Tap Your Heart

Tap Your Heart
Bagian 33


__ADS_3

Pergulatan antara Karel dan Alita kembali terjadi. Kondisi sprei sekarang sudah terlihat tak beraturan. Karel duduk samping kasur dan memakai kembali pakaiannya sedangkan di bawah selimut Alita hanya menyandarkan punggungnya.


"Kamu belum mengatakan apapun tadi, sebenarnya kemarin kamu kemana aja? Ditelpon gak diangkat, di chat gak di bales, aku ke mansion kamu tapi kamu selalu gak ada. Kamu kenapa sih akhir-akhir ini?" Tanya Alita dengan perasaan sedikit kesal.


Semua pakaian sudah melekat rapi di tubuh Karel. Ia hanya diam ditempatnya lalu matanya melihat wanita yang sudah lama menjadi kekasihnya.


"Malam ini akan menjadi malam terakhir untuk kita. Kita akhiri hubungan kita sampai disini." Ucap Karel diikuti helaan nafas panjang.


Alita mengeratkan pegangan pada selimut, lalu perlahan bergerak untuk menghampiri Karel. Mendengar ucapan dari Karel tentu saja membuat Alita terkejut.


"Apa sih gak nyambung banget, ditanya apa jawabnya apa!" Ketus Alita.


"Kemarin saya melangsungkan pernikahan, sekarang status saya sudah menikah. Saya ingin mengakhiri hubungan kita." Ucap Karel.


"APA?! Karel, Karel jangan bercanda! Ini bukan momen yang tepat untuk melakukan itu!" Balas Alita memaksakan tawanya.


"Saya tidak bercanda!"


Alita menggigit bibir bawahnya, sulit untuk dipercaya bahwa itu bukan sebuah candaan. Ia masih sulit menerima dengan apa yang Karel katakan, semua seperti hanya bualan semata.


"Siapa wanita yang sudah kamu nikahi? Kamu selingkuh?!" Tanya Alita dengan nada yang sedikit meninggi.


"Saya tidak selingkuh. Wanita yang saya nikahi itu adalah Clein, musuh saya sewaktu di sekolah menengah atas. Pernikahan itu bukan pernikahan yang sengaja direncanakan. Ada seseorang yang menjebak kami berdua." Jelas Karel.


"Dan kamu mau aja gitu? Kenapa kamu gak nolak? Kenapa kamu gak langsung bilang aja kalau kamu itu dijebak?! Karel pernikahan itu bukan hubungan main-main!"


"Saya tau! Alasan saya tidak menolak melakukan pernikahan dengannya, saya berpikir ini momen terbaik untuk menghancurkan gadis itu. Saya menikah untuk mencapai tujuan saya, bukan karena saya mencintai dia." Ujar Karel.


"Tetep aja Karel ini bukan cara yang tepat. Apa kamu gak mikirin perasaan aku? Aku disini pacar kamu loh!" Ujar Alita. Dadanya terasa sesak, air matanya luruh begitu saja.


"Saya memikirkan perasaan kamu, makanya saya ingin mengakhiri hubungan kita agar kamu tidak merasa tersakiti nantinya."


"Bodoh! Hati saya sudah sakit. Kalau kamu tidak mencintai dia, seharusnya kita bisa melanjutkan hubungan kita dibelakang dia, Karel." Ucap Alita.


Karel menghembuskan nafas gusar.


"Sebenarnya mamah yang meminta saya agar memutuskan hubungan dengan kamu. Apa kamu siap melihat saya dengan wanita lain? Kalau seandainya kamu siap, kita bisa melanjutkan hubungan ini. Tapi secara diam-diam." Ucap Karel.


"Aku siap! Aku gak bisa hidup tanpa kamu, sayang. Aku enggak peduli sama sekali soal status kamu! Pernikahan kalian dibuat hanya untuk sebuah dendam. Aku yakin setelah kamu bisa mencapai tujuan kamu, kalian pasti akan secepatnya bercerai." Ujar Clein.


Karel menaikkan alis kanannya. Wanita sangat mudah memberikan segalanya termasuk kebahagiaannya jika sudah menyangkut sebuah perasaan. Ia tidak akan sadar kalau dia sendiri tengah diperdaya oleh seorang pria.


"Please Karel jangan putusin aku. Please yah?" Alita memegang lengan Karel dengan memasang puppy eyes nya.


Tangan Karel mengusap puncak kepala Alita, seringaian terbit dibibirnya. Setidaknya saat hubungan mereka berlanjut, Karel tidak akan sulit untuk mencari pelampiasan ranjangnya.


"Baik, hubungan kita akan tetap berlanjut. Saya harap kamu bisa merahasiakan ini dari siapapun. Saya tidak ingin mamah saya mengetahui hubungan kita begitupun dengan Clein."


