Tap Your Heart

Tap Your Heart
Bagian 51


__ADS_3

Langkah Clein berhenti tepat di sebuah danau. Rintik hujan yang sempat membasahi tubuhnya kini sudah mulai reda. Clein duduk di tepi danau dengan perasaan sedih.


Ia melemparkan batu kerikil yang berada di sampingnya seolah menggambarkan kekesalan dan rasa marah yang tengah ia lampiaskan. Clein memejamkan kedua matanya, kemudian membukanya.


"ARGHHH! KAREL, JAMES MANUSIA PALING BIADAB DI MUKA BUMI INI, MATI SAJA KALIAN!" Teriak Clein diikuti tangis yang kembali mengiris hatinya.


Clein menenggelamkan wajah di kedua lututnya. Punggungnya bergetar hebat akibat tangisan yang tak kunjung mau berhenti. Clein yang dulu kuat kini berada di titik terlemah. Mungkin semua musuh akan menertawakan kesedihan yang tengah Clein rasakan.


Tangan seseorang terasa memegang pundak Clein. Perlahan gadis itu mengangkat wajah untuk melihat seseorang yang datang. Disana teman baiknya semasa SMA tengah berdiri dengan menyodorkan air mineral padanya.


"Minum Clein, gue tau gimana perasaan lo sekarang." Ucap Oki. Dengan ragu Clein mengambil air mineral di tangan Oki dan perlahan ia mengusap air mata di pipinya.


"Oki! Kamu disini? Bukankah kamu sekarang tengah membenci saya karena pernikahan yang saya lakukan dengan Karel?" Tanya Clein.


Oki duduk tepat di samping Clein. Ia terlihat menghela nafas panjang kemudian menoleh pada Clein.


"Gue gak pernah benci sama lo, Clein. Gue percaya kalau pernikahan itu dibuat bukan karena kemauan lo. Gue tau gimana kebencian lo sama Karel yang teramat besar. Pasti ada benang merah di balik pernikahan itu terjadi." Ucap Oki.


"Tetap saja Ki, kebaikan kamu ini tidak seharusnya saya dapatkan. Dalam beberapa hari ini saya menelantarkan komunitas Black Tyrannical. Saya tidak datang ke pemakaman Deva bahkan saya sendiri tidak mengetahui kematian anggota dari komunitas yang saya pimpin. Kamu seharusnya menjauhi saya seperti teman-teman yang lain." Lirih Clein dengan bibir bergetar.


"Gak Clein pemikiran itu sangatlah salah. Intinya apapun yang lo lakuin gue tetep percaya sama lo. Sekarang ceritain sama gue gimana lo bisa nikah sama Karel? gue pengen tau kronologi itu dari bibir lo sendiri." Ujar Oki.


Clein menatap lurus ke depan. Setelah itu ia mulai menceritakan kejadian dimana pernikahan itu terjadi karena ia dijebak. Sampai ancaman yang Karel lontarkan hingga ia tidak bisa lepas dari hubungan pernikahan penuh keterpaksaan itu.


"Jadi yang menjebak lo itu, Karel?" Tanya Oki.


"Saya sih baru menduga kalau dia dalang dibalik jebakan itu. karena dia sendiri yang bersikukuh agar pernikahan saya dengannya terjadi." Ucap Clein.


"Tapi lo bilang, setelah lo minum lo ngantuk. Apa Karel gak minum juga?" Tanya Oki.


Clein berpikir sebentar.


"Seingat saya dia juga minum. arghhh, tapi saya ingat-ingat lupa."

__ADS_1


"Yang ngasih kalian minum kan adek kalian sendiri, otomatis baik lo ataupun Karel gak sadar dong. Gue pikir ini bukan jebakan dari Karel, gue sih ngiranya ini jebakan dari Marcel sama Edvin." Ucap Oki setelah mendengar penjelasan dari Clein.


"Tapi kalau emang ini jebakan dari Marcel dan Edvin, kenapa Karel mau saja menikah dengan saya? Dia juga kan dijebak, seharusnya dia bisa menolak." Ucap Clein tak habis pikir.


"Dari dulu dia ini selalu mau berada di atas lo, Clein. Dari dulu dia mencoba ingin mengendalikan lo. Nah adanya jebakan, Karel jadikan jebakan yang dibuat oleh adik kalian berdua sebagai momentum yang pas untuk keinginannya itu." Jelas Oki.


Semua perkataan Oki sangatlah masuk akal. Kini persepsi mengenai Karel yang menjebaknya mulai berubah. Clein tidak menyadari keanehan yang dibuat oleh adiknya dan juga adik Karel.


"Saya juga merasakan kalau Karel mencoba mengendalikan saya. Dia berbuat semau dia. Jika saya tidak mengikuti perintahnya, dia akan mengancam saya dengan mengatakan akan memberitahukan soal pernikahan ini pada kalian." Ucap Clein.


"Dan pada akhirnya dia juga memberitahukan soal pernikahan kalian." Ucap Oki.


Clein hanya terdiam. Benar juga, semua andai-andai berada dalam logikanya. Andai saja ia memberontak dan tidak takut dengan ancaman Karel, kemungkinan kehilangan temannya tidaklah akan terjadi.


