Tap Your Heart

Tap Your Heart
Bagian 9


__ADS_3

"bang, kak Clein sudah bersedia untuk hadir di acara penghargaan nanti." Ucap Edvin.


Karel tersenyum menyeringai saat mendengar ucapan adiknya. Begitu mudahnya ia memancing kedatangan Clein. Wanita itu masih saja sama, dia masih sangat menjunjung tinggi harga dirinya. Hanya karena kalimat gertakan yang terdengar seperti sebuah omong kosong, dengan sendirinya ia merubah pendiriannya.


"Bagus!" Singkat Karel.


"Edvin harap Abang enggak bakalan ngomong hal yang menyakiti hati kak Clein lagi. Edvin ingin pertemuan Abang sama kak Clein nanti di acara penghargaan mempunyai kesan yang baik. Kalian bisa saling berbaikan. Soalnya Edvin tau kak Clein itu wanita yang sangat baik."


"Jangan pernah melihat baik buruknya seseorang tanpa perkenalan yang jauh. Kamu hanya mengenalnya secara singkat. Jangan jadi manusia bodoh hanya karena melihat karakter seseorang dari satu sisi saja." Ujar Karel.


"Meski perkenalan Edvin sama kak Clein cuma sebentar, tapi Edvin dapat merasakan kebaikannya. Kak Clein wanita yang keras di luar namun hatinya sangat lembut. Edvin bisa ngerasain sifat penyayang di dalam diri kak Clein."


"Itu hanya perasaan kamu saja."


"Terserah Abang mau ngomong apa, Edvin cuma pengen ngingetin supaya Abang enggak bertindak buruk terhadap kak Clein di acara penghargaan nanti!"


"Kita lihat saja nanti!"


Saat Edvin akan berbicara kembali, tiba-tiba suara bel rumahnya terdengar. Ia sudah dapat menebak siapa itu. Itu pasti Marcel temannya. Tanpa menunggu lagi, Edvin memilih untuk segera membukakan pintu dan meninggalkan kakaknya.


Drrrttt drrrttt drrrttt


Dering handphonenya berbunyi, Karel pun segera mengangkatnya.


Hallo


^^^---------^^^


Saya akan segera kesana!


Karel langsung mematikan panggilan telepon secara sepihak. Ia mengambil tuxedonya, kemudian bergegas pergi. Edvin dan Marcel saling bertatapan dalam diam saat melihat Karel pergi dengan terburu-buru.


"Abang mau kemana?"


"Abang ada urusan! Tetaplah dirumah sebelum Abang kembali!" Ujar Karel yang tidak menghentikan langkahnya.


"Kayaknya Abang kamu sibuk banget. Emang dia kerja apa?" Tanya Marcel.


"Abang Karel itu punya perusahaan hiburan. Namanya K.A Entertainment perusahaan yang kayak debutin orang-orang jadi aktor atau aktris gitu. Dia juga punya 70% saham di club bola Nerves Of Steel." Jelas Edvin.


"Nerves of Steel? Itu Club bola panutan aku loh Vin. Pemainnya keren-keren. Bahkan kemajuannya jauh diatas kita. Club kita mainnya masih di liga dua, sedangkan Club Nerves of Steel udah main di liga utama. Iri banget pengen kayak mereka."


"Pencapaian kita gak bisa di bilang biasa aja Cel. Kita udah menang ngalahin Club bola internasional yang dimana pemainnya banyak yang masuk peringkat FIFA teratas, itu sebuah kemajuan yang luar biasa. Apalagi kita sampai di undang ke acara awards bergengsi. Duh kayak mimpi tau rasanya." Ujar Edvin.


"Iyah sih kamu bener."

__ADS_1


"Aku yakin sih, Club kita secepatnya akan di masukkan ke pertandingan liga utama. Nanti kita bisa tanding lawan Club Nerves of Steel. Kita bisa ketemu sama Ricardo."


"Pengen banget! Dia idola aku Vin, Ricardo itu gocekannya beuhhh,, panutan banget deh."


"Sama aku juga ngeidolain dia Cel. Meski abangku punya koneksi, tapi namanya bintang terkenal dan aku juga sibuk di asrama jadi aku aja belum pernah ketemu sama dia."


"Beneran belum?"


"Beneran! Abang Karel baru beli saham itu sekitar 2 tahun yang lalu. Sedangkan dua tahun itu, kita lagi sibuk banget latihan untuk masuk liga utama. Meskipun pada akhirnya kita belum bisa lolos, tapi sekarang kita pasti bisa sih lawan mereka! Aku udah percaya diri banget sama kemampuan tim kita!" Ujar Edvin.


"Semoga yah harapan aku dan kamu terwujud." Ucap Marcel.


"Aamiin." Balas Edvin.


"Btw ayo masuk, Cel. Kenapa kita disini aja? Aku lupa kalau kita mau main golf." Lanjut Edvin menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"It's okay Vin. Pembahasan mengenai Club Nerves of Steel emang gak ada habisnya. Seru!" Ucap Marcel. Mereka berdua berjalan beriringan menuju ke dalam Mansion.


"Iyah seru. Soalnya sama-sama mengidolakan club dan pemainnya." Tambah Edvin.


******


Bughhh


Bughhh


Bughhh


"Menyedihkan! Hari ini anda terlihat sangat menyedihkan! Kesedihan yang sama persis seperti kesedihan yang pernah dialami oleh anggota komunitas Black Tyrannical saat itu!" Ejek Clein.


