
Mobil berhenti tepat di sebuah hutan belantara. Clein bergegas turun dari mobil diikuti Frey di belakang. Ditangannya Clein membawa sebuah busur dan juga anak panah. Tidak lupa sebuah teropong yang ia kalungkan di leher.
"Anda tidak membawa senjata apa-apa?" Tanya Clein pada Frey.
"Saya membawa satu pistol nona." Ucap Frey memperlihatkan pistol yang ia taruh di bagian pinggangnya.
Clein mengangguk. Clein berdiri dan melangkah lebih dulu di depan Frey, sedangkan Frey menjaga Clein di belakang. Gadis itu menaruh teropong tepat di matanya, ia mencari keberadaan binatang yang bisa ia buru.
"Frey apa anda melihat seekor rusa?" Tanya Clein
"Tadi saya melihatnya tapi setelah saya lihat dua kali rusa itu hilang dari pandangan saya." Lanjut Clein.
"Betul nona, tadi juga saya melihatnya. Sepertinya rusa itu lari ke belakang sana." Jawab Frey.
"Ayo kita cari!" Ujar Clein. Clein melangkah cepat untuk mencari keberadaan rusa yang sempat ia lihat. Ia mengendap-endap mendekati rusa yang sekarang berada di depan matanya.
Dengan hati-hati Clein mengangkat busur dan juga anak panah. Matanya terlihat fokus dan panahnya siap membidik rusa itu. Saat anak panah ditembakkan, anak panah sedikit meleset dari tubuh rusa.
"Arghhh! Sebentar lagi kena padahal." Gerutu Clein.
Frey meringis, ia juga sangat menyayangkan bidikan panah itu sedikit meleset dari sasaran.
Rusa berlari menjauhi Clein, Clein tidak menyerah dan langsung berlari mencari keberadaan rusa itu.
"Nona pelan-pelan, nanti anda terluka!" Ucap Frey berlari di belakang Clein.
"Tidak perlu khawatir Frey, saya juga bisa hati-hati." Balas Clein.
Clein terus berlari ke dalam hutan. Clein langsung menghentikan langkahnya lalu menatap sekeliling.
"Kita kehilangan jejak Frey! Rusa itu sudah hilang." Lirih Clein di sela-sela helaan nafasnya.
Nafas Frey terlihat naik-turun. Ia mencoba mengatur nafasnya.
"Iyah nona... Anda berlari terlalu cepat saya sampai kewalahan." Ujar Frey.
Clein menoleh pada pria yang tengah membungkukkan badannya dengan kedua tangan menopang pada lutut.
"Anda ini ternyata lemah sekali! Bukannya anda yang menjaga saya tapi ini sebaliknya, saya yang harus menjaga anda." Desis Clein.
"Maklum saja nona sudah lama saya tidak melakukan tindakan yang menggugah adrenalin. Akhir-akhir ini saya terlalu banyak diam dan buktinya anda bisa lihat, saya baru lari sebentar saja tapi saya sudah terlihat kelelahan." Ucap Frey.
"Setidaknya tidak diam saja, anda bisa coba untuk berolahraga Frey. Saya lihat juga tubuh anda terlihat lebih gemuk." Ucap Clein melihat Frey dari ujung rambut sampai ujung kaki.
Frey membenarkan posisinya dan melihat lemak di tubuhnya.
"Benarkah? Apa tubuh saya terlihat sangat gemuk, nona? Saya jadi merasa tidak percaya diri." Ujar Frey.
"Bukan sangat gemuk hanya terlihat sedikit lebih gemuk. Cukup sekitar satu bulan dengan rajin berolahraga dan makan makanan yang sehat tubuh anda akan kembali seperti sebelumnya." Ucap Clein.
"Syukurlah, saya akan coba menerima saran dari anda nona, saya akan rajin berolahraga lagi." Ucap Frey.
Clein mengangguk.
