.


"Malaikat mana yang memperkerjakan manusia seperti binatang?" Batin Frey tak habis pikir.


"Itu hanya penilaian dari diri anda sendiri. Apa anda ini tidak merasa malu sama sekali?" Desis Clein.


"Tidak, untuk apa malu? memang kenyataannya seperti itu. Orang-orang sering mengatakan kalau saya ini baik. Makanya lain kali lihat dan buka mata anda lebar-lebar. Berhenti menganggap saya iblis, iblis mana yang bisa setampan saya." Cibir Karel.


"Terlalu percaya diri akan membawa Anda pada kesombongan dan kesombongan akan membawa anda pada titik terendah dalam hidup!" Balas Clein.


"Terima kasih atas nasehatnya. Tapi maaf saya tidak butuh nasehat itu!" Tegas Karel. Clein memutar bola matanya malas, hati Karel memang sekeras batu.


Hening, keduanya hanya diam dan tengah asik dengan pikirannya masing-masing. Frey memutar musik di radio untuk memecah keheningan di dalam mobil. Lagu romantis mengalun merdu sampai Karel terhanyut dalam alunan lagu itu. Karel melirik pada Clein yang masih tetap setia menatap jalanan.


"Clein apa anda tidak menyukai saya sedikitpun?" Tanya Karel tiba-tiba. Entah kenapa kalimat itu keluar begitu saja dari bibirnya, seperti sudah terkontrol oleh otaknya padahal tidak.


"Kesalahan besar jika saya menyukai anda." Jawab Clein tanpa menoleh pada suaminya.


"Apa yang anda tidak sukai dari saya?"


Clein melirik Karel dengan ekor matanya.


"Semuanya!"


Karel menyandarkan punggungnya, saat Clein mengatakan itu hatinya terasa sedikit tercubit. Wanita lain tidak akan pernah mengatakan hal itu. Apakah pesona Karel sudah cukup berkurang untuk memikat hati wanita?


"Bolehkah saya meminta sesuatu?" Ucap Karel kembali


Clein hanya diam tak merespon. untuk apa meminta? jika biasanya saja saat melakukan sesuatu, Karel tidak pernah menunggu persetujuannya.


"Jijik sekali, Karel! Apa sih, gak jelas!" Seru Clein.


"Please lah Clein. Suami anda ini yang minta." Mohon Karel.


"Frey tolong saya, tuan anda meminta sebuah ciuman, tolong cium dia!"


Frey terkesiap di tempatnya, Karel melirik Clein tak suka.


"Saya masih normal, Clein. Yang benar saja anda ini!" Kesal Karel.


"Saya kira anda tidak normal." Balas Clein santai.


Karel memposisikan duduknya dengan nyaman.


"Sebenarnya itu hanya sebuah pancingan saja, faktanya anda ini bukan selera saya. Tidak ada sedikit pun dari dalam diri anda yang membuat saya bergairah. Saya hanya memancing, apa anda ini wanita yang mudah digoda atau tidak, itu saja." Balas Karel.


Clein melirik Karel dengan ekor matanya.


"Anda pikir semua wanita itu ******? Saya masih punya harga diri, godaan dari anda tidak akan mempan untuk saya." Ujar Clein.


"Yakin?" Karel mencolek sisi pinggang Clein. Membuat Clein menggelinjang menahan geli.


"Dasar gila!" Sentak Clein.


"Anda yakin akan tahan dengan godaan saya?"

__ADS_1


Karel menutup pembatas antara kursi pengemudi dan kursi penumpang. Frey tidak dapat melihat apa yang tengah dilakukan oleh tuannya. Ia mencoba untuk bersikap profesional dan tidak mau tau. Jelas itu privasi antara suami dan istri.


Karel mencondongkan tubuhnya pada Clein sampai wajah mereka semakin dekat.


"Karel menjauh lah! Jangan mencoba untuk mencari kesempatan dalam kesempitan!" Ketus Clein mencoba menahan tubuh Karel dengan kedua tangannya.