Alita mengangguk dan langsung menghambur ke pelukan Karel.


******


"Sepertinya saya sudah cukup lelah, sebaiknya kita pulang saja." Ucap Clein menaruh senapan itu ke tempatnya.


"Saya kira anda akan menginap disini nona. Sudah hampir 6 jam kita berada disini. Anda hanya istirahat saat waktu sholat saja, anda pasti kelaparan karena belum memakan apapun." Frey memberikan sebotol air mineral yang ia beli.


"Begitulah, saya menyudahi aktivitas saya karena perut saya terasa lapar."


"Eummm bagaimana kalau sepulang dari sini kita beli makan dulu nona?"


Clein melirik Frey sekilas.


"Tapi saya tidak bawa uang. Uang saya ada di mansion." Lirih Clein.

__ADS_1


"Tenang saja, tuan Karel sudah mentransfer uang pada saya. Semua uang itu bisa anda pergunakan untuk memenuhi kebutuhan anda." Ucap Frey.


"Karel mentransfer uang? Untuk saya?"


"Tentu saja nona."


Pria itu mencoba memenuhi janji untuk menafkahinya. Namun sepertinya Clein tidak bisa menerima pemberian Karel karena ia masih mampu.


"Anda punya uang?" Tanya Clein.


Frey mengernyitkan keningnya.


"Ada nona."


"Bagus! Saya pinjam uang anda saja, nanti akan saya ganti. Saya tidak ingin memakai sepeser pun uang dari pria itu." Ujar Clein.


"Maafkan saya nona, tapi ini perintah dari tuan Karel. Nona Clein yang menolak pemberiannya, nanti saya yang akan terkena masalah." Ujar Frey menundukkan wajahnya.


Hembusan nafas kasar terdengar. Menurut Clein, Frey ini terlalu patuh. Seandainya Frey tau kalau Karel hanya memperalat dirinya saja. Clein tidak habis pikir mengapa Karel bisa berubah sejauh ini. Menjadikan manusia seolah-olah binatang tanpa memanusiakan mereka. Entah apa yang Karel katakan untuk mengancam Frey, sampai-sampai pria itu terlihat begitu takutnya.


"Baiklah-baiklah. Ayo pulang!" Ucap Clein lelah.


"Mari nona." Frey mempersilahkan Clein berjalan lebih dulu di depannya.


Frey terlihat cukup kagok ketika ia akan kembali membukakan pintu mobil untuk Clein. Gadis itu kembali melihat Frey yang terus menerus menundukkan wajahnya.


"Biasakan untuk tidak berperilaku seperti pelayan, Frey. Angkat wajah anda, timbulkan rasa percaya diri dalam diri anda. Sifat saya berbeda dari Karel!" Ujar Clein.


Perlahan Frey mengangkat wajahnya, ia menyunggingkan senyum tipis dan Clein membalas senyuman Frey dengan tulus.


"Saya sangat bersyukur pada Tuhan karena telah mempertemukan saya dengan anda, Nona. Seumur hidup, saya baru pertama kali bertemu dengan perempuan sebaik anda." Ucap Frey.


"Ada-ada saja. kurangi pujiannya Frey karena saya tidak senang dengan sebuah pujian." Ucap Clein kemudian masuk ke kursi penumpang.


Setelah Frey duduk di kursi kemudi, ia bergegas mengemudikan mobilnya. Frey sesekali melihat Clein, takut-takut jika gadis itu marah padanya akibat dari perkataannya.


"Maafkan saya." Kalimat itu spontan keluar dari bibirnya. Clein yang tengah diam dengan menikmati pemandangan jalanan, seketika langsung menoleh pada Frey.


"Maaf untuk apa?"


"Sepertinya tadi saya mengatakan hal yang salah. Seharusnya saya tidak memuji anda."


"Astaga Frey itu hanya sebuah candaan saja. Saya tau candaan saya tidak lucu, tapi anda seharusnya tidak menganggap perkataan saya ini serius." Ujar Clein.


"Saya kira anda marah pada saya."


Clein menggeleng dengan cepat.


"Tidak. Saya tidak akan marah pada orang yang tidak membuat kesalahan." Ujar Clein.


Akhirnya Frey dapat bernafas lega setidaknya dugaannya salah. Frey sudah sangat nyaman bekerja dengan Clein apalagi saat Clein memperlakukan dirinya dengan sangat baik.


"Jadi mau beli apa?" Tanya Frey.


"Saya ingin ayam geprek yang pedes banget kayaknya enak." Jawab Clein sembari membayangkan rupa ayam geprek penuh dengan sambal, lalapan dan juga nasi.


"Oke."


