Tap Your Heart

Tap Your Heart
Bagian 28


__ADS_3

BRAKKK


Gebrakan meja terdengar mendominasi ruangan dengan cahaya redup di tengah hutan. Seorang pria dibalik topengnya tengah tersenyum iblis saat mendengar kabar baik dari orang suruhannya.


"Bagus! Jika Clein tidak hadir ke acara peresmian, maka kita bisa mengeksekusi rencana kita sekarang!" Ucapnya penuh penekanan dan di setiap kata ada sebuah ambisi tak tertahan.


Mata elang James mengabsen satu persatu orang yang berbaris tepat di depannya.


"Rangga, bagus dan Dario kalian bertiga yang akan saya tugaskan untuk menyerang anggota komunitas Black Tyrannical yang hadir ke acara peresmian hotel Black Tyrannical!" Perintah James.


"Baik siap, bos!" Ucap mereka serentak.


Ketiga pria itu melangkah maju. James mengulurkan tangannya, lalu ketika itu satu orang pria menyerahkan tiga buah pistol pada James.


"Saya akan bekali kalian dengan senjata! Tembak mereka sampai ke ulu hati, buat mereka mati saat itu juga!" Tegas James.


Perintah yang James berikan tidak bisa mereka anggap sebuah angin lalu.


"Jika kalian tidak berhasil untuk melakukan tugas hari ini. Maka saat kalian kembali, saya akan memenggal kepala kalian dan menguburkan jasad kalian secara tidak hormat!" Lanjut James.


Ketiganya menelan saliva susah payah. Mereka semakin mengeratkan pegangan mereka pada senjata yang baru saja James berikan. Suhu tubuh mereka langsung berubah panas dingin. Tanggung jawab yang besar, harus dilaksanakan dengan penuh keyakinan. 


"Buat saya terkesan! Lakukan semua rencana dengan baik! Silahkan pergi!"  James berbalik dan memunggungi ketiganya. Ketiga pria itu membungkukkan badan mereka kemudian pergi.


James mengepalkan tangannya, ia duduk tepat di kursi kebesaran miliknya.


"Kalian telah salah memilih musuh! bukannya saya tidak berani atau saya lemah karena setelah penyerangan itu saya diam saja! Saya hanya menunggu waktu yang tepat! Setelah ini akan ada kabar buruk yang akan kalian terima!" Monolog James meninju sisi kursi.


Seorang pria dengan kacamata tebal datang tergopoh-gopoh dengan membawa sepiring buah-buahan. Ia menaruh buah itu tepat di atas meja samping kursi kebesaran milik James.


Kaki pria berkacamata tebal itu di perban karena ada bekas luka tembakan disana.


"Nah seperti ini! Kerja yang benar kalau tidak ingin saya siksa!"


Mendengar suara James ada ketakutan yang amat sangat dari pria itu. Ia langsung pergi untuk menghindari James, ia tidak ingin mendapatkan masalah karena terlalu berlama-lama disana.


James Ferdinand Hitler, selain menjadi seorang pemimpin di geng Hitler, James terkenal dengan kekejamannya dalam mengeksploitasi manusia. Pria itu tak segan-segan untuk menyiksa dan membunuh siapa saja manusia yang dengan berani menentang dirinya atau bahkan membuat kesalahan kecil. Contohnya pria berkacamata tebal tadi, pria itu hanya membuat kesalahan yang tidak ia sengaja. Kesalahannya hanya menabrak James saat pria itu berjalan keluar dari Club malam bersama dua orang gadis.


James menculik pria itu lalu membawanya ke dalam Markas, kemudian ia menyiksa dan menjadikan pria berkacamata tebal itu sebagai pelayan di Markasnya. Beberapa brosur foto pria itu dan juga berita yang menayangkan hilangnya pria itu tersebar dimana-mana, namun tidak sedikitpun membuat James takut. Polisi pun mulai melakukan pencarian, namun tidak berhasil dan tidak mendapatkan titik terang. Sampai kasus itu ditutup, dan pria itu masih berada di dalam Markas geng Hitler sampai sekarang ini.


James memanggil seorang pria menggunakan isyarat tangannya, pria itu bisa dikatakan sebagai orang terdekat dari James. Pria jangkung dengan kepala plontos itu maju beberapa langkah dengan sedikit membungkukkan badannya.


"Carikan saya wanita yang bisa saya tiduri hari ini! Saya sedikit lelah dan butuh asupan energi!" Ujar James.


"Baik saya akan bawakan secepatnya!" Jawab pria itu kemudian pergi.


Bayang-bayang wajah Clein tiba-tiba memutar di otak James. Kecantikan alami nan tegas namun menggemaskan mampu membuat bibir James menyungging sempurna.


