
Edvin tengah berada di kamar Marcel. Keduanya terlihat bersorak gembira karena rencana mereka berjalan dengan mulus. Semua seperti mendapat jalan, Rio tidak mencari tahu lebih jauh dan tanpa pikir panjang ia langsung menikahkan Clein dengan Karel.
"Alhamdulillah Cel, rencana kita berhasil!" Ujar Edvin antusias.
"Iyah Alhamdulillah Vin. Tapi apa gak dosa yah kita ngelakuin itu?"
"Ah soal dosa mah belakangan. Yang terpenting sekarang kakak kita udah nikah. Mereka udah jadi suami istri dan mereka bakalan sering ketemu. Kemudian masing-masing dari mereka akan saling mengetuk hati. Kalau bukan karena rencana ini, kita gak tau lagi harus gimana buat nyatuin mereka Cel." Ujar Edvin.
"Hmmm... Tapi aku gak habis pikir juga sama Abang kamu, kenapa dia mengakui kesalahan yang gak dia perbuat? Terus keliatannya dia malah seneng Vin. Aku gak mau ah kalau kak Clein jadi bahan permainan Abang kamu doang!" Ucap Marcel.
"Ya gimana, sekarang udah terlanjur. Aku juga gak tau apa yang ada dipikiran Abangku. Tapi kita berdoa aja, semoga mereka bisa menjalani pernikahan dengan baik. Aku yakin kak Clein pasti gak bakalan mudah di permainkan oleh Abang Karel." Jelas Edvin.
Marcel hanya diam, rasa sayang Marcel begitu besar pada Clein. Ada rasa bersalah, Marcel hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk kakaknya.
"Cel kayaknya aku harus pergi sekarang. Udah malam juga, aku sama mamah harus pulang." Ujar Edvin saat melihat jam yang berada di dinding kamar Marcel.
"Gak mau nginep dulu?"
"Enggak deh. Besok subuh aku kesini lagi mau anterin pakaian Abang Karel."
"Yaudah hati-hati."
"Siap!"
Edvin kemudian bergegas untuk pergi. Setelah kepergian Edvin, Marcel langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur. Ia tidur dengan posisi miring dan menatap kosong ke arah depan. Pikirannya berkelana entah kemana.
"Semoga pernikahan kak Clein sama kak Karel bukan sebuah kesalahan." Batin Marcel saat itu.
Di kamar Clein, Karel belum juga tertidur. Ia melihat ke sisi kirinya, disana Clein sudah tertidur. Perlahan Karel beringsut untuk menyandarkan punggungnya pada ujung ranjang.
Karel mengambil ponselnya lalu membukanya. Disana banyak sekali pesan dan salah satunya pesan dari Alita.
...
Karel memijit pelipisnya pelan, ada sekitar 20 panggilan biasa yang juga tidak ia angkat. Beberapa saat yang lalu, Karel sempat lupa bahwa ia memiliki kekasih. Hasratnya terlalu menggebu-gebu untuk membawa Clein pada rencananya. Akhirnya sekarang ia harus berpikir keras untuk memberitahukan soal pernikahannya pada Alita....
Karel menyimpan handphonenya dan tidak berniat untuk membalas pesan itu. Ia menyandarkan kepalanya dan melihat Clein sekilas.
__ADS_1
"Bagaimanapun saya harus kuat kalau setiap hari saya harus bertemu dengan dia! Istri? fakta itu sungguh menjijikan!" Batin Karel.
Ting!
Suara pesan masuk terdengar tepat ke telinga Karel. Suara itu berasal dari handphone milik Clein. Karel yang penasaran pun bergegas turun dari kasur dengan gerakan pelan kemudian ia mengambil handphone Clein yang berada di samping gadis itu. Sepertinya sebelumnya handphone itu berada di saku celana Clein, lalu saat tidur Clein lupa untuk menyimpannya karena posisi handphone tepat berada disamping pahanya.
Karel mulai mengambil handphone itu. Ia menggeser layar handphone dan Karel nampak terkejut ketika menggeser layar, handphone Clein tidak terkunci sama sekali. Apa Clein tidak memiliki privasi Sampai-sampai handphonenya tidak ia kunci?
Karel membuka pesan WhatsApp. Disana satu pesan masuk dari Shane.
*Clein besok jangan lupa siapin pidato. Pakai pakaian formal juga, besok kita akan kedatangan beberapa orang penting ke acara peresmian hotel baru komunitas kita.
Karel membaca pesan itu. Ternyata besok Clein akan pergi menghadiri peresmian hotel baru. Hebat, Karel tidak menyangka bahwa Clein sangat sukses dalam bisnisnya. Sekarang ia akan membuka bisnis baru setelah sukses dengan restaurannya.