Frey melajukan mobilnya semakin cepat. Ia merasa kasihan saat melihat Clein yang mulai kelaparan. Berbeda saat bersama Karel, ia tidak pernah merasa iba sedikitpun pada pria itu. Jika saja Frey tidak butuh pekerjaan mungkin ia tidak akan sudi untuk bekerja dengan Karel.


Setelah berhenti di perempatan dan membeli empat bungkus ayam geprek, Frey pun mengemudikan kembali mobilnya. Jalanan nampak sepi dan hujan gerimis rintik-rintik membasahi jalanan sedikit demi sedikit.


Laju mobil berhenti ketika mereka sudah sampai di depan Mansion. Mansion nampak sepi seperti tak berpenghuni.

__ADS_1


"Nih satu untuk anda." Ucap Clein menyerahkan sebungkus ayam geprek pada Frey.


"Tapi saya tidak lapar nona." Tolak Frey.


"Nanti juga lapar, cepat ambil!" Perintah Clein.


Mau tidak mau akhirnya Frey menerima pemberian Clein.


"Terima kasih."


"Sama-sama."


Clein masuk ke dalam Mansion, namun disana ia tidak melihat keberadaan siapapun. Tidak ada Rahma atau Edvin disana. Karel? soal dia tidak usah dipertanyakan karena Clein sangat bersyukur pria itu belum juga kembali.


"Mah!" Panggil Clein.


Namun tidak ada yang menyahut. Clein mencoba untuk mencari Rahma di dapur dan juga kamarnya akan tetapi tidak ada.


"Kemana perginya mamah? Padahal niatnya mau makan bareng tadi." Gumam Clein.


Clein menaruh tiga bungkus ayam geprek tepat di atas meja. Ia langsung melepaskan jaketnya dan menaruhnya. Clein tidak sabar untuk memakan makanan yang telah ia beli.


"Sss enak banget kayaknya." Ucap Clein membuka bungkusan ayam geprek.


Pada suapan pertama Clein memejamkan matanya, akhirnya perutnya terisi juga. Ia bersyukur pada Tuhan karena masih memberikan sebuah kenikmatan padanya. Clein memakan makanan itu dengan lahap. Bahkan saking lahapnya, Clein tidak menyadari seseorang tengah memperhatikan dirinya.


"Ehemmm." Dehem pria yang berjalan mendekati dirinya. Clein berbalik kemudian memutar bola matanya malas. Ia berusaha tidak peduli dengan keberadaan Karel.


"Pelan-pelan makannya, nasi sama ayamnya tidak akan lari kemana-mana, Clein." Ucap Karel duduk tepat di samping Clein.


"Diam, jangan ganggu saya." Ucap Clein kembali menyuap makanannya.


Karel menyandarkan punggungnya dan melipat tangannya. Matanya tidak ia alihkan sedikitpun dari Clein.


"Habis pergi dari mana?"


Clein hanya diam. Ia enggan untuk menjawab pertanyaan Karel. Fokus utamanya kali ini hanya pada makanan. Tingkah Karel ini sudah seperti seorang suami sungguhan saja, yang selalu mempertanyakan apapun pada istrinya.


"Haram hukumnya bagi seorang istri yang mencampakkan suaminya. Apa anda tidak takut dengan hukum Tuhan?"


Clein mendelikkan matanya. Ia beranjak dari tempat duduknya dan mengambil air minum. Clein menenggak habis segelas air putih kemudian duduk kembali di tempatnya.


"Anda ini tidak cocok mengatakan hal-hal seperti itu. Perbaiki saja dulu perilaku anda baru ceramahi saya!" Ujar Clein. Sekarang tiba-tiba selera makannya menghilang.


"Perilaku saya memang buruk, tapi apa salahnya saya mengingatkan anda?"


Bungkus makanan yang sempat Clein buka dan masih bersisa, Clein langsung merapikannya lalu membuangnya ke tempat sampah.


"Udara malam ini semakin terasa sangat panas. Saya harus secepatnya mandi dan melaksanakan sholat agar terbebas dari yang namanya iblis!" Ujar Clein. Saat kata iblis di ucapkan sorot matanya menatap Karel.


Clein melangkahkan kakinya.


"Clein! Jangan dulu pergi, anda belum menjawab pertanyaan saya!" Teriak Karel.


"Saya tidak ada waktu!" Balas Clein dengan teriakan.


"Woy Clein! Mau masuk ke kamar lewat mana? Anda saja tidak tau sandi pintu kamar saya!"


Karel ikut beranjak mengikuti Clein ke kamarnya. Setelah energinya berhasil kembali diisi, Karel akan mulai kembali mengganggu istrinya. Ia akan membuat Clein hidup tanpa ketenangan. Karel akan mengikuti alur pernikahan yang ia buat, kemudian setelah semuanya tuntas maka talak lah yang akan ia jatuhkan.


...


...

__ADS_1


__ADS_2