
Clein telah selesai mandi dan mengganti pakaiannya. Ia berjalan ke arah ranjang mengambil satu bantal dan melangkah menjauhi Karel. Clein bersikap seolah ia tidak melihat keberadaan Karel.
Dengan cepat Karel bangkit dan menyusul Clein yang berjalan ke arah rooftop.
"Mau tidur dimana?" Tanya Karel mencekal pergelangan tangan Clein.
"Jangan sentuh saya!" Ucap Clein menghempaskan tangan Karel.
"Beri saya jawaban, anda mau tidur dimana? Kenapa pergi kesini?" Tanya Karel.
"Saya tidak mau tidur dalam satu ruangan dengan anda yang telah menghancurkan pertemanan saya! Lebih baik jika saya tidur disini tanpa melihat wajah anda!" Tegas Clein menatap sengit manik mata Karel.
"Tidur di dalam kamar! Di luar sini dingin, nanti kalau anda sakit bagaimana?!"
Clein berdecih pelan.
"Saya sudah sakit! Hati saya sakit! Bukan hanya pertemanan saya tapi juga anda sudah menghancurkan hati saya! Keputusan saya sudah bulat saya akan mengajukan perceraian untuk kita!" Ucap Clein.
Karel mencengkram pundak kanan Clein dengan keras.
"Tidak akan mudah karena saya akan mempersulit semuanya! Saya tidak akan membiarkan Anda pergi dan saya tidak akan membiarkan Anda lepas dari hubungan yang telah saya buat!"
"Anda pikir saya takut?" Tanya Clein diikuti tawa sumbang
"TIDAK! Sekarang saya tidak akan mempan dengan ancaman anda!" Lanjut Clein menyingkirkan tangan Karel.
Clein meninggalkan Karel sendiri untuk menyimpan bantal kemudian masuk kembali untuk mengambil bed cover sebagai alas untuknya tidur. Karel memijit pelipisnya. Clein tidak takut dengan ancamannya lagi. Dia mungkin akan nekat untuk menggugat cerai Karel. Tidak dapat dipungkiri lagi kalau Karel tidak bisa kehilangan Clein.
Mata Karel terus saja menatap Clein. Clein sempat menoleh sebelum kembali membuang wajahnya. Clein membaringkan tubuhnya lalu memunggungi Karel.
Dengan wajah frustasi Karel masuk kembali ke dalam kamar. Ia menekan nomor untuk menelpon seseorang.
Hallo
^^^Hallo tuan^^^
Frey tolong atur pertemuan
dengan pengacara yang biasa
menghandle urusan kita.
^^^Baik tuan^^^
Setelah itu telepon dimatikan. Karel harus bergerak lebih cepat, takut jika nanti Clein berhasil mencapai keinginannya untuk lepas dari Karel.
"Saya tidak dapat mengelak lagi kalau saya telah jatuh cinta padanya!" Monolog Karel.
__ADS_1
Rasanya ia berada diambang kegelisahan. Gelisah harus berada dalam bayang-bayang Clein dan gelisah akan Clein yang belum tau akan perasaannya saat ini.
"Sebuah kebencian seperti telah hilang begitu saja ketika dua manusia berada dalam sebuah kebersamaan. Sekarang yang harus saya lakukan adalah membuat hati Clein luluh. Dalam hitungan satu, dua, tiga tap, hati kamu pasti akan bisa saya luluhkan, Clein." Gumam Karel.
Karel merebahkan tubuhnya. Tatapannya menatap pintu rooftop yang sengaja tidak ia tutup. Disana Clein pasti tengah tidur sembari menahan dingin. Angin malam sangatlah dingin apalagi hujan baru saja reda. Bisa saja hujan akan kembali turun dan Clein bisa saja sakit nantinya.
Karel kembali bangun untuk melihat keadaan Clein. Di sana Clein masih tetap pada posisinya dengan tubuh meringkuk. Jika Karel mendekatinya, mungkin Clein tidak akan mau. Karel duduk diambang pintu dengan melipat tangan. Duduk disana saja, Karel cukup kedinginan apalagi yang Clein rasakan. Ia hanya tidur beralaskan bed cover tanpa selimut.
"Saya tidak akan lagi egois. Kalau kamu merasakan rasa dingin saya juga harus merasakannya. Jika kamu sakit maka saya juga harus sakit. Saya sudah berada di fase kalau saya sangat mencintai kamu." Batin Karel.
Perlahan Karel memejamkan matanya. Malam ini tidak ada bulan begitupun bintang. Malam terasa sepi serta tidak terlihat indah seolah tau apa yang tengah dirasakan oleh kedua insan tersebut. Hanya angin saja yang berhembus menambah kedinginan dari sifat dingin antara Clein dan juga Karel.
Dari kejauhan di depan sebuah mobil Frey tengah memandangi arah kamar Karel dengan memegangi secangkir kopi di tangannya.
"Sepertinya tuan Karel dan juga nona Clein tengah bertengkar. Huftt, saya bisa melihat dari pandangan tuan Karel kalau dia sudah mulai mencintai nona Clein. Baguslah! Setidaknya nanti nona Clein bisa memperbaiki sikap tuan Karel menjadi lebih baik." Ucap Frey menyeruput kopi di tangannya.