Senyuman licik terbit di bibir Karel. Karel membawa handphone Clein dan menyimpannya. Ia berniat akan menyita handphone Clein. Setelah menyimpan handphone, Karel kembali membaringkan tubuhnya di atas kasur. Ia tak sabar menunggu besok, bagaimana permainan akan kembali ia mainkan.
******
Burung berkicau riang, matahari sudah terbit dari arah timur. Clein sudah bangun sedari tadi dan tengah mencari barangnya yang hilang. Sedangkan Karel, pria itu masih bergelung dalam selimutnya.
Clein membuka bantalnya kemudian menyingkirkan selimut dan beralih mencari ke area-area sudut. Saat ia bangun, handphonenya sudah tidak ada dan Clein tengah mencarinya. Clein bergerak mendekati Karel, ia menggeser tubuh Karel, siapa tahu handphonenya ada di bawah tubuh pria itu.
"Ckkk, ishhh apa-apaan sih?!" Gerutu Karel yang masih mengantuk.
"Ngapain anda sentuh-sentuh saya?! menjauh sana!" Karel menyingkirkan tangan Clein dengan kasar.
"Memangnya saya cewek apaan sentuh-sentuh anda duluan! Saya sedang mencari handphone saya, siapa tau handphone saya ada di bawah!" Ketus Clein.
Karel menghela nafas gusar.
"Handphone anda saya sita!"
Clein membulatkan matanya.
"APA?!" Kaget Clein.
Karel bangun untuk mendudukkan tubuhnya.
"Tidak usah lebay! Sekarang anda seorang istri, tujuan saya menyita handphone anda itu agar anda lebih leluasa bisa mengurus saya!" Ujar Karel. Padahal bukan itu maksud Karel sebenarnya.
__ADS_1
"Karel tolong kembalikan handphone saya! Jangan mencoba untuk mempermainkan saya! Saya butuh handphone itu untuk menanyakan pukul berapa peresmian hotel akan dimulai!" Jelas Clein.
"Maksud anda hari ini anda akan pergi? Padahal hari ini hari pertama setelah pernikahan. Seharusnya anda tetap berada di rumah untuk menemani saya." Ucap Karel. Karel berakting semaksimal mungkin agar Clein tidak merasa curiga.
"Karel sudah saya katakan, jangan menganggap pernikahan ini serius. Saya punya kehidupan sendiri dan anda silahkan urus kehidupan anda sendiri!" Tegas Clein.
"Apa perlu saya ingatkan kembali soal pembahasan semalam?" Tanya Karel.
Clein terdiam di tempatnya.
"Saya tidak akan mengizinkan anda untuk pergi! Hari ini kita akan bersama-sama menyiapkan kepindahan kita. Saya akan membawa anda tinggal di mansion saya!"
"Karel, anda tidak memiliki hak untuk melarang saya. Satu yang harus anda tau, saya tidak akan mungkin meninggalkan rumah ini. Saya tidak ingin hidup bersama dengan anda di mansion milik anda!"
"Saya punya hak terhadap anda Clein karena saya suami anda! Jika anda membangkang atas perintah dari saya, maka anda akan menerima konsekuensinya! Saya pastikan anda akan kehilangan semuanya!" Tegas Karel.
"Apa tidak ada hal lain selain mengancam saya?" Tanya Clein yang merasa muak dengan ancaman-ancaman Karel.
"Hanya itu yang bisa saya perbuat!" Balas Karel.
Clein mengusap wajahnya kasar, tangannya sudah terasa gatal ingin memukul Karel. Namun sekuat mungkin ia berusaha meredamnya. Karel beranjak dari tempat tidur.
"Apa Edvin sudah membawakan saya pakaian?" Tanya Karel.
"Hmmm."
"Dimana?" Tanya Karel.
Clein menunjuk sebuah tas di dekat pintu dengan dagunya. Karel mengangguk dan bergegas mengambil pakaiannya.
"Siapkan saya sarapan! Setelah itu anda buatkan saya kopi, temani saya, lalu anda bisa mengemasi pakaian anda setelah itu!" Ujar Karel.
"Saya bukan seorang pembantu! Anda ini terlalu banyak permintaan! Anda punya kaki, anda punya tangan, kenapa anda tidak buat semuanya sendiri?" Ketus Clein.
"Sudah jangan membantah!" Lirih Karel penuh penekanan.
Setelah mengambil pakaian, Karel bergegas masuk ke dalam kamar mandi. Kembali, lagi-lagi Clein harus masuk ke dunia perdapuran. Dimana dunia itu adalah dunia yang paling ia hindari. semakin kesini Karel semakin bertindak semena-mena padanya.
"Harus masak apa saya? Arghhh bodo amat, tunggu saja Karel saya akan buatkan sarapan spesial untuk anda!" Monolog Clein diikuti senyum licik.
__ADS_1
...Terima Kasih Sudah Membaca...
Jangan lupa vote dan komen💚