"Sekarang sebaiknya gue anter lo pulang, lo pasti kedinginan. Pakaian lo keliatan basah kuyup kayak gitu, Clein." Saran Oki.


"Saya tidak mau pulang. Biarlah saya tidur disini seperti gelandangan. Saya tidak mau bertemu dengan pria bangs*t itu!" Tegas Clein.


Oki menggeleng pelan.


"Kamu mana tau perasaan saya sedangkan kamu sendiri tidak berada diposisi saya."


"Sebagai seorang teman yang sangat mengenal lo, gue tau persis perasaan lo. Tapi kalau lo tetep kayak gini, Karel di sana pasti tengah tertawa karena dia pikir dia berhasil menghancurkan lo. Sekarang saatnya lo bangkit, ayo dong kembali ke setelan awal!" Ucap Oki menyemangati Clein.


"Benar apa kata kamu, Ki. Saya harus menyudahi ini dan mengubur semua kesedihan saya. Saatnya saya bangkit untuk menata kembali semuanya." Ucap Clein.


"Gitu dong! Ini baru namanya temen gue. Kapan pun lo butuh bantuan, datang aja ke gue, gue akan selalu ada buat lo!" Ucap Oki menarik sudut bibirnya.


"Terima kasih, Ki." Ucap Clein memegang tangan Oki.


Oki mengangguk kemudian bangkit berdiri lebih dulu. Ia mengulurkan tangannya pada Clein lalu Clein menerima uluran tangan itu. Clein dibantu berdiri oleh Oki.


"Gue anter lo di motor, tapi bentar gue buka jas hujan dulu." Ucap Oki.

__ADS_1


"Kamu dari tadi mengikuti saya?" Tanya Clein.


"Iyah. Gue ngikutin lo dari markas sampai lo naik mobil bak terbuka kemudian lo pergi ke markasnya James. Gue khawatir sama lo, makanya gue ngikutin di belakang. Gue sampai bawa pistol, takut nanti ada sesuatu yang membahayakan diri lo." Ucap Oki memperlihatkan sebuah pistol di saku jaketnya.


"Saya sangat terharu mendengarnya. Sekali lagi saya sangat berterima kasih atas kepedulian kamu kepada saya." Ucap Clein.


Oki mengangguk dan tersenyum. Oki mengambil kanebo lalu mengelap jok motor yang terlihat basah. Setelah selesai, ia menaiki motornya lebih dulu kemudian disusul oleh Clein.


"Clein pegangan ke pundak yah, jangan pegangan ke pinggang. Sekarang kan lo udah punya suami." Ucap Oki.


"Saya juga tidak berniat untuk memegang pinggang kamu." Balas Clein.


Oki hanya cengengesan lalu melajukan motornya.


******


Karel tengah berada di rooftop kamarnya. Ia masih menunggu kedatangan Clein. Setelah hujan melanda, ia merasa khawatir atas kondisi Clein. Apalagi tadi Karel dapat melihat kilatan amarah di wajah istrinya.


Perasaan Karel terlalu menggebu-gebu. Ia khawatir jika Clein akan bersekongkol dengan teman-temannya sampai pada akhirnya ia harus mengatakan kebenaran soal pernikahannya. Sekarang ia terlalu takut untuk kehilangan Clein. Ada sebuah rasa yang masih enggan untuk ia definisikan.


Sebuah motor terlihat memasuki halaman mansion. Karel dapat melihatnya dari atas sana. Ia dapat melihat Clein tengah dibonceng oleh seseorang yang wajahnya tidak dapat ia lihat jelas karena menggunakan helm. Setelah menurunkan Clein, pria itu kembali melajukan motornya.


Karel bergerak untuk menghampiri Clein. Ia membuka pintu kamar, namun ia kembali menutup lagi pintu kamar itu.


"Sebaiknya saya tetap disini. Moodnya sedang tidak baik, sebaiknya jika saya tidak kembali menghancurkan moodnya." Monolog Karel.


Karel memilih duduk di tepi ranjang dengan perasaan galau. Tidak dapat di pungkiri dan tidak dapat disembunyikan kalau ia benar-benar khawatir. Pintu kamar di buka, disana mata Karel dan Clein sempai beradu selama beberapa detik sebelum akhirnya Clein memutus kontak lebih dulu.


Mata Karel bergerak melihat Clein dari ujung rambut sampai ujung kaki. Bajunya basah kuyup dan wajah Clein terlihat pucat dengan bibir yang membiru. Karel bergegas mengambil handuk. Ia berniat untuk membalut tubuh Clein dengan handuk, namun dengan kasar Clein mengambil handuk yang berada di tangan Karel. Karel langsung diam membatu.


Tanpa sepatah kata pun Clein berjalan menuju lemari untuk mengambil pakaian gantinya. Setelah mendapatkannya Clein pun bergegas masuk ke dalam kamar mandi.


BRAKKK

__ADS_1


Karel terperanjat kaget ketika pintu kamar mandi di tutup dengan kasar.


"Malam ini tidak akan berjalan dengan baik." Batin Karel kembali duduk di tepi ranjang.


__ADS_2