******
Jam semakin cepat merangkak maju, jarum jam sudah menunjukkan pukul 04:00 Wib. Karel langsung membuka matanya ketika mendengar suara lenguhan dari Clein. Ia dapat melihat tubuh gadis itu bergetar. Dengan cepat Karel bergerak untuk mendekat pada Clein.
"Clein bangun! Anda kenapa? Anda sakit?" Tanya Karel menyentuh lengan Clein dengan ragu.
Clein tidak merespon ia masih memejamkan mata dengan memeluk tubuhnya sendiri yang terus saja bergetar.
"Di-ngin." Gumam Clein.
Ia membopong tubuh Clein ala bridal style. Karel membawa Clein masuk ke dalam kamar dan menidurkan Clein di atas ranjang. Tubuh Clein masih terus bergetar walaupun Karel sudah menyelimuti Clein dengan selimut.
Refleks Karel duduk di samping Clein lalu menggosok tangan istrinya agar lebih hangat.
"dingin." Gumam Clein.
"Apakah saya harus memeluk anda? Saya tidak tau apa yang harus saya lakukan sekarang." Ucap Karel.
Perlahan Karel membaringkan tubuhnya lalu memeluk tubuh Clein. Jantungnya berdetak dua kali lipat lebih cepat. Dentuman yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Semakin erat Karel memeluk tubuh Clein, semakin terasa jantungnya yang berdetak dalam setiap detik itu.
Tinggi mereka yang sama membuat keduanya saling menghadap. Karel dapat melihat wajah yang lebih tenang dengan mata tertutup. Ibu jari Karel mengusap kelopak mata istrinya dengan gemas.
Cup
Bibir Karel berhasil mendarat mulus di kening Clein. Ciuman yang cukup lama, Karel seperti enggan untuk melepaskannya. Setelah itu ia melepaskan bibirnya dari kening Clein.
"Sepertinya akan sangat menyenangkan jika kita mempunyai anak dan anak itu mirip sekali dengan anda. Hari-hari saya akan sangat berwarna." Ucap Karel menyentuh hidung Clein.
Tanpa sadar Clein beringsut mendekatkan tubuhnya. Ia merasa lebih hangat ketika dalam dekapan Karel.
Handphone Karel berdering. Dengan sebelah tangannya Karel mengambil ponsel di atas nakas.
__ADS_1
Hallo Frey ada apa?
^^^Maaf sebelumnya mengganggu tidur tuan.^^^
^^^ Di depan ada nona Alita. Katanya dia ingin bertemu dengan anda^^^
Karel terlihat menghembuskan nafas kasar. Lagi, ia lupa soal Alita. Perasaannya terhadap kekasihnya itu sudah tidak lagi sama. Clein telah menggantikan posisinya, namun tingkat Clein jauh lebih dalam di hatinya. Untuk saat ini Karel ingin tetap berada dalam posisi ini. Ia tidak ingin ada yang mengganggunya.
Katakan saya tidak ingin
bertemu dengan siapa pun.
^^^Tapi dia memaksa ingin^^^
^^^ bertemu dengan anda.^^^
Frey, tolong handle. Tugas
kamu sekarang yakinkan Alita.
Saya mengantuk, saya ingin tidur.
Setelah itu telepon di matikan. Karel kembali ke posisi semula lalu memejamkan matanya. Ia sedikit pusing jadi ia berusaha untuk mengenyahkan rasa pusing itu.
Di luar mansion, Frey terlihat kesal ketika tuannya mematikan telepon secara sepihak tanpa memberikan solusi apapun. Di depannya itu seorang wanita dengan penampilan sexy tengah menunggu informasi dari Frey.
"Bagaimana? Aku boleh masuk kan?" Tanya Alita penuh harap.
"Mohon maaf nona Alita, tuan Karel mengatakan dia tidak ingin diganggu oleh siapapun. Katanya dia sedang tidak enak badan dan butuh istirahat." Bohong Frey.
"Karel sakit? Kalau dia sakit, berarti aku harus masuk ke dalam, Frey. Aku harus mengurusnya." Ucap Alita Khawatir.
Frey terlihat memejamkan matanya. Susah sekali membuat Alita mengerti.
"Sekali lagi saya mohon maaf, sebaiknya anda pulang saja, nona." Ucap Frey mempersilahkan Alita.
"Tidak saya ingin masuk saja!" Tegas Alita.
Dengan cepat Frey menahan tangan Alita lalu menariknya ke gerbang.
"Lancang sekali kamu, Frey! Lepaskan tangan saya!" Tegas Alita. Frey tidak peduli, ia lebih peduli dengan perintah Karel.
Saat tepat di depan gerbang, Frey langsung menutup dan mengunci pintu gerbang.
"Saya akan panggilkan taksi online! nanti anda silahkan naik taksi biar mobil anda besok saya yang antarkan." Ucap Frey meninggalkan Alita disana.
"FREY! BUKA GERBANGNYA! AWAS SAJA BESOK SAYA AKAN ADUKAN PADA KAREL!" Teriak Alita kesal.
__ADS_1
Frey tidak peduli dan hanya memasang ekspresi mengejek.