"Ayo ciuman! Rasakan sedikit saja, anda pasti akan ketagihan, Clein." Karel memajukan bibirnya dan mendekatkannya ke wajah Karel.


"Saya tidak mau! Karel jangan macam-macam!" Teriak Clein memalingkan wajahnya.


"Oh ayolah sedikit saja." Karel kembali memajukan bibirnya.


"Frey tolong bantu saya, Frey! Tolong enyahkan pria ini!" Teriak Clein.


Frey tidak bisa berbuat apa-apa karena Clein ini istri dari Karel. jika ia membantu Clein, itu sama saja ia mengorbankan pekerjaannya. Kemana lagi ia harus mencari uang nantinya. Apalagi di zaman sekarang mencari pekerjaan itu susah.


"Maaf nona, saya tidak bisa membantu." Lirih Frey.


"Lihat! Tidak akan ada yang bisa membantu anda Clein." Bisik Karel penuh kemenangan.


"Jauh-jauh dari saya Karel! Bajingan, sialan!" Teriak Clein berontak.


"Hanya satu ciuman saja Clein, anda tinggal monyong, nanti saya yang nyerobot. Ayolah lama-lama nikmat Clein." Goda Karel.


Plak


Satu tamparan berhasil mendarat mulus di pipi Karel. Pria itu langsung menjauhkan tubuhnya.


"Pikir dua kali sebelum melakukannya. Anda melukai harga diri saya!" Sentak Karel mengusap pipinya yang terasa panas.


"Seharusnya saya yang mengatakan itu! Apa dengan bertindak bodoh seperti itu, anda tidak melukai harga diri saya?" Sengit Clein.


"Melukai harga diri? Anda ini istri saya, apa saya ini salah jika hanya meminta satu ciuman?!"


"Salah! Karena kita tidak menganggap pernikahan ini sungguhan! Dan Anda bilang sendiri kalau saya ini bukan selera anda." Jawab Clein.


Karel memejamkan matanya dan menarik nafas berkali-kali. dalam satu tarikan ia berhasil menarik punggung Clein sampai gadis itu mencondongkan tubuhnya dan jarak diantara mereka sangat dekat.


Cup


Karel mendaratkan bibirnya pada bibir Clein membuat gadis itu terkesiap. Clein langsung memundurkan tubuhnya lalu mendorong tubuh Karel.


"Karel! Sudah saya katakan untuk tidak menyentuh dan berbuat macam-macam! Gila yah anda!" Cecar Clein dengan sekuat tenaga ia mengelap sisa-sisa bibir Karel di bibirnya.


"Tidak ada yang lebih gila saat saya mendapat tamparan namun tidak mendapat ciuman. Setidaknya kita impas, harga diri kita sama-sama dilukai." Balas Karel santai.


"Arghhh! Sialan! Jijik sekali!" Rengek Clein masih berusaha mengenyahkan rasa bibir Karel pada bibirnya.


"Jijik-jijik juga nanti suka." Ucap Karel mengedipkan sebelah matanya.


"Diam!" Tegas Clein membuat Karel langsung mengatupkan kedua bibirnya.


Mobil berhenti tepat di depan sebuah toko pakaian yang cukup terkenal. Tanpa menunggu Karel untuk menyuruhnya turun, Clein memilih untuk langsung turun lebih dulu.


"Mau kemana? Buru-buru amat, tungguin suaminya dong!" Ujar Karel menarik lengan Clein.


"Saya mau ke toilet untuk membersihkan bibir saya dari noda hina bibir anda!" Jawab Clein kesal.


"Mau dibersihkan menggunakan detergen sekalipun, rasanya akan tetap ada." Ucap Karel tanpa rasa bersalah.

__ADS_1


"SIALAN!" Clein melepaskan genggaman tangan Karel dengan kasar, kemudian bergegas masuk ke dalam toko untuk mencari toilet.


Frey hanya bisa mengelus dadanya saat menyaksikan perdebatan suami-istri itu. Seperti menyaksikan sebuah sinetron pada kehidupan nyata. Frey jadi mengetahui bagaimana kehidupan pernikahan tuannya yang sesungguhnya.


__ADS_2