
Clein dan Karel telah sampai di kantor Klub Nerves of Steel. Mobil berhenti tepat di depan kantor yang memiliki tiga lantai. Kantor yang sangat besar menandakan betapa suksesnya klub bola tersebut.
"Mau tetap diam disini?" Tanya Karel saat melihat Clein yang hanya duduk sembari menutupi bagian dada oleh kedua tangannya. Clein sepertinya belum siap jika harus menemui orang-orang dengan penampilan yang terlalu terbuka seperti itu.
Sedari tadi, Karel hanya duduk santai tanpa merasa bersalah sedikitpun atas ketidaknyamanan yang dihadapi oleh Clein. Bagi Karel penampilan Clein sekarang adalah surga baginya.
"Saya tidak mau pergi!" Balas Clein.
"Clein berhentilah merajuk, apalagi yang akan anda perdebatkan saat kita sudah sampai disini?" Lirih Karel.
"Anda tidak lihat bagaimana penampilan saya?! Karel anda ini seperti ingin menjual saya pada pria hidung belang. Kalau anda menganggap saya seorang istri, harusnya anda jangan berperilaku seperti ini. Suami mana yang rela membiarkan tubuh istrinya dilihat oleh pria lain?" Ujar Clein.
"Penampilan anda sudah sangat sempurna. Saya hanya ingin mereka tau kalau saya memiliki istri yang tidak kalah cantik dan sexy dari istri-istri mereka. Lihat dari sisi positifnya, jangan hanya melihat saya dari sisi negatif!" Balas Karel.
"Bukankah anda terpaksa menikahi saya? Saya rasa ini adalah tujuan anda untuk mempermalukan saya. Sejak saya mengenal anda di bangku sekolah menengah atas, anda ini tidak pernah menyukai saya. Kata istri hanya anda pakai sebagai ancaman dan kebohongan untuk membuat saya hancur!" Ucap Clein.
Clein tidak bisa lagi untuk diam. Menurutnya Karel sudah keterlaluan. Dari mata pria itu Clein tidak pernah melihat adanya ketulusan. Dari mata Karel, Clein hanya melihat sebuah kebencian dan dendam.
"Hentikan perdebatan ini, sekarang sudah waktunya untuk kita menemui mereka di dalam." Ucap Karel yang tidak ingin terus menerus berdebat dengan Clein.
Clein terdiam sebentar, ia melihat pada Frey yang setia duduk diam di kursi kemudi.
"Frey, pinjamkan saya jas anda!" Pinta Clein. Karel langsung menoleh pada Clein.
Frey melirik sebentar dan mengangguk lalu bersiap untuk membuka jasnya.
"Tidak, jangan Frey!" Tegas Karel. Frey mengurungkan niatnya untuk membuka jasnya.
"Saya tidak akan masuk ke dalam kantor ini, kalau saya tidak memakai jas Frey. Saya punya harga diri dan saya berhak menerima ataupun menolak!" Tegas Clein menatap Karel tak suka.
Karel dapat melihat kalau Clein bersungguh-sungguh atas ucapannya.
"Jas hanya akan membuat penampilan anda semakin terlihat buruk. Clein tolonglah jangan egois."
Clein terkekeh pelan.
"Saya egois? Lalu bagaimana dengan anda?!" Desis Clein.
Karel hanya diam.
"Sudahi semua ini, jika anda ingin saya menurut maka berikan saya hak untuk apapun. Saya manusia! Saya bukan peliharaan anda!" Lanjut Clein.
"Ckkk baiklah Clein baiklah. Frey berikan jas itu pada Clein." Ucap Karel.
"Baik tuan."
Frey membuka jasnya lalu memberikan jas itu pada Clein. Tanpa membuang waktu lagi, Clein segera menutup dress sexy dalam balutan jas berwarna hitam.
"Sudah puas? Masih ada yang akan di perdebatkan?" Lirih Karel menatap Clein yang telah selesai memakai jas.
"Tidak cukup puas karena jas ini tidak dapat menutupi seluruh pakaian. Tapi setidaknya ini cukup baik daripada penampilan saya sebelumnya." Balas Clein.
Karel menggeleng pelan kemudian bergegas turun lebih dulu. Frey terkesiap ketika Karel membuka pintu mobil itu sendiri. Frey langsung turun dan menghampiri Karel.
"Maafkan saya tuan atas keterlambatan saya membukakan pintu." Lirih Frey.
"Tak apa Frey, hal kecil seperti ini tidak usah dipusingkan." Balas Karel yang berusaha menjaga moodnya.
Frey mengangguk dan akan melangkahkan kakinya untuk membukakan pintu untuk Clein.
