
Clein telah sampai di depan Markas Black Tyrannical. Air mata begitu saja lolos di matanya. Sudah cukup lama ia tidak melihat tempat yang mewarnai hidupnya. Tempat yang di dalamnya terdapat manusia-manusia yang mampu menghiburnya. Rasanya sangat pedih ketika mendengar kabar kematian sahabatnya dari orang lain. Walaupun ia sendiri belum tau kebenarannya seperti apa.
Beberapa orang yang tengah berdiri di luar memasang ekspresi terkejut saat melihat Clein yang berada di depan mata mereka. Pemimpin yang sangat mereka rindukan dan tidak tau bagaimana kabarnya kini sudah memperlihatkan batang hidungnya.
"Shane, Shane!" Panggil Revan yang mengalihkan perhatian Shane.
"Kenapa Van?" Tanya Shane.
"Di depan Shane, di depan markas ada Clein!" Ucap Revan antusias.
Shane, Oki dan Kenzo langsung berdiri di tempat mereka.
"Clein? Lo gak bohong kan, Van?" Tanya Oki yang masih tidak percaya.
"Mana mungkin gue bohong, liat aja di depan. Clein ada di depan!" Balas Revan.
Shane bergerak lebih dulu untuk melihat ke depan markas diikuti oleh Revan, Kenzo dan juga Oki. Shane mematung di tempatnya, senyuman bahagia terpancar di bibirnya.
"Clein!" Gumamnya. Pria itu langsung menghampiri Clein dan memeluk tubuh gadis itu.
Clein terlihat menghapus air matanya lalu membalas pelukan Shane.
"Lo kemana aja, Clein? Gue cari-cari lo tapi lo gak ada! Gue kangen sama lo, gue gak bisa jalanin komunitas ini tanpa lo, Clein." Ucap Shane.
Clein hanya diam dan terus-menerus menangis.
"Shane." Panggil Clein. Shane melepaskan pelukannya kemudian menatap dalam manik mata Clein.
"Shane, apa-apa.." Clein mencoba menarik nafasnya agar ia mampu untuk melontarkan pertanyaannya.
"Apa, Clein? Apa yang pengen lo tanyain?" Tanya Shane.
"Shane a-apa bener kalau Deva meninggal?" Tanya Clein lirih.
Shane kembali teringat pada temannya, tak terasa bulir air mata jatuh juga di pelupuk matanya.
"Iyah Clein." Balas Shane tak kalah lirih.
"Ya Allah... Kenapa, kenapa dia bisa meninggal Shane? Dia sakit? Atau kenapa?" Tanya Clein kembali.
__ADS_1
"Saat acara peresmian hotel baru kita, Deva berinisiatif untuk menggantikan posisi lo, Clein. Soalnya saat itu lo gak ada kabar. Apalagi saat itu waktu sudah sangat mepet. Kita bingung cari pengganti lo, nah Deva mengajukan diri kemudian kita sepakat memilih Deva. Namun saat Deva berbicara di depan tamu dan awak media yang hadir, saat itu tiba-tiba terjadi penyerangan. Andres dan juga Deva terkena luka tembak. Andres masih bisa di selamatkan, tapi Deva engga." Jelas Shane.
"Siapa yang menyerang mereka? Bangs*t berani sekali!" Umpat Clein.
"Orang-orang yang melakukan penyerangan adalah anggota dari geng hitler. Mereka semua suruhan dari James."
Clein terlihat mengusap wajah kasar. Hidupnya terlalu fokus pada Karel, sampai-sampai ia tidak mengetahui hal sebesar itu. Dimana komunitasnya tengah mengalami kesulitan. Betapa bodohnya dia, betapa tidak becusnya dia.
Tatapan Clein terlihat fokus pada leher Shane yang terdapat sebuah bekas luka sayatan yang sepertinya sudah mengering.
"Ini, leher kamu juga kena serang mereka, Shane?" Tanya Clein menyentuh luka itu dengan ibu jarinya.
"Kemarin kita sempat akan membalaskan dendam. Namun rencana yang sudah di rencanakan, tidak berjalan dengan baik. Mereka mengetahui semua rencana yang udah gue atur. Dan hasilnya luka ini." Ucap Shane.
"Maafin saya Shane. Maafin saya, ini semua karena saya." Lirih Clein penuh penyesalan.
"Emang lo kemarin kemana, Clein? Kata Marcel lo pergi ke rumah nenek lo. Tapi gue gak percaya karena biasanya lo selalu ngabarin soal apapun sama gue. Sekarang gue cuma pengen tau soal keberadaan lo kemarin. Tolong ceritain semuanya sama gue." Ujar Shane.
Clein tidak mungkin menceritakan semuanya. Ia tidak ingin teman-temannya tau soal pernikahan yang sudah dijalaninya dengan Karel. Jika mereka tau, bagaimana nasibnya nanti bersama dengan komunitasnya.
"Kemarin dia telah menikah dengan saya!"
Deg!
"Karel! Anda ini apa-apaan, jangan bicara omong kosong!" Tegas Clein.
"Omong kosong apa? Beritahu saja mereka soal pernikahan kita." Ucap Karel santai menghampiri Clein dan juga Shane.