Mereka kembali pada aktivitas mereka untuk mencari hewan untuk berburu. Clein sengaja akan membuat Frey lelah karena Clein harus pergi menemui teman-temannya di Markas. Ia tidak bisa lagi berlama-lama untuk tidak menemui semua temannya. Bisa saja ada sesuatu yang tidak ia ketahui dari kabar komunitasnya. Apalagi Reynold masih menjadi tahanan mereka. Ia juga tidak mengetahui kabar dari rivalnya, James.
__ADS_1
******
Di dalam Markas komunitas Black Tyrannical, Shane tengah memandang kosong ke arah depan. Ia belum mendapatkan kabar apapun dari Clein. Termasuk mata-mata yang sudah ia tugaskan. Mereka tidak menemui setitik kabar pun dari Clein. Sepertinya Marcel sudah berbohong kemarin, ia yakin Clein tidak pergi ke rumah neneknya. Melainkan ada masalah lain yang tidak ia ketahui masalah itu apa.
"Lo masih mikirin Clein?" Tanya Oki duduk tepat di samping kanan Shane dan Kenzo duduk tepat di samping kiri Shane. Shane terlihat memijit pelipisnya pelan.
"Iyah... Gue gak bisa majuin komunitas kita tanpa Clein. Sebenarnya dia ini kemana gue gak tau. Semakin gue menolak ucapan Arhan semakin gue takut ucapan itu bener-bener terjadi. Gue takut Clein mengkhianati komunitas kita." Ucap Shane.
"Jadi lo mulai terprovokasi sama mulut si Arhan? Come on, Shane gue yakin seratus persen kalau Clein gak bakalan kayak gitu." Ucap Oki.
"Kalau gue sendiri sih sama kayak Shane setengah percaya dan setengah tidak percaya." Timpal Kenzo.
"Gue bingung sekarang harus ngapain, kemarin aja rencana yang udah gue susun malah gagal. Clein ini memang di perlukan banget sih untuk soal strategi." Ucap Shane.
"Gue tau, tapi kalau udah kayak gini kita gak bisa lagi terus-terusan bergantung sama Clein." Ucap Kenzo.
"Gue juga tau! Tapi faktanya tanpa Clein gue yakin komunitas kita gak akan bisa maju lebih tinggi lagi." Ucap Shane.
"Semua orang disini merasakan perasaan yang sama kayak lo. Kita sekarang hanya perlu yakin kalau Clein bakal balik ke komunitas kita." Ucap Oki.
"Terus sekarang soal Reynold gimana? Keuangan yang kita pegang tinggal sedikit. Apa kita akan terus-menerus memberi dia makan? Hampir sembilan puluh persen uang kita berada di rekening Clein. Banyak kebutuhan yang komunitas kita perlukan. Bisnis hotel baru juga tidak berjalan dengan baik karena insiden kemarin. Keuangan restauran juga sekarang tidak stabil." Ucap Kenzo.
"Pakai dulu yang bisa di pakai. Tetap beri dia makan. Kita harus rundingkan untuk urusan Reynold nanti. Gue gak bakalan diem aja, gue pasti bakalan cari solusi." Ucap Shane.
Di dalam hutan Clein kesal karena belum juga mendapatkan hewan buruan. Clein pun menghentikan langkahnya.
"Sudahlah nona kita sudahi saja. Sepertinya para hewan enggan untuk menampakkan diri." Ucap Frey. Ia sudah tidak kuat lagi berlarian mencari hewan yang tidak pasti kapan akan menampakkan dirinya.
"Anda sudah lelah?" Tanya Clein.
Karel menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Tuh kan, jadinya saya yang harus menjaga anda." Gerutu Clein.
"Maafkan saya nona. Tapi kalau misalkan mau dilanjutkan juga tidak apa-apa." Lirih Frey menundukkan wajahnya.
Clein menggeleng pelan.
"Kita kembali saja. Dilanjutkan juga tidak akan berhasil karena memang benar apa yang anda katakan tadi, hewan-hewan disini tidak mau untuk menampakkan diri. Sudah mulai malam juga." Ucap Clein.
"Jadi bagaimana? Kita kembali saja sekarang?" Tanya Frey terlihat bersemangat.
Clein mengangguk.