__ADS_1
"Tetap disitu! Saya saja yang membukakan pintu." Tegas Karel. Langkah Frey terhenti, pria itu kembali mengangguk dan mundur beberapa langkah.
Tangan Karel menarik handle pintu mobil. Disana ia dapat melihat Clein tengah menatap dirinya dengan tatapan dingin.
"Tumben mau bekerja seperti pelayan?" Tanya Clein yang begitu asing dengan perlakuan Karel.
Karel tak menjawab dan hanya mengulurkan tangannya.
"Aneh, sepertinya anda memiliki rencana busuk dengan bersikap semanis ini!" Lanjut Clein yang masih enggan untuk menerima uluran tangan Karel.
"Satu kali ini saja anda tidak berpikir negatif tentang saya, bisa?"
Clein menggeleng cepat.
"Tidak!" Singkatnya.
"Clein ayolah! Berhenti untuk membuang-buang waktu. Di dalam sana mereka sudah menunggu. Kita harus bersikap romantis agar mereka kira kalau kita ini couple goals!" Ujar Karel.
"Benar saja anda ini punya maksud terselubung. Ternyata anda haus akan pujian dari mereka." Cibir Clein.
"Terserah anda Clein. Apapun penilaian buruk Anda terhadap saya itu terserah anda. Saya hanya ingin agar anda mau mengikuti skenario ini."
Karel menggerakkan uluran tangannya namun Clein masih tetap diam. Sepertinya gadis itu memang tidak ingin untuk menerima uluran tangan Karel. Karel berdecak kesal lalu menarik lengan Clein dengan kasar.
"Anda ini sepertinya senang dengan cara kasar." Desis Karel.
Tubuh Clein tertarik ke depan.
"Sakit! Pelan-pelan dong!" Ketus Clein.
"Anda sendiri yang memilih cara seperti ini. Jadi tidak perlu untuk mengeluh!" Tegas Karel.
Clein mendelikkan matanya.
"Tidak mau dua-duanya."
"Saya sudah memberikan anda pilihan, Clein. Pilih salah satunya atau anda ingin agar saya menggendong tubuh anda?"
Clein membulatkan matanya lalu menggeleng cepat.
"Tidak mau! Seperti ini saja." Clein langsung menggenggam jemari Karel. Saat itu Karel mengulum senyum tipis.
"Seperti ini Clein sangatlah bagus. Kita tidak perlu lagi membuang banyak waktu." Karel mengeratkan genggamannya. Lalu mereka berdua mulai memasuki gedung kantor Nerves of Steel.
Desain di dalam kantor terlihat sangat elegan. Semua seperti sudah di atur dengan sebaik mungkin. Ada banyak catering yang tersedia disana. Kerumunan orang juga terlihat memenuhi kantor Nerves Of Steel.
"Anda bilang yang hadir hanya para pemain dan istrinya, tapi apa ini? Kenapa banyak sekali manusia disini?" Bisik Clein.
Beberapa tamu terlihat menyambut kedatangan mereka. Terpaksa Clein pun harus memaksakan senyumnya.
"Anda pikir dalam suatu klub bola itu hanya ada pemain saja? Tidak Clein! Ada banyak strukturnya. Selain pemain dan saya sebagai pemilik klub, ada juga presiden, direktur, manajer, pelatih, asisten pelatih, data analisis dan lain sebagainya. Mereka yang datang kesini itu adalah orang-orang yang berdedikasi penting untuk kemajuan klub yang saya miliki." Jelas Karel.
"Tetap saja saya tidak berpikir kalau manusia yang datang akan sebanyak ini. Sebelumnya anda hanya mengatakan para pemain dan istrinya. Tapi, lagi-lagi anda membohongi saya."
"Saya tidak membohongi anda, tapi anda sendiri yang tidak bertanya pada saya." Lirih Karel.
"Selamat pagi tuan Karel, selamat datang." Sapa seorang pria dengan rambut klimis dan bertubuh kekar. Pria itu menjabat sebagai presiden klub Nerves of Steel yang dipercaya oleh Karel.
"Selamat pagi Naz." Balas Karel.
__ADS_1
"Wah sepertinya anda memiliki kekasih baru, wow dia cantik sekali. Wanita kali ini terlihat sangat cantik dibandingkan wanita yang dulu berpacaran dengan anda." Puji Naz yang tak henti-hentinya berdecak kagum.
Karel melirik Clein sekilas. Gadis itu masih tetap diam dengan memasang senyum yang sangat tipis. Sepertinya ia tidak senang akan sebuah pujian, dari ekspresi gadis itu Karel dapat melihatnya.