"Menikah? dengan dia? Lo nikah sama cowok yang lo benci, Clein?" Tanya Shane tidak percaya.
Clein menggeleng cepat.
"Iyah kita berdua sudah menikah. Lihat!" Karel memperlihatkan punggung tangannya yang di jari manisnya terpasang sebuah cincin pernikahan, begitupun ia menarik tangan Clein dan memperlihatkan cincin yang sama.
Semua anggota komunitas Black Tyrannical saling melemparkan tatapan terkejut.
"Masih belum percaya? Silahkan dilihat! ini buku nikah pernikahan saya dan juga Clein." Ucap Karel menyerahkan dua buku nikah pada Shane. Clein mencoba untuk menahan buku nikah itu, namun Shane langsung menyingkirkan tangan Clein dan mengambil dua buku itu.
Saat membuka buku nikah yang Karel berikan, Shane terdiam lama. Dengan pandangan tak percaya ia menatap wajah Clein.
__ADS_1
"Apa maksudnya ini? Lo nikah sama dia tanpa bilang ke kita-kita dulu? Padahal kita semua ini temen lo, Clein. Ternyata lo ini cewek munafik!" Ada nada kekecewaan dari cara bicara Shane.
Oki, Kenzo dan juga Revan langsung mendekat pada Shane lalu mengambil buku nikah itu dan melihatnya.
"Semua ini gak seperti yang kalian kira. Saya menikah dengannya bukan karena kemauan saya."
Shane tersenyum miring.
"Bukan kemauan lo gimana? Jelas-jelas lo akhir-akhir ini ngilang, eh muncul-muncul lo bawa kabar buruk kayak gini. Tega yah lo, Clein. Lo menelantarkan komunitas ini dan gara-gara lo yang sibuk atas kebahagiaan lo sendiri, Deva meninggal. Gue bener-bener gak habis pikir!" Ucap Shane.
Arhan tiba-tiba mendekat.
"Apa gue bilang kan, Clein pasti mengkhianati komunitas kita. Kemarin aja kalian gak percaya, sekarang lihat! Dia ini munafik pura-pura membenci pria ini kemudian menikah dengan membawa uang kita!" Ucap Arhan.
"Jangan memperkeruh keadaan Arhan. Diam saja!" Kesal Oki.
"Apalagi yang gak lo percaya Ki, omongan Arhan udah terbukti bener. Kita gak bisa lagi nerima dia di komunitas Black Tyrannical, Ini bukan masalah kecil. Secara tidak langsung Clein sudah mengkhianati komunitas kita." Ucap Kenzo.
"Shane, Kenzo, Arhan ini gak seperti yang kalian pikirkan. Saya perlu menjelaskan semuanya." Ucap Clein yang tak henti-hentinya mengusap air mata.
"Semuanya sudah jelas. Gue gak butuh penjelasan apapun lagi. Lo gak bisa diterima lagi di komunitas kita. Secepatnya pemimpin komunitas Black Tyrannical akan diganti!" Tegas Shane.
"Shane tolong dengerin penjelasan saya, Shane tolong! Saya tidak bisa kalau saya harus jauh dari komunitas Black Tyrannical." Lirih Clein.
"Masuk ke dalam Markas semuanya!" Perintah Shane. Ia langsung memunggungi Clein dan melangkahkan kakinya. Orang-orang masih tidak percaya.
Clein mencoba untuk mengejar Shane namun dengan cepat Karel menarik pergelangan tangan istrinya.
"Mereka sudah tidak bisa menerima anda lagi. Lebih baik jika kita kembali ke mansion." Ujar Karel.
Clein menatap tajam manik mata Karel. Genangan air mata dan kebencian terpancar di matanya.
"PUAS ANDA SUDAH MENGHANCURKAN HIDUP SAYA? INI KAN YANG ANDA INGINKAN?! LEPASKAN TANGAN SAYA!" Ucap Clein meninggikan ucapannya dan menyingkirkan tangan Karel dengan kasar.
"Anda ini istri saya! saya berhak memerintah anda! Tadi saja anda mengatakan hanya pergi berburu! Tapi nyatanya anda membohongi saya! Pulang! Ikut dengan saya!" Tegas Karel kembali menarik lengan Clein namun lagi-lagi Clein menghempaskan lengan Karel.
"Saya tidak bisa lagi hidup dengan anda! Saya ingin cerai! Pulang saja sendiri, jika sampai anda mengikuti saya, saya akan bunuh diri, Karel!" Tegas Clein kemudian pergi meninggalkan Karel.
"CLEIN! SAYA TIDAK AKAN PERNAH MENCERAIKAN ANDA!" Teriak Karel.
__ADS_1
Clein tidak peduli dan memilih untuk pergi menjauh dari Karel.
"ARGHHH! ANDAI SAJA TADI SAYA TIDAK MENGIZINKAN DIA PERGI, MUNGKIN ENDINGNYA TIDAK AKAN SEPERTI INI! SIALAN!" Kesal Karel menendang batu yang berada di depannya. Kemudian masuk ke mobilnya dan melajukan mobil dengan kecepatan tinggi.