"Silahkan nona jalan di depan saya akan menjaga nona dari belakang." Ucap Frey mempersilahkan Clein.
Clein berjalan lebih dulu untuk kembali ke mobil. Mereka harus melewati jalan setapak yang di penuhi pepohonan rimbun. Frey sudah siap bersiaga memegang pistolnya. Ucapan Karel masih terngiang-ngiang di telinganya.
Setelah lama berjalan, Clein dan Frey sudah sampai di depan mobil mereka. Saat mereka sampai disana, suara adzan maghrib berkumandang.
"Disini sepertinya ada pemukiman." Ucap Frey saat mendengar kumandang adzan maghrib.
"Ada Frey itu disana ada rumah. Cuma ya emang pemukiman yang gak begitu padat. Rumahnya bisa dihitung satu dua." Ucap Clein yang sudah paham betul tempat disana.
"Oh itu rumah? Saya kira itu gubug yang di pakai petani berteduh." Ucap Frey.
__ADS_1
"Makanya hidup itu jangan hanya melihat ke atas saja tapi lihat juga ke bawah. Anda akan tau apa artinya bersyukur." Ucap Clein.
Beberapa anak-anak terlihat melewati mereka untuk pergi mengaji. Seorang anak laki-laki menghampiri Clein.
"Kak Clein!" Sapanya antusias langsung memeluk tubuh Clein.
"Hei, Arsyad. Apa kabar ganteng?" Ucap Clein membalas pelukan itu dan mencoba mensejajarkan tubuhnya.
"Baik kakak. Kak Clein kemana aja? Alshad selalu nunggu kakak lewat di jalan tapi gak ada telus." Tanya Arsyad.
Clein terdiam sebentar. Ia terlihat menghembuskan nafas kasar.
"Kemarin kakak ada kerjaan, sibuk banget." Ucap Clein menarik sudut bibirnya.
"Ohhh kakak sibuk. Belalti kakak gak dateng ke pemakaman kak Deva yah?"
Clein terkejut dan membulatkan matanya.
"Pemakaman kak Deva?" Ulang Clein.
"Iyah kak. Emangnya kakak gak tau kalau kak Deva meninggal?" Ujar Arshad.
"Hah?! Meninggal?! Kenapa? Kakak enggak tau." Tanya Clein. Jantung Clein berdetak tak karuan. Ada sesuatu yang menikam hatinya. Sesak memenuhi relung dadanya.
"Alshad juga gak tau kenapa. Alshad pelgi dulu yah kak mau pelgi ngaji." Ucap anak itu.
Clein tidak merespon karena pikirannya tengah tertuju pada Deva. Arshad langsung berlari menyusul teman-temannya. Tubuh Clein terasa lemas, begitupun tungkai kaki yang tidak dapat menahan tubuhnya.
Frey yang merasa khawatir langsung mendekat dan memegang pundak Clein.
"Nona tidak apa-apa?" Tanyanya.
Clein menggeleng cepat.
"Saya harus pergi ke markas komunitas saya. Saya harus pergi!" Ucap Clein. Frey mencoba untuk menahan.
"Tidak nona. Kalau anda pergi nanti tuan marah."
Clein menyingkirkan tangan Frey dan menatap tajam manik mata Frey.
"SAYA TIDAK PEDULI! SAYA HARUS TETAP PERGI! JANGAN COBA-COBA UNTUK MENAHAN SAYA! SILAHKAN ANDA KEMBALI KE MANSION SENDIRI!" Tegas Clein. Kemudian bergegas untuk pergi.
Frey tidak bisa membiarkan itu terjadi. Ia langsung mengambil handphone dan menekan nama Karel di kontak ponselnya.
Hallo tuan, nona Clein pergi
ke Markas komunitasnya
sendiri. Dia memaksa pergi
dan maaf, saya tidak bisa berbuat
apa-apa tuan
^^^------^^^
__ADS_1
Baik tuan
Setelah itu telepon dimatikan. Lalu Frey bergegas untuk menyusul Clein pergi ke markas komunitas Black Tyrannical.