Tap Your Heart

Tap Your Heart
Bagian 34


__ADS_3

Di rumah sakit, Shane dengan beberapa anggota dan juga ibu dari Deva mereka bergantian untuk menjaga Deva. Shane hanya duduk di kursi tunggu dengan tatapan kosong.


Shane mengalami kesulitan untuk mengatur komunitas Black Tyrannical tanpa adanya Clein. Saat Marcel mengatakan kalau Clein pergi untuk menemani neneknya, alasan itu sulit untuk ia cerna. Ia tahu dengan jelas sifat asli Clein. Gadis itu tidak akan mungkin pergi tanpa mengabarinya. Tapi kemungkinan ada hal yang genting dan tak sempat mengabari, itu juga masuk akal.


"SHANE! SHANE! TOLONG NAK TOLONG PANGGILKAN DOKTER!" Teriak seorang wanita yang tidak begitu tua berambut pendek. Nadanya terdengar panik. Shane langsung berdiri dan menghampiri wanita itu.


"Kenapa Tante?" Tanya Shane yang ikut panik melihat wajah panik dari Linda, ibu dari Deva.


"Deva kejang-kejang terus diagram garis di elektrokardiograf juga gak stabil. Tante takut Deva kenapa-napa, Shane. Tolong Tante, Tolong panggilin dokter!"


Shane mengangguk dan bergegas untuk pergi memanggil dokter. Tepat saat di tengah perjalanan, Revan, Kenzo dan juga Oki datang dengan membawa gelas cup berisi kopi.


"Shane, Shane! Mau pergi kemana? Buru-buru amat!" Revan berdiri untuk menghalangi langkah Shane.


"Minggir Van! Gue mau panggil dokter. Kata Tante Linda Deva kejang-kejang!"


"APA?!" Teriak mereka serempak.


"Makanya itu awas, gue mau cepet panggil dokter. Kalian cepetan tenangin Tante Linda, dia keliatan panik!" Ujar Shane.


Mereka semua mengangguk, Revan langsung menyingkir dan Shane bergegas mencari keberadaan dokter.


"Ayo guys! Semoga aja Deva gak kenapa-napa." Ucap Revan.


Ketiganya segera berlari ke ruang inap dimana Deva di rawat. Mereka langsung masuk ke dalam ruang inap itu. Benar saja, Deva disana tengah kejang-kejang dengan nafas yang memburu. Elektrokardiograf menampilkan diagram garis yang tidak normal, ritmenya semakin melambat.


Tak berkisar lama, Shane datang dengan seorang dokter dan juga dua orang perawat. Dokter langsung memeriksa keadaan Deva.


"Untuk semuanya harap keluar dulu!" Ucap Dokter itu.


"Gak mau saya mau bersama anak saya disini!" Tolak Linda. Air matanya tidak bisa ia tahan. Ibu mana yang kuat melihat kondisi anaknya seperti itu.


"Biarkan dokter memeriksa keadaan Deva, Tante. Ayo kita tunggu diluar, kita berdoa semoga Deva baik-baik aja." Ucap Shane merangkul pundak Linda.


"Tapi Shane, Tante harus ada disini. Tante mau nemenin Deva disini."


Shane tidak tahan melihat tatapan kesedihan dari sorot mata Linda. Shane menatap langi-langit rumah sakit, ia mencoba untuk menahan agar air matanya tidak lolos.


"Tolong segera di percepat!" Ujar Dokter lagi.


"Ayo tante." Shane merangkul pundak itu semakin erat.


Linda rasanya tidak mampu berjalan, ia hanya menyeret kakinya karena tungkai kakinya tiba-tiba melemas.


"Duduk dan tenanglah Tante, semoga Allah memberikan kesembuhan untuk Deva." Ucap Shane.


Linda duduk di kursi tunggu dengan perasaan seperti berada di ambang hidup dan mati. Secara tidak langsung ia dapat merasakan rasa sakit yang anaknya rasakan. Saat itu memori tentang Deva kecil yang tumbuh dewasa memutar dalam memorinya.


Revan memegang tangan Kenzo dan juga Oki. Mereka saling menyalurkan kekuatan untuk tetap tenang. Dalam hati, doa untuk Deva selalu mereka panjatkan. Pertemanan mereka bukan pertemanan biasa, ada saatnya mereka merasa bahwa mereka adalah keluarga.


