
Adzan subuh berkumandang, Clein serta anggota lainnya sudah kembali ke markas mereka. Dan Reynold, pria itu tengah di tahan di penjara bawah tanah. Clein belum menginginkan untuk melakukan penyiksaan terhadap Reynold. Ia tau jika semua anggotanya sudah lelah, mereka butuh waktu untuk melaksanakan ibadah dan tentu saja butuh waktu untuk tidur juga.
"Bagi yang muslim, kita laksanakan sholat berjamaah terlebih dahulu. Dan untuk yang non muslim, kalian boleh kembali ke rumah kalian masing-masing!" Ujar Clein.
"Gapapa, kita tunggu kalian sholat aja. kita ini udah kayak keluarga. Gak bisa kalau harus dulu-duluan pulang, jadi kita harus balik bareng-bareng!" Ujar Son diangguki oleh anggota lain yang beragama non muslim.
"Balik lagi, saya tidak memaksa. Itu terserah kalian." Ucap Clein.
"Revan, jadi imam hari ini!" Lanjutnya.
Revan terkejut dan menunjuk dirinya sendiri.
"Aku? Yakin?! Biasanya juga Shane! Ah gak bener ini!"
"Belajar! di masa depan nanti lo bakalan jadi calon imam buat istri lo." Ucap Deva.
"Kenapa coba gak lo aja?"
"Kan yang di perintahin Clein, lo! Bukan gue!" Ketus Deva.
Clein hanya menggeleng pelan saat mendengar perdebatan keduanya yang tak kunjung berhenti. Ia segera mengambil wudhu untuk melaksanakan sholat.
"Ckkk,,, haduhhh gue orangnya demam panggung lagi! Asli gak bakalan bener ini mah solatnya!" Gerutu Revan.
*****
Sholat selesai dilaksanakan, Revan dapat bernafas lega karena ia bisa menjadi imam dengan lancar dan baik. Deva bergegas menghampiri Revan.
"Itu lo bisa jadi imam? Belum apa-apa udah nyerah duluan!" Ujar Deva.
"Alhamdulillah, semua ini atas izin Allah." Jawab Revan percaya diri.
"Revan ini sebenarnya multitalent, hanya saja dia sering ngerasa insecure. Jadi sedikit dorongan, kita bisa melihat semua bakat Revan yang sengaja ia pendam. Saya salut suaranya saat melafazkan ayat suci Al-Quran, luar biasa indahnya." Puji Clein.
"Ahhh biasa aja, Clein. Btw makasih buat pujiannya." Ucap Revan sembari menyenggol lengan Clein.
Shane menatap tak suka pada Revan.
"Revan! Jangan sentuh-sentuh Clein!"
Clein melihat Shane penuh tanda tanya, begitupun Revan dan Deva.
"Apa? Lo cemburu?"
"Bukan! Ingat dia pemimpin komunitas kita! Lebih baik jika menjaga jarak dan tetap pada batasan!" Jawab Shane.
"Oh Iyah, gue lupa. Sorry Clein." Ucap Revan sembari menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Gak perlu minta maaf."
Mereka berjalan beriringan ke luar dari Markas.
"Udah beres kan?" Tanya Son.
"Kelihatannya gimana?" Bukannya Clein yang menjawab, kali ini Deva yang memilih menjawab pertanyaan Son.
"Si Deva ini sensi mulu kayak cewek PMS deh." Ujar Revan.
"Bener Van! sensian nih si Deva!" Timpal Kenzo.
"Kan omongan gue bener kali, gak usah baperan deh."
Clein nampak memijit pelipisnya lelah.
__ADS_1
"Sebaiknya kita pulang dan beristirahat! Sudahi perdebatannya!" Perintah Clein.
Clein lebih dulu pergi meninggalkan mereka menuju mobilnya.
"Lo sih ah! Ribut mulu, kasian kan Clein jadi pusing! Kalau dia sakit kalian yang tanggung jawab!" Ujar Shane. Ia pun pergi ke mobilnya.
"Salah Deva sih ini!" Revan bergegas menaiki motornya.
"Yes, Deva si cowok sensian." Kenzo menyusul.
Son ingin mengungkapkan sebuah kata namun ia urungkan dan pergi meninggalkan Deva sendiri disana. Son hanya ingin meminimalisir agar ungkapannya tidak menimbulkan perdebatan.
"Gue lagi, gue lagi!" Ucap Deva tak habis pikir.
Clein di dalam mobilnya tengah duduk sendiri, namun ketukan kaca mobil terdengar hingga Clein mengurungkan niatnya untuk melajukan mobilnya.
Clein menurunkan kaca mobilnya.
"Ada apa Ki?" Tanya Clein pada pria yang tadi mengetuk kaca mobilnya. Pria itu adalah Oki.
"Gue, Putra sama Jeff, kita jaga di markas aja yah? Soalnya kalau markas gak di jaga, bisa aja geng Hitler datang kesini dan ngebebasin Reynold." Ucap Oki.
"Tidak usah memaksakan sesuatu, saya tau kamu lelah. Setelah pulang dari stadion kalian belum istirahat. Jangan bekerja terlalu keras, kamu harus memikirkan kondisi tubuh kamu." Ucap Clein.
"Tenang aja Clein, kita bisa kok tidur di dalam Markas. Disana juga ada matras, jadi gak perlu khawatir."
Clein mengangguk dan menyunggingkan senyum tipis.
"Jaga diri baik-baik, tetap hati-hati. Saya pulang." ucap Clein.
Oki mengangguk dan tersenyum.
"Siap Clein!"
Mobil Clein berhenti tepat di sebuah rumah besar dengan desain klasik. Clein menekan klakson mobil, saat itu seorang satpam membukakan pintu gerbang untuknya.