"Kalau saja pemimpin komunitas Black Tyrannical bukan Clein, mungkin komunitas itu sudah saya hancurkan berkeping-keping!" Gumam James.


******


Deva bersama dengan beberapa temannya sudah tiba di acara peresmian hotel yang mengambil tema outdoor. Dekorasi elegan sudah terpasang dengan rapi. Tamu-tamu penting sudah berdatangan dan sudah duduk di kursi yang telah disediakan.


Para awak media yang hadir juga sudah berjajar rapi di depan. Seorang pembawa acara mulai membuka acara. Setelah itu hiburan seperti tarian dan nyanyian di tampilkan.


"Aseekkk, di goyang!" Sorak Kenzo ketika seorang penyanyi dangdut bernyanyi di depan sana dengan goyangan ngebor yang khasnya. Deva tertawa begitupun teman-temannya.


"Ini sih kesukaannya Kenzo lagu dangdut." Ucap Arhan.


"Haha, bukan cuma Kenzo aja yang suka gue juga suka." Timpal Revan yang menggerakkan jempolnya mengikuti alunan suara gendang.


Tepat di balik semak-semak, tiga orang pria tengah mengawasi gerak-gerik Deva dan keempat temannya.

__ADS_1


"Kapan kita maju?" Tanya seorang pria bernama Bagus.


"Nanti! Setelah ada kesempatan, saya akan memberikan aba-aba." Ucap Dario.


Ketiga pria itu memakai masker dan tak lupa juga topi untuk menyembunyikan identitas mereka.


Setelah hiburan-hiburan selesai di tampilkan, kini saatnya sambutan pidato yang akan di sampaikan oleh Deva. Deva terlihat gugup dan sesekali memegang tangan Kenzo yang duduk di sampingnya.


"Santai aja bro, Lo pasti bisa!" Ucap Kenzo menyemangati Deva.


"Thanks bro." Balas Deva berusaha menarik nafasnya.


Deva melangkahkan kakinya ke depan. Ia mengambil mic yang berada di tangan pembawa acara.


"Baik, assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat siang hadirin semuanya. Pertama-tama saya ingin mengucapakan terimakasih pada kalian semua yang sudah berkenan hadir di acara peresmian hotel Black Tyrannical. Sebenarnya seharusnya bukan saya yang berada disini, tapi pemimpin kami yang kebetulan berhalangan hadir. Disini saya mencoba untuk menjadi perwakilan yang di pilih untuk berbicara." Deva mulai terlihat tenang. Keempat temannya pun merasa bangga saat Deva mampu berbicara dengan lancar di depan sana terutama Revan.


"Alhamdulillah komunitas kami telah membuka bisnis baru di bidang hotel.  Setelah sebelumnya kami mencoba untuk membuka bisnis restoran. Restoran itu kini sukses dengan memiliki banyak cabang. Kami berharap agar hotel baru kami ini juga bisa sesukses bisnis sebelumnya. Kali ini kami berharap supaya bisnis baru komunitas kami ini bisa di terima dan di support oleh hadirin semuanya. Selain itu, saya ingin memperkenalkan teman-teman saya yang tergabung dalam komunitas Black Tyrannical. Mereka juga adalah orang-orang hebat yang ikut andil untuk majunya komunitas kami."


Deva melihat pada ke empat temannya. Mereka semua tengah tersenyum bangga padanya. Deva memberikan isyarat kepada teman-temannya itu agar melangkah maju menemani dirinya.


Revan, Kenzo, Andres dan Arhan ke empatnya mengangguk dan melangkahkan kaki untuk menghampiri Deva. Mereka sudah berjajar rapi di depan sana.


"Sekarang!" Perintah Dario saat melihat kelima pria itu berjajar rapi.


Dorrr!


Dorrr!


Dorrr!


"AWAS!" Teriak Kenzo mencoba meraih lengan teman-temannya.


"Aaaaaaaaa!!!"


"DEVA!" Andres berusaha untuk membantu Deva namun saat itu.


Dorrr!


Dorrr!


Dua tembakan berhasil di luncurkan. Satu mengenai lengan kirinya dan satunya lagi berhasil melesat jauh mengenai tembok hotel.


"DEVA! ANDRES!" Teriak Kenzo. Dua orang itu sudah tumbang dengan luka tembakan.


Suara riuh langsung terdengar, tamu-tamu yang hadir dan para awak media berbondong-bondong menyelamatkan diri mereka dengan berlari menjauhi lokasi. Mereka tidak peduli dengan tas dan barang-barang berharga, Mereka berpikir tidak ada yang lebih penting dari nyawa.


Revan berusaha mengambil pistol di balik jaketnya.


Dorrr!


Dorrr!


Dorrr!


Namun semua tembakannya melesat jauh. Arhan dan Kenzo bangkit, mengambil senjata yang mereka bawa kemudian berlari dan berusaha untuk mengejar.