Gelombang di elektrokardiograf tiba-tiba berubah menjadi satu garis sejajar dengan suara yang nyaring mengisi ruang inap rumah sakit. Baik dokter maupun perawat mereka terlihat panik.


"Ambilkan defibrillator!" Perintah dokter pada perawat.


Perawat itu memberikan alat yang dokter itu maksud, kejutan listrik diberikan dan saat itu tubuh Deva terangkat dengan sendiri, sampai beberapa kali. Pada akhirnya sang dokter menatap para perawat sembari menggeleng pelan.

__ADS_1


"Innalilahi wainnailaihi roji'un." Ucapnya.


Dokter melepaskan sarung tangan yang sempat ia pakai tadi. Kemudian bergegas menemui Linda dan juga teman-teman Deva.


"Bagaimana keadaan anak saya dokter?" Tanya Linda.


Dokter terdiam sebentar, ia mencoba untuk mencari kalimat yang tepat.


"Maaf saya harus mengatakannya, anak ibu tidak bisa kami selamatkan. Tuhan lebih sayang padanya, Bu. Semoga ibu ikhlas menerima ini."


Seperti di tikam puluhan anak panah, saat itu tubuh Linda ambruk. Tangisnya benar-benar pecah. Suasana rumah sakit berubah menjadi menyedihkan.


"Enggak dokter, enggak! Anak saya pasti tidak meninggal dok. Tolong dok tolong selamatkan anak saya. Saya tidak bisa hidup tanpanya. Ya Tuhan jika engkau berkenan, kenapa engkau tidak ambil saja nyawaku lebih dulu. Kenapa harus Deva? Kenapa harus anakku?!" Ucapnya dengan tangis histeris. Tangisannya mampu menyalurkan kesedihan pada semua orang.


"Sssttt, Tante jangan ngomong kayak gitu. Sudah Tante.. Bukan hanya Tante yang merasa kehilangan tapi juga kami sebagai teman Deva..." Ucap Shane.


Ia menopang tubuh Linda yang tidak kuat lagi untuk berdiri. Hatinya terasa sangat sakit. Dunianya terasa runtuh dalam sekejap. Waktu pun rasanya berhenti bergerak.


"Deva..." Lirih Linda. Ia belum siap mendengar kematian dari putra satu-satunya yang ia besarkan penuh kasih sayang.


Linda berusaha untuk berdiri, perlahan ia berusaha untuk melangkahkan kakinya. Shane berusaha untuk membantu. Linda masuk, disana ia dapat melihat bagaimana tubuh dan wajah anaknya sudah ditutup oleh selimut rumah sakit.


Linda langsung berlari dan memeluk tubuh anaknya.


"Astagfirullah nak, nak bangun nak. Hati ibu sakit lihat kamu nak. Ibu mohon jangan tinggalin ibu, cukup ayah kamu aja yang tinggalin ibu. Sekarang ibu hidup sama siapa nak? Nak bangunnn..."


Baik Shane, Revan, Kenzo dan juga Oki keempatnya tidak dapat menahan air mata mereka. Kehidupan mereka di penuhi dengan Deva, bagaimana Deva menjadi warna untuk hari-hari mereka.


"Ya Allah Va, gue gak nyangka lo bakal pergi secepat ini." Lirih Oki menghapus air mata yang jatuh di pipinya dengan punggung tangannya.


"Gue gapapa Va kalau lo gangguin terus, gue gapapa Va kalau lo sensiin terus. Sekarang hidup gue pasti bakalan hampa tanpa adanya lo, hiks" Ucap Revan. Buliran air mata tidak henti-hentinya jatuh di pelupuk matanya.


Akhir-akhir ini kedekatan keduanya semakin lengket. Perlahan Deva mulai merubah sikapnya, tapi saat dia sudah memperbaiki semuanya, Tuhan lebih dulu memanggil Deva. Shane juga tidak kuasa melihat perihnya hati Linda.


Tangan Shane mengepal, tatapan tajam penuh kebencian terpancar disana.


"Ini semua gara-gara James! James, nyawa dibalas dengan nyawa, tunggu aja gue bakal bales!" Gumam Shane penuh ambisi.


******


Dughh!


"Astagfirullah!"


Clein memegang kepalanya yang terbentur sisi pintu kamar mandi. Sakitnya luar biasa karena pintu itu terbuat dari marmer. Kondisi lantai yang licin membuat Clein terpeleset dan membentur sisi pintu.


Perasaan Clein tidak karuan. Ia memegang keningnya.