Clein menggerakkan wajah Reynold ke kanan dan ke kiri untuk melihat luka di pipi pria itu yang sudah berbentuk dengan sempurna. Clein tersenyum miring kemudian melepaskan tangannya dari wajah pria itu dengan kasar.


"Seandainya sebuah penghianatan tidak anda lakukan dan andai sebuah kesetiaan anda junjung tinggi, luka ini tidak akan pernah ada di wajah anda! Bersenang-senang dengan orang lain dan membiarkan anggota komunitasnya menderita, betapa jahatnya anda, Reynold!" Desis Clein.


"Gue gak nyesel udah berkhianat! Gak sama sekali! Gue bisa dapetin semua yang gak bisa gue dapetin di komunitas ini! Harta, wanita dan kehormatan semua itu bisa gue dapet cuma dari geng Hitler. Komunitas Black Tyrannical mana ada bisa ngasih itu, komunitas ini cuma komunitas miskin yang isinya orang-orang bodoh!" Tukas Reynold diikuti tawa mengejeknya.


Bughhh


Clein menendang perut Reynold dengan sangat kencang. Shane yang tengah memperhatikan itu dari kejauhan dapat mendengar ringisan Reynold. Dari belakang saja ia dapat melihat aura Clein yang sangat mengerikan.


Reynold mendongak saat tangan Clein menarik rambutnya ke belakang. Clein menatap bengis wajah Reynold.


"Mereka tidaklah lebih bodoh dari anda! Jika ada satu kalimat saja dengan konotasi negatif dari bibir anda yang ditujukkan terhadap anggota Black Tyrannical, saya tidak akan membiarkan mulut itu bisa berbicara lagi! Saya akan merobeknya dengan tangan saya sendiri!" Tegas Clein penuh penekanan.


"Gue gak takut sama lo! Sebentar lagi, James akan membalaskan semuanya, Clein!"

__ADS_1


Clein menggertakkan giginya dan semakin menarik rambut itu ke belakang.


"Saya akan menunggu!" Clein melepaskan tangannya kemudian pergi meninggalkan Reynold disana.


"Shane cambuk dia! Cambuk sampai dia tidak bisa menegakkan tubuhnya kembali!" Perintah Clein.


"Baik Clein!"


Clein melanjutkan langkahnya untuk menjauhkan diri dari Reynold. Sedangkan Shane mengikut perintah Clein. Shane mulai mencambuk Reynold dengan sangat keras. Long-longan suara kesakitan dari bibir Reynold sampai terdengar ke lantai atas dimana anggota lain tengah duduk dengan menunggu Clein. Son sudah selesai mendata orang-orang yang akan ikut bersama Clein ke Riyadh, Arab Saudi.


"Merinding gue denger teriakan si Reynold! Apa yah yang di lakuin Clein sampai teriakan Reynold kayak gitu?" Ujar Revan.


"Entah, gue juga penasaran." Ucap Son.


"Gue sih dengernya puas banget. Entah sudah berapa banyak anggota komunitas kita yang meninggal hanya karena ulah pengkhianatannya Reynold! Dia pantas mendapatkan kesakitan itu! Biarin aja biar dia mati secara perlahan! Hanya tinggal masukin James ke penjara bawah tanah dan buat dia dapetin siksaan yang sama! Gue merasa sangat, sangatlah puas!" Timpal Deva.


"Iyah, Dev. Kalau flashback ke masa-masa itu rasanya sakit. Saat itu kita gak bisa apa-apa selain meminta belas kasih dari geng Hitler. Sekarang setelah Clein gabung dan dilantik menjadi pemimpin, semuanya berubah. Kita jadi punya pijakan untuk maju." Sambung Kenzo.


"Makasih buat Oki yang udah kenalin kita ke Clein dan udah mau bujuk Clein buat gabung sama komunitas Black Tyrannical. Clein itu layak di sebut Queen of Black Tyrannical, dia itu Queen yang mampu membuat kemajuan pesat di komunitas kita." Ujar Revan.


"Iyah bener makasih banget Oki." Ucap Kenzo.


Semua orang mengangguk dan menatap Oki dengan penuh rasa syukur karena telah membawa Clein pada mereka.


"Gue cuma perantara aja, hadirnya Clein di komunitas Black Tyrannical, itu sudah menjadi takdir Tuhan. Jadi lebih layak kalau kalian berterimakasih sama Tuhan, bukan gue." Jelas Oki.


Mereka menghentikan percakapan mereka ketika Clein datang dengan wajah dingin. Mereka semua menyingkir berniat untuk memberikan tempat duduk untuk Clein.


"Duduk saja!" Ujar Clein. Para anggota pun saling menatap kemudian mengangguk dan duduk kembali.


Clein mengambil kursi kecil dan duduk di sana. Ia hanya diam dengan tatapan lurus ke depan. Suara riuh ramai pun sekarang berubah hening. Clein melihat pada anggota komunitasnya. Mereka semua tengah memperhatikan dirinya dengan tatapan penasaran dan menunggu Clein berbicara.


"Kenapa? Kenapa jadi diam? kenapa tidak dilanjutkan bicaranya?" Tanya Clein mengerutkan keningnya.


"Gapapa." Singkat Revan.


Clein hanya mengangguk.


"Udah selesai didata Son?"


"Udah Clein."


Son berjalan menghampiri Clein dan memberikan kertas berisi sebelas nama anggota. Clein membaca kertas itu.


"Good! Saya harap sebelas nama yang ditulis disini, kalian semua dapat mempersiapkan segalanya tanpa kurang suatu apapun!" Ujar Clein.

__ADS_1


"Siap!"


__ADS_2