"Dia ini calon istri saya." Balas Karel. Clein menoleh pada pria yang senantiasa menggenggam jemarinya. Calon istri? Padahal mereka berdua sudah berstatus suami istri. Tapi setidaknya Clein bersyukur karena Karel bisa menyembunyikan pernikahannya.
"Oh serius? Kapan kalian akan menikah? Saya tidak menyangka kalau anda akan segera melepas status lajang anda." Ucap Naz.
"Kita akan menikah lusa nanti. Saya datang kesini sekalian untuk mengatakan kabar bahagia ini." Balas Karel.
"Uhukkk!" Clein memukul-mukul dadanya. Ucapan Karel hampir saja membuat jantungnya copot. Karel melirik sebentar dan mencoba bersikap biasa.
"Mendadak sekali, kenapa baru mengatakan kabar itu hari ini?" Tanya Naz.
Karel mendekatkan bibirnya di telinga Naz.
"Biasa, benih yang saya tanam terlanjur jadi. Jadi terpaksa pernikahan ini harus diadakan secepat mungkin." Bisik Karel.
"Uhuk-uhuk!" Clein kembali tersedak dan kali ini tenggorokannya terasa sakit, sampai-sampai ia tidak mampu untuk mengatakan sesuatu.
"Sayang? Kamu kenapa? Mau minum?" Tanya Karel lembut.
Udara disekitarnya tiba-tiba terasa pengap. Clein seperti akan mati saat mendengar semua ucapan Karel. Apalagi saat Karel berbicara lembut dan tidak berbicara seformal biasanya.
Naz terlihat mengambil air minum lalu memberikannya pada Clein. Clein langsung menenggak habis minuman itu. Akhirnya sekarang ia bisa bernafas lega.
"Kamu gapapa kan?" Karel merangkul Clein dan memegang perut rata milik Clein.
Clein melirik Naz yang terlihat sedikit panik juga saat melihat kondisinya.
"Gapapa." Balas Clein. Perlahan ia menyingkirkan tangan Karel dari perutnya.
"Sukses buat pernikahannya ya, saya mau pergi menemui Ricardo dulu." Ucap Naz. Sebelum pergi, Naz terlihat memberikan senyum jahil pada Clein.
"Aamiin terima kasih." Ucap Karel.
Setelah Naz pergi dari sana, Clein langsung membalikkan tubuhnya dan menatap Karel tak suka.
"Kenapa anda mengatakan kalau kita akan melangsungkan pernikahan lusa, Karel? Anda ini kenapa tidak meminta persetujuan saya terlebih dahulu?" Bisik Clein penuh penekanan.
"Sebelumnya saya sudah mengatakan kalau kita akan melakukan pernikahan ulang secepatnya, dimana pernikahan itu akan sah di mata hukum tak hanya sah di mata agama."
"Apa anda pikir mempersiapkan pernikahan bisa dalam waktu singkat? Sebaiknya kita tunda saja Karel!" Ucap Clein selirih mungkin.
Setidaknya jika Karel bisa menunda pernikahan, Clein bisa mencari cara untuk menyudahi pernikahan itu sampai waktu pernikahan ulang dilaksanakan.
"Dengan uang semua serba mudah, Clein."
"Ba-bagaimana dengan pendaftaran pernikahan?"
"Ah itu soal gampang, anak buah saya tengah mengurus soal itu." Jawab Karel santai.
"Dan kenapa anda harus mengatakan kalau saya tengah hamil? semuanya menjadi rumit Karel. Pernikahan ini hanya main-main saja. apakah saya harus hamil main-main juga?" Tanya Clein tak habis pikir
"Memangnya kalau pernikahan ini main-main, kita tidak boleh memiliki anak begitu?"
"Saya tidak sudi mengandung anak dari anda!" Ketus Clein. Suara Clein mulai sedikit meninggi. Perhatian beberapa orang mulai teralihkan.
"Lihat, mata semua orang melihat kesini! Setelah ini semua orang akan tau. Anda ingin berita ini menyebar?"
__ADS_1
Clein hanya diam, ia semakin merapatkan bibirnya dan melihat orang-orang dengan tatapan canggung. Ia merutuki kebodohannya ketika berbicara dengan suara sedikit dinaikkan.
"Sudah, hentikan pembahasan ini. Sekarang mari ikut saya! Saya akan kenalkan anda kepada seluruh staf dan seluruh pemain. Saya harap anda tetap diam dan bersikap anggun." Tegas Karel dengan menarik pelan lengan Clein. Selain pasrah, Clein tidak tau apa yang harus ia lakukan.