Karel melihat pada Clein, ia mengerutkan kening ketika Clein meringis kesakitan.


"Anda kenapa?" Tanya Karel.


"Ckkk kepo!" Ketus Clein.


"Duh pusing..." Ringis Clein kembali.

__ADS_1


Clein sudah menggunakan pakaian lengkap. rambutnya pun masih terlihat basah. berusaha menahan rasa sakit, Clein duduk di depan meja rias yang ada disana. Meja rias yang dipenuhi oleh skincare, berbagai merek parfum, gel rambut dan semuanya itu adalah milik Karel. Pria itu sangat memperhatikan penampilannya, terlihat dari begitu banyaknya barang-barang


miliknya disana.


Clein melihat luka di keningnya yang berwarna keunguan. Karel berjalan menghampiri Clein tangannya terangkat untuk melihat kondisi kening Clein.


"Udah ah sana! Jangan sok peduli sama saya!" Clein mendorong tubuh Karel. Namun Karel tak bergeming dan tetap berdiri di tempatnya.


"Ini akibat dari anda yang sudah mencampakkan saya! langsung dibayar tunai oleh Allah." Ucap Karel.


"Berisik! Tidak usah sok tahu!"


Pria itu berjalan untuk mengambil air dingin. Setelah mengambil air dingin beserta kain, Karel langsung berjalan maju dan berdiri di samping Clein. Pelan-pelan ia mengompres luka pada kening Clein.


"Aduh, aduh, aduh sakit Karel! Pelan-pelan dong!" Sentak Clein saat Karel menekan lukanya terlalu kuat.


Karel meniup luka itu, dari cermin meja rias Clein dapat melihat perlakuan Karel padanya. Pria itu terlihat begitu serius untuk mengobati lukanya. Jarak bibir dan kening Clein terlihat sangat dekat, jika Clein bergerak sedikit saja maka bibir itu akan menyentuh keningnya.


Diamnya Clein membuat Karel bingung, saat tangan Karel masih berada di kening Clein saat itu Karel melihat ke arah cermin. Kini tatapan mereka beradu, angin berhembus pelan. Clein yang tersadar langsung mendorong tubuh Karel.


"Bukannya obatin malah modus!" Ujar Clein menatap Karel sengit.


"Saya modus? Pada anda, Clein? Hello saya akan berpikir panjang soal itu. Masih mending saya mau membantu anda, dasar tidak tau terima kasih!" Seru Karel menyimpan kain itu ke dalam baskom berisi air dingin dengan kasar.


"Berisik-berisik! Jangan banyak omong saya mau tidur!"


Clein naik ke atas tempat tidur.


"Anda pikir saya mau bicara terus? Saya juga mau tidur!" Karel ikut naik ke atas tempat tidur.


Clein mendorong Karel dengan kakinya.


"Kali ini anda tidur dibawah! Malam ini kasur ini milik saya!" Ucap Clein saat berhasil membuat Karel jatuh dari tempat tidur.


"Ini kamar saya, Clein. Enak saja anda mengklaim bahwa kamar ini milik anda!"


"Saya tidak peduli." Clein melebarkan kakinya dan berusaha menguasai kasur besar itu.


Karel tersenyum jahil.


"Baik, saya akan tidur disini." Karel menidurkan tubuhnya tepat di atas tubuh Clein.


"Sialan, Karel berat! cepat turun!" Teriak Clein. Nafasnya terasa pengap karena tubuh Karel sangat berat.


Karel melebarkan tangannya kemudian menggeser tubuhnya ke samping.


"Anda saja yang tidur di bawah!" Karel mendorong tubuh Clein dengan kedua tangannya.


Brukkk


Clein jatuh ke atas lantai. Perlahan gadis itu bangkit dan menatap Karel dengan tatapan bengis. Dengan kasar ia mengambil bantal dan juga selimut, namun dengan cepat Karel mengambil selimut dari tangan Clein.


Clein berdecak pelan, ia menyimpan bantal ke atas lantai dengan kasar. Kemudian membaringkan tubuhnya di lantai marmer yang dingin. Karel beringsut pelan dan melihat Clein dari atas tempat tidurnya.


"Empuknya, hangatnya, tidur di atas sini tidak akan merasa kedinginan seperti tidur di atas lantai.. Selamat menikmati malam yang dingin." Ejek Karel diikuti kedipan mata.

__ADS_1


__ADS_2