"Selamat pagi non, Clein." Sapa pria bertubuh sedikit gemuk itu.
"Pagi juga pak Rahmat." Balas Clein.
Mobil Clein masuk dan berhenti tepat di garasi rumahnya. Clein bergegas masuk ke dalam rumah. Suasana rumah nampak sepi, orang tuanya pasti belum kembali dan memilih mencari penginapan di dekat stadion sana.
Clein masuk ke dalam rumah dan mendapati pembantu rumah tangganya tengah berkutat di dapur.
"Bi Idah, Ayah sama bunda belum pulang?" Tanya Clein.
"Eh non Clein. Belum non." Jawabnya.
Benar saja, orang tuanya pasti tengah menikmati liburan berdua disana. Tingkah ayah dan bundanya seperti pasangan yang baru saja menikah, mereka seringkali menikmati liburan tanpa mengajak anak-anaknya. Bahkan mereka sering bertingkah mesra di hadapan Clein. Meski sedikit muak namun Clein merasa bahagia. Ia senang ketika melihat ayah bundanya merasa bahagia.
"Non mau sarapan apa? Boleh request, nanti bibi buatin."
"Clein gak sarapan dulu bi, Clein mau tidur dulu. Paling nanti langsung makan siang aja. Untuk makan siang, terserah bibi mau masak apa aja." Ujar Clein.
"Siap non."
Setelah percakapan itu, Clein langsung naik ke kamarnya. Ia tidak melakukan aktivitas apapun lagi, ia memilih untuk merebahkan tubuhnya di atas kasur queen size. Syaraf-syaraf otaknya yang tegang ia coba istirahatkan berharap setelah bangun nanti otaknya akan kembali fresh. Setelah itu ia bisa menghadapi Reynold dengan energi penuh.
*****
Jam menunjukkan pukul 12:00 Wib, di dalam asrama Marcel dan Edvin tengah mengemas barang-barang mereka. Setelah kemenangan Club mereka, mereka akan pergi berlibur ke rumah mereka masing-masing.
"Cel?" Panggil Edvin. Pria itu langsung menghampiri Marcel dengan handphone yang berada di genggamannya.
__ADS_1
"Apa?"
"Liat, Cel! Kita di undang sama pihak Football Internasional Awards untuk hadir ke acara mereka. Katanya kita juga dinominasikan dalam beberapa kategori!" Ucap Edvin yang mulai antusias.
"Kamu serius? Kategori apa aja?" Tanya Marcel yang mulai merasa penasaran.
"serius! Bentar aku cek linknya dulu!"
Edvin terlihat menekan link yang sudah tertera disana.
"Wowww kamu masuk dua kategori, Cel. Pertama Golden ball awards, kedua young player awards."
"Kamu?"
"Aku.... Cuma satu, cuma Golden boot awards."
"Yakin satu?"
"Iyah. Tapi gapapa, aku seneng Cel. Soalnya pemain yang dinominasikan gak main-main. Kita disandingin sama pemain-pemain goat, Cel! Wahhh kece sih." Ujar Edvin.
Satu DM masuk melalui handphonenya, Edvin pun segera memeriksa DM tersebut.
"What?!" Saat membaca pesan itu Edvin langsung membulatkan matanya dengan sempurna.
Marcel yang melihat keterkejutan di wajah Edvin, ia langsung mendekati pria itu.
"Ada apa, Vin?"
"Kak Karel sama kak Clein, mereka diundang untuk datang bersama kita ke awards itu, Cel! Katanya mereka pengen interview masalah antara ka Clein sama ka Karel pas di lapangan semalam. Asyik sih pasti!"
"Ahh bohong kali." Marcel mengambil alih handphone yang berada di tangan Edvin. Saat membaca pesan tersebut Marcel seolah tak percaya.
"kak Clein sih bakalan gak mau dateng."
"Abangku juga pasti sama gak bakalan mau dateng. Tapi ini peluang bagus loh buat ngedeketin kakak-kakak kita. Ini kesempatan besar, Cel! Kita harus coba!" Ucap Edvin dengan semangat yang menggebu-gebu.
"Nanti aku coba deh. Keputusan akhirnya tergantung kak Clein."
"Iyah coba aja dulu. Tapi berharap banget sih mereka datang sama-sama. Kalau cara ini gak berhasil, kita bisa pake cara lain!"
Marcel hanya mengangguk kemudian menutup kopernya.
"Aku pergi duluan yah, Vin. Di bawah ayah sama bunda udah nungguin soalnya."
"Oke!"
Marcel bergegas pergi menghampiri Rio dan Eliana. Disana orang tuanya tengah setia menunggunya. Saat Marcel berada di depan mereka, Rio dan Eliana pun tidak lupa memasang senyum hangat.
"Ayah, Bunda udah ada kabar belum dari kakak?" Tanya Marcel.
"Belum. Mungkin kakak kamu lagi sibuk, jadi belum sempet ngabarin." Ucap Eliana
"Marcel beneran khawatir. Semalam aja Marcel gak bisa tidur nyenyak mikirin kak Clein terus."
"Percaya sama ayah, kakak kamu pasti baik-baik aja. Dia bukan anak kecil lagi." Ujar Rio.
"Makanya ayo buruan! Supaya kamu bisa cepet ketemu sama kakak kamu." Tambah Eliana.
"Iyah bunda, ayo!"
Marcel dan kedua orangtuanya pun bergegas untuk kembali ke rumah mereka. Marcel tidak sabar untuk memastikan kondisi Clein. Marcel berdoa bahwa Clein dalam kondisi baik dan ia bisa membujuk kakaknya untuk datang ke acara awards bersamanya.
...Terima kasih *sudah membaca**💚*...
__ADS_1