Setelah berhasil menembak dua orang dan merubah suasana menjadi keos, Rangga, Bagus dan Dario ketiga pria itu bersiap untuk pergi. Suara tembakan senjata mendominasi tempat itu.


"Bangs*t! Jangan lari!" Teriak Arhan. Ia menembakkan pistolnya.


Dorrr!


"ARRRGHHHHH!"

__ADS_1


Satu tembakan berhasil mengenai kaki Rangga. Pria itu terjatuh, sedangkan kedua temannya berusaha membantu.


"Rangga ayo cepat! Tahan, kita harus cepat pergi kalau tidak, kita akan tertangkap!" Tegas Bagus.


"Tahan dan coba lepas sepatu kamu lalu seret kaki kamu!" Tambah Dario


"Ayo cepet Rangga! kita tidak punya waktu lagi!" Tegas Bagus.


Diikuti ringisan, Rangga berusaha menahan rasa sakit mengenai kakinya. Ia mencoba menerima saran dari Dario untuk melepaskan sepatunya. Tangan Rangga di pegang oleh kedua temannya dan saat itu Rangga langsung berlari dengan menyeret sebelah kakinya.


"Bangs*t! Iblis! Mau lari kemana kalian?!" Teriak Kenzo. Revan, Arhan dan Kenzo berusaha mengejar. Namun usaha mereka gagal karena ketiganya berhasil kabur dan sekarang mereka kehilangan jejak.


"Lo nemu mereka?" Tanya Kenzo.


"Enggak! Gue cuma Nemu sepatunya doang yang sengaja ditinggal kayaknya!" Ucap Arhan memberikan sepasang sepatu pada Kenzo.


"Sepatu?" Tanya Revan.


"Kita selidiki ini nanti, sekarang kita balik ke hotel! Gue khawatir sama kondisi Andres sama Deva juga!" Ujar Kenzo.


Baik Arhan maupun Revan keduanya mengangguk dan bergegas menghampiri kedua teman mereka.


Dengan sebelah tangannya dan berusaha menahan rasa sakit pada tangan kirinya, Andres mengambil handphone lalu mencari nama Shane di dalam kontaknya.


Ha-hallo Shane, ki-ta ba-ru aja


Diserang. De-deva tak sadarkan


diri, dia kena luka tembak. Tolong


segera kirimkan bantuan.


^^^Diserang?! Oke kita akan segera^^^


^^^kesana, gue bakal secepatnya^^^


^^^kirim ambulance.^^^


Setelah itu telepon dimatikan. Nada Shane terdengar panik di ujung telepon sana. Penyerangan yang tidak pernah mereka perkirakan sebelumnya. Jika Clein ada disana, mungkin penyerangan itu akan mudah digagalkan karena insting Clein sangat kuat. Ia bisa dengan mudah tau pergerakan dari musuh.


"Andres!" Kenzo mendekat pada Andres yang masih sadar. Darah pada tangannya masih mengucur deras.


"Deva! Va, bangun!" Revan bergerak mendekati Deva. Ia langsung mengangkat kepala Deva dan menidurkan kepala pria itu di pahanya. Revan tidak ingin kehilangan Deva walaupun Deva sering membuatnya kesal. Pertengkaran mereka hanyalah main-main dan Revan merasa enjoy.


Kelopak mata Deva masih tertutup, tangan Arhan bergerak untuk mengecek nadinya.


"Dia masih hidup! Kita harus secepatnya bawa Deva ke rumah sakit, sebelum dia kehilangan banyak darah!" Ucap Arhan. Luka tembak yang Deva terima terlihat cukup parah.


"Gu-gue u-udah telepon Shane. Dia akan se-gera me-ngi-rimkan bantuan ssshhh." Ucap Andres.


"Ya Tuhan! Siapa dalang di balik tindakan ini? Benar-benar biadab!" Ucap Kenzo yang tidak kuasa menyaksikan bagaimana temannya kesakitan.


Tak berkisar lama, suara sirine ambulance dan suara deru motor terdengar mendekat ke arah mereka. Shane diikuti banyak anggota telah datang. Setelah datang, mereka langsung membawa tubuh Deva dan Andres ke dalam ambulance. Shane memijit pelipisnya.


"Kita gak berhasil kejar mereka, tapi kita cuma nemuin sepatu ini!" Ujar Kenzo.


Shane melihat sepatu itu dengan seksama. Di dalam sepatu itu terdapat logo yang jelas ia tahu. Dimana pria bertopeng diabadikan dalam gambar itu.


"Hitler! Sial! James pasti yang sudah merencanakan ini!" Ujar Shane menatap tajam sepatu itu.


...Terima Kasih Sudah Membaca...


Support terus cerita ini💚

__ADS_